
Bila harus tinggal satu kota dengan Rigel, selamanya Lyra tak akan bisa melupakan Rigel. Tiap sudut di kota tempatnya tinggal penuh akan kenangannya bersama Rigel. Dan kemungkinan bisa pula bertemu walau hanya berpapasan. Satu-satunya jalan keluar agar hatinya dapat dengan cepat melepaskan Rigel adalah dengan cara Lyra pergi jauh dari kota tempatnya tinggal sekarang.
Lyra pun mencari lowongan pekerjaan lewat internet yang perusahaannya berada jauh di luar kota. Tak hanya di luar kota saja, tapi Lyra juga mencari lowongan pekerjaan di negara tempatnya menjenjang pendidikan. Tak hanya media internet saja yang di jadikan informasi, tapi Lyra berjuga bertanya ke setiap temannya yang bekerja jauh di luar kota dan di Amerika.
Hingga salah satu temannya yang berada di Amerika menawarkan pekerjaan yang pas untuk Lyra. Mau tak mau Lyra harus menerima tawaran itu, walau harus tinggal jauh di sana seperti saat dulu ia menjenjang pendidikan.
Lyra sudah mendapati tawaran pekerjaan di Amerika yang tempatnya berada di kota New York, maka ia harus memberitahu ayah dan ibunya tentang dirinya yang ingin merantau jauh di sana. Waktu yang pas untuk memberitahu ibu dan ayahnya di saat makan malam.
Sangat gugup ketika akan mengatakannya, dan juga takut bila sampai ayah dan ibunya tak mengizinkannya pergi kesana. Tapi, apabila ia ragu maka ia tak akan pernah bisa pergi dari kota yang terus-menerus mengingatkannya pada Rigel. Tak ada hari esok untuk mengatakan niatnya yang ingin bekerja jauh di negeri orang.
"Hm, ada yang ingin Lyra katakan pada ayah dan ibu," lontar Lyra bernada gugup.
"Memangnya apa yang ingin kamu katakan, nak?" Tanya Sarah kepada putri semata wayangnya itu.
Lyra menelan salivanya. "Lyra ingin bekerja di New York. Ada teman yang menawari pekerjaan di sana, perusahaannya memang tak sebesar perusahaan di tempat Lyra bekerja sekarang. Tapi gaji perbulannya lebih besar dari tempat Lyra bekerja sekarang dan akan cukup memenuhi kebutuhan Lyra di sana. Bila Lyra bekerja di sana, Lyra mungkin bisa dengan cepat mengembalikan uang kepada Rigel."
Rizwan menghela. "Kamu tak perlu bersusah payah mengembalikannya. Karena itu urusan ayah dan ibu. Ayah berniat menjual rumah ini dan rumah makan untuk melunasi hutang ayah yang di bayar oleh Rigel. Jika kamu ingin bekerja di sana ayah izinkan, tapi gunakanlah uang gajimu itu untuk keperluanmu saja."
"Mengapa harus menjual rumah ini dan rumah makan, lalu bagaimana dengan tempat tinggal kalian nanti. Dan bukankah rumah makan adalah satu-satunya tempat yang kalian banggakan. Lyra bisa menafkahi kalian bila Lyra sudah bekerja di sana, tapi apa kalian rela menjual rumah makan yang di warisi oleh nenek."
Rizwan tersenyum sembari mengangguk. "Iya, karena ini satu-satunya cara agar kamu bisa sepenuhnya terlepas dari Rigel. Bila rumah ini dan rumah makan sudah terjual, ayah dan ibu akan tinggal di rumah pamanmu yang berada di Chicago. Karena dia mengajak ayah bekerja sama membangun usaha restoran Indonesia di sana.
"Chicago masih di Amerika, jarak dari New York kesana lumayan cukup jauh. Tapi tak sejauh New York ke Indonesia. Sesekali Lyra akan menemui kalian di sana, bila Lyra ada waktu luang."
"Tentu saja kamu harus meluangkan waktu untuk bertemu kami. Dan kami juga pasti akan meluangkan waktu untuk pergi menemuimu di sana."
Akhirnya Lyra bisa bernafas lega setelah mendapatkan izin dari orang tuanya, walaupun ada satu hal yang membuatnya menggajal. Yaitu rumah makan yang di warisi neneknya terpaksa harus di jual. Tapi setidaknya, ayahnya akan membuka usaha baru di negeri yang sama tempat Lyra bekerja nanti. Dan setidaknya tempat tinggal orang tuanya nanti tak terlalu jauh, tak seperti jarak dari New York ke Indonesia. Mungkin di hari libur, sesekali Lyra bisa mengunjungi orang tuanya di tempat tinggal pamannya itu.
**
Lyra juga sengaja tak pernah menghubungi Agni lagi, karena Lyra harus benar-benar dapat mengikhlaskan Rigel untuk sahabatnya itu. Bila Lyra terus terhubung dengan Agni, itu hanya akan membuat hatinya sakit. Karena Agni hanya akan terus mengingatkannya pada pria yang saat ini masih bersemayam di lubuk hatinya.
Tiga hari menuju kepergiannya ke New York, Lyra menghabiskan waktunya bersama Axel dan Nata. Lyra membawa kedua sahabatnya berpergian ke tempat-tempat bagus di kota. Namun, hatinya terasa mengganjal karena satu orang sahabat yang tak Lyra ajak pergi. Dan mau bagaimana lagi, proses untuk melupakan Rigel adalah dengan cara menghindari semua yang berhubungan dengan Rigel termasuk menghindari Agni, walaupun ia merupakan sahabatnya.
Lalu setelah lamanya mereka berpergian, Lyra dan kedua sahabatnya itu pun beristirahat di sebuah kafe. Namun, saat di sana Lyra malah mendapati Rigel dan Jayden. Lyra berniat ingin menghindari, tapi Jayden malah melihatnya ketika Lyra dan kedua sahabatnya itu akan hendak pergi dari kafe tersebut.
"Mamah Lyra," panggil Jayden sembari berlarian menghampiri Lyra.
Lyra menghela, mau tak mau Lyra harus mengurungkan niatnya untuk melangkahkan kakinya dari kafe tersebut. Lyra memang senang bisa bertemu kembali dengan Jayden setelah lamanya ia tak bertemu. Tapi Lyra sangat bersedih ketika melihat kembali sosok pria yang sedang berusaha ia lupakan.
"Jayden sedang apa di sini?" Tanya Lyra tersenyum girang menatap keponakan dari mantan kekasihnya itu.
"Jay dan papah mau makan es krim di sini." Jayden lalu meraih tangan Lyra. "Mamah Lyra, ayo ikut makan es krim bersama Jay."
Seketika Rigel dengan cepat menghampiri dengan raut wajahnya yang nampak marah. "Dia bukan lagi mamah kamu. Lebih baik kita pulang sekarang." Rigel menarik pergi Jayden secara paksa hingga sampai membuatnya menangis keras.
Melihat Jayden yang menangis itu, membuat Lyra merasa tak tega. Tapi sekarang Lyra tak bisa berbuat apa-apa karena apa yang di katakan Rigel memang benar, bila dirinya bukan lagi sosok ibu untuk Jayden. Dan mungkin bukan siapa-siapa lagi untuk Jayden.
Walau pertemuannya dengan Rigel dan Jayden hanya bisa di hitung beberapa menit, setidaknya Lyra dapat melepas rindu setelah lamanya ia tak bertemu. Hingga sampai membuatnya tak bisa membendung air matanya selepas Rigel dan Jayden pergi dari hadapannya.
Sontak Axel pun langsung saja menyeka bulir air di kedua pipi sahabatnya itu. "Apa bertemu dengan Rigel membuat hatimu sakit? Apa lebih baik kamu mengurungkan niatmu itu untuk pergi ke New York. Dan kembali lagi dengan Rigel, lalu jelaskan alasanmu memutuskannya."
Lyra menggeleng cepat. "Aku tak bisa mengurungkan niatku itu. Karena pergi ke New York merupakan satu-satunya cara agar aku bisa dengan cepat melupakan Rigel. Dan dengan berakhirnya hubunganku dengannya, itu akan menjadi hal yang baik untuk Rigel dan juga Jayden.
Axel merasa ragu bila Lyra akan dengan mudahnya melupakan Rigel setelah pergi jauh dari kota tempatnya tinggal.
"Apa benar dia akan berhasil melupakan Rigel," gumam Axel di batinnya.