
"Siapa Ara?"
"Iya Fisha, mungkin kau juga harus tau tentang Ara."
"Maaf bibi, kalau bibi merasa tidak nyaman untuk bercerita aku tidak akan memaksa."
"Tidak Fisha, toh kamu juga sudah bibi anggap seperti anak sendiri jadi bibi tidak keberatan."
"Iya bibi terima kasih."
"Ara adalah anak bibi yang pertama, dia adalah ibu Baekhyeon. Dia seorang yang sangat sibuk. Hampir tidak ada waktu untuk bermain dengan Baekhyeon meskipun itu akhir minggu."
"Apakah itu menjadi alasan kenapa Baekhyeon sering terlihat murung. Aku merasa kalau aku melihat rasa sepi yang begitu dalam dimatanya."
"Mungkin itu benar Fisha. Itu adalah salah satu alasan kenapa Baekhyeon sering merasa sedih dan kesepian."
"Maksud bibi?"
"Maaf Fisha aku belum bisa bercerita sekarang."
"Ah iya bibi, maaf kalau aku terkesan terlalu ikut campur!"
"Iya cantik tidak apa-apa."
"Oh iya bibi, sebelumnya aku mau minta maaf karena sejak kita bertemu aku sudah bersikap kepada bibi dan keluarga. Aku baru tau tadi saat kita sedang berbelanja, kalau ada perbedaan antara berbicara dengan teman sebaya atau dengan yang lebih tua. Aku, ehmm saya harus lebih sopan kepada bibi dan keluarga lainnya."
"Hemm, intinya seperti ini Fisha. Ada bahasa formal dan informal, kamu bisa bicara formal kepada orang yang lebih tua daripada kamu. Dan berbicara lebih santai kepada teman sebaya atau yang lebih muda dari kamu. Dan kami sudah menganggapmu seperti keluarga sendiri, jadi kamu tidak perlu sungkan seperti ini lagi."
"Iya bibi maafkan aku karena sudah tidak sopan sebelumnya. Aku akan terus belajar tentang budaya kalian."
"Fisha," memandang Fisya dalam.
"Iya bibi."
"Apakah kau mau membantuku?"
"Tentu saja bibi aku pasti mau."
"Maukah kau menjadi teman Baekhyeon dan menghibur dia? Ahh, mungkin ini terkesan seperti aku menyuruhmu untuk mengerjakan sesuatu yang mungkin tidak kamu pahami. Hahh, apa yang sebenarnya aku katakan?"
"Aku mau bibi, aku akan melakukannya untuk Baekhyeon."
"Benarkah Fisya? tapi kalau itu sesuatu yang mengganggu untukmu kau tidak perlu melakukannya."
"Tidak bibi, aku akan melakukannya dengan senang hati. Tapi apakah aku boleh tau kenapa Baekhyeon selalu murung seperti itu. Dan mungkin sikapnya kepada pamannya juga seperti dia menganggap pamannya adalah teman sebayanya."
"Iya Fisha memang Baekhyeon menganggap Dongmin seperti teman sebayanya, bukan karena Dongmin seperti anak kecil tapi Baekhyeon yang tidak mau dianggap seperti anak kecil. Dia selalu mencari perhatian Dongmin, karena dia suka bermain dengan Dongmin, suka meledek Dongmin. Bahkan saat dia berada di taman bermain sangat jarang dia mau bermain dengan teman sebayanya. Dan saat Dongmin bekerja dia selalu menempel kepada nenek buyutnya. Dan apapun yang dia lakukan dengan nenek buyutnya dia selalu menganggap kalau dia sudah besar dan sangat bisa diandalkan."
"Bagaimana dengan ibunya bibi?"
"Kita sudah sampai Fisha, besok aku akan menceritakan semuanya padamu. Ayo kita masuk dulu dan memasak untuk makan malam."
"Baik."
Dalam hati Fisya bergumam sendiri. *Sepertinya tugas ini akan membutuhkan waktu yang lama, mungkin saat ini aku harus berteman dengan Baekhyeon dulu baru aku akan pikirkan langkah selanjutnya sambil mencari tau tentang masalah ayah dan ibunya. Iya seperti itu dulu. Baekhyeon I'm coming.
Kemudian Fisya mulai belajar memasak untuk makanannya sendiri. Fusya cepat sekali belajar karena Fisya memang orang yang pintar, hanya saja nasibnya tidak seberuntung otaknya.
Setelah acara belajar memasak itu selesai, semua keluarga sudah berkumpul di meja makan dan akan memulai acara makan malam. Fisya memulai serangan untuk menaklukkan hatinya Baekhyeon.
"Baekhyeon, apakah kau mau mencoba masakanku?"
"Jangan sok akrab denganku!" Jawab Baekhyeon ketus.
"Baekhyeon, kenapa bicaramu sangat tidak sopan seperti itu?"
"Kakek aku tidak mau akrab dengan orang asing."
"Anak ini, dasar!"
"Tidak apa-apa paman. Mungkin Baekhyeon perlu waktu untuk menerima orang baru."
"Baiklah kalau begitu, apakah paman bisa mencicipi masakanmu?"
"Iya, nenek juga mau."
"Tentu saja, paman dan nenek boleh mencicipinya. Aku sangat senang kalau kalian bersedia mencicipinya."
"Ibu, ibu pasti akan sangat terkejut saat mencicipinya. Masakan Fisha sangat enak padahal baru pertama kali belajar memasak masakan kita."
"Ahh, bibi terlalu berlebihan."
"Baikalah Fisha aku akan mencobanya."
"Iya nenek ini, dan paman juga.
"Bagaimana ibu, suamiku apakah enak?"
"Bagaimana Seongji, apakah enak?"
"Iya ibu ini lumayan enak untuk pemula seperti Fisha."
"TerimaKasih paman, bibi, dan nenek."
"Apa ini? Kalian makan dan tidak menungguku? Hei bocah kenapa kau cemberut seperti itu?"
"Dongmin, kenapa baru pulang?"
"Iya ibu, tadi ada sedikit urusan. Aku lapar sekali ibu, mana nasiku?"
"Ini nasimu, kau harus coba makanan ini dulu Dongmin."
"Kenapa harus ini dulu ibu?"
"Sudah coba saja! Bagaimana, apakah enak?"
"Iya,lumayan sih."
"Wah, Fisha ternyata Dongmin juga suka masakanmu. Baekhyeon apakah kau tidak mau mencobanya?"