
Akhir pekan menjadi hari yang pas untuk pergi berlibur ke resort mewah milik penerus perusahaan PT Starlight. Semua teman dekatnya yang tinggal di Inggris di ajaknya untuk pergi bersenang-senang di resort mewahnya. Dan tak lupa teman-teman dari kekasihnya Justin juga turut di ajak belibur ke resort yang berada di dekat pantai West Wittering itu, terutama dengan Lyra dan juga Agni yang merupakan salah satu teman dekatnya Alice.
Sesuai yang di rencanakannya, Rigel pergi membawa adik perempuan Justin pergi ke resort mewahnya. Semua orang yang di ajaknya ke resort sudah tahu tentang Jane yang hanya di jadikan kekasih pura-puranya Rigel. Tapi tidak dengan Lyra yang tak tahu bahwa Jane merupakan kekasih palsu dari mantan kekasihnya itu.
Ketika semuanya tengah menunggu Rigel di depan Resort, Rigel datang dengan mobil mewahnya. Seakan-akan ingin membuat Rigel berhasil dengan rencananya, semua orang bersandiwara terkejut ketika melihat Rigel yang datang dengan Jane. Bahkan ketika Rigel akan menghampiri teman-temannya, ia berjalan sembari menggandeng tangan Jane.
"Apa ini kekasih barumu?" Tanya Agni yang seakan-akan ia pura-pura tak tahu dengan kekasih palsu Rigel tersebut.
"Iya, dia kekasih baruku. Sekaligus adik perempuannya Justin."
Sontak raut wajah Lyra pun nampak di tekuk kesal, bahkan ia seperti nampak syok ketika Rigel memperkenalkan Jane sebagai kekasih barunya. Rigel hanya tersenyum samar saat melihat Lyra yang tengah di tekuk kesal itu.
Agar sandiwaranya berjalan dengan lancar, semua teman-temannya ikut memanas-manasi Lyra. Dengan isengnya mereka melakukan hal-hal yang membuat Lyra semakin di tekuk kesal. Hingga lama-lama mereka melakukan keisengan, raut wajah Lyra pun berubah menjadi sendu, yang seakan-akan ia seperti akan menangis. Namun sepertinya ia menahanyanya, karena mungkin ingin terlihat seperti orang yang benar-benar telah merelakan mantan kekasihnya untuk wanita lain. Tapi nyatanya Rigel tak bisa di bohongi, karena jelas terlihat bila Lyra masih menaruh hati padanya. Dan lagi-lagi Rigel menanggapinya dengan senyuman samar.
"Apa sandiwaraku ini berhasil," gumam Rigel di batinnya.
Jane terus saja menempel kepada Rigel, bahkan kemanapun Rigel melangkah Jane terus mengikutinya. Ketika duduk pun Jane selalu duduk di sebelah Rigel sembari merangkul lengannya dan menyenderkan kepalanya di bahu Rigel. Lyra hanya bisa menghela tanpa bisa berkata bahwa dirinya sangatlah cemburu dan kesal melihat Rigel yang terus di tempeli oleh Jane. Tapi mau bagaimana lagi, Rigel yang sekarang bukanlah miliknya lagi.
Ketika malam harinya, Rigel beserta teman-temannya melakukan pesta barbeque di dekat pantai. Dan lagi, secara terus-menerus Jane selalu menempel dengan Rigel. Melakukan tindakan-tindakan yang terus memancing kecemburuan Lyra. Seperti menyuapi Rigel hingga menyeka sisa makanan yang menempel di bibir mantan kekasih dari Lyra tersebut.
"Kalian baru dua hari sebagai pasangan kekasih, tapi seperti sudah lama saling mencintai," lontar Alice.
"Kami sudah mengenal sejak aku masih kuliah, dan kami sering bertemu karena aku sering datang ke London ketika menemui Justin di rumahnya. Karena kami sudah lama saling mengenal, jadi kami tidak merasa canggung walau hubungan kami baru terjalin dua hari." Rigel tersenyum manis menatap Jane. "Bukankah begitu, sayang."
Seketika Jane mengecup bibir Rigel. "Iya, sayang," ucapnya sembari membalas senyuman manis penerus perusahaan PT Starlight itu.
Tindakan Jane tersebut tak hanya membuat Lyra kesal, tapi Agni pun jadi ikutan kesal ketika melihatnya. Agni beringsut dari duduknya, lalu menarik lengan Rigel.
"Bisakah kita bicara sebentar."
Agni pergi membawa Rigel ke tempat yang jauh dari teman-temannya berkumpul.
"Sandiwaramu sangat berlebihan, Rigel. Kalian sangat berani bersentuhan bibir di depan Lyra. Tindakan seperti itu hanya akan membuatnya jijik."
"Aku tak melakukannya, tapi Janelah yang mengecupku."
Agni menghela kasar nafasnya. "Seharusnya kamu bilang terlebih dahulu kepada Jane untuk tak melalukan hal yang berlebihan seperti itu. Kamu tahu kan bila Lyra masih menyimpan rasa padamu, dia akan merasa jijik ketika melihat kalian seperti itu."
Setelah panjang lebar di tegur Agni, Rigel pun kembali berkumpul bersama teman-temannya. Namun di saat Rigel kembali, Lyra tak nampak ada di perkumpulan teman-temannya itu.
"Kemana Lyra?" Tanya Rigel.
"Sepertinya rencana kita berhasil, dia pergi melihat laut di pesisir pantai sambil membawa banyak bir," jawab Jane.
Sontak dengan cepatnya Rigel melangkahkan kakinya ke tempat Lyra berada. Dan benar saja kata Jane, bila Lyra tengah melihat laut dengan beberapa kaleng bir di sebelahnya duduk.
Rigel lalu duduk di sebelah Lyra. "Bukankah di sini terlalu dingin, mengapa kamu tak mengajak orang untuk menemanimu."
"Justru di sini jauh lebih nyaman, dan lebih nyaman lagi bila aku seorang diri. Oh ya, selamat karena telah menemukan kekasih baru, aku turut senang melihatnya."
Rigel memiringkan senyumnya. "Apa kau benar-benar senang karena sekarang aku memiliki kekasih baru."
"Tentu saja aku senang," ucap Lyra tanpa menatap dengan kedua matanya yang tergenang.
Rigel menghela kasar nafasnya. "Kamu masih saja berbohong dengan perasaanmu. Padahal sedari tadi kamu tak baik-baik saja ketika melihatku dengan Jane. Apa kamu akan terus membohongiku."
"Aku tak membohongimu, Rigel. Untuk apa aku berbohong, jelas-jelas ini sudah tiga tahun. Dan perasaanku terhadapmu sudah hilang."
Rigel berdiri dari duduknya. "Pembohong! Kamu memang tak pandai dalam bersandiwara. Padahal jelas sekali dari raut wajahmu yang sangat bersedih ketika melihatku dengan Jane."
Rigel beranjak melangkah pergi meninggalkan Lyra dengan raut marah dan kesalnya. Sia-sia Rigel bersandiwara untuk memancing perasaan Lyra, mantan kekasihnya itu masih saja tak mau mengakui perasaannya. Rigel perlu menenangkan diri setelah di buat kesal dan marah oleh Lyra yang berbohong atas perasaannya. Ia beranjak pergi ke kamarnya, lalu membaringkan diri di ranjang. Kesal, marah, dan juga bersedih, tercampur aduk di diri Rigel. Ia termenung dengan matanya yang tertutup. Terus berpikir dengan langkah apa yang akan Rigel ambil untuk selanjutnya, apa yang ia akan terus mengharapkan Lyra atau menyerah atas keinginannya itu. Sudah terlalu lelah bila harus terus mengharapkan wanita yang tak mau kembali. Dan terlalu sakit bila harus mendengar kata-kata yang hanya akan membuatnya kecewa.
Hingga sampai larut malam Rigel masih terjaga dari tidurnya. Hanya memikirkan Lyra saja, Rigel sampai tak bisa terlelap tidur. Lalu tiba-tiba saja seseorang mengetuk keras pintu kamarnya. Rigel pun terburu-buru beranjak dari tempat tidurnya menuju pintu.
Tak di sangka ternyata orang yang mengetuk pintunya dengan keras ialah Lyra. Mungkin karena terlalu banyak minum beer, Lyra datang dengan bau alkohol yang menyengat di sekujur tubuhnya. Bahkan ia datang sambil menangis.
"Dasar jahat." Lyra memukul-mukul dada bidang milik Rigel. "Kamu jahat, padahal kamu tahu bila aku masih mencintaimu. Tapi kamu malah berciuman dengan Jane di depanku."
Sontak Rigel pun tersenyum girang setelah mendengar apa yang di ucapkan Lyra tersebut. Biarpun ucapan Lyra di lakukan pada saat mabuk, Rigel tetap senang. Karena orang mabuk tak akan bisa berbohong. Rigel pikir rencananya akan sia-sia, namun nyatanya rencananya berhasil membuat Lyra mengakui perasaanya.
Rigel seketika menarik pinggang Lyra, lalu secara perlahan Rigel mendekatkan bibirnya ke arah bibir mungil milik Lyra. Dengan lembutnya Rigel pun menciumnya. Mata Lyra pun terpejam menikmati sentuhan lembut dari bibir Rigel. Rigel menghisap penuh bibir atasnya, dan Lyra juga membalas dengan hisapannya. Ciuman tersebut sampai membuat panas sekujur tubuh mereka. Dan pada akhirnya nafas keduanya terengah-engah ketika ciumannya terhenti.
"Sepertinya kita tak boleh berhenti sampai di sini saja." Rigel kembali mencumbu bibir Lyra. kali ini ciumannya tak hanya berdiri di satu tempat, melainkan ciumannya sambil melangkah menuju tempat tidur.