
Saat semua sudah berkumpul untuk mendengarkan kabar dari bibi, tiba-tiba Dongmin berjalan ke arah Hana dan mencekeram kedua lengan Hana. Menatap Hana dengan tatapan yang tajam, dan menakutkan.
"Kau, kau harus membantu ayah dan ibu agar bisa kembali kesini dengan selamat!"
"A, apa maksudmu?"
"Dongmin, ada apa denganmu? Lepaskan cengkraman tanganmu! Hana kesakitan." Ara mencoba membuat Dongmin untuk melepaskan tangannya.
"Kau harus mengembalikkan ayah dan ibuku!" Dongmin masih saja mencengkeram lengan Hana dan semakin kuat.
"Cukup Dongmin berhenti!" Perintah nenek.
"Tidak nenek, noona dia harus membantu kita."
"Apa maksudmu Mr. Cha? Apa yang sebenarnya terjadi pada paman dan bibi?"
"Kau harus mengorbankan nyawamu untuk ayah dan ibu!"
Deg.
Plak, tamparan dari tangan Ara mendarat di pipi mulus Dongmin. Semua orang kaget tak terkecuali Dongmin. Mata Ara terbelalak menatap tajam Dongmin seperti mau memangsa buruannya.
"Apa kau gila? Apa yang sebenarnya kau lakukan? Ada apa denganmu?"
"Noona, dia bisa menolong ayah dan ibu, dia bisa mengembalikan ayah dan ibu."
"Omong kosong apa ini Dongmin?" Tanya nenek geram.
"Sebagian besar penumpang pesawat itu tidak selamat, ayah dan ibu kemungkinan besar juga..."
"Tenanglah Dongmin! Hah, dinginkan kepalamu dulu! Kau terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan. Belum tentu ayah dan ibu ada dipenerbangan tersebut kan?"
"Noona, aku sendiri yang mengecek keberadaan ayah dan ibu. Dan dalam daftar penumpang ada nama ayah dan ibu."
"Tidak Dongmin, aku merasa kalau ayah dan ibu dalam keadaan yang baik sekarang."
"Kau hanya ingin menenangkanku noona, kau tidak bisa menyembunyikan kegelisahanmu."
"Kau benar Dongmin, aku gelisah takut dan sangat khawatir. Tapi aku tidak ingin berfikiran negatif sebelum ada kabar resmi dalam pencocokan DNA antara korban dan keluarga."
"Benar Dongmin, tolong positifkan segala yang kau khawatirkan dan fikirkan! Dan Hana, masuklah ke kamar dulu. Istirahatlah!"
"Dongmin, apa yang sebenarnya kau lakukan? Hana sudah banyak sekali membantu keluarga kita, dan kau bisa-bisanya mengatakan hal seperti itu kepada Hana."
"Tapi noona, hanya dia yang bisa membantu ayah dan ibu. Apa kau lupa bagaimana aku dan nenek bisa selamat karena dia? Dia dikirim ke rumah ini untuk keluarga kita, mungkin dia memang ditakdirkan untuk selalu menolong keluarga kita."
"Tapi tidak ada alasan untuk kita memaksa Hana menyelamatkan orang tua kita Dongmin."
"Ara benar, kita tidak punya alasan untuk meminta Hana membahayakan nyawanya sendiri untuk keluarga kita."
"Tapi nenek, setidaknya biarkan kita mendengarkan pendapat dia dulu. Apakah dia mau menolong kita atau tidak?"
Sementara Dongmin, Ara, da nenek berdebat. Hana di kamar berfikir keras untuk bisa mengerti situasi yang dia alami saat ini. Apakah ini nyawa ketiga? Pikir Hana, apakah hanya sampai disini aku bisa memiliki keluarga yang lengkap? Apakah aku tidak bisa bertemu mereka kembali? Dalam hati Hana berkecamuk, memikirkan sesuatu yang sulit untuk diterima olehnya, tapi disisi lain Hana juga berfikir kalau dia harus kembali dan menjalani kehidupannya sendiri. Sejenak berfikir, Hana sudah mendapatkan jawabannya. Tapi Hana belum tau caranya untuk bisa menolong paman dan bibi. Hana keluar untuk menemui Dongmin Ara dan nenek.
"Aku akan membantu kalian untuk menolong paman dan bibi."
"Hana, apa yang kau katakan?" Tanya nenek penasaran.
"Nenek, aku ada disini karena memang aku memiliki tugas untuk membantu Baekhyeon bahagia. Entah kalian akan percaya atau tidak, tapi apa yang dikatakan Dongmin memang benar." Dongmin hanya diam dan tidak berani melihat Hana.
"Jangan menganggap serius perkataan Dongmin, Hana!"
"Tidak eonni, aku akan menolong paman dan bibi. Aku akan mencari cara untuk bisa menolong mereka."
"Ahh, benar-benar deh. Apa yang sebenarnya kalian fikirkan sih? Apa kalian sudah gila?"
"Eonni, percayalah padaku!"
"Kau ingin aku percaya padamu? Kau ingin aku percaya kalau kau akan mengorbankan nyawamu untuk kebahagiaan keluarga ini? Aku sama sekali tidak habis fikir Hana, bagaimana mungkin kau dan Dongmin bisa berfikiran seperti itu."
"Aku akan mencoba cari caranya eonni. Tolong jangan ganggu aku selagi aku berada dikamar."
Percakapan mereka selesai, Ara sangat marah pada Dongmin dan Hana. Ingin sekali Ara memaki adik laki-lakinya itu, karena dia mempengaruhi Hana dengan sesuatu yang baginya mustahil. Sementara Dongmin sangat sesak, karena perasaannya pada Hana harus dikubur dalam-dalam karena dia tau kalau itu akan menyakitinya juga Hana. Dongmin ingin sekali meminta maaf pada Hana karena perilakunya yang tidak menyenangkan tadi. Dan juga ingin mengatakan perasaannya yang sebenarnya pada Hana. Tapi Hana sudah mengatakan kalau dia tidak mau diganggu.
Hana mondar mandir di kamarnya, untuk mencari tau apa yang bisa dia lakukan sekarang? Hana melihat lagi surat penting yang dibawanya saat dia kesini, dia terus membacanya berulang-ulang. Berharap menemukan cara untuk memecahkan masalahnya kali ini. Dan, secara tidak sengaja Hana melihat ada garis kecil di pojok kanan bawah surat. Hana berfikir mungkin itu hanya sebuah hiasan kertas saja tapi tiba-tiba fikiran Hana berubah kemudian dia mengambil kaca pembesar dan di arahkan ke garis kecil tadi dan ternyata benar itu adalah tulisan. Tulisan yang sangat kecil, bahkan dengan kaca pembesar pun hampir tidak terbaca.
"Buram sekali tulisan ini." Hana mengedip-kedipkan matanya, mengucek matanya dan membelalakkan matanya agar dia bisa membacanya. Sedikit demi sedikit tulisan itu mulai terbaca, dan Hana mengerti. "Cincin berlian merah bisa digunakan saat ada keadaan darurat , dan sebagai gantinya adalah nyawa ketiga. Ini, ini adalah petunjuk untuk bisa menyelamatkan paman dan bibi. Tapi bagaimana caranya? Oh iya cincin itu ada dimana ya? Dimana aku menyimpannya? Waktu kecelakaan itu aku memakainya, dan saat masuk ke rumah ini aku menyimpannya di.... iya aku menyimpannya di laci nakas dekat lemari itu." Hana berjalan menuju nakas dan membukanya, kemudian dia mengambil dan memakai cincin tersebut. Hana berfikir mungkin dia akan mendapatkan sesuatu kalau dia tidur dengan memakai cincin tersebut.
Hana mulai memejamkan mata dengan harapan dia akan mendapatkan jawaban bagaimana caranya dia bisa menolong paman dan bibi. Dan, benar saja. Dalam mimipinya Hana melihat dua sosok yang mirip dengan paman dan bibi, Hana menghampiri mereka dan berbincang sebentar dengan mereka. Sekarang Hana mulai tau kalau kekhawatiran Dongmin benar adanya. Dan Hana juga tau kalau saat dia terbangun nanti semua akan baik-baik saja.
"Paman bibi, kalian akan kembali berkumpul dengan keluarga kalian."