
Agni dan Nata di buat syok dengan cerita Lyra. Sementara mereka syok, Lyra malah merasa malu. Ia sudah tak bisa menaruh muka menghadapi teman-temannya. Secara mereka hanya tahu bahwa Lyra hanyalah seorang perempuan baik nan polos. Sampai-sampai Lyra tak bisa menatap langsung mata mereka, ketika menceritakan tentang dia yang tidur dengan sosok pria tak di kenalnya di hotel.
Selain syok, Agni dan Nata tampak marah. Tapi bukan marah kepada Lyra, melainkan kepada si penolong yang tak tahu namannya itu.
Agni mengulurkan tangannya. "Siapa namanya, dan berikan aku alamat rumahnya. Dia harus tanggung jawab terhadapmu."
Lyra menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu nama dia, apa lagi alamat rumahnya."
"Jika kamu memintanya untuk tanggung jawab, bagaimana jika dia pria brengsek seperti Daniel, atau dia merupakan pria jelek. Lyra akan menderita seumur hidup kalau sampai dia seperti itu " imbuh Nata.
Lyra melambaikan tangannya. "Tidak...tidak. Dia terlihat cukup tampan, bertubuh tinggi, kulit putih, dan juga memiliki tubuh yang bagus. Tapi jika dia memiliki sikap brengsek, aku tidak tahu."
"Jika dia seperti apa yang kamu gambarkan, setidaknya dia memiliki kelebihan. Jika kamu tidak tahu alamatnya, bagaimana jika kita cari tahu saja di bekas tempatmu bekerja. Bukankah dia pernah datang kesana," saran Agni.
Sangat memalukan bagi Lyra, bila sampai teman-temannya datang melabrak pria tersebut. Bukan tak mau meminta bertanggung jawab, tapi menurut Lyra bukan pria itu yang salah. Melainkan Lyra sendirilah yang bersalah, karena sudah memancingnya terlebih dahulu. Tak bisa di biarkan, bila sampai kedua temannya itu sampai mencari alamat rumah lewat bekas perusahaan tempatnya bekerja.
"Jangan mencarinya dan jangan pernah mencari tahu tentang pria itu," lontar Lyra dengan panik.
"Memangnya kenapa? Dia harus bertanggung jawab, kamu bukanlah seorang wanita murahan yang seenaknya di nikmati hanya satu malam," imbuh Agni.
Lyra menelan salivanya dengan kepala yang tertunduk. "Itu tidak seperti yang kamu bayangkan, karena akulah yang memulainya lebih dulu. Bila hanya dia yang kamu salahkah, itu salah. Karena aku juga sama bersalahnya, karena telah memancingnya lebih dulu."
"Biarpun kamu yang memancingnya, bukankah dia sangat bersalah. Karena dia tidak bisa menahannya, lalu memanfaatkan wanita yang tengah mabuk."
"Menurutku itu hal yang wajar, kalian bukankah pernah tinggal di amerika. Di sana orang-orang melakukan hal seperti itu mungkin sangatlah wajar," lontar Nata.
Agni menggeleng. "Ini Indonesia, dan kami asli orang Indonesia. Dan hal sepeti itu tidaklah sangat wajar untuk kami. Lagi pula selama kami menjenjang pendidik di sana, kami tak sampai terbawa arus oleh budaya orang di sana."
Lyra menghela nafasnya. "Pokoknya aku tidak setuju bila sampai kalian mencari tahu tentang pria itu."
Lyra melarang, dan merekapun tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menurut. Karena yang melakukannya Lyra, dan yang memutuskannya untuk meminta pertanggung jawaban ataupun tidak, itu Lyra sendiri. Biarpun Agni sudah memaksanya untuk mencari tahu tentang si penolong tersebut.
Lalu setelah Lyra menceritakan pengalamannya itu, hampir setiap hari Nata dan Agni selalu bertanya. Apa Lyra sudah datang bulan ataupun apa Lyra merasakan apa yang di alami oleh kebanyakan orang hamil. Lyra selalu menjawab tidak, karena memang bukan waktunya Lyra untuk datang bulan. Khawatir memang wajar bagi seorang teman, tapi karena mereka, Lyra malah merasa cemas dan takut bila sampai ia mengandung anak dari pria yang tak di kenalnya itu. Hingga sampai-sampai setiap hari Nata dan Agni selalu datang ke rumah hanya untuk mengetahui kondisi Lyra.
Hari ini, esok, lusa, hingga satu minggu mereka datang ke rumah. Bagi Lyra memang menyenangkan mereka datang ke rumah di tengah kesibukan mereka dengan pekerjaannya. Karena Lyra sekarang hanyalah penganguran yang tengah mencari lowongan kerja di internet maupun di koran. Mereka sangat membantu mengisi kejenuhannya di rumah.
Hingga suatu ketika, mereka tak datang ke rumah karena sibuk dengan pekerjaannya. Lyra sendirian di rumah, seharian penuh hanya di temani oleh televisi dan ponselnya. Sangat membosankan, yang biasa malam harinya kedua temannya datang, di hari ini mereka tak datang.
Lalu, tiba-tiba suara bel di pintunya berbunyi. Lyra kegirangan, ia bepikir mungkin saja itu Nata ataupun Agni. Ia beringsut dari sofa menuju pintu depan.
Saat pintu terbuka, yang di pikirkan Lyra salah, ternyata orang yang menekan tombol bel di pintunya itu adalah Axel. Tapi tak apa, karena Axel juga temannya. Mungkin dengan datangnya Axel, bisa sedikig menghilangkan kebosanannya di rumah.
Namun, masalahnya raut wajah Axel nampak cemas saat datang. Ia masuk ke rumah dengan gelagat yang nampak gelisah.
Lyra pun bertanya. "Ada apa denganmu? Apa ada masalah denganmu, sepertinya ada yang ingin kamu sampaikan padaku."
Axel menelan salivannya, lalu meraih tangan Lyra. "Sebenarnya aku ingin menyampaikan sesuatu padamu mengenai kedua orang tuamu."
Axel menghembuskan panjang nafasnya. "Sebenarnya aku di suruh mereka untuk tak memberi tahumu. Tapi, bila tak memberitahumu bukankah itu salah, karena kamu anaknya dan kamu berhak tahu.
Lyra di buat kebingungan dengan ucapan Axel, iapun sampai mengerenyitkan keningnya.
"Memangnya apa yang di rahasiakan mereka, sampai-sampai aku tak boleh mengetahuinya?"
Axel kembali menghembuskan panjang nafasnya. "Mereka terlilit hutang sebesar dua miliyar, dan baru membayar setengahnya kepada bank. Mereka sudah lama tak membayar hutang, sebagai jaminan untuk melunasi hutangnya, rumah makan mereka kemungkinan akan di sita."
Lyra tersentak kaget mendengarnya, ia sangat tak menyangka dengan hutang dari kedua orang tuanya yang bernilai cukup fantastis.
"Bagaimana bisa mereka terlilit hutang, dan jumlahnya pun bukan sebarangan."
"Mereka terlilit hutang karena tertipu oleh sebuah investasi di perusahaan palsu. Mereka meminjam uang untuk berinvestasi. Yang di pikir mereka akan mengutungkan, malah berakhir merugikan," terang Axel.
"Lalu, sejak kapan mereka terlilit hutangnya?"
"Yang ku dengar dari om Rizwan, mereka terlilit sudah hampir dua tahun."
Tanpa berpikir panjang, Lyra pun langsung beranjak pergi dari rumahnya menuju rumah kedua orang tuanya. Ketika tiba di sana, mereka menyabut Lyra seperti tak memiliki masalah sama sekali. Mereka tersenyum bahagia ketika Lyra datang ke rumah.
"Apa benar ayah dan ibu terlilit hutang?" Tanya Lyra yang membalas sambutannya dengan penuh marah.
"Dari mana kamu tahu bila ayah dan ibu terlilit hutang," ucap Rizwan mengerutkan alisnya.
"Ayah tak perlu tahu aku mengetahuinya dari siapa. Sekarang ayah jawab apa benar ayah terlilit hutang, dan kemungkinan rumah makan akan di sita."
Rizwan menghela sembari memalingkan wajahnya. "Iya ayah terlilit hutang, jika sampai pada bulan depan ayah tidak membayarnya rumah makan akan di sita."
"Itu rumah makan peninggalan dari kakek, jangan sampai di sita. Bila perlu rumahku beserta isinya di jual saja. Dan sisanya aku akan berusaha membantu ayah untuk melunasinya."
"Tidak perlu, itu adalah rumah hadiah dari ibu dan aya sebagai bentuk kelulusanmu dari universitas. Dan itu milikmu, mana mungkin ayah berani mengambil apa yang di miliki putri ayah sendiri."
"Sekarang yang lebih penting adalah rumah makan tidak di sita. Rumah makan adalah sumber mata pencaharian untuk kalian. Jika sampai rumah makan di sita, kalian mau kerja di mana, sementara umur kalian bukanlah umur yang tepat untuk di terima di tempat kerja. Jadi biarkanlah rumahku di jual, dan kemungkinan aku akan kembali tinggal bersama kalian."
Rumah terpaksa di jual dan Lyrapun harus segera mendapati perkejaan. Nata pernah menyebut bila di kantornya ada lowongan pekerjaan, biarpun hanyalah sebagai tukang masak di kantin, tak menutup kemungkinan Lyra akan menerimanya. Lulusan di universitas terbaik di cambrige, sangat tak menguntungkan bila lowongan pekerjaan saja tak di dapati. Sementara Lyra sangat membutuhkan uang untuk mencicil sisa hutang milik orang tuanya.
"Apa benar kamu mau bekerja di kantin tempatku bekerja. Kamu merupakan lulusan di universitas terbaik di cambrige, mana bisa bekerja di sana." Nata syok mendengar Lyra yang ingin bekerja di kantornya sebagai tukang masak. Ia sampai-sampai menggelengkan kepalanya, seorang Lyra yang merupakan lulusan di universitas terbaik cambrige bekerja di kantin sebagai tukang masak.
Lyra menghela. "Aku bersedia, yang penting aku harus segera mendapati uang untuk membantu mencicil hutang orang tuaku. Bila aku sudah mendapati lowongan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikanku, aku akan berhenti di sana. Oh ya, beberapa bulan lalu aku mendapati sertifikat memasak di tempatku les. Dan kemungkinan jika aku melamar di sana, aku akan langsung di terima."
"Tapi di sana sistemnya kontrak. Dan jika kamu bekerja di sana, kamu akan mendapati kontrak satu tahun. Bila ingin keluar, kamu harus menunggu kontrakmu berakhir. Apa itu tidak apa-apa buatmu? Kamu bisa pikirkan kembali dengan keputusanmu."
Lyra kembali menghela nafasnya. "Aku bersedia, saat ini aku tidak mendapati lowongan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikanku. Dan aku harus segera mendapati pekerjaan agar bisa membantu mencicil hutang orang tuaku."
Lyra harus terpaksa menerima pekerjaan itu. Biarpun pekerjaan tidak sesuai dengan pendidikan terakhirnya. Setidaknya ia akan segera mendapati uang untuk membantu mencicil hutang kedua orang tuanya.