
2 jam berlalu, Dongmin tiba dengan membawa banyak buku komik pesanan Hana.
"Wah, kau membeli semua ini?"
"Kenapa? Nggak mau?"
"Maulah, tapi kenapa banyak sekali?"
"Kau akan lama berada disini, mungkin seminggu?"
"Tapi aku kan sudah sembuh."
"Hei, tidak ada orang yang langsung sembuh setelah operasi."
"Ada, buktinya aku sudah sembuh."
"Kau ini, bisa saja nanti lukamu infeksi kan. Jadi kau harus lebih lama tinggal disini, jadi aku belikan buku yang banyak."
"Tapi dokter tau kondisiku."
"Dokter yang bilang padaku kalau kau masih perlu banyak pemeriksaan untuk dinyatakan benar-be ar sembuh."
"Aduh, bisa gila aku lama-lama disin."
"Tenang aja, tiap hari akan ada yang menemanimu."
"Sebenarnya bukan itu sih masalahnya."
"Apa lagi?"
"Aku takut, takut merepotkan kalian. Aku tidak bisa memberikan apa-apa buat kalian, tapi kalian begitu baik padaku."
"Tidak perlu bicara begitu, bukankah nenek sidah bilang kalau kau adalah keluarga kami, bahkan kau diberi nenek nama kan? Jadi bersikaplah seperti biasa!" Mengelus-elus kepala Hana.
"Jangan sentuh kepalaku dong!"
"Ahh, iya maaf." Menarik tangannya dari kepala Hana."A, aku mau ke toilet dulu."
"Ada apa dengannya? Tingkahnya aneh, tapi lumayan juga jadi ada kesibukan. Baca buku segini banyaknya," sambil membolak balik buku. Dan kemudian handphone Hana bergetar, tanda ada chat yang masuk. Hana membuka chat tersebut ternyata dari Sunghoo."Ini orang juga kenapa sih? Gangguin orang terus.
'Hana'
'Ada apa?'
'Sinis banget?"
'Ada perlu apa?'
'Mau ketemu nggak?'
'Nggak bisa'
'Ohw, lagi apa sekarang?'
"Receh banget nih orang, kayak anak muda lagi kasmaran aja, nggak usah dibales deh." Meletakkan handphonenya, beberapa saat kemudian handphone Hana kembali bergetar dan ada telepon masuk dari Sunghoo."Ngapain lagi sih ni orang?"
"Ngapain ngomong sendiri?"
"Nggak apa-apa."
"Handphonenya getar tuh."
"Iya, biarin saja. Nggak penting juga."
"Pacarmu?"
"Pacar? Nggaklah, buat apa pacaran?"
"Kau,, nggak pernah pacaran?"
"Enggak," jawab Hana cuek sambil membaca buku komik yang dipegangnya.
"Kenapa?"
"Ya nggak apa-apalah, pacaran nggak pacaran kan hak pribadi masing-masing," masih sibuk dengan bukunya.
"Wmang kamu nggak pernah suka cowok gitu?"
"Duh, kepo banget." Menutup bukunya, dan menatap Dongmin tajam."Mr. Cha, aku itu bukan tipe cewek yang suka gonta ganti pasangan. Jadi, kalau aku udah nemu yang cocok pasti langsung nikah nggak usah pacaran-pacaran, nanti malah jadi ribet. Dikit-dikit berantem terus nangis, entar terus putus. Kan nggak keren, lagian di agamaku nggak dianjurkan juga untuk pacaran."
"Kau taat juga ya."
"Anggap saja begitu." Kembali melanjutkan membaca. Dongmin pun kembali membaca bukunya.
"Oh iya, bagaimana denganmu?"
"Aku? Kenapa?"
"Sudah berapa kali pacaran?"
"2 kali, itupun aku yang selalu diputuskan."
"Kasian."
"K, kasian?"
"Iyalah, kau kan cowok masa iya mau diputuskan cewek begitu aja hanya karena alasan sepele."
"Alasan sepele?"
"Iya, bukankah kau bilang kalau Yunmi memutuskanmu karena dia pacaran sama teman seniormu?"
"Iya itu Yunmi, beda dengan pacar pertamaku."
"Pacar pertamamu juga cinta pertamamu?"
"Iya."
"Kenapa dia meninggalkanmu? Apa karena kau kurang tampan? Tapi sepertinya tidak, kau cukup tampan dan pintar juga. Lalu kenapa kau ditinggalkan?"
"Kenapa wajahmu memerah?"
"S, siapa? Kau ini, dasar."
"Kenapa salah tingakah begitu sih."
"Aah, udah aku mau keluar beli kopi."
"Iya, gitu aja marah-marah."
"Aku nggak marah-marah."
"Iya, udah cepet beli kopi sana! Ngomong mulu."
"Aisshh, dasar kau agassi."
Dongmin keluar dan Hana kembali melanjutkan membacanya sampai dia terridur. Dongmin meminum kopinya diluar, dan tidak sengaja bertemu mantan pacarnya yang pertama, Dongmin hanya diam saja saat dia lewat di depan Dongmin. Tapi tidak dengan mantan Dongmin ini, dia menyapa Dongmin.
"Hai, bukankah kau Dongmin?"
"Ahh, iya apa kau Myung In?"
"Iya, ternyata dunia ini memang sempit ya? Apa kabarmu?"
"Aku baik, bagaimana denganmu?"
"Sangat baik, baru tadi pagi aku mendarat di kota ini. Dan harus ke rumah sakit untuk cek up kesehatan."
"Apa kau sakit?"
"Kau masih seperti dulu ya, selalu khawatir denganku. Hehe."
"Tidak juga, aku hanya menanyakan apa yang ingin aku tanyakan."
"Oke. Siapa yang sakit? Bukankah kau tidak ernah suka berada di rumah sAkit?"
"Tidak, aku hanya menemani seseorang."
"Apa dia pacarmu?"
"Dia,,, penyelamatku."
"Wow, kau masih suka drama ya?"
"Dikatakan Drama hanya untuk orang yang tidak percaya realita."
"Kau masih saja pintar berargumen. Baiklah, aku pergi dulu sampai jumpa lagi. Dah," berjalan pergi. Tiba-tiba ada seorang lagi yang mendekat ke arah Dongmin. Hana, padahal tadi dia ketiduran.
"Wah, hari ini kau banyak bertemu wanita ya?"
"Kenapa kau disini?"
"Aku hanya berjalan-jalan dan tidak sengaja menemukan pemandangan yang tadi."
"Kau harusnya tidur di ranjangmu kan?"
"Iya aku tau, tadi juga aku ketiduran. Tapi terbangun dan mau jalan-jalan keluar."
"Aish, apa kau tidak tau kalau sekarang sudah sangat malam. Bagaimana bisa orang sakit sepertimu berkliaran malam-malam?"
"Santai dong! Aku balik dulu deh. Kapan-kapan kenalin sama yang tadi ya?"
"Aish, kau ini. Sana balik!" Hana meninggalkan Dongmin, tapi Dongmin yang masih disana sepertinya erpikir tentang sesuatu."Kenapa aku gelisah ya? Apa karena bertemu dengan Myungin? Tapi tadi biasa aja, agassi kemari terus kegelisahan ini ada. Ada apa dengan diriku?" Dongmin kemudian menyusul Hana kembali ke ruangan Hana. Sesampai disana Dongmin mendapati kalau Hana sudah tidur.
"Hei agassi, kau sudah tidur? Pakai selimutmu yang benar dong!"Beberapa detik tidak ada jawaban."Kau beneran sudah tidur? Hei agassi," Mengoyang-goyangkan kaki Hana."Cepat sekalai dia tidurnya, bagaimana dengan selimutnya? Apa aku selimuti dia ya? Ahh, tidak usah paling juga nanti dia tarik selimutnya sendiri." Beberepa detik kemudian selimut Hana sudah menutupi seluruh badan Hana. Dongmin ya, sok gak peduli deh. Hehe
Keesokan paginya Hana bangun terlebih dulu, 15 menit kemudian baru Dongmin bangun. Sesudah bangun Dongmin langsung ke kamar mandi.
"Pagi Mr. Cha. Tidurmu nyenyak?"
"Kenapa?"
"Aahh, tidak hanya bertanya saja. Hehe."
"Ada tujuan apa bertanya seperti itu?"
"Memangnya harus ada tujuan ya kalau mau bertanya?"
"Tergantung. Ada apa?"
"Ehm, sebenarnya aku mau kau tanya dokter kapan aku bisa pulang?"
"Huh, kemarin udah diberi tau kan? Kau pulang masih seminggu lagi."
"Aku bosan kan disini selama seminggu, nggak ngapa-ngapain. Buku pun hanya tinggal satu yang belum aku baca."
"Tinggal satu?"
"Iya, tinggal satu nih. Yang episode terakhir."
"K, kapan kau bacanya?"
"Aku kan todak kemana-mana jadi aku baca terus dong."
"Wah, kau kutu buku."
"Lumayan sih kalau untuk komik bergenre kayak gini."
"Emang kau nggak takut baca buku tentang pembunuhan?"
"Apanya yang harus ditakuti?"
"Kau kan baru saja mengalami yang kayak gitu?"
"Hidup mati manusia kan bukan manusia itu sendiri yang menentukan."