
Perempuan lain akan senang bila menjadi pacar seorang CEO sekaligus pewaris dari perusahaan PT Starlight. Terlebih lagi Rigel terkenal akan ketampanannya biarpun memiliki lidah yang tajam. Lain halnya dengan Lyra yang tak merasa senang walaupun statusnya hanyalah sebagai pacar pura-puranya.
Lagi-lagi Lyra tak memandang batinnya yang kemungkinan besar akan sering di lempari kata-kata tajam dari Rigel. Hanya karena ia mempedulikan hutang yang di miliki orang tuanya, Lyra rela menjadi pekerja yang di khususkan untuk Rigel Callisto. Biarpun nanti ia akan lebih sering tertekan karena sikapnya yang menyebalkan itu.
Betapa cemasnya Lyra, ketika ia beranjak pulang pikirannya tak bisa teralihkan memikirkan bagaimana esok dan seterusnya bila ia terus bertemu dengan Rigel.
Pekerjaan yang paling memberatkan baginya, menjadi juru masak khusus CEO yang menyebalkan sekaligus menjadi calon ibu pura-pura untuk keponakan CEO menyebalkan tersebut. Hanya untuk menyenangkan keponakannya tak membuat Lyra merasa keberatan, yang memberatkannya hanyalah Rigel saja.
Lyra berjalan dengan kepala yang tertunduk lesu, menghampiri Nata yang saat ini tengah menunggunya di depan gedung kantor. Nata menunggu tak seorang diri, ia tengah berdiri bersama teman kantornya yang bernama Vika.
"Apa kau baik-baik saja. Ku lihat dari jauh hingga dekat wajahmu terlihat masam," imbuh Nata.
"Entahlah, semenjak aku di pertemukan dengan CEO di perusahaan ini, aku tak akan bisa baik-baik saja. Bahkan kemungkinan besok dan seterusnya, psikisku akan berantakan."
"Dari yang ku dengar, pak Rigel memintamu untuk menjadi juru masak pribadinya. Bukankah itu hal paling di idam-idamkan oleh perempuan, kamu akan lebih sering bertatap muka dengannya," lontar Nata sembari tersenyum membayangkan sosok Rigel.
Lyra menghela. "Aku tak pernah merasa beruntung hanya karena menjadi juru masaknya. Dia hanya akan membuatku menderita. Apa kamu tahu setelah mendengar ucapannya yang menusuk, kamu akan hilang semangat."
Seketika Nata merangkul pundak Lyra. "Jika hari ini kamu merasa hilang semangat, lebih baik kita pergi ka cafenya Axel. Sekalian refresing, menatap wajah tampan dari Axel bisa membuat suasana hati menjadi senang."
"Apa benar orang yang kamu sebut Axel itu tampan?" Tanya Vika.
"Tentu saja, sikap dari Axel itu kebalikan dari sikap pak Rigel. Selain tampan dia juga memiliki sikap yang ramah dan hangat. Setelah melihatnya kamu mungkin akan langsung jatuh cinta."
Lalu tiba-tiba saja mobil Rigel lewat di depan Lyra, Vika, dan Nata. Kaca jendela terbuka, Rigel tersenyum sinis melirik ke arah Lyra.
"Apa dia mau menyombongkan diri kepadaku atau dia hanya ingin memberi peringatan terhadapku," batin Lyra.
"Bukankah tadi pak Rigel tersenyum kepada kita. Betapa tampannya dia saat tersenyum, sampai membuatku semakin terpukau," puji Vika dengan girangnya.
Pujian Vika sampai membuat alis Lyra terangkat dengan mulutnya yang menganga. "Apa kau pikir itu yang namanya senyuman. Dia bahkan tak nampak tersenyum manis."
"Itu namanya tersenyum keren. Dia memang sangat tampan bila memancarkan senyumannya," imbuh Nata yang juga sama terpukaunya seperti Vika.
Apa yang di pikirkan Vika dan Nata berbading terbalik yang apa yang di pikirkan Lyra. Bagi Lyra itu bukanlah sebuah senyuman, melainkan seperti ancaman untuk Lyra agar ia bisa menempati janjinya dan bisa menjalankan tugasnya dengan benar sebagai pacar pura-pura Rigel, bila nanti sudah tiba saatnya mereka bersandiwara. Yang mereka pikir, Rigel tersenyum kepada Vika atau Nata, nyatanya itu bukan. Senyuman itu memang di tunjukan untuk Lyra, karena setelah Rigel lewat dengan mobilnya, sebuah pesan peringatan muncul di ponsel Lyra.
"Ingat dengan janji yang harus kau tepati. Bila tidak di tepati dan tidak menjalankannya dengan benar, maka aku akan langsung memecatmu."
Setelah mendapati pesan dari Rigel, rasanya Lyra ingin sekali membanting benda berbentuk persegi panjang itu. Tapi apa daya, ponselnya terlalu mahal untuk di ganti dengan yang baru, tanggungan hutang orang tuanya sangatlah banyak. Bila Lyra harus memikirkan untuk membeli ponsel baru.
Sesampainya di cafe milik sahabatnya, Lyra dan kedua temannya menghampiri counter untuk memesan kopi. Di sana nampak Axel tengah menyeduh kopi pesanan dari pelanggan. Nata dan Vika sampai terpukau melihat ketampanan dari sahabat Lyra tersebut.
Mungkin bagi Nata dan Vika melihat wajah Axel adalah hal yang luar biasa. Namun bagi Lyra, sahabatnya yang tampan itu tak membuatnya merasa terpukau. Apa karena mungkin sudah terbiasa, karena sedari kecil Lyra sudah kenyang melihat wajah Axel.
"Apa ada yang ingin kalian pesan?" Tanya Axel ketika kopi yang di seduhnya telah di selesaikannya.
"Karena kamu sudah manis, ku pikir memesan ice americano cocok sekali untukku," imbuh Nata.
Seketika Vika mengeluarkan ponselnya, lalu mengulurkannya kepada Axel. "Boleh minta nomor ponselmu."
Axel tersenyum. "Aku akan memberimu nomor ponselku, tetapi bila sudah ku buatkan pesanan untuk kalian. "Axel lalu menatap ke arah Lyra. "Apa ada yang ingin kamu pesan, Lyra."
"Pesananku seperti biasa, capucino latte. Tidak terlalu manis dan tidak pula terlalu hambar."
Lyra pun beranjak duduk ke meja kosong. Duduk santai setelah pulang kerja adalah hal yang paling baik untuk moodnya. Sejenak Lyra bisa melupakan Rigel dan pekerjaannya yang terbilang sangatlah konyol.
Hanyalah sejenak Lyra dapat melupakan Rigel dan pekerjaannya. Namun, pikirannya kembali lagi terbangun ketika Nata dan Vika membahas tentang Rigel. Dalam obrolannya, Nata dan Vika membahas tentang sosok perempuan yang menumpangi mobil mewah milik CEO tersebut. Lyra sampai terkejut mendengarnya, karena yang ia tahu perempuan yang kemarin menumpangi mobilnya hanyalah Lyra.
"Memangnya siapa yang kalian maksud itu?" Tanya Lyra panik.
"Aku tak tahu dia siapa. Karena perempuan yang kemarin menumpang di mobilnya pak Rigel tak nampak jelas wajahnya, karena menurut saksi yang melihat, dia melihatnya dari kejauhan. Karena itu, tadi di kantor sangatlah ribut membahas pak Rigel dan perempuan misterius itu," imbuh Vika.
"Mengapa harus ribut membahasnya, bagaimana bila perempuan yang menumpangi mobilnya itu mungkin hanyalah teman atau mungkin kerabatnya," ucap Lyra sembari mengalihkan pandangannya.
"Tidak mungkin. Setahuku pak Rigel tak pernah memberikan tumpangan kepada perempuan, kecuali perempuan itu adalah pacarnya. Dan setahuku pak Rigel tak memiliki teman dekat perempuan ataupun kerabat perempuan yang seumuran dengannya. Karena yang terlihat oleh saksi, bila perempuan yang di lihatnya itu tampak terlihat muda."
Lyra menelan salivanya. "Mengapa bisa yakin bila perempuan itu tampak terlihat muda, melihat wajahnya saja tampak samar."
"Memang benar, seharusnya kita tak perlu langsung menyimpulkannya. Bisa jadi perempuan itu hanyalah seorang kerabat atau mungkin rekan bisnisnya," imbuh Nata.
"Tapi tetap saja kita perlu mencurigainya, biasanya seorang konglomerat selalu menyembunyikan hubungannya agar tak terkena bahan gosip oleh media." Vika menghela nafasnya. "Bila sampai perempuan tersebut pacarnya, bisa-bisa persatuan penggemar pak Rigel akan mencacinya, termasuk denganku."
Ucapan Vika benar-benar sudah membuat Lyra gelisah setengah mati. Lyra sampai tak bisa tenangnya berdiam duduk bersama Vika dan Nata. Bila sampai tersebar kabar bahwa dirinyalah yang kemarin menumpangi mobil Rigel atau tersebarnya hubungan palsunya dengan Rigel, bisa-bisa Lyra terkena cacian perempuan-perempuan di kantor yang menjadi penggemar Rigel Callisto itu.
***
Sudah beberapa hari ini perempuan misterius menjadi bahan perbincangan hangat di kantor. Lyra sampai di buat tak bisa tidur nyenyak saat malam. Lingkaran mata serta tubuhnya yang lesu, membuat Lyra pergi bekerja dengan tampilan yang tampak berantakan. Lyra terus merasa takut bila sampai orang-orang di kantor mengetahui dirinya yang menjadi perempuan misterius itu. Masih lebih baik jadi bahan perbincangan orang-orang kantor, tapi bila sampai terdengar oleh media, satu negara bisa tahu. Bisa-bisa Lyra menjadi bahan gosip masyarakat, secara Rigel merupakan CEO yang cukup terkenal di dunia bisnis. Media banyak meliput perusahaan termasuk juga dengan dirinya, bila di lihat dari laman berita bisnis ataupun majalah bisnis.
Setibanya di gedung kantor, tiba-tiba saja Lyra di kejutkan dengan kehadiran Agni yang tengah berdiri di kafetaria.
"Sedang apa kamu di sini?" Tanya Lyra heran.
"Mulai hari ini aku bekerja jadi juru masak di perusahaan ini."
Seakan tak percaya, Lyra sampai mengerenyitkan keningnya, seorang yang merupakan lulusan dari salah satu universitas terbaik di Amerika, bisa-bisanya bekerja sebagai juru masak. Sama-sama melencengnya dengan Lyra yang juga bekerja sebagai juru masak. Tapi, Agni lebih melengceng lagi. Selain lulusan dari universitas yang sama dengan Lyra, Agni juga merupakan anak dari seorang yang memiliki perusahaan besar.
Lyra tergelak. "Mana bisa kamu bekerja di sini sebagai juru masak. Bukankah kamu bekerja di perusahaan ayahmu. Dan jangan bercanda kepadaku, aku tak akan mudahnya di tipu olehmu.
"Aku memang benar bekerja di sini. Kamu boleh bertanya kepada juru masak utama di kantor ini."