My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
69. Meminta Restu



Ryan sangat menentang Rigel untuk pergi ke Indonesia. Pekerjaan yang sudah susah payah di kerjakan hampir satu bulan, harus kacau balau bila Rigel pergi dari London. Setelah di telepon Rigel, sekertarisnya itu langsung bergegas pergi ke apartemen atasannya tersebut.


"Maaf pak, anda tidak bisa pergi begitu saja. Pekerjaan pak Rigel sudah hampir menuju akhir. Bila pak Rigel pergi, akan sia-sia dengan kerja keras seluruh karyawan dan tentunya kerja keras bapak juga."


Rigel menghela. "Pekerjaan bisa terus berlangsung. Aku serahkan semuanya kepadamu, dan aku bisa menghadiri rapat atau bertemu dengan klien lewat daring, kamu atur saja semuanya. Terus hubungi aku dan kirimkan semua dokumen lewat email. Aku tetap akan mengawasi perusahaan dari sana."


"Lalu bagaimana dengan dokumen yang harus pak Rigel tanda tangani."


Rigel menghela. "Sekarang sudah zamannya teknologi. Aku bisa mentanda tangani dokumen secara online." Rigel menghela. "Jangan lagi mengulur waktuku, langsung siapkan pesawat pribadi. Aku akan langsung pulang ke Indonesia sekarang juga."


Sekitar tiga jam lebih Rigel dan Lyra menunggu, akhirnya mereka pun bisa bergegas ke bandara dan langsung saja terbang menggunakan pesawat pribadi yang di siapkan Ryan. Menggunakan pesawat pribadi tak membutuh waktu lama, di bandingkan naik pesawat komersial pada umumnya. Mereka hanya membutuhkan kurang dari 12 jam untuk sampai ke Indonesia.


Saat Lyra turun dari pesawat, rasa gugup serta jantung yang berdebar-debar muncul begitu saja. Pikiran Lyra kacau karena perasaan cemasnya. Ia sangat takut ketika nanti ia berhadapan dengan ayahnya Rigel. Beberapa kali Lyra mengatur nafasnya, agar perasaan gugup dan cemasnya bisa terkendalikan.


"Bagaimana bila nanti ayahmu mengusirku ketika kita bertatap muka dengannya."


Rigel meraih tangan Lyra. "Tenang saja, aku akan menjagamu darinya. Maka dari itu, jangan pernah lepaskan tanganmu dariku. Oh ya, malam ini kita akan menginap di hotel terlebih dahulu, sebelum nanti kita bertemu dengan ayahku."


"Mengapa kita tak langsung pulang saja ke rumahmu."


"Dari bandara ke rumahku terlalu jauh. Kamu sama sekali belum beristirahat. Tubuh orang hamil itu terlalu lemah, apa lagi usia kandunganmu masih muda. Bila kamu menyayangi anak kita, kamu harus menuruti apa yang aku katakan ini."


Rigel dan Lyra pun beristirahat di hotel yang tak jauh dari bandara. Bertemu dengan Sandy masih ada waktu beberapa jam lagi, tapi rasa gugup dan cemasnya terus di rasanya. Padahal Lyra sama sekali belum bertatap muka dengan mertuanya tersebut.


Pikirannya sangat kalut, ia terus berpikir tentang bagaimana ia bertemu dengan kakek dari anak yang tengah di kandungnya itu. Terlebih lagi saat terakhir kali ia bertemu, Sandy selalu saja memberikan kesan buruk untuk Lyra.


Biar bagaimanapun hasilnya, Lyra tak bisa pergi lagi dari Rigel. Ia harus mempertahankan hubungannya sampai ke pernikahan. Karena ini merupakan hal terbaik untuk anaknya. Lyra tak ingin membuat anaknya jauh dari ayahnya, ataupun sebaliknya, Lyra tak ingin membuat Rigel jauh dari anaknya. Karena figur seorang ayah sangatlah penting untuk pertumbuhan anaknya.


...****************...


Siang harinya, Lyra dan Rigel tak langsung bergegas pulang ke rumah. Mereka langsung saja bergegas pergi ke kantor Sandy. Saat langkahnya sudah memasuki gedung perkantoran, rasa gugup dan cemasnya semakin menjadi-jadi. Bahkan keringat dingin pun muncul di tubuh Lyra. Tangannya semakin kuat menggenggam tangan calon suaminya tersebut.


"Tenangkan dirimu, kita hanya akan menemui ayahku. Kamu tak perlu secemas itu," ucap Rigel.


"Kamu bilang hanya menemui ayahmu. Kamu tahu bila ayahmu sangat menakutkan."


Rigel tergelak. "Kamu tak perlu takut padanya, lagi pula ada aku yang akan melindungimu.


Orang-orang di kantor di buat heboh oleh pasangan yang akan segera di karuniai anak pertama tersebut. Mereka sangat terkejut ketika menatap Rigel yang tengah berpeganggan tangan dengan Lyra. Terlebih lagi, tiga tahun yang lalu banyak orang di kantor yang mengetahui hubungan spesial antara Rigel dan Lyra. Dan lagi-lagi kehebohan itu menimbulkan banyak wanita di kantor patah hati setelah melihat CEO tampannya memegang tangan seorang wanita.


Bila orang-orang di kantor tengah heboh membicarakan Lyra dan Rigel. Lain halnya dengan Lyra yang saat ini semakin gugup ketika langkahnya sudah berada tepat di depan pintu ruangan calon mertuanya. Jantungnya semakin berdebar cepat. Dan di saat Rigel akan hendak mengetuk pintu, seketika Lyra menghentikannya.


Rigel tersenyum, lalu mengelus pipi Lyra dengan salah satu tangannya. "Bila kamu merasa takut, jangan pernah lepaskan tanganmu dariku. Aku akan sepenuhnya menjagamu dari ayahku.


Lyra menghembuskan panjang nafasnya. "Baiklah, aku akan terus memegang erat tanganmu.


Hanya satu ketukan pintu saja, Sandy langsung mempersilahkan Rigel dan Lyra masuk. Tatapan Sandy masih seperti biasa, selalu menunjukan tatapan sinisnya dan selalu bersikap dingin ketika Lyra menyapanya.


Bila tadi Rigel sangat percaya diri, kali ini Rigel malah jadi ikutan gugup seperti Lyra. Tapi entah mengapa Sandy nampak tak memperdulikan dengan kehadiran Rigel dan Lyra. Ia malah fokus menatap layar laptopnya di bandingkan harus bertanya tentang alasan Rigel yang datang membawa Lyra. Apa lagi raut wajahnya yang datar tak bisa tebak, entah itu marah atau ia senang atas kepulangan anaknya tersebut.


Rigel menelan salivanya. "Alasan kedatanganku kesini, ada hal yang ingin ku sampaikan."


"Hal apa?" Tanya Sandy yang masih saja tak mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.


"Aku akan segera menikahi Lyra. Kuharap ayah menyetujui pernikahanku dengannya."


"Bila dia yang kamu inginkan, maka segeralah menikahinya."


Apa pendengaran Rigel dan Lyra ada yang salah, mereka di buat tak menyangka dengan jawaban Sandy tersebut. Bahkan Sandy langsung menyetujui permintaan Rigel, sebelum anaknya itu melontarkan alasannya.


"Apa jawaban ayah benar-benar serius?" tanya Rigel yang tak percaya dengan jawaban ayahnya itu.


"Alasanku membuatmu pindah ke London, karena aku ingin kamu menemui wanita itu. Aku sudah menyerah dengan wanita yang ku pilihkan untukmu. Seberapa keras aku mencarikan wanita yang setara denganmu, kebahagianmu tetap hanya ada pada wanita itu. Dan aku tak ingin membuatmu menjadi bujangan tua. Aku harus membuatmu menikah dan membuatmu memiliki keturunan, walau wanita yang kamu pilih merupakan orang yang tak ku sukai."


Rigel terseyum girang. "Namanya Lyra bukan wanita itu. Dan sebenarnya aku sudah memiliki keturunan."


"Jayden memang masih satu darah denganmu, karena dia merupakan anak mendiang kakakmu. Tapi dia bukanlah keturunan langsung darimu. Jika sudah besar nanti, dia akan meneruskan perusahaan kakeknya dari pihak ayahnya. Maka dari itu, kamu harus memiliki keturunan. Agar setelahmu perusahaanku ada yang meneruskan."


"Yang ku maksud bukan Jayden. Tapi bayi yang tengah di kandung oleh Lyra."


Seketika Sandy menghela kasar nafasnya, bukannya menujukan raut bahagianya, Sandy malah menunjukan raut marahnya. "Apa kamu sudah gila. Kamu bahkan belum menikahinya, tapi kamu malah lebih dulu menghamilinya. Ini Indonesia, hamil di luar nikah merupakan aib. Bagaimana dengan citra perusahaanku, bila sampai media tahu tentang kehamilan Lyra. Dasar anak brengsek," ucapnya meninggikan suaranya.


"Bisakah ayah berbicara pelan dan jangan berkata kasar. Tak baik bila di dengar si jabang bayi."


Sandy yang murka itu, seketika melemparkan salah satu dokumennya ke arah Rigel. "Pergi dari ruanganku. Dan secepatnya kamu harus menikahinya sebelum media tahu tentang kehamilannya. Jika bisa minggu depan pernikahan kalian harus segera di laksanakan."


Bukannya merasa bersalah, Rigel malah tersenyum girang menghadapi ayahnya yang tengah murka itu.


"Baik, secepatnya aku akan melangsungkan pernikahanku dengan Lyra. Terima kasih sudah mau merestui hubungan kami." Rigel pun beranjak pergi sembari menggandeng tangan Lyra.