My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
21. Berkatmu



Tempat yang di tuju Rigel ternyata hanyalah sebuah taman bermain. Yang di pikir Lyra, Rigel akan membawanya pergi ke tempat mewah namun nyatanya tidak. Pakaian yang di pakai Lyra memang sangatlah pas bila hanya sekedar pergi ke taman bermain. Tapi, bagaimana bisa Rigel membawanya ke taman bermain padahal Rigel sudah repot-repot menyiapkan pakaian, sepatu, dan tas mewah untuk di pakai Lyra. Bahkan Lyra di buat dandan cantik oleh para pelayan, padahal hanya sekedar pergi ke taman bermain saja.


"Jadi ini tempat yang kamu maksud," ucap Lyra tercengang.


Rigel tersenyum sembari mengangguk. "Hm iya, hari ini kita akan membuat Jay bersenang-senang di sini."


"Setelah repot-repot membuat penampilanku terlihat mahal, kamu hanya membawaku ke tempat seperti ini. Bila ke tempat seperti ini saja seharusnya kamu hanya perlu menyiapkan pakaian biasa saja, tak perlu terlalu mahal. Bahkan kamu membawakanku banyak pakaian mahal untukku pilih, apa semua itu kamu beli secara cash?"


Rigel tersenyum. "Tentu saja cash, aku tak pernah membeli apapun secara kredit. Itulah cara hidup orang kaya."


Lyra menggeleng. "Aku tak habis pikir bila orang kaya sepertimu selalu memhambur-hamburkan uang."


"Aku tak menghambur-hamburkan uang, lagi pula barang-barang yang ku beli tadi harganya tak seberapa."


Bagi Rigel mungkin itu tak seberapa, tapi bagi Lyra itu merupakan harga yang sangat fantastis. Bahkan seumur hidupnya, Lyra tak pernah membeli atau menggunakan barang yang harganya di luar dugaannya. Lyra hanya bisa melihat barang-barang bermerek lewat toko atau pun lewat Agni, karena temannya itu merupakan seorang anak dari keluarga yang berada. Dan selama hidupnya hanya Rigelah yang mampu membuatnya mengenakan pakaian yang sangat mahal.


Satu jam di taman bermain, Lyra, Rigel, dan Jayden menaiki beberapa wahana di sana. Ternyata sebagai kekasih pura-pura Rigel memang cukup menyenangkan untuk Lyra. Apa lagi Rigel memperlakukan Lyra tak seperti kekasih pura-puranya, Lyra di perlakukan Rigel seperti kekasih yang memang sangat di cintainya. Lyra pun sempat berpikir, apa yang di lakukannya ini hanyalah sebuah pekerjaan atau tidak. Pekerjaan ini tak membuatnya lelah tapi malah membuatnya sangat senang.


Rigel bersikap lembut kepada Lyra, layaknya seorang kekasih. Awalnya Lyra sempat berpikir bahwa sebagai pekerja pribadi Rigel merupakan mala petaka baginya, tapi kali ini Lyra malah berpikir bahwa bekerja sebagai pekerja pribadi dari Rigel Callisto merupakan hal yang paling beruntung. Selain mendapatkan gaji yang cukup besar, Lyra pun mendapatkan hal yang paling menyenangkan. Terutama pengalaman yang tak pernah di duganya, berperan sebagai seorang ibu dengan statusnya yang single adalah pengalaman yang luar biasa. Mimpi yang sempat kandas karena pernikahannya yang gagal malah terwujud berkat bekerja dengan Rigel.


Berkat Rigel pula, sejenak Lyra dapat melupakan masalah hutang fantastis yang di miliki orang tuanya. Dan di hari ini pula sejenak Lyra dapat melupakan Daniel, setelah berhari-hari ia larut dalam kesedihan. Biarpun peran yang di mainkannya hanyalah sebuah kebohongan, tapi Lyra merasa ini seperti nyata.


Setelah lamanya mereka menaiki wahana-wahana di taman bermain, Rigel pergi membelikan minuman untuk Jayden dan Lyra. Sementara Lyra dan Jayden menunggunya di meja kosong yang di sediakan taman bermain. Namun, di saat Lyra tengah menunggu Rigel, tiba-tiba saja Lyra di kejutkan dengan kedatangan Agni.


Sontak Lyra pun panik, bila sampai sahabatnya itu tahu bila Lyra tengah bersama Rigel, bisa-bisa Agni mencurigai Lyra berpacaran. Sementara hubungan pura-puranya ini tidak ingin di ketahui oleh siapapun. Tapi Agni malah datang menghampiri Lyra di saat ia tengah duduk menunggu bersama dengan keponakan dari kekasih pura-puranya itu. Namun, anehnya Agni datang menghampiri Lyra dengan raut wajahnya yang nampak di tekuk kesal.


"Sedang apa kamu di sini? Mengapa kemarin saat ku hubungi kamu tak mengangkat panggilanku, bahkan di saat aku pergi ke rumahmu, orang tuamu bilang bahwa kamu pergi menginap ke rumah temanmu. Teman yang kamu miliki hanyalah aku, Nata, dan Axel. Tapi saat ku tanyai Axel dan Nata, mereka bilang bila kamu tak menginap di rumah mereka," ucap Agni dengan raut wajahnya yang nampak marah.


Lyra menelan salivanya. "A..aku memang menginap di rumah teman. Dan aku tak mengangkat teleponmu karena dari kemarin aku tidak mengecek ponselku, dan ponselku dalam mode getar. Oleh sebab itu aku tak sempat mengangkat panggilan darimu," ucapnya bernada gugup.


"Mamah siapa wanita jelek ini," lontar Jayden.


"Eh, Jay tidak boleh berbicara tak sopan sama orang dewasa. Dia itu sahabatnya mamah Lyra," ucap Lyra panik.


Seketika Agni mengerutkan kedua alisnya. "Sejak kapan kamu memiliki anak, apa dia anak dari pacar baru yang kamu sembunyikan statusnya."


"Dari mana kamu tahu bila aku memiliki status yang di sembunyikan?"


Agni melipat lengannya di atas perut. "Sejak saat aku melihatmu pulang dari kantor bersama seorang pria."


Lyra pun semakin panik dan gelisah saja dengan apa yang di ucapkan Agni tersebut.


"Apa kau melihatku pergi bersama Rigel?"


Lyra mengerutkan alisnya. "Apa pria yang kamu lihat itu Ryan?"


"Iya benar itu adalah Ryan. Bisa-bisanya kamu menyembunyikan hubunganmu dengan Ryan di belakangku, seharusnya kamu bilang dari awal bila kamu berpacaran dengannya." Seketika kedua mata Agni tergenang oleh air. "Bila dari awal kamu memberi tahu hubunganmu atau mengenalkan Ryan sebagai kekasihmu, aku mungkin tak akan terlalu berharap padanya."


"Maksud tante ini, paman Ryan yang menjadi sekertarisnya papah Rigel? Bila memang dia orangnya, itu salah paham. Karena mamah Lyra pacarnya papah Rigel bukan paman Ryan," lontar Jayden dengan raut wajahnya yang di tekuk kesal.


"Apa maksud dia, Lyra?"


Lyra menghela nafasnya. "Kemarin aku memang di antar oleh Ryan karena dia di suruh oleh Rigel. Aku memang sengaja pergi menaiki mobilnya di tempat yang jauh dari kantor, agar orang-orang di kantor tak mencurigaiku. Bila aku adalah perempuan yang di gosipkan mereka, yang beberapa waktu yang lalu pergi bersama Rigel. Tapi mengapa kamu malah mencurigaiku memiliki hubungan dengan Ryan, dan mengapa pula tempat itu masih saja bisa di jangkau oleh orang-orang kantor, padahal tempat itu cukup jauh dari kantor."


Agni menyeka air di kedua matanya. "Kemarin hanya aku saja yang melihatmu pergi bersama Ryan. Jadi siapa Rigel yang kamu maksud itu?"


"Kemarin sudah ku bilang kan, Rigel adalah CEO di tempat kita bekerja?"


"Apa CEO yang kamu maksud itu pacar barumu?"


Tiba-tiba saja Rigel datang sembari membawa dua cup minuman.


"Iya, aku memang pacar barunya Lyra."


Mulut Agni pun seketika menganga, ia tercengang dan langsung saja menutup mulutnya dengan tangan.


"Aku tak habis pikir bila kamu berpacaran lagi, padahal belum lama ini kamu baru putus dengan Daniel. Apa kamu benar-benar sudah dapat melupakannya."


Rigel tersenyum, lalu merangkul Lyra dari belakang. "Tentu saja Lyra dapat dengan cepat melupakan pria brengsek yang jadi mantannya itu. Untuk apa berlarut-larut dalam kesedihan hanya karena pria brengsek seperti dia."


"Memang benar, pria seperti Daniel tak patut di pikirkan." Agni lalu berdiri dari duduknya. "Oh ya Lyra, sepertinya aku harus segera pergi, Nata pasti mencariku."


Seketika Lyra memegang lengan Agni dengan raut wajahnya yang nampak panik. "Apa maksudmu? Apa kamu pergi kesini bersama dengan Nata?"


Agni mengangguk. "Iya, aku kesini bersama dengan Nata."


"Kalau begitu, jangan sampai kamu memberitahu Nata soal hubunganku ini."


"Memangnya kenapa? Bukankah Nata sahabat kita, dia juga berhak tahu tentang pacar barumu."


Lyra menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Dia tak boleh tahu, dia adalah penggemar beratnya Rigel. Bila sampai dia dan teman-teman kantornya tahu, aku bisa-bisa di hujat oleh orang-orang kantor."


Lyra lalu menarik lengan Rigel dan Jayden. "Sepertinya kita sudah cukup bersenang-senang di sini, kita pergi sekarang juga sebelum temanku tahu."


Biarpun Jayden masih belum puas bermain dan tentunya Lyra pun masih belum puas menikmati wahana permainan, terpaksa Lyra harus terburu-buru pergi dari taman bermain bila tak ingin Nata tahu dengan keberadaan Lyra bersama Rigel. Kedatangan Agni saja sudah membuat Lyra panik setengah mati, apa lagi bila sampai Nata mengetahuinya pergi bersama Rigel, bisa-bisa hubungan pertemanannya dengan Nata hancur. Secara Nata merupakan penggemar berat dari CEO PT Starlight tersebut.