
Kemarin adalah momen indah terakhir Lyra bersama Rigel, yang mungkin momen tersebut tak akan pernah Lyra lupakan. Rigel Callisto merupakan pria yang akan menjadi kenangan terindah untuk Lyra. Pria baik yang memiliki ketulusan di hatinya dan juga pria yang telah membuat Lyra bahagia walau hanya sesaat ada di genggamannya.
Di hari ini Lyra akan melepaskan Rigel sepenuhnya, baik dari raganya maupun dari jiwanya. Lyra meminta Rigel bertemu di kafe yang tak jauh dari kantor. Di sana Lyra menunggu Rigel tak hanya seorang diri, ada juga Axel yang ikut menemani. Sembari memegang surat pengunduran diri, tangan Lyra bergetar, matanya sedikit tergenang, dan tak henti-hentinya ia mengatur nafasnya.
"Bagaimana bila nanti aku sampai tak kuat menahan tangisku. Rigel pasti akan curiga bahwa aku tak bisa merelakannya."
Axel meraih tangan Lyra. "Aku yakin kamu pasti bisa. Selama nanti kamu berbicara dengan Rigel, kamu harus berpikir dan menegaskan hatimu bahwa langkah yang kamu ambil merupakan hal yang terbaik untukmu dan juga Rigel."
Tak lama kemudian Rigel pun datang, ia datang dengan wajahnya yang girang. Tapi saat tatapannya menatap Axel, wajahnya langsung saja di tekuk kesal.
Rigel mengerutkan alisnya. "Kenapa ada dia?"
"Axel ikut denganku karena ingin menemaniku," ucap Lyra memaksakan senyumnya.
Rigel menghela lalu mendaratkan diri di kursi. "Aku tak peduli dengan alasan dia ikut denganmu hari ini. Aku hanya ingin memberi tahu bahwa tadi pagi Jayden sudah pulang ke rumah. Bagaimana bila sekarang kamu pergi ke rumahku. Jayden pasti akan senang bila bertemu denganmu."
Lyra menyodorkan amplop berisi surat pengunduran diri yang sedari ia pegang kepada Rigel. "Maaf aku tak bisa pergi ke rumahmu. Dan maaf, hari ini aku akan mengundurkan diri dari pekerjaan." Lyra menghebuskan panjang nafasnya. "Karena kontrak kerjaku belum habis, maka aku akan membayar denda dari pelanggaranku ini."
Rigel menatap heran Lyra. "Mengapa mengundurkan diri? Apa kamu sudah mendapatkan pekerjaan lain. Bila memang kamu ingin mengundurkan diri, kamu tak perlu membayar denda kontrak. Aku akan langsung mengizinkanmu untuk mengundurkan diri bila memang kamu sudah mendapatkan pekerjaan lain."
"Tidak, aku akan tetap membayar denda atas pelanggaranku ini. Dan aku juga akan mengembalikan uang yang telah kamu keluarkan untuk membayar hutang orang tuaku."
Rigel pun semakin terheran-heran menatap Lyra. "Aku tak pernah memintamu untuk mengembalikan uang yang telah aku keluarkan itu. Dan aku juga tak akan mau menerima uang yang akan kamu kembalikan. Aku ini kekasihmu dan aku berhak membantu kesulitanmu. Aku ikhlas membantumu dan tak pernah mengharapkan imbalan apapun."
"Tapi sekarang tidak lagi. Karena mulai sekarang aku ingin mengakhiri hubungan kita."
Rigel terbelalak setelah mendengar apa yang di ucapkan Lyra tersebut. Ia tak percaya bila Lyra ingin mengakhiri hubungannya.
"Mengakhiri hubunganmu katamu? Jangan bercanda, Lyra. Kita saling mencintai untuk apa mengakhirinya."
"Aku sudah tak lagi mencintaimu. Jadi lebih baik kita akhiri saja."
Rigel menyeringai. "Kamu bohong. Aku tak percaya bila kamu sudah tak mencintaiku. Kemarin saja aku bisa melihat dari tatapanmu bahwa kamu sangat mencintaiku."
"Alasanku kemarin memaksamu untuk pergi berkencan, itu karena aku ingin memberikan kebahagian terakhir untukmu sebelum hari ini kita berpisah."
Rigel bedecak kesal. "Cih, kamu ingin berpisah denganku, sekarang saja aku sangat jelas melihat bahwa kamu masih mencintaiku."
Lyra menghela. "Sudah ku katakan bila aku sudah tak mencintaimu. Dan aku juga ingin memberitahumu, bahwa aku tersadar ada pria lain yang sudah lama ku cintai, dan dia adalah Axel."
Rigel menggeleng cepat. "Aku masih tak percaya bila kamu mencintai pria lain selain diriku."
"Kamu pernah bilang bahwa tidak ada yang namanya persahabatan antara pria dan wanita. Dan apa yang kamu katakan itu benar, bahwa perasaanku terhadap Axel sudah lama timbul di hati. Maka aku tak bisa lagi menjalin persahabatan dengan Axel."
"Kamu masih mencintaiku, Lyra. Aku tegaskan, bahwa aku tak akan pernah mengizinkanmu mengakhiri hubungan kita," tegas Rigel dengan raut wajahnya yang marah.
Seketika Lyra menarik kerah baju Axel, dan dengan cepat ia mengecup bibir axel di depan mata Rigel. Sontak Axel pun tersentak kaget setelah di kecup oleh Lyra, jantungnya pun berdegup kencang, dan wajahnya langsung saja mengeluarkan rona merah.
Lyra lalu menatap tajam Rigel. "Apa kamu sekarang sudah percaya bahwa aku tak lagi mencintaimu. Aku tak akan mau mengecup dia, bila dia bukan orang yang ku cintai."
Hati Rigel pun merasa perih setelah menyaksikan aksi gila yang di lakukan Lyra itu, dan semakin perih lagi setelah mendengar apa yang di ucapkan Lyra tersebut. Rigel tak menyangka bila Lyra bisa sejahat itu padanya.
Rigel lalu beringsut dari tempat duduknya. "Brengsek! Dasar wanita gila." Rigel beranjak dengan raut wajahnya yang sangat marah.
Setelah Rigel beranjak pergi, akhirnya Lyra pun dapat menitikan air matanya setelah lamanya ia menahan. Tangisnya pecah, hatinya benar-benar sakit setelah berhasil membuat Rigel terlepas dari genggamannya.
"Aku sudah menyakiti hatinya," ucap Lyra sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Axel pun lalu mendekap tubuh wanita yang tangisnya sedang pecah itu. "Sssttt. Berhentilah menangis, Lyra. Kamu harus merelakannya bila memang itu hal terbaik untukmu. Bila tak merelakannya untuk apa kamu mengakhiri hubunganmu dengannya," ucapnya sembari menepuk-nepuk punggung Lyra.
Bagaimana bisa Lyra merelakannya bila perpisahan yang di lakukannya secara terpaksa. Lyra sangat mencintai Rigel dan tak bisa merelakan Rigel secepat kilat. Tapi, ini memang harus Lyra lakukan walau hatinya sangat terluka. Baik Lyra maupun Rigel keduanya mendapat luka di hatinya. Lyra terluka karena harus membiarkan Rigel pergi dari genggamannya, dan Rigel yang terluka karena merasa di hianati oleh sosok wanita yang sangat di cintainya itu.
Setelah Lyra berhenti menangis, Axel pun mengajak Lyra pergi dari kafe. Namun, bukannya di antar pulang, Axel malah membawa Lyra pergi ke tempat lain. Tempat tersebut merupakan tempat yang pemandangannya cukup indah bila di perhatikan.
"Kenapa kamu tak mengantarku pulang," ucap Lyra di tekuk kesal.
"Bila langsung pulang, mana bisa kamu menenangkan hati dan pikirannmu. Kamu pasti akan kembali menangis."
Bila di pikirkan memang benar apa yang di katakan Axel, mungkin setelah Lyra pulang ia pasti akan kembali menangis. Akhirnya Lyra pun memutuskan untuk berdiam menikmati indahnya pemandangan di sana.
Dan selama di sana Lyra dapat sedikit menenangkan hati dan pikirannya. Walau ia sama sekali tak bisa tersenyum sedikitpun, tapi setidaknya pikiran dan hatinya jauh lebih baik di bandingkan tadi.
Axel tersenyum menatap Lyra. "Apa kamu tahu Lyra, bila kamu sudah berbuat hal yang tak seharusnya kamu lakukan padaku."
Lyra mengerenyit. "Memangnya apa yang sudah kulakukan?"
"Tadi kamu mengecupku. Kamu malah berbuat seperti itu kepada pria yang sedang mengharapkan hatimu."
Lyra berdecik. "Ck, sudah pernah ku peringatkan jangan pernah berharap padaku."
"Memangnya kenapa? Bukankah waktu itu aku sudah memutuskan hubungan persahabatan kita. Dan sekarang kamu bukan lagi sahabatku melainkan wanita yang harus aku perjuangkan cintanya."
Lyra menghela. "Aku tak peduli dengan apa yang kamu ucapkan. Kamu masih tetap sahabatku, Axel." Lyra lalu beranjak kembali memasuki mobil Axel. "Sebaiknya kita pulang sekarang."
Memang benar Axel sudah memutuskan persahabatannya. Tapi bukan berarti Lyra juga akan memutuskan persahabatannya. Lyra selalu menegaskan dirinya, bahwa Axel tetaplah sahabatnya dan merupakan pria yang sangat ia sayangi hanya sebatas sahabat saja. Biarpun sekarang Lyra sudah tak terikat oleh Rigel, bukan berarti perasaannya terhadap Rigel akan pudar secepatnya.