My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
6. Sesuatu Yang Harus Di Lupakan



Ketika pria tersebut kesakitan, kesempatan bagi Lyra untuk pergi dan menghindar sejauh mungkin. Dengan cepatnya Lyra kembali melangkahkan kakinya. Beruntungnya Lyra, baru beberapa langkah ia melangkah, taxi lewat. Lyra pun terburu-buru menghentikan taxi, lalu segera menaikinya.


Kini Lyra dapat bernafas lega setelah pergi jauh dengan taxinya. Taxi lewat memang sangat membantu Lyra untuk pergi dari kejaran pria yang entah siapa dia, yang jelas dia hanyalah seorang pria yang memiliki hubungan satu malam dengan Lyra. Satu malam yang sangat tidak berarti terjalin dalam hubungan tanpa cinta, apa lagi itu merupakan kali pertama bagi Lyra. Ia malah melakukan hal seperti itu dengan pria yang tak terikat pernikahan dengannya, terlebih lagi dia merupakan pria yang sama sekali tak di kenali oleh Lyra. Menyesal memang tengah di rasa Lyra saat ini, waktu tak dapat terulang kembali. Bila bisa, Lyra tak akan mau menuruti saran dari Nata untuk pergi ke klub malam di tengah keterpurukannya setelah putus dengan Daniel. Tapi mau apa lagi, itu semua sudah terjadi dan tak mungkin bisa terhapuskan.


Karena masih siang, Lyra menyuruh supir taxi membawanya ke alamat rumah makan milik orang tuanya. Lyra sampai, rumah makan tampak ramai dengan pengunjung. Lyra pun bergegas masuk ke rumah makan untuk segera membantu orang tuanya yang tengah sibuk.


"Kenapa kamu kesini? Bukankah ini masih waktunya bekerja?" Tanya pria paruh baya yang bernama Rizwan, dia merupakan ayah Lyra.


"Aku sudah mengundurkan diri dari perusahaan."


"Mengapa mengundurkan diri, apa karena kamu akan menikah sampai harus mengundurkan diri dari perusahaan?"


"Bukan itu alasanku keluar dari perusahaan."


"Lalu mengapa kamu mengundurkan diri?" Tanya Rizwan heran."


"Nanti akan ku ceritakan setelah membantu membereskan piring-piring kotor."


Rumah makan sangat ramai dengan pengunjung, bila menjelaskan tentang ia yang mengunudurkan diri dari pekerjaannya, pasti akan memakan waktu lama. Terlebih lagi bila ayahnya di ajak mengobrol, sedikitnya para pekerja di rumah makan akan kerepotan.


Lyra pun terlebih dahulu membantu mengambilkan piring-piring kotor di meja kosong. Jika waktunya istirahat, Lyra pasti akan menceritakan semuanya kepada kedua orang tuanya.


Lyra membawa piring-piring kotor ke tempat cuci piring, yang tempatnya berada di dapur. Di sana ada beberapa koki termasuk dengan ibunya. Tadi Rizwan yang di buat heran dengan kedatangan Lyra, kini Sarah juga di buat heran dengan kedatangannya. Sarah merupakan wanita yang telah melahirkan Lyra.


Ia datang menghampiri putri semata wayangnya yang tengah mencuci piring kotor di wastafel.


"Mengapa kamu datang kesini, bukankah seharusnya kamu bekerja di kantor?"


"Aku sudah mengundurkan diri, bu."


"Mengapa mengundurkan diri. Padahal sebelum mempunyai anak kamu tidak perlu berhenti bekerja. Bukankah akan jenuh bila hanya diam di rumah."


Lyra menghela. "Bukan itu alasannya, sebenarnya Lyra batal menikah dengan Daniel."


Sarah mengerutkan alisnya. "Mengapa bisa batal, padahal pernikahanmu akan berlangsung pada bulan depan."


"Nanti Lyra ceritakan setelah waktunya ibu dan ayah istirahat. Jadi lebih baik ibu lanjutkan saja bekerjanya."


Sarah pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Bekerja tak membuatnya bisa fokus setelah mendengar putrinya yang batal menikah. Apa yang terjadi, mengapa bisa, pertanyaan itu terus muncul di pikirannya. Penasaran dan khawatir terhadap putrinya tengah di rasa Sarah saat ini. Biarpun yang di lihatnya tampak baik-baik saja, bukan berarti hatinya akan baik-baik saja. Terlebih lagi, Sarah sangat mengetahui Lyra yang sangat tulus mencintai Daniel. Bila ia batal menikah, berarti hubungan putrinya dan calon menantunya itu berakhir.


Lyra merupakan anak semata wayangnya, perasaan ibu terhadap putrinya sangat kuat. Bila putrinya bersedih, sarah pun juga akan merasakannya.


Setelah waktunya ibu dan ayahnya istirahat, Lyra pun menceritakan tentang dirinya yang batal menikah dan alasan dia yang mengundurkan diri dari perusahaan.


"Ayah tak menyangka, bila nanti bertemu dengannya, akan ayah marahi dia habis-habisan," imbuh Rizwan bernada marah.


"Tidak perlu. Bila bertemu ataupun berpapasan dengannya hanya akan membuat ayah marah, lebih baik abaikan saja. Jangan bertegur sapa ataupun berbicara dengannya," ucap Lyra.


"Lalu mengapa kamu harus keluar dari perusahaan. Dan mengapa harus tak merasa nyaman bila satu kantor dengannya. Dan ibu pikir, yang seharusnya merasa tak nyaman bukankah seharusnya Daniel. Karena dialah yang memiliki salah terhadapmu," imbuh Sarah.


"Aku tak nyaman bila harus setiap hari bertatap muka dengannya. Perasaanku terhadapnya masih tersisa, bila ingin melupakannya maka aku harus menghindarinya. Dan akupun harus segera terbiasa dengan statusku yang kini sudah single," terang Lyra.


Sedih, sudah pasti di rasa Lyra saat menceritakan dan menjelaskan kepada kedua orang tuanya. Apa lagi, kedua orang tuanya sudah sangat senang ketika dulu Lyra memeberi tahu tentang ia yang akan menikah. Namun, kini kedua orang tuanya malah di buat kecewa dengan batalnya pernikahan Lyra. Lyra ingin menangis melihat wajah sedih dari kedua orang tuanya, namun sekuat tenaga Lyra tahan. Lyra tak ingin membuat kedua orang tuanya semakin bersedih karena tangisnya. Yang saat ini Lyra lakukan hanyalah berpura-pura kuat. Padahal sebenarnya ia sangat rapuh dan ingin sekali menangis.


Sorenya Lyra pulang ke rumah. Setelah seharian ia membantu kedua orang tuanya, Lyra akhirnya bisa merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Lyra menutup kedua matanya untuk menghilangkan lelahnya. Bukan lelah karena telah membantu orang tuanya di rumah makan, tapi lelah karena tak bisa sedikitpun Daniel enyah dalam pikirannya. Apa lagi tadi siang ia bertemu kembali dengan si penolong yang ia tinggalkan di kamar hotel dengan tiga uang kertas pecahan seratus ribu. Pikirannya malah semakin kacau dan bercampur dengan pria tadi. Terlebih lagi, ia sudah di kacaukan dengan raut sedih dari kedua orang tuanya.


Anehnya, saat mata Lyra terpejam wajah pria yang menolongnya itu terus terlintas dalam bayang-bayangnya.


"Apa ada yang aku lupakan, mengapa dia terus terlintas dalam pikiranku. Padahal aku sudah menuntaskan semuanya, berterima kasih sudah kulakukan, dan memberi uang untuk kompensasipun sudah ku berikan," gumam Lyra dalam batinnya.


Pikiran Lyra terus tertuju kepada si penolong, ia terus mengingat dan berpikir apa yang sebenarnya ia lupakan. Lima menit, dua puluh menit, hingga satu jam Lyra terus berpikir untuk mengingatnya, hingga membuatnya tak bisa lepas memikirkan si penolong tersebut. Sampai pada satu jam lebih ia berpikir, akhirnya Lyra teringat dengan sesuatu yang sudah di lupakan itu. Lyra yang tengah terlentang sembari menutup matanya, harus terbangun karena terkejut setelah mengingatnya. Satu hal yang Lyra lupakan, yaitu obat pencegah kehamilan. Setelah Lyra melakukannya, kemungkinan Lyra akan hamil bila tak segera mencegahnya.


Lyra pun terburu-buru beranjak dari tempat tidurnya.


"Ini sudah lewat dua hari, apa aku sudah terlambat untuk meminum pil KB," gumam Lyra panik.


Lyra segera mengambil tasnya, lalu terburu-buru pergi ke apotek. Yang kebetulan apoteknya tidak jauh dari rumahnya.


Namun, pada saat Lyra tengah membayar obat yang di belinya itu. Tiba-tiba saja Nata dan Agni datang ke apotek. Lyra pun terkejut setengah mati ketika melihat kedua temannya itu. Terlebih lagi obat pencegah kehamilannya tidak di bungkus kantong plastik, dan secara terang-terangan Agni dan Nata melihatnya.


"Lyra, kamu membeli pil KB," ucap Nata sembari mengerutkan kedua alisnya.


Lyra menelan salivanya. "Hm iya. Maaf sepertinya aku harus terburu-buru pulang.


Secepat mungkin Lyra beranjak pergi keluar dari apotek. Namun, setelah pergi bukan berarti temannya tak mengejar, terlebih lagi mereka sudah di buat heran setelah melihat Lyra membeli obat pencegah kehamilan. Agni datang mengejar, lalu meraih lengan Lyra untuk menghentikan langkahnya.


"Tunggu sebentar setelah aku dan Nata selesai membeli obat."


"Tapi maaf, aku harus segera pergi."


"Kamu harus menjelaskannya kepada kami tentang obat yang kamu beli."


Lyra menghela nafasnya, ia sudah tak bisa menghindar dan tak mungkin juga ia harus berbohong. Terlebih lagi, bila Lyra berbohongpun siapa yang akan jadi alasannya. Sepupu yang telah menikah, jauh berada di luar kota, dan ibunya pun telah lama tak mengonsumsi pil KB. Dan Lyra tak punya teman dekat yang telah menikah untuk di jadikan alasan. Teman dekatnya hanyalah Agni, Nata, dan Axel saja.


Kacau sudah, dan sudah pasti Lyra akan benar-benar malu setelah menceritakannya kepada Nata dan Agni.