My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
22. Kebahagianku Telah Di Hancurkan Olehnya



Akhirnya Lyra, Rigel, beserta Jayden, dapat memasuki mobil tanpa berpapasan dengan Nata. Dan tanpa ragu Rigel langsung saja menancap gas sekencang-kencangnya. Lyra dapat bernafas lega setelah dirinya pergi dari taman bermain tanpa ketahuan oleh Nata.


"Kenapa kita harus buru-buru pergi dari taman bermain, Jay masih belum puas bermain di sana," ucap Jay dengan raut wajahnya yang nampak di tekuk kesal.


Untuk membuat suasana hati Jay kembali membaik, Lyra pun perlu mencari alasan agar Jay tak merasa kesal setelah di buat terburu-buru pergi dari taman bermain. Lyra berbalik menatapnya, lalu tersenyum dengan nafasnya yang masih nampak ngos-ngosan.


"Maaf Jay, mamah Lyra tidak bisa berlama-lama di sana. Karena ada sesuatu yang perlu di hindari mamah Lyra dan juga Jay. Lain kali mamah Lyra bakal bawa Jay ke taman bermain lagi. Dan mamah Lyra akan membuat Jay puas main di sana. Jadi Jay tidak boleh bersedih ya."


Jay mengulurkan jari kelingkingnya. "Janji ya."


Lyra meraih jari kelingking Jayden, lalu mengikatnya dengan jari kelingking miliknya. "Iya, janji."


Biarpun Jayden sudah tak nampak begitu kesal, bukan berarti sepenuhnya mood Jayden kembali membaik. Taman bermain merupakan tempat yang sudah lama ingin di kunjungi Jayden, dan tak mungkin Jayden merasa lebih baik bila hanya di beri harapan. Rigel sangat tahu watak dari keponakannya itu, bila sudah di beri harapan ia akan terus memikirkannya. Rigel pun pergi membawanya ke tempat yang sangat di sukainya, yaitu toko es krim.


Wajah Jayden semringah ketika mobil Rigel sampai di depan toko es kirim yang sering di kunjunginya ketika berdua dengan adik dari ibu kandungnya itu. Melihat Jayden kembali senang, hati Lyra pun bisa tenang. Dan Lyra pun ikut senang melihat anak yang sudah di anggapnya anak sendiri tersenyum sembari menunjuk-nunjuk es krim yang di sediakan toko di etalase.


"Jay mau es krim vanila coklat," imbuh Jay.


Rigel pun memesan tiga porsi es krim kepada pelayan toko. Sementara Lyra dan Jayden menunggu es krim yang tengah di pesan Rigel di meja kosong. Hanya menunggu sekitar lima belas menit, Rigel kembali membawa tiga gelas es krim yang di pesannya itu. Betapa semringahnya Jayden saat es krim kesukaannya datang. Jayden sampai lahap memakan es krim kesukaanya itu.


"Jangan terburu-buru makannya, nanti tersedak." Lyra menyeka es krim yang menempel di bagian pipi dan mulut Jayden.


Hal sederhana ini saja sudah membuat Lyra bahagia. Tak hanya Lyra saja yang merasa bahagia, tapi Rigel pun tampak bahagia bila di lihat dari raut wajahnya. Perempuan yang sudah di pilihnya sebagai kekasih pura-puranya itu telah membuat keponakannya tersenyum, begitu pula dengan es krim yang juga turut membantu Jayden kembali tersenyum. Anak yang tumbuh tanpa seorang ibu, dapat merasakan kasih sayang dari wanita yang di anggap Jayden sebagai ibunya itu.


Baik Rigel maupun Lyra, keduanya sama-sama memiliki keuntungan. Lyra yang ingin merasakan jadi seorang ibu terwujud berkat Rigel, begitupun dengan Rigel yang sangat membutuh sosok wanita yang berperan sebagai ibu untuk keponakannya, terwujud berkat Lyra. Ini merupakan momen bahagianya, Lyra sampai melupakan bahwa apa yang di lakukannya ini merupakan tugas dari pekerjaannya. Berperan sebagai ibu dari Jayden dan membuat Jayden tersenyum adalah salah satu tugas dari Rigel, namun saat ini Lyra tak bepikir bahwa yang di lakukannya ini merupakan pekerjaannya. Yang di rasa Lyra saat ini, bahwa ia merasa sudah menjadi ibu yang nyata untuk Jayden.


Namun, kebahagiannya tak berselang lama setelah Daniel tiba-tiba saja datang ke toko es krim bersama dengan wanita sama yang pernah di pergoki Lyra di apartemen mantan kekasihnya itu.


Daniel lewat dan berhenti di meja tempat Lyra berada. "Lyra, sedang apa kamu di sini?"


Lyra mengacuhkannya, tak menatap maupun merespon ucapan dari Daniel.


Seketika Daniel mengerutkan alisnya sembari menatap ke arah Rigel. "Bukankah anda CEO dari PT Starlight."


Rigel tersenyum lalu mengulurkan tangannya. "Senang bertemu dengan anda lagi. Oh ya, kita belum serius berkenalan. Saya Rigel, calon suaminya Lyra."


Daniel menjabat tangan Rigel dengan raut wajahya yang nampak keheranan. "Senang bertemu dengan anda. Oh ya, anda calon suami Lyra, bukankah terlalu cepat bila di sebut calon suami. Saya baru putus dengan Lyra sekitar dua minggu yang lalu."


"Memangnya mengapa? kami bisa berpacaran setelah menikah, bukankah begitu sayang," ucap Rigel tersenyum menatap Lyra.


Lyra hanya merespon Rigel dengan anggukan dan senyuman. Kedatangan Daniel sudah membuat suasana hati Lyra menjadi buruk. Ia jadi malas berbicara walaupun Rigel yang mengajaknya.


Sementara kekasih baru dari Daniel itu nampak seperti tak nyaman berdiri, bahkan wanita tersebut sampai memalingkan wajahnya. Ia berdiri sembari melipat lengannya dengan kepala yang menengok ke arah samping, seakan-akan ia tengah menghindari pandangan dari Lyra dan juga Rigel.


Namun, bukan Lyra yang menjabat tangannya, melainkan Rigel.


"Terima kasih atas ucapan selamatnya, tapi kamu tak perlu memberikan tanganmu kepada calon istriku. Karena aku tak suka bila sampai dia menyuntuh tanganmu ini."


Daniel melepas tangannya dari Rigel. "Oh maaf, kalau begitu saya pamit pergi sekarang." Daniel bersama kekasihnya melangkah pergi dari tempatnya berdiri.


"Tunggu sebentar," lontar Rigel yang seketika langkah Daniel kembali terhenti. Daniel pun berbalik menghadap ke arah Rigel.


"Iya ada apa?"


Rigel memiringkan senyumnya. "Kekasih barumu bernama Lisa kan?"


"Iya, kenapa anda bisa mengenalinya?" Tanya Daniel heran.


"Dulu aku sempat berpacaran dua minggu dengannya, aku tak menyangka bila anda rela membuang bunga dan lebih memilih memungut wanita bekas diriku." Rigel lalu melebarkan senyumannya. "Terima kasih sudah membuang bunga paling berharga. Berkat kamu, akhirnya aku mendapatkan bunga yang sangat cantik melebihi kekasih barumu itu."


Daniel langsung saja di tekuk kesal atas ucapan Rigel tersebut. Sementara Rigel, ia malah tertawa puas setelah membuat mantan kekasih dari Lyra itu di buat kesal olehnya.


Bila Daniel tengah kesal dan Rigel tengah tertawa puas, lain halnya dengan Lyra yang nampak bersedih setelah bertemu kembali dengan Daniel. Hatinya terlampau sakit menatap pria yang pernah mengisi hatinya selama empat tahun lebih itu, berdiri berdampingan dengan kekasih barunya. Bohong bila Lyra dapat melupakan Daniel dengan cepat. Biarpun Lyra membenci dan biarpun Lyra kecewa, namun perasaan untuk Daniel masih saja tersisa di hatinya. Di depan Rigel dan Jayden, Lyra berpura-pura kuat dengan menahan tangisnya.


Rigel lalu meraih tangan Lyra. "Apa kau baik-baik saja, apa lebih baik kita pergi dari sini sekarang?"


Lyra menggeleng sembari tersenyum samar. "Aku baik-baik saja, kita pergi setelah Jay menghabiskan es krimnya."


Bohong bila Lyra tak ingin beranjak pergi dari toko es krim, hanya saja ia tak ingin membuat Jayden kembali kecewa, setelah tadi bermain di taman bermain hanya sebentar. Jayden bisa saja kembali kecewa jika Lyra mengajaknya pergi sebelum menghabiskan es krimnya. Lyra pun terpaksa harus menunggu Jayden menghabiskan es krimnya. Dan setelah dua puluh menit menunggu, akhirnya Jayden menghabiskan es krimnya. Lyra pun bisa beranjak pergi dari toko es krim.


Hari sudah mulai gelap, Rigel pergi membawa mobilnya ke arah jalan pulang menuju rumah Lyra. Selama perjalanan, tak hentinya Lyra menatap ke arah jendela di sampingnya. Raut wajahnya masih saja nampak bersedih dengan pikiran kalut yang tak mau berhenti memikirkan sosok Daniel. Sementara Jayden ia nampak tertidur pulas di belakang. Lalu tiba-tiba saja Rigel menghentikan lajuannya di tempat yang sepi.


"Mengapa berhenti?" Tanya Lyra.


Rigel menghembuskan nafasnya. "Sepertinya kita perlu menghirup udara segar terlebih dahulu."


Rigel lalu beranjak keluar dari mobil, begitu pun dengan Lyra yang juga ikut beranjak mengikuti Rigel. Tak lama Lyra keluar dari mobil, seketika Rigel memeluk Lyra.


"Aku tahu kau tak sedang baik-baik saja."


"Apa maksudmu?"


"Menangislah bila ingin menangis, lalu setelah kau puas menangis, maka segeralah lupakanlah dia."


Sontak Lyra pun akhirnya menangis di pelukan Rigel setelah lamanya ia menahan. Hatinya yang terasa sakit itu perlahan mulai membaik setelah ia menangis dengan keras tanpa mempedulikan malunya bila sampai terdengar oleh orang. Pelukan Rigel juga mampu membuat Lyra merasa nyaman. Hanya lewat menangislah Lyra dapat mengutarakan kesedihannya.