
Lyra perlu bertanya kepada Rigel, apa memang benar ia yang membayar seluruh hutang yang di miliki orang tuanya. Tapi sulit bagi Lyra bila harus bertemu Rigel sekarang, secara waktu masih belum menunjukan jam pulang di kantor. Lyra pun harus was-was bila nanti bertemu dengan Rigel.
Yang ia takutkan kali ini bukan karena akan di ketahuan karyawan di kantor, melainkan Lyra takut bila Sandylah yang memergoki Lyra ketika bertemu dengan anak laki-laki kesayangannya itu. Lyra takut bila harus terjadi kesalah pahaman antara ayah Rigel dan dirinya.
Bila memang Rigellah yang melunasi hutang orang tuanya, Rigel tak akan meringankan Lyra tapi malah akan memberatkannya. Karena Lyra berniat untuk menghidari Rigel, tapi malah harus berhutang padanya. Lyra tak mengingkan hutangnya di bayar gratis, Lyra harus secepat mungkin mengembalikannya bila tak ingin terus-menerus berada di dekat Rigel. Walaupun kemungkinan pembayarannya di lakukan secara mencicil.
Biarpun waktu masih belum menunjukan jam pulang, Lyra harus segera menemui Rigel dan memastikan bahwa Rigel adalah orang yang membayar lunas hutang yang di miliki orang tuanya tersebut.
Lyra pun bergegas berganti pakaian, lalu beranjak pergi dari rumah secara terburu-buru. Dan sebelum ia benar-benar bertemu dengan Rigel, terlebih dahulu Lyra menghubungi Rigel untuk membuat janji temu dengannya. Namun, pada saat ponsel telah menyentuh daun telinganya, tiba-tiba saja Rigel datang dengan mobilnya. Rigel turun dari mobil lalu tersenyum sembari melambaikan tangan ke arah Lyra. Jujur saja, Lyra bukannya senang ketika Rigel datang, ia malah kesal ketika melihatnya. Dengan cepat, Lyra pun berjalan menghampiri Rigel.
"Apa kamu yang membayar semua hutang orang tuaku?" Tanya Lyra dengan wajah marahnya.
Sontak senyum Rigel pun memudar. Bukannya menjawab pertanyaan dari Lyra, Rigel malah bertanya balik kepada Lyra.
"Kenapa tadi kamu tidak pergi bekerja?"
"Ku tanya sekali lagi, apa kamu yang membayar semua hutang orang tuaku?" Ucap Lyra meninggikan suaranya.
"Apa kamu marah karena aku membayar seluruh hutang yang di miliki orang tuamu?" Tanya Rigel di tekuk kesal.
Seketika Lyra menitikan air matanya. "Iya aku marah. Aku kesal karena kamu yang membayar hutang orang tuaku."
"Kenapa kamu tidak senang bila aku yang membayarnya. Seharusnya kamu senang, karena kamu tidak perlu lagi susah payah memikirkannya."
"Apa aku harus senang, kamu bahkan tidak berbicara terlebih dahulu padaku. Apa tindakanmu seperti itu dapat membuatku berterima kasih padamu?" Lyra menggeleng. "Aku sama sekali tidak berterima kasih padamu."
Lyra pun berbalik kembali melangkah kakinya. "Aku akan mengembalikan semua uangmu sesegera mungkin."
Seketika Rigel meraih tangan Lyra untuk menghentikan langkahnya. "Memangnya kamu bisa mengembalikannya?"
Lyra menghela. "Aku memang tidak bisa dengan cepat mengembalikannya. Tapi aku akan berusaha untuk mengembalikannya."
"Butuh bertahun-tahun kamu bisa membalikan seluruh uang yang telah ku keluarkan. Jadi, bekerjalah sebaik mungkin untukku." Rigel menarik paksa Lyra dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Rigel masuk, dan segera menyalakan mesin mobilnya. Semua pintu di kunci oleh Rigel hingga membuat Lyra sulit untuk keluar dari mobil.
"Cepat buka kembali mobilnya," tegas Lyra bernada marah.
"Jika kamu ingin mengembalikan uangku, maka kamu harus bekerja sebaik mungkin untukku," imbuh Rigel tanpa menatap dan langsung saja menancap gas mobilnya tersebut.
"Aku sudah tak lagi bekerja untukmu. Aku kembali ke posisiku semula."
"Siapa yang menyuruhmu kembali ke posisi semula. Sudah ku katakan dari awal, bahwa kamu hanya akan bekerja untukku."
"Aku mendaftarkan diri bekerja di kantormu bukan jadi pekerja yang di khususkan untukmu. Tapi bekerja untuk menyiapkan makan bagi seluruh pekerja di kantor."
Sepanjang jalan Lyra terus memalingkan wajahnya dari Rigel, menatap jalanan dari jendela di sampingnya. Ia termenung sembari menahan air yang tengah berlinang di kedua matanya. Hatinya terlalu berat bila harus merelakan Rigel. Biarpun Agni dan Rigel menentang keras perjodohannya, bukan berarti Lyra dengan mudahnya dapat bersama dengan Rigel. Karena itu hanyalah sebuah harapan yang sulit untuk terwujud bagi perempuan yang levelnya jauh di bawah Agni. Terlebih lagi, Lyra merasa ragu bila Rigel menyukainya seperti apa yang di katakan Ryan kemarin.
Dua puluh menit dalam perjalanan, Rigel pun memarkirkan mobilnya di sebuah butik. Rigel membukakan pintu untuk Lyra, lalu menarik lengannya memasuki butik tersebut.
"Carikan gaun dan sepatu yang cocok untuknya," ucap Rigel kepada pelayan di butik tersebut.
Lima belas kemudian, satu gaun cantik yang panjangnya di atas lutut memabaluti tubuh Lyra. Tak lupa dengan sepatu heels yang di kenakannya mendominasi gaun cantik tersebut. Rigel sampai terpana menatap wanita yang sudah di anggapnya sebagai kekasih itu.
Lyra memang sudah nampak cantik, tapi cantiknya belum sepenuhnya sempurna. Bila di perhatikan lagi, ada yang kurang dengan Lyra, yaitu sebuah riasan di wajahnya, dan rambutnya pun perlu di tata cantik. Rigel harus membawanya pergi ke salon untuk meriasnya agar cantiknya semakin sempurna. Dan setelah membayar tagihan gaun dan sepatu, Rigel pun bergegas pergi membawa Lyra ke salon.
Di bandingkan dengan tadi, menata rambut dan merias wajah Lyra terbilang cukup lama. Rigel membutuhkan waktu satu jam untuk menunggu Lyra. Hingga barulah Rigel dapat membawa kembali Lyra ke tempat selanjutnya.
Sesampainya di tempat selanjutnya, Lyra di buat tertegun heran menatap tempat yang sebagian wajah dari orang-orangnya dapat di kenali olehnya. Terutama saat seorang pria yang benar-benar sangat di kenali datang menghampiri sembari menyambut kedatangan Lyra dan Rigel. Pria tersebut bernama Reyhan, ia merupakan kakak kelas sekaligus matan kekasih Lyra sewaktu di SMA.
Reyhan menatap heran wajah Lyra. "Bukankah kamu Lyra. Kamu datang bersama Rigel, ada hubungan apa kamu dengannya?"
"Kamu belum tahu ya, bila belum lama ini kami tengah menjalin hubungan spesial," lontar Rigel.
Reyhan terseyum, lalu menjabat tangan Rigel. "Oh ya, kalau begitu selamat atas pacar barumu, Rigel."
Satu pertanyaan yang ingin di tanyakan Lyra kepada Rigel, ada hubungan apa dengan orang-orang yang berada di tempat tersebut. Sebagian wajah yang bertatap muka dengan Lyra merupakan kakak kelasnya sewaktu SMA dulu.
Lyra pun lalu berbisik ke arah telinga Rigel. "Acara apa ini? Hampir semua orang di tempat ini aku mengenalinya, terutama dengan Reyhan dan teman-temannya."
"Ini acara reuni angkatanku di SMA."
Sontak Lyra pun terkejut setelah mendengarnya, bila memang ini adalah acara reunian SMA di tempat Rigel bersekolah. Berarti Rigel pernah satu sekolah dengan Lyra sebagai kakak kelasnya.
"Apa kita pernah satu sekolah?" Tanya Lyra dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu.
Rigel tersenyum. "Apa kamu lupa bila aku adalah seniormu di sekolah."
Seketika kening Lyra mengerenyit, ia sampai di buat memperhatikan Rigel secara terus-menerus, mencoba mengingat wajah Rigel ketika di SMA. Hingga lamanya Lyra memperhatikan, sekilas ia dapat mengingat wajah dari kakak kelas yang terlihat mirip dengan Rigel. Tapi Lyra ragu bila wajah yang berada dalam ingatannya itu adalah Rigel. Karena wajah yang terlintas dalam ingatannya merupakan pria berkaca mata yang memiliki tubuh kurus dengan perawakan tinggi. Sementara Rigel memiliki tubuh yang cukup atletis, walaupun perawakannya tinggi seperti pria dalam ingatannya. Dan satu hal lagi yang Lyra ingat ketika memperhatikan Rigel, ia mengingat bahwa pria berkaca mata tersebut merupakan senior di kampusnya ketika ia menjenjang pendidikan di Amerika.
Jika memang benar pria dalam ingatannya itu adalah Rigel, apakah cinta pertama yang di sebutkan Rigel merupakan Lyra. Lyra pun sampai mengingat jelas tentang ucapan Ryan kemarin, yang menyebutkan bila Rigel menyukainya. Hingga membuat mata Lyra tergenang ketika ia mencerna apa yang di katakan Ryan tersebut.
"Apakah wanita yang selama ini ingin kau gapai adalah aku?"
Melihat Lyra seperti akan menangis, Rigel pun terdiam seketika, menatapnya yang seakan-akan memberi kode bahwa ia menginyakan apa yang di tanyakan Lyra tersebut.
"Ternyata memang benar." Lyra pun beranjak melangkah kakinya. Pergi meninggalkan Rigel begitu saja.
Bila memang Rigel memiliki perasaan yang sama dengannya, akan semakin sulit untuk Lyra merelakannya. Niat hati ingin menghapus perasaannya, Rigel malah memberi sebuah harapan kepada Lyra.