My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
72. Berakhir Bahagia



Sebulan kemudian, Rigel dan Lyra mengadakan pernikahan di Bali. Pernikahan mereka terbilang mewah namun juga sederhana, karena pernikahan mereka hanya di saksikan oleh keluarga dan teman dekat saja. Mereka tak mengundang banyak tamu, karena mereka tak ingin mendengar gunjingan dari orang-orang tentang Lyra yang hamil di luar nikah.


Hamil di luar nikah merupakan sebuah aib bagi orang Indonesia. Terlebih lagi Rigel merupakan seseorang yang bisa di bilang terkenal di Indonesia. Bukan karena dia seorang aktor ataupun seorang selebriti, Rigel terkenal karena seorang pewaris dari perusahaan nomor satu di Indonesia. Tak hanya terkenal karena merupakan seorang pewaris saja, tapi dia juga terkenal sebagai pembisnis yang andal. Di usianya yang masih muda Rigel sudah di juluki raja investor, karena memiliki banyak investasi di berbagai bidang bisnis. Wajahnya sering terpampang di berbagai berita bisnis. Jika sampai media tahu tentang kehamilan Lyra, namanya mungkin akan jelek di mata orang Indonesia dan bisa berdampak buruk bagi citra perusahaan. Oleh sebab itu Rigel sangat memprivasi pernikahannya.


Walau hanya bisa di saksikan oleh beberapa orang saja, tapi mereka sangat bahagia ketika kalimat sah terlontarkan dari semua mulut orang-orang yang menjadi saksi pernikahannya. Lyra sampai menangis haru setelah mendengarnya. Dan saat itulah, dengan sigapnya Rigel mendekap Lyra yang tengah menangis tersebut.


"Ini merupakan hari bahagia, kamu tak seharusnya menangis."


"Aku hanya terlalu bahagia, karena akhir dari kisahku adalah kamu," ucap Lyra yang menangis dalam dekapan Rigel.


Lyra sangat bersyukur bisa mendapatkan pria hebat seperti Rigel. Bukan karena Rigel seorang pria yang memiliki kekayaan yang berlimpah, tapi karena dengan hebatnya Rigel mampu bertahan mencintai Lyra walau sudah di tinggal tiga tahun lamanya. Bahkan ia mampu bertahan menyukai satu orang wanita di hidupnya. Cinta pertamanya adalah Lyra dan cinta terakhirnya pun juga Lyra. Laki-laki beruntung yang bisa mewujudkan cinta pertamanya menjadi cinta terakhir di hidupnya.


Lyra juga sangat bersyukur karena di balik penghianatan Daniel, tuhan telah menyiapkan lelaki terbaik untuk hidupnya. Laki-laki yang mampu mencintainya dengan tulus dan dapat bertanggung jawab untuk dirinya dan juga bayi yang tengah di kandungnya. Lyra sangat yakin bahwa Rigel akan menjadi ayah yang hebat, yang akan selalu melindungi dan mencintai anak-anaknya kelak. Lyra juga sangat berterima kasih kepada tuhan karena telah menunjukan siapa Daniel yang sebenarnya. Hingga membuatnya dapat di pertemukan dengan laki-laki yang tulus mencintainya.


Begitupun dengan Rigel yang sangat berterima kasih kepada tuhan, bahwa dirinya dapat di takdirkan bersama Lyra. Bahkan dirinya mendapatkan kebahagian yang berlimpah, yaitu seorang anak yang tengah bernafas di rahim wanita yang di pilihkan tuhan untuknya. Biarpun kehadirannya terlalu cepat dari pernikahannya, tapi Rigel menganggap anak yang hadir tersebut merupakan sebuah anugerah terbesar dalam hidupnya.


*


Bila pernikahannya di adakan di Bali, lain halnya dengan bulan madu. Lyra dan Rigel memilih Finlandia sebagai tempat untuk bulan madunya. Seminggu sebelum pernikahan mereka berdebat panjang, karena Rigel dan Lyra bertolak belakang dengan pemilihan tempat untuk tujuan bulan madu mereka.


Rigel lebih memilih Hawai sebagai tempat bulan madu mereka, sementara Lyra lebih memilih negara yang terkenal dengan keindahan auroranya. Dan salah satu negara yang dapat melihat keindahan aurora, yaitu Finlandia. Rigel bukan tak setuju dengan pilihan Lyra yang lebih memilih Finlandia di bandingkan hawai, tapi di sana sedang musim dingin. Dan musim dingin di sana sangat dingin tak baik untuk kondisi Lyra yang tengah hamil muda. Namun, Lyra terus ngeyel dan memaksa Rigel agar bulan madunya itu dilakukan Finlandia.


Setelah pesta pernikahan selesai, mereka langsung terbang menggunakan pesawat pribadi ke Finlandia. Pesawat pribadi menjadi alternatif cepat untuk Rigel dan Lyra pergi ke Finlandia. Karena selain lebih cepat di bandingkan naik pesawat kormesial, pesawat pribadi juga lebih nyaman di tumpangi untuk wanita hamil seperti Lyra. Lyra dan Rigel juga tak perlu lama menunggu keberangkatan dari pesawat, menggunakan pesawat pribadi mereka hanya menunggu sekitar 15 menit.


Dan untuk Penginapan, mereka memilih rumah iglo beratap kaca sebagai tempat untuk mereka menginap selama di Finlandia. Di luar memang sangat dingin, tapi di dalam rumah kecil yang beratap kaca tersebut sangatlah hangat. Karena penginapan tersebut menyediakan pemanas ruangan dan perapian. Tak hanya pemanas dan perapian saja, tapi penginapan tersebut juga menyediakan kaus kaki cantik dan juga mantel wol untuk para tamunya. Sehingga Lyra dan Rigel tetap hangat walau cuaca di luar sangat dingin.


Mereka berbaring di atas ranjang sembari menikmati indahnya langit malam yang di hiasi aurora dan gemerlap bintang.


"Bagaimana menurutmu, bukankah di sini sangat hangat. Kamu tak perlu mengkhawatirkanku kedinginan, karena penginapan ini menyediakan berbagai hal untuk menghangatkan tamunya," imbuh Lyra.


Rigel menghela. "Biarpun di sini hangat tapi di luar sangat dingin. Besok kamu pasti ingin pergi keluar, dan aku tak mengizinkanmu untuk pergi keluar, ya Lyra."


Lyra tersenyum. "Tentu saja kita harus pergi keluar, bulan madu kita tak akan menciptakan momen indah bila kita hanya berdiam saja di rumah kaca ini."


"Kamu tahu bila aurora yang kita lihat ini sangat indah. Kita dapat menikmati keindahan ini hanya dengan melihatnya di balik atap. Dan kita dapat menciptakan momen indah dengan hanya berdiam di rumah kaca ini saja."


"Melihat aurora hanya dapat di lihat pada waktu malam, karena jika matahari sudah muncul kita tak dapat melihatnya. Di sini banyak tempat indah lainnya yang perlu kita kunjungi. Kamu tak perlu khawatir aku akan kedinginan, karena semua baju-baju yang telah kamu siapkan merupakan baju tebal dan hangat."


Lyra tergelak, dan dengan cepatnya ia mengecup bibir Rigel. "Aku akan bilang bila aku kelelahan dan aku pun akan bilang bila aku kedinginan."


Seketika Rigel memicingkan matanya. "Sepertinya kita perlu lebih menghangatkan tubuh kita."


Lyra mengerutkan alisnya. "Aku rasa tubuhku sudah cukup hangat, bila di hangatkan lagi aku akan berkeringat banyak."


"Apa kamu tak mengerti dengan kodeku?"


"Kode apa?" tanya Lyra terheran-heran.


"Bukankah malam ini seharusnya malam pertama kita setelah pernikahannya." Rigel merangkak di atas tubuh Lyra, lalu mendaratkan bibirnya secara perlahan ke arah bibir wanita yang telah resmi menyandang sebagai istrinya tersebut. Namun, dengan cepatnya Lyra mendorong Rigel.


"Kita tidak bisa melakukannya sekarang?"


"Kenapa tidak bisa sekarang? Bukankah tujuan bulan madu kita ini untuk menciptakan momen indah. Dan salah satu momen indahnya yaitu melakukan hal panas."


Lyra menggeleng. "Umur kandunganku baru menginjak satu bulan, dan dokter menyarankan agar kita tak melakukan hubungan badan dulu."


"Lalu sampai kapan aku harus menunggu, temanku saja saat istrinya sedang hamil bisa melakukannya," ucap Rigel berdecak kesal.


"Kamu harus menunggu sampai usia kandunganku menginjak 16 minggu."


Karena usia kandungan Lyra baru menginjak 4 minggu, Rigel pun harus mengurungkan niatnya demi anak yang di kandung Lyra, walau tubuhnya sudahlah sangat mengebu-ngebu ingin segera menerkam istrinya itu.


"Seharusnya saat itu kita tak melakukannya, agar di bulan madu kita ini, aku dapat melakukannya sepuasnya."


Lyra tergelak. "Kamu harus bersabar menungguku sampai usia kandunganku menginjak 16 minggu."


"Iya, aku akan sabar menunggu. Tapi kita harus mengulang bulan madunya ya. Bagaimana bila bulan madu kedua, kita pergi ke Hawai."


Lyra mengangguk sambil tersenyum. "Baiklah, kita pergi ke Hawai sebagai tempat bulan madu kedua kita."


Di bulan madunya, Rigel tak bisa melakukan apa yang di inginkan pengantin baru pada umumnya. Tapi di bulan madu kedua mungkin ia dapat melakukan apa yang di inginkannya itu. Walau harus menunggu 12 minggu lamanya.


Malam pernikahan yang hanya di lewatkan di pesawat, lalu di malam pernikahan yang kedua Rigel hanya bisa menikmati pemandangan aurora di balik rumah iglo. Tapi Rigel sangat bahagia karena bisa menikmati waktu berdua bersama Lyra. Walau di bulan madunya terasa ada yang kurang, namun ia benar-benar dapat tersenyum lebar karena melihat Lyra tersenyum dengan bahagianya.