My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
40. Dia Tak Berhak Mengambil Sesuatu Yang Berharga Di Hidupku



Bila Lyra tengah mengajak Jayden bermain di kafetaria, lain halnya dengan Rigel yang tengah berdiam diri di ruangan Sandy. Ia berdiri dengan kepala yang tertunduk ke bawah. Rigel di buat Sandy berdiri lama di ruangannya tanpa sedikitpun dipedulikan. Yang dipedulikan Sandy hanyalah dokumen-dokumen yang tengah ia periksa dan di tanda tangani. Rigel terus saja di abaikan Sandy, meski ia sudah nampak lelah berdiri. Apa ini balasan dari Sandy karena tadi putra semata wayangnya itu telah mengabaikan teleponnya. Rigel sampai menghela kesal dengan perbuatan ayahnya itu. Ia diminta untuk datang ke ruangannya tapi malah di abaikan.


"Apa perlu aku keluar sekarang," lontar Rigel kesal.


"Silahkan kau pergi, tapi nanti ayah akan mengambil Jayden untuk tinggal di rumah ayah. Setelah dia tinggal bersamaku kamu tak berhak menemuinya apa lagi membuat wanita itu bertatap muka dengan Jayden," imbuh Sandy tanpa menatap dan hanya fokus pada dokumen-dokumen yang tengah ia periksa.


"Ayah tidak bisa begitu. Jayden adalah anakku, ayah tak berhak memisahkan kami."


Sandy memiringkan senyumnya sembari menatap sinis Rigel. "Dia adalah anak kakakmu, bukan anakmu. Dia merupakan cucuku, aku juga berhak atasnya."


Rigel menghela kasar nafasnya. "Walau ayah adalah kakeknya, tapi ayah tidak bisa seenaknya merebut Jayden dariku. Jayden lebih dekat denganku di bandingkan dengan ayah. Apa ayah ingin menyakiti hatinya bila ayah memisahkan dia dariku."


Seketika Sandy mengebrak meja dengan keras. "Jika kau tak ingin aku menyakiti hati Jayden, sudahi hubunganmu dengan wanita rendahan itu," ucapnya meninggikan suara. Lalu dengan perlahan ia membuang nafasnya. "Pilihlah salah satunya, apa kamu memilih Jayden atau memilih mempertahankan hubunganmu dengan wanita itu."


Ini merupakan pilihan tersulit bagi Rigel, pilihan yang tak bisa Rigel ambil hanya salah satu dari mereka. Rigel sangat menyayangi Jayden tapi tak mau kehilangan Lyra. Ia juga sangat menyayangi Lyra tapi tak mau kehilangan Jayden. Mereka adalah dua orang yang paling berharga di hidupnya, bila salah satu dari mereka tak dapat Rigel miliki maka kehidupannya tak akan sempurna. Egois bila Rigel harus memilih satu dari mereka, karena rasa sayang Rigel terhadap kedua orang itu sangatlah besar. Sandy telah berhasil mengambil kelemahan dari Rigel, hingga membuat Rigel cemas atas pilihan yang di berikan ayahnya itu.


"Baik Lyra mau Jayden mereka adalah miliku. Dan aku akan mendapatkan keduanya, ayah tak perlu susah payah memisahkan mereka terutama memisah Lyra dariku."


Sandy menyeringai setelah mendengar ucapan dari anaknya tersebut, seakan-akan ia sangat meremehkan Rigel. Ia merasa bahwa cara apapun yang akan Rigel tempuh, ia tak akan pernah bisa mendapatkan keduanya. Karena Sandy tahu segalanya untuk bisa membuat Rigel menyesal bila ia tetap bersikukuh untuk mempertahankan hubungannya dengan Lyra.


"Silahkan bila kau bisa. Seberapa keras kau menentangku, pada akhirnya kau hanya akan menelan kekalahan. Jadi, kau tak perlu berusaha keras bila sudah tahu akhirnya."


Rigel memiringkan senyumnya. "Tentu saja aku akan berusaha keras, dan akan ku pastikan bila aku akan mendapatkan apa yang ku inginkan. Karena tak ada yang tahu takdir akan berpihak pada siapa."


Rigel lalu beranjak dari ruangan dengan raut wajahnya yang nampak penuh dengan amarah. Rigel benar-benar sudah di buat kesal atas ancaman ayahnya tersebut. Ia juga sudah di buat bersedih atas ketakutan akan kehilangan dari salah satu orang yang paling berharga di hidupnya. Biarpun tadi ia sangat percaya diri, namun pada akhirnya saat keluar dari ruangan ayahnya, ketakutan itu muncul. Rigel takut bila salah satu dari orang yang sangat ia sayangi tak akan ia dapatkan seperti apa yang di ucapkannya tadi.


Rigel sampai tertunduk lesu sembari berjalan memasuki ruangannya. Saat masuk, ia mendapati Jayden tengah tertidur pulas dengan kepala yang bersandar di pangkuan Lyra.


"Sejak kapan dia tertidur?" Tanya Rigel.


"Ssttt." Lyra menempelkan jari telunjuk di bibir. "Jangan terlalu keras nanti dia bisa terbangun, dia baru saja tertidur."


Rigel tersenyum lalu duduk di sebelah Lyra, ia pun bersandar di pundak Lyra sembari memegang tangannya.


"Apa sebaiknya kita menikah saja," ucap Rigel.


"Kenapa kau membahas lagi pernikahan. Sudah ku bilang, kita harus menikmati dulu masa pacaran. Terlalu cepat bila kita harus menikah."


"Bila kita menikah, ketakutan akan kehilangmu sedikitnya berkurang. Dan kita bertiga bisa hidup bahagia. Bukankah Jayden sudah beberapa kali merengek meminta kita segera menikah."


Rigel meminta menikah, tapi Lyra masih ragu bila harus mengambil langkah tersebut. Karena restu dari Sandy saja belum ia dapatkan. Lyra takut pernikahannya tak akan bahagia bila tak ada restu dari ayahnya Rigel tersebut. Dan untuk melangkah ke pernikahan, bagi Lyra itu terlalu cepat. Karena Lyra masih ingin menikmati masa pacaran dengan Rigel sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius.


"Bila kita menikah, lalu bagaimana dengan ayahmu. Bukankah dia masih belum merestui hubungan kita," imbuh Lyra.


"Sampai kapanpun dia tak pernah mau merestui kita, maka dari itu kita jangan ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Karena bila kita menunggu restu darinya, hubungan kita tak akan pernah berakhir bahagia." Rigel lalu menutup matanya di sandaran Lyra. "Apa kamu bisa mempercayaiku, Lyra?"


Dengan tegas dan lantang Lyra pun menjawab. "Tentu saja aku mempercayaimu. Bukankah tadi siang sudah ku katakan bila aku sangat mempercayaimu."


Rigel tergelak. "Maka dari itu kamu harus percaya padaku, bahwa setelah kita menikah aku akan membahagiakanmu. Jadi, kamu tak perlu khawatir bila kita tak akan bahagia hanya karena tak mendapatkan restu dari ayahku. Cukup restu dari ayahmu saja, itu sudah membuat kita melangkah maju menuju jenjang pernikahan."


**


Setelah satu jam Rigel menenangkan hati dan pikirannya, ia pun mengajak Lyra untuk pulang. Karena sepertinya Jayden tak akan nyaman bila harus tidur bukan di tempat tidurnya. Rigel pulang walau mesti menunda pekerjaan dan dua rapat yang harus ia hadiri hari ini, karena ia tak akan fokus bekerja bila pikirannya saja berantakan.


Dan sebelum Rigel mengantar Lyra pulang, terlebih dahulu Rigel membawa Jayden pulang ke rumahnya.


"Kamu tunggu dulu di sini, aku akan membawa Jayden ke kamarnya dulu," ucap Rigel sembari keluar dari mobilnya, lalu menggendong Jayden yang tengah tertidur pulas di kursi belakang.


Di suruh menunggu, Lyra malah ikut keluar dari mobil.


"Aku ingin ikut mengantar Jay ke kamarnya."


Rigel menggeleng. "Di suruh menunggu malah mengikutiku. Ternyata istriku ini bukanlah tipe yang penurut kepada suaminya."


"Sejak kapan kita menikah," ucap Lyra sembari tersenyum.


"Jangan tanya sejak kapan, tapi tak lama lagi kamu akan menjadi istriku."


Rigel segera melangkahkan kakinya sembari menggendong Jayden ke kamarnya. Ia membaringkan tubuh Jayden di ranjang lalu menyelimutinya dengan rapih. Tak lama Jayden di baringkan, dengan cepat Lyra mengecup kening calon anaknya tersebut.


"Selamat tidur Jay, semoga kamu bermimpi indah."


"Ehem." Rigel mendeham. "Bagaimana denganku?"


"Bagaimana apa maksudmu?" Lyra menatap heran wajah Rigel.


"Masa hanya Jay saja yang di kecup. Aku pun ingin di kecup."


Lyra tergelak sembari menggelengkan kepalanya. "Apa perlu ku kecup juga."


Seketika Rigel menarik pinggang Lyra hingga membuat tubuhnya itu menempel dengannya. "Tentu saja kau harus mengecupku juga." Dan dengan cepat Rigel pun mendaratkan bibirnya di bibir mungil milik wanita yang telah mengecup kening keponakannya tersebut. Namun, Rigel bukannya mengecup melainkan mencium Lyra dengan agresif.


Lalu tak lama mereka berciuman, Lyra melepas paksa bibirnya dari Rigel. "Jangan terlalu lama, Jayden bisa bangun dan melihat kita sedang melakukan hal yang tak pantas di kamarnya."


"Apa perlu kamu menginap saja di rumahku, kamu bisa tidur bersamaku di kamaku."


Seketika Lyra menyentil kening Rigel. "Jangan mengharapkan sesuatu yang ku larang sebelum kita menikah."


"Kenapa tidak boleh. Sebentar lagi kita kan akan menikah."


"Walau aku setuju untuk menikah denganmu, terlebih dahulu kamu harus melamarku secara romantis." Lyra lalu melangkahkan kakinya. "Lebih baik kamu mengantarku pulang, dari pada mengharapkan sesuatu yang tidak-tidak."


Rigel pun langsung saja mengikuti langkah Lyra. "Baiklah, aku akan secepatnya melamarmu. Dan d malam pernikahan nanti, jangan harap kamu bisa tertidur."


"Ok, akan ku hadapi tantangmu itu nanti."