
Biarpun Rigel terus menolak untuk di bawa pergi ke rumah sakit, Lyra tak hentinya memaksa. Sampai harus memaksanya berdiri dari tempat duduk hingga sampai menuntunnya pergi ke depan gedung kantor. Karena Ryan sudah menunggu mereka dengan mobilnya di sana.
Memang benar kata Lyra tubuh Rigel terlalu sakit dan lemas bila harus melanjutkan pekerjaannya. Karena sudah beberapa hari ini Rigel mendapati pekerjaan yang terus bertumpuk, terlebih lagi malamnya ia tak benar-benar tertidur lelap karena tak henti-hentinya memikirkan Jayden.
Setelah di periksa Dokter, Rigel di beri tahu bahwa dirinya hanyalah mengalami demam dan kelelahan saja. Namun walau sakitnya ringan, Lyra tetap tak bisa membiarkan Rigel kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya. Lyra pun langsung saja meminta Ryan untuk mengantar dirinya dan Rigel pulang. Walaupun Rigel tetap mengeyel ingin kembali ke kantor.
"Sebelum bulan depan benar-benar berhenti bekerja di perusahaan, aku harus menyelesaikan pekerjaanku di kantor. Bila ku tunda maka pekerjaanku akan semakin menumpuk," bujuk Rigel yang terus memaksa Lyra agar dirinya kembali melanjutkan pekerjaannya di kantor.
"Apa kamu tak peduli dengan tubuhmu. Tubuhmu terlalu sakit bila harus kembali ke kantor. Kamu perlu istirahat," tegas Lyra.
"Aku hanya demam dan aku pun masih sanggup bila harus melanjutkan pekerjaan."
"Hanya demam tetap saja itu namanya sakit. Apa yang tadi dokter bilang, bahwa kamu harus istirahat. Dan berhenti mengeyel untuk meminta kembali ke kantor, karena aku tak akan mengizinkanmu," ucap Lyra tanpa menatap dengan lengan yang di lipatnya di atas perut.
Biarpun sudah berulang kali Rigel memaksa Lyra, Lyra tetap saja tak mengizinkannya kembali ke kantor. Rigel pun hanya bisa pasrah dan tak bisa berbuat apa-apa lagi, bila itu maunya Lyra. Karena semakin mengeyel, itu hanya akan membuat Lyra semakin marah. Terlebih lagi tadi pagi Rigel sudah membuatnya sangat marah. Rigel tak mau lagi membuat Lyra marah dan menangis karena ulahnya lagi.
Dan untuk malam ini Lyra akan kembali menginap untuk menjaga Rigel yang tengah sakit. Ia pun meminta izin untuk tak kembali pulang kepada ayah dan ibunya yang memang sudah menunggu kepulangannya di rumah.
Rizwan marah pada saat Lyra menelponnya, dan memintanya untuk segera pulang. Tapi untungnya ibunya dapat membujuk ayahnya. Hingga membuatnya dapat izin untuk kembali menginap di rumah Rigel, walau hati Rizwan terasa mengganjal mebiarkan putri semata wayangnya menginap di rumah pria yang statusnya masih menjadi kekasih.
Sepulangnya ke rumah Rigel, Lyra langsung bergegas membuatkan bubur untuknya. Sementara Rigel, ia langsung saja beristirahat di kamarnya.
Hanya membutuhkan tiga puluh menit Lyra dapat menyelesaikan bubur buatannya. Lyra pun beranjak ke kamar sembari membawakan bubur untuk Rigel. Saat Lyra sudah berada tepat di kamar, Rigel nampak tertidur pulas. Sebelum membangunkannya, terlebih dahulu Lyra meletakan buburnya di meja yang berada tepat di samping tempat tidur. Namun, saat bubur sudah di letakannya, tiba-tiba saja Rigel mengingau sembari memanggil nama Jayden.
Rigel memang terlelap dari tidurnya tapi pikirannya masih saja tertuju pada Jayden. Selain karena pekerjaan yang menumpuk setiap harinya, alasan Rigel sakit juga karena terlalu memikirkan Jayden. Rigel terlalu khawatir terhadap Jayden, terlebih lagi Jayden sangat dekat dengannya dan sudah di anggapnya anak sendiri walau statusnya hanyalah keponakan. Hampir setiap hari bila Rigel pulang larut keponakannya itu tak akan tidur jika Rigel belum pulang ke rumah. Apa lagi ia akan menangis apa bila Rigel tak pulang. Bagaimana dengan sekarang, Jayden terpisah jauh dengan Rigel dan tak tahu kapan Rigel akan datang menemuinya.
Sampai-sampai Lyra tertegun sedih menyaksikan Rigel yang tengah tertidur sembari memanggil nama keponakannya itu. Lyra pun duduk di samping Rigel berbaring sembari menitikan air matanya, karena tak sanggup melihat Rigel yang menderita setelah di tinggal pergi Jayden. Selain mengkhawatirkan Rigel, Lyra juga sangat mengkhawatirkan Jayden yang memang sudah di anggapnya sebagai anak sendiri.
Lalu tak lama ia menitikan air matanya, tiba-tiba saja Rigel terbangun dari tidurnya. Ia bangun dan langsung saja beringsut duduk.
"Apa kamu menangis?" Rigel menatap heran Lyra yang matanya sudah sembab karena menangis.
Lyra tersenyum yang seakan-akan ia tak ingin membuat Rigel khawatir terhadapnya. "Tidak, aku hanya kelilipan."
"Benarkah? Apa kamu menangis karena melihatku yang sakit ini." Rigel tak percaya bila Lyra benar-benar kelilipan, secara matanya saja sembab tak seperti orang yang kelilipan.
"Memang benar aku kelilipan." Lyra lalu meraih bubur yang tadi ia letakan di atas meja. "Aku sudah membuatkanmu bubur, lebih baik kamu makan dulu. Sehabis itu kamu bisa langsung minum obat dan kembali tidur."
Biarpun Lyra berbohong tapi Rigel tak bisa di bohongi. Dia tetap tak percaya bila matanya hanya sekedar kelilipan saja. Rigel bepikir bila Lyra menangis karena mengkhawatirkan dirinya yang tengah sakit.
"Maaf sudah membuatmu khawatir dan maaf karena aku sakit," ucap Rigel sembari menyantap bubur buatan Lyra tersebut.
"Untuk apa meminta maaf. Lagi pula kamu sakit bukan kemauanmu sendiri."
"Aku tahu kamu menangis karena mengkhawatirkanku yang sedang sakit ini." Rigel meraih tangan Lyra. "Aku juga minta maaf karena sudah membohongimu dan membentakmu tadi pagi."
Rigel tersenyum. "Iya, aku akan bilang dan tak akan menutup-nutupinya dari kamu."
Setelah makan dan meminum obat, demam Rigel pun mereda. Namun di tengah tidurnya, Rigel selalu saja mengigau memanggil nama Jayden. Biarpun tubuhnya sudah baik-baik saja tapi hati dan pikirannya masih tidak baik-baik saja. Hingga membuat Lyra tak bisa berhenti mengkhawatirkannya. Dan sudah larut malam, Lyra belum terlelap dari tidurnya. Karena setiap beberapa menit hingga jam, Rigel tak hentinya mengingau memanggil nama Jayden. Bukan karena berisik Lyra tak bisa lelap dari tidurnya, namun ia terlalu gelisah mengkhawatirkan Rigel.
Lyra pun lalu beringsut mendekap Rigel. "Tidurlah yang nyenyak. Ku harap Jayden tak terlalu lama pergi dari sisimu," gumanya sembari menitikan air mata.
**
Esok harinya, ayah dan ibunya Lyra datang ke rumah Rigel. Mereka membawakan banyak sekali makanan. Di mulai dari makanan ringan hingga makanan berat mereka bawa untuk Rigel dan tentunya untuk putri kesayangan mereka juga.
"Seharusnya om sama tante tidak perlu repot-repot membawakan makanan. Karena seharusnya sayalah yang menyiapkan makanan untuk kalian," imbuh Rigel.
Sarah tersenyum. "Kami tidak kerepotan, justru memang seharusnya kami menengok orang sakit sembari membawakan makanan enak, agar yang sakit bisa nafsu makan."
"Kalau begitu saya sangat berterima kasih kepada kalian."
"Oh ya, kamu tak perlu memanggil kami dengan sebutan om dan tante. Kamu bisa menyebut kami ayah dan ibu, karena kamu adalah calon menantu kami."
Seketika kedua pipi Rigel pun memerah. "Baiklah, i..bu," ucapnya terbata-bata.
Seperti biasanya tiap kali bertemu, Rizwan selalu menunjukan tatapan sinisnya kepada Rigel. Ia tampak seperti marah tapi juga tak terlalu terlihat marah. Hingga membuat Rigel tegang ketika menatapnya.
"Apa kamu sudah sembuh?" Tanya Rizwan dengan tangan yang melipat di atas perut dan duduk dengan kaki yang menyilang.
"Iya, sepertinya saya sudah baik-baik saja," jawab Rigel bernada gugup.
"Kalau begitu anak saya boleh pulang sekarang."
"Biarpun Rigel sudah baik-baik saja, tapi dia tidak sepenuhnya pulih. Aku tak akan pulang sampai Rigel benar-benar sehat," lontar Lyra.
Rizwan menggeleng. "Dia sudah besar kenapa kamu harus mengurusnya. Bila kamu sangat ingin mengurusnya, maka dari itu kalian harus segera menikah. Kamu menginap di rumah pria yang sama sekali bukan muhrim."
"Di sini tidak hanya ada Lyra dan Rigel saja, tapi ada pula beberapa pelayan yang juga tinggal di rumah ini."
"Lalu, bagaimana kamu tidur. Apa kamu dan Rigel tidur terpisah?"
Seketika Lyra menelan salivanya. "Tentu saja terpisah, di sini banyak kamar. Lyra tak mungkin tidur satu ranjang dengan Rigel." Dengan gugupnya Lyra memaksakan senyumnya menatap Rigel. "Bukankah begitu kan, Rigel."
Rigel pun sama gugupnya sepertinya Lyra, ia memang tidur satu kamar dan juga satu ranjang dengan Lyra. Tapi ia tak bisa berkata jujur bila tak ingin membuat Rizwan marah dan kecewa padanya.
"Tentu saja kami tidur terpisah. Kami tidak akan tidur satu kamar ataupun satu ranjang sampai kami menikah nanti."
"Lalu, kapan kamu akan melamar anakku?" Tanya Rizwan yang masih melipat lengan dengan tatapan sinisnya.