Mr. Cha, wait me!

Mr. Cha, wait me!
Anak bu bos



Sebulan berlalu sejak pertemuannya dengan Hyemin eonni. Dan pekerjaan Fisya pun bisa dibilang sangat lancar, untuk kali ini akan ada pekerjaan penting yang sudah menanti.


"Fisya, hari ini jemput anak bu bos ya? Selamat bekerja dengan beliau ya!" Ledek Nela yang sama sekali tidak digubris Fisya.


"Apaan sih mbak, memang dia sebuas apa sih?"


"Yee, emangnya macan buas? Ya kita nyaranin buat kamu lebih banyak bersabar aja sih, ya ga gaes?"


"Betul itu Sya, kamu juga harus benar-benar menjaga kesehatan jantungmu kalau bekerja sama beliau." Tambah pegawai lain.


"Fisya udah ditunggu pak supir buat jemput anak bu bos di bandara." Ucap Sari saat sedang masuk ruangan.


"Iya mbak, aku berangkat dulu ya mbak-mbak sekalian."


"Hati-hati ya Fisya, daahhh."


Sudah 2 jam lebih Fisya menunggu di bandara, tapi dia yang ditunggu belum juga muncul. Padahal harusnya pesawat yang dinaiki anak bu bosnya sudah tiba 30 menit yang lalu.


"Pak Marcel Bramantyo ini lama banget ya g keluar-keluar. Sudah 2 jam lebih aku menunggunya disini."


Drrt, drrt, drrrt. Handphone Fisya bergetar, ada sebuah panggilan masuk dari supir pribadinya bu bos yang mengantar Fisya ke bandara.


"Iya pak,,, apa? Pak Marcel udah duduk di mobil dari tadi? Tapi saya nggak lihat dia keluar,,,oh iya baik saya segera kesana." Ternyata yang ditunggu sudah ada di mobil dan Fisya bergegas ke mobil.


Hosh, hosh, hosh...


"Kamu terlambat 15 menit."


"A, apa? M, maaf pak saya tidak tau kalau bapak sudah lewat di depan saya."


"Nggak ada yang kasih tau kamu wajah saya?"


"Maaf pak, saya sudah dikirimi foto bapak tapi mungkin saya lupa wajah bapak saat bapak keluar tadi."


"What? Apa lagi ini, benar-benar deh. Cepat masuk!"


"B, baik pak." Fisya masuk dan duduk di sebelah atasannya.


"Siapa yang ngebolehin kamu duduk di sebelah saya?"


"Maaf? Ah, saya kira,, maaf saya akan pindah ke kursi depan."


Braaakk


"Berangkat pak!"


"Baik tuan."


"Kamu sekertaris pribadi saya selama disini?"


"Kurang lebih begitu pak."


"Saya tidak suka pegawai yang lelet dan saya suka orang yang bekerja keras. Jadi kamu harus bisa memenuhi standart sebagai sekertaris pribadi saya."


"Iya pak, saya akan berusaha."


"Good."


"Jadi ini maksud temen-temen." Gumam Fisya dengan suara sangat pelan.


"Kamu berbicara dengan saya?"


"Ahh, apa pak? Ng, nggak kok pak saya bicara sendiri kalau langitnya cerah."


"Antar saya ke hotel dulu Pak Jaya, saya mau istirahat sebentar."


"Baik tuan."


"Maaf pak, apa bapak tidak pulang ke rumah saja? Tadi kata bu bos..."


"Kamu mau mengatur hidup saya?"


"Ma, maaf pak bukan maksud saya."


Fisya hanya bisa menghela nafas panjang. Fisya bingung dan serba salah, karena belum mengerti tentang sifat anak bu bos. Tapi Fisya masih bisa bersabar dengan sifat raja atasannya ini. Beberapa menit berlalu, dan mereka sudah sampai di hotel yang Marcel maksud.


"Kita sudah sampai tuan." Kata Pak Jaya selaku supir membangunkan Marcel.


"Saya akan beristirahat disini dulu, kalian bisa kembali ke butik."


"Baik pak."


"Pak Jaya, tolong nanti suruh seseorang untuk mengantar mobil saya kesini!"


"Baik tuan."


Brraakk.


"Kamu bisa bertanya apapun tentang Tuan Marcel kepada saya."


"Ahh, iya?"


"Kamu dari tadi bengong kan? Bukannya kamu mau tanya sesuatu sama saya? Tapi kamu pasti sungkan sama saya."


"Kelihatan banget ya pak? Hehe, sebenarnya saya sedikit kaget sih pak melihat sifatnya Pak Marcel kayak gitu."


"Kamu harus lebih sabar lagi karena beliau itu tidak menyukai kesalahan, sekecil apapun kesalahan tersebut."


"Iya pak, dari sifatnya tadi sudah terlihat kok pak, hehe. Saya pasti bisa kok pak, saya sudah sering bertemu bermacam-macam manusia yang memiliki sifat berbeda. Dan saya pasti bisa bersabar untuk mengahadapi Pak Marcel."


"Mulai sekarang kita akan bekerja bersama."


"Bekerja bersama? Memangnya Pak Marcel nggak bekerja di butik bu bos, pak?"


"Tuan Marcel orang yang sangat sibuk, dan dia lebih sering bekerja diluar daripada di butik. Dia sering menemui customernya atau kliennya diluar."


"Oh gitu ya pak, bapak sudah lama jadi supir bu bos?"


"Iya, sejak Pak Marcel masih kecil."


"Wah, makanya bapak bisa tahan banget ya sama sikap Pak Marcel."


"Sebenarnya Tuan Marcel orang baik kok, hanya saja terkadang dia tidak bisa mengungkapkan perasaan yang lain atau sisi lembutnya."


"Oh gitu ya pak, Pak Jaya sudah sangat membantu saya ya. Terima kasih ya pak atas infonya."


"Iya sama-sama."


Setengah jam berlalu, mereka sudah sampai lagi di butik. Fisya memasang wajah cemberut saat masuk ke butik. Dan teman-teman yang lainnya hanya tersenyum-senyum melihat ekspresi Fisya. Ternyata butik sedang dalam keadaan yang ramai pengunjung. Dan tanpa ada aba-aba Fisya langsung membatu teman yang lain untuk melayani pengunjung.


Sudah hampir waktunya makan siang, dan butik sudah mulai sepi pengunjung. Fisya bisa beristirahat dan kembali ke ruangan khusus asisten bu bos. Disana sudah ada Nela dan sari.


"Aduh, capek banget hari ini." Kata Fisya sambil membuang nafas kasar.


"Ada apa si cewek cantik?" Tanya Sari sedikit menggoda Fisya.


"Kalian jahat banget ya mbak, masa kalian nggak ceritain ke aku sifatnya Pak Marcel?"


"Hehe, bukannya ga mau cerita Sya. Hanya saja kita bingung mau ceritainnya mulai dari mana?" Jawab Sari sedikit meledek Fisya.


"Iya Sya, kita juga pernah kok merasa kesulitan saat sedang bekerja bersama Pak Marcel. Dan lo tau nggak, kita bisa bertahan bekerja bersama Pak Marcel hanya karena wajahnya doang lho. Gila nggak kita?"


"Iya gila banget."


"Duh Sya, kamu marah ya sama kita? Bete gitu mukanya."


"Aku nggak marah kok mbak sama kalian, hanya saja Pak Marcel itu agak kelewatan ya? Masa aku udah nunggu lama 2 jam lebih di pintu keluar eh malah dianya udah nunggu aja di mobil. Kesel nggak tuh?"


"Masa sih, sama kita nggak kok. Kamu nggak angkat papan nama Pak Marcel kali?"


"Iya Sya, bener tuh kata si Sari."


"Aku udah angkat setinggi mungkin mbak, sampe rasanya lenganku bener-bener udah mau patah lho."


"Lagi nggak mood mungkin Pak Marcel makanya kamu ditinggalin deh dan nggak disapa sama dia. Hahahah."


"Au ah capek aku, untung bentar lagi waktunya makan siang. Mau makan es krim coklat biar ilang semua emosi di hati ini."


"Hahahah, bisa aja lo Sya. Padahal ini baru beberapa menit lho Sya lo ketemu sama Pak Marcel."


"Ahh, jangan diingetin lagi deh mbak kesel jadinya."


"Tapi ngomong-ngomong dia nggak langsung kesini Sya?" Tanya Sari.


"Nggak mbak, kena jet lag mungkin dia langsung minta ke hotel.


"Nggak mungkin lah kalau dia kena jet lag secara Pak marcel gitu. Mungkin dia mau periksa laporan tentang hotelnya."


"Ho, hotelnya? Dia punya hotel?"


"Kamu nggak tau Sya?"


"Emang tadi lo nggak disuruh masuk dulu ke hotelnya?"


"Nggak mbak, emang Pak marcel punya hotel?"


"Lo beneran gak tau hotel itu Sya? Lo nggak baca nama hotelnya?"


"Nggak mbak, apa sih emangnya?"


"Hotel MAH, sama kayak nama butik ini. Pak Marcel bukan hanya belajar dibidang fashion tapi juga bisnis perhotelan. Kamu harus tau semua itu."


"Kenapa kalian nggak cerita apa-apa sih mbak?"