
Setelah bertengkar hebat dan selama perjalanan mereka pergi ke kantor, Lyra dan Rigel diam tak berkutip. Lyra yang memalingkan wajahnya, tak henti-hentinya menitikan air mata. Baru kali ini Lyra di bentak Rigel hanya karena ia ingin mendapatkan kejujuran dari Rigel. Lyra sangat sedih dan juga kecewa terhadap Rigel yang bisa-bisanya membentak, padahal Lyra hanya mengkhawatirkannya. Lyra tak ingin Rigel menutup-nutupi kesedihannya dari Lyra. Lyra hanya ingin Rigel berkata jujur tentang keadaannya dan bisa bebas mengekspresikan kesedihannya di depan Lyra. Di tambah keadaan kesehatan Rigel saat ini sedang tak baik. Bila memang ia sedang sakit seharusnya Rigel bilang dan tak perlu berkata baik-baik saja sedangkan tubuhnya berkata lain. Dengan sikap Rigel seperti itu malah hanya membuat Lyra semakin khawatir.
Sementara Rigel, ia tak tahu harus berbuat apa setelah membuat Lyra bersedih. Yang ia pikir dengan cara menutupi keadaannya dari Lyra, setidaknya ia tidak akan membuat Lyra khawatir. Terlebih Rigel tak ingin Lyra terus menyalahi diri dan akhirnya berakhir dengan mengucap kata pisah hanya karena untuk kebaikan Rigel. Namun ternyata malah berbanding terbalik, Rigel malah membuat Lyra bersedih dan semakin khawatir.
Rigel sampai beberapa kali menghela nafasnya, tak tahu harus meminta maaf ataupun melakukan apa supaya bisa meredakan marahnya Lyra. Ia terlalu canggung dan terlalu malu setelah membentaknya. Ingin mengucap kata maafpun terasa tertahan di tenggorokannya. Hingga akhirnya ia malah menghela nafasnya lagi dan lagi.
Dan ketika mobil yang di kendarainya telah di parkirkan di tempat parkiran kantor. Dengan cepat kata maaf pun spontan keluar dari mulutnya.
"Maafkan aku, Lyra."
Lyra terlalu marah hingga tak mau menanggapi permintaan maaf dari Rigel. Ia langsung saja turun dari mobil tanpa berucap sepatah katapun. Hingga membuat Rigel pun semakin merasa bersalah terhadap Lyra.
Rigel maunya mengejar, namun marahnya Lyra belum mereda. Bila sampai Rigel mengejar, mungkin saja pertengkarannya akan terulang kembali. Rigel pun perlu waktu untuk berbicara dan meminta maaf kepada Lyra sampai marahnya Lyra mereda.
Seperti biasanya tiap kali datang ke kantor, Lyra langsung saja melangkahkan kakinya menuju dapur. Namun di saat Lyra akan hendak masuk ke dapur, dari kafetaria Lyra melihat Agni dan Ryan tengah duduk sembari berbincang. Lyra pun bergegas menghampirinya untuk meminta maaf perihal kemarin.
"Boleh ikut bergabung," ucap Lyra.
Lyra pikir Agni akan marah saat dirinya datang, namun sepertinya tidak. Agni malah tersenyum lebar dan memperbolehkan Lyra ikut bergabung.
"Tentu saja, silahkan duduk."
Lyra sangat canggung terhadap Agni, setelah kemarin ia meninggalkan sahabatnya itu dalam keadaan menangis. Kemarin Lyra seperti teman yang tak punya perasaan, ia pergi begitu saja di saat Agni tengah memohon sembari menangis. Lyra pergi memang ada alasannya, itu karena ia juga sama seperti halnya yang di rasakan Agni. Sama-sama takut dan tak punya solusi untuk membuat Rigel tetap bekerja di perusahaan ataupun tetap mebiarkan Agni tinggal di Indonesia walau nanti perjodohannya dengan Rigel batal.
Biarpun sangat canggung dan sulit sekali berucap, Lyra harus tetap meminta maaf terhadap sahabat tersebut. Namun, Bukannya langsung meminta maaf Lyra malah fokus ke topik lain. Kata maaf yang akan di lontarkannya malah tertelan karena rasa canggung dan juga gugupnya yang sangat terasa hebat di rasanya. Terlebih lagi ada Ryan yang pastinya akan mendengar obrolannya dengan Agni.
"Sepertinya kamu membuatkan sarapan untuk Ryan."
"Iya, aku membuatkan sarapan spesial untuknya," ucap Agni.
Bila terus di tunda-tunda, lama-lama niatnya ingin meminta maaf mungkin akan terlupakan. Lyra pun harus bergegas meminta maaf walaupun dirinya sangat canggung dan ragu bila harus kembali membahas perihal kemarin.
Lyra pun menelan salivanya sembari tertunduk menatap jari tangan yang sedari tadi ia mainkan. "Untuk yang kemarin aku minta maaf."
Sontak Agni pun menatap heran Lyra. "Untuk apa minta maaf?"
"Maaf karena tak bisa memberikan solusi untukmu, dan aku malah meninggalkanmu dalam keadaan menangis."
Agni lalu meraih tangan Lyra. "Kemarin kamu pasti syok setelah mendengar ceritaku. Dan kamu pun pasti bingung harus berbuat apa. Aku mengerti perasaanmu. Kamu tak perlu meminta maaf, Lyra."
Seketika Ryan mengerutkan alisnya, ia tampak kebingungan dengan apa yang di bahas Agni dan Lyra.
"Memangnya apa yang terjadi sampai-sampai Agni menangis?"
"Kenapa kamu harus di buat tinggal di negeri orang hanya karena membatalkan pertunangan. Kamu itu sudah dewasa, dan bebas menentukan pilihan hidupmu sendiri. Kamu punya hak untuk memilih orang yang kamu sukai," ucap Ryan dengan raut wajahnya yang nampak di tekuk kesal.
"Aku ini berbeda, aku tak bisa menentukan hidupku sendiri. Dengan siapa aku menikah, semuanya telah di atur oleh orang tuaku. Baik ayahku maupun ibuku, mereka hanya peduli dengan citra perusahaan dan keluarga. Tentunya pernikahanku itu karena bisnis juga. Bila aku membatalkan pernikahan apa lagi sampai memiliki hubungan dengan pria yang bukan pilihan mereka, mereka pasti memiliki seribu cara untuk memisahkanku dengan pria yang kusukai. Walaupun harus menyakiti pria tersebut."
Seketika Ryan pun berdiri dari duduknya dengan raut wajahnya yang nampak semakin di tekuk kesal. "Bila memang kamu menyukaiku, berusahalah untuk membatalkan perjodohanmu. Dan berusahalah untuk tetap tinggal di kota ini bila memang kamu tak sanggup jauh dariku."
Ryan pun beranjak pergi dengan raut wajahnya yang nampak kesal dan marah. Hingga membuat Lyra pun terheran-heran menatap raut wajah Ryan tersebut.
"Apa kalian sudah memiliki hubungan?" Tanya Lyra.
Agni menghela. "Kami memiliki hubungan yang tak lebih dari sekedar pertemanan."
"Bukan itu maksudku. Tapi apa kalian sudah berpacaran? Bila memang kalian saling menyukai, kenapa tidak berpacaran saja. Bukankah itu yang kamu harapkan dari Ryan."
"Bila memang dia menyukaiku, seharusnya dia membalas rasa sukaku dan menyatakan perasaannya. Dia bahkan selalu menghindar tiap kali aku bilang suka padanya."
Lyra tergelak. "Itu karena dia terlalu gengsi untuk mengucapkannya. Apa kamu tidak peka dengan ucapan Ryan barusan."
Sontak Agni pun mulai mencerna ucapan Ryan setelah Lyra berusaha membuat Agni untuk sadar akan perkataan Ryan itu.
Sementara Lyra, ia langsung saja beranjak sembari tertawa kecil setelah melihat Agni yang tampak kebingungan dengan ucapan Ryan maupun dirinya. Agni jelas saja tidak peka, secara Ryan tak pernah menunjukan rasa sukanya terhadap Agni. Raut wajahnya yang datar serta sikapnya yang dingin membuat Agni tak bisa menebak isi hatinya. Terlebih lagi Ryan selalu saja merasa kesal tiap kali Agni menempel padanya.
**
Walau Lyra masih marah terhadap Rigel, tapi ia harus melaksanakan tugasnya menyiapkan makan untuk Rigel. Jam makan siang sudah di mulai, Lyra pun segera beranjak ke ruangan Rigel sembari membawa makanan yang telah di masaknya.
Sesampainya di sana, Lyra mendapati Rigel tengah menelengkupkan kepalanya di atas meja. Tak biasanya Rigel tertidur di waktu jam makan siang. Hingga membuat Lyra pun keheranan melihat Rigel yang tengah tertidur sembari menelengkupan kepalanya di atas meja.
Lyra pun menghampiri lalu menepuk lengan Rigel untuk membangunkannya. Namun saat tangannya menyentuh lengan Rigel, Lyra di buat panik dengan suhu tubuh kekasihnya yang tak seperti orang sehat pada umumnya.
"Rigel," seru Lyra.
Rigel pun terbangun dari tidurnya dengan wajahnya yang tampak lebih pucat di bandingkan dengan tadi pagi. "Kamu sudah membawakanku makan siang, Lyra."
"Kita harus pergi ke dokter sekarang juga, sepertinya kamu demam."
Rigel meraih tangan Lyra. "Tidak perlu, sehabis makan siang aku akan ada pertemuan dengan klien. Aku tak ada waktu bila harus pergi kesana."
Lyra melepaskan tangannya dari Rigel. "Batalkan saja. Jangan membuatku semakin marah lagi, Rigel. Kamu sedang sakit dan seharusnya kamu beristirahat bukannya bekerja."
Tanpa basa basi lagi, Lyra pun lalu beranjak menemui Ryan dan memintanya untuk mengantarkan Rigel pergi ke rumah sakit terdekat.