My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
62. Yang Tak Ku Tahui Selama Ini



Hanyalah suara yang terdengar dan hanyalah wangi dari parfumnya yang tercium, tapi sudah membuat Rigel menjadi bodoh. Berprasangka bahwa orang yang tak di lihatnya sama sekali, adalah wanita yang di rindukannya selama ini. Apa karena pikiran dan hatinya yang selalu tertuju padanya, hingga membuatnya berpikir bahwa orang yang melintas di sampingnya adalah Lyra.


Tiada hari untuknya tak merindukan sosok Lyra. Walau hatinya sangat mencinta dan jiwanya sangat ingin bertemu, Rigel tak bisa mencari tahu atau pun pergi menemuinya. Karena bukan tak mau Rigel datang menemuinya, Rigel hanya takut bila pertemuannya hanya akan meninggalkan luka untuk Lyra dan dirinya. Terlebih lagi Lyra sempat berkata, bahwa dengan bersama Rigel ia sama sekali tak merasa bahagia. Bila memang pertemuannya hanya akan berakhir sia-sia, lebih baik Rigel tak melihatnya sama sekali. Biarpun sekarang ayahnya sudah membebaskannya untuk memilih wanita yang di inginkannya.


Rigel pulang dalam keadaan wajahnya yang berantakan, bukan karena ia kelelahan setelah berolahraga. Tapi karena ia terlalu kecewa terhadap dirinya yang tak bisa melupakan Lyra.


Rigel membaringkan tubuhnya di ranjang. Dan lagi, tiap kali ia datang ke kamarnya matanya selalu saja tertuju menatap tumpukan novel-novel pemberian Agni. Semalam Rigel sudah membaca tulisan di covernya, dan teringat perusahaan yang menerbitkan novel-novel tersebut merupakan perusahaan yang di miliki temannya. Bila di ingat-ingat lagi dengan perkataan Ryan, Rigel tergelak. Karena jika memang alasan Ryan menyuruh Rigel membaca novelnya hanya karena teman dekatnya yang tinggal di London, itu untuk apa. Jelas-jelas kedatangan Rigel ke London sudah di ketahui teman dekatnya tersebut. Biarpun Rigel dan temannya bertemu setelah sekian lamanya tak jumpa, bukan berarti luka di hati yang di sebabkan oleh perpisahannya dengan Lyra akan sembuh.


Tapi bila di pikirkan lagi itu terlalu konyol bila memang alasan Ryan hanya ingin membuat Rigel teringat akan teman dekatnya yang tinggal di London, terlebih lagi Ryan ataupun Agni tak mengenal dekat dengan temannya yang bernama Justin. Dan jelas-jelas Ryan dan Agni sempat berkata kepada Rigel, agar dirinya datang menemui penulis tersebut, bila Rigel sudah membaca novelnya.


"Justin bukanlah orang yang suka menulis, dia hanyalah orang menjalankan perusahaan penerbitan saja," gumam Rigel sembari memperhatikan novel yang bertumpukan di meja.


Refleks Rigel pun meraih salah satu novelnya. Ia mengambil novel pertama yang di terbitkan oleh perusahaan temannya itu. Kali ini Rigel mulai benar-benar membaca bab pertama dari novel pemberian Agni.


Novel yang di berikan Agni hanyalah novel romansa anak SMA. Awalnya tak menarik, namun ada sepenggal cerita yang membuatnya menarik untuk di baca. Yaitu sepenggal cerita yang mirip dengan kisah awal mula Rigel dan Lyra mengobrol untuk pertama kalinya. Dan sepenggal cerita yang mirip dengan kisah Rigel ketika memergoki Lyra yang menangis di halaman belakang sekolah.


Sontak Rigel pun membaca cepat dan melompati tiap halaman, untuk mencari kisah-kisah tentang Lyra yang Rigel ketahui. Di novel pertama sampai ke empat hanya beberapa kisah tentang anak laki-laki yang gambarannya persis dengan Rigel, namun kisahnya sama persis seperti kehidupan Lyra. Dan di bab terakhir dari novel ke lima yang Rigel baca, kisahnya sama persis dengan kisah pertemuan Lyra dan Rigel di klub malam.


Untuk memastikan bahwa penulis tersebut memang benar Lyra, Rigel harus berlanjut membaca karya terbaru dari penulis tersebut yang di sebutkan Agni masih berada di platform online.


Hanya satu chapter saja Rigel membaca karya terbarunya, Rigel menjadi sangat yakin bahwa penulis tersebut merupakan Lyra. Karena satu chapter saja, semuanya tentang kisah Lyra dan Rigel. Dan yang lebih menyakinkan lagi adalah tentang hati Lyra yang sampai saat ini masih memiliki ruang untuk Rigel. Karena di bab pertama, si penulis menjelaskan tentang kisah si tokoh utama yang merindukan pria dari tiga tahun yang lalu.


Bergegas Rigel pun langsung saja menelpon Ryan untuk memintanya datang ke apartemen.


"Kenapa kamu tak bilang bahwa penulis dari novel yang di bawa Agni merupakan Lyra," ucap Rigel ketika Ryan datang ke apartemennya.


"Maaf, saya takut bila anda tak suka. Karena hanya membahas tentang Lyra saja sudah membuat anda marah," ucap Ryan tanpa berani menatap.


Rigel menghela. "Jadi alasan kamu membuatku tinggal di apartemen ini, apa karena Lyra tinggal di sini."


Ryan mengangguk. "Iya, Lyra tinggal di gedung apartemen ini. Lebih tepatnya dia tinggal di sebelah apartemen anda."


"Ku pikir aku gila, karena tadi aku sempat mencium bau parfumnya dan bahkan mendengar suaranya. Ternyata prasangkaku memang benar, bila Lyra ada di London.


"Jadi, apa anda berminat untuk menemuinya sekarang."


"Kenapa harus meminta bantuan pada orang lain. Apa lebih baik anda segera menemuinya sekarang."


"Dia pasti akan menghindariku bila aku datang menemuinya. Aku harus meminta bantuan Justin untuk bertemu denganya."


Tanpa berlama-lama lagi, Rigel pun bersiap-siap untuk pergi menemui Justin di kantornya. Rigel pergi keluar menggunakan topi dan masker untuk menutupi wajahnya. Agar tak di ketahui Lyra bila dirinya sedang berada di kota yang sama dengan Lyra. Dan yang lebih tepatnya agar Lyra tak pindah tempat tinggal. Karena bila Lyra sampai mengetahui Rigel tinggal di sampingnya, bisa saja Lyra pindah dari apartemennya untuk menghindari Rigel. Kesempatan terakhir untuk Rigel mendapatkan Lyra sebelum Lyra melabuhkan hatinya kepada pria lain. Tak membiarkan Lyra menghindar, adalah misi pertama Rigel untuk membuat Lyra kembali dalam kehidupannya.


Sampainya di kantor Justin, temannya itu langsung saja menggelengkan kepala ketika menatap tampilan Rigel yang sangat konyol tersebut.


Justin tergelak. "Pakaian apa yang kau pakai. Seorang pria kaya sepertimu mengenakan pakaian seperti itu. Seperti orang yang tengah di incar polisi."


"Aku terpaksa memakainya. Aku tak ingin banyak basa-basi, bisakah kamu membantuku untuk menemui penulis yang bernama Star. Dan jangan sebutkan namaku ketika kamu memintanya untuk bertemu denganku, tapi sebut saja bahwa aku penggemar dari bukunya."


Seketika Justin mengerutkan alisnya. "Star? Dia adalah teman kekasihku, Alice. Sebenarnya nama aslinya bukan Star tapi Lyra."


"Iya aku tahu, oleh sebab itu aku ingin dia datang menemuiku."


"Apa kamu ingin bertemu dengannya karena kamu menyukainya. Bila memang benar, kamu tak bisa membuatnya jadi milikmu, karena dia tak bisa menjalin hubungan dengan pria manapun. Sudah beberapa pria yang aku dan Alice kenalkan kepadanya, tapi semuanya di tolak."


"Apa maksudmu? Kenapa kamu mengenalkannya kepada pria. Pria-pria yang kamu kenalkan bisa saja menyentuhnya." Rigel menghela kasar nafasnya. "Jangan lagi kamu kenalkan dia pada pria manapun, apa lagi jika kamu mengenalakannya kepada pria brengsek."


Seketika Justin terheran-heran dengan apa yang di ucapkan Rigel tersebut. "Aku tak mengerti dengan apa yang kamu ucapkan. Mengapa kamu sebegitu khawatirnya bila akan ada pria yang menyentuh Lyra. Kamu sangat posesif padahal dia bukanlah kekasihmu."


Rigel menghela. "Dia mantan kekasihku. Alasan dia tak bisa menjalin hubungan dengan seorang pria, itu pasti karena aku."


Justin tampak terkejut dan terheran-heran dengan pengakuan temannya tersebut. Ia tak menyangka bila Rigel adalah mantan kekasih dari Lyra. Namun, ia masih tak percaya dengan pengakuan Rigel, karena yang Justin ketahui bila temannya itu merupakan pria yang selalu mempermainkan wanita. Karena bisa saja Rigel berbohong demi mendapatkan wanita selanjutnya untuk di permainkan.


"Aku tahu sikapmu yang suka mempermainkan wanita, apa karena Lyra merupakan wanita yang sulit untuk kamu dapatkan. Hingga kamu merasa tertantang untuk mendapatkannya." Justin menghela. "Kapan kamu akan berubah, sudah saatnya kamu menjalin hubungan yang serius dengan seorang wanita."


Seketika Rigel mengebrak meja sembari menatap tajam temannya itu. "Alasanku tak bisa berlabuh kepada wanita manapun itu karena dia. Dan alasan dia pun sama sepertiku. Sudah empat tahun aku tak lagi mempermainkan wanita manapun. Apa kamu tak pernah mendengar dari orang, bila aku sudah tak lagi bermain-main dengan wanita."


Gebrakan telapak tangan serta tatapan tajam dari Rigel akhirnya membuat Justin merasa yakin, bahwa ucapan Rigel itu benar-benar serius.


Justin menghela. "Baiklah, aku akan memintanya untuk datang menemuimu."