
Setelah percakapannya dengan bibi, Hana kemudian pergi ke kamar baekhyeon untuk mendengar cerita-cerita Baekhyeon. Saat Hana masuk Baekhyeon sedang menggambar, yang terlihat oleh Hana adalah gambar keluarga. Hana hanya mengamati tanpa berkata apapun. Baekhyeon pun tidak sadar kalau Hana sudah duduk didepannya, dia terus menggambar dan mewarnai gambarnya.
"Siapa itu Baekhyeon?"
"Noona, sejak kapan noona ada disini?"
"Baru saja kok."
"Gambaranku bagus kan noona?"
"Sangat bagus Baekhyeon, sepertinya kau punya bakat buat jadi pelukis."
"Kau tau noona, ini adalah gambar eomma, aku, dan appa."
"Apa kau mau bertemu appa?"
"Tidak noona."
"Kenapa?"
"Karena appa tidak mau bertemu denganku."
"Apa kau yakin dia tidak mau bertemu denganmu?"
"Iya noona."
"Apa kau mengenal siapa itu appa?"
"Dia adalah orang yang membuat eomma bekerja sebagai artis."
"Benarkah?"
"Iya, kalau dia masih disini pasti eomma tidak akan bekerja."
"Begitukah? Bagaimana kalau itu semua hanya pemikiranmu saja?"
"Apa itu?"
"Ahh, kau memang belum boleh mengerti urusan orang dewasa Baekhyeon."
"Tapi aku sudah besar noona."
"Iya aku tau. Oh iya, bagaimana kalau kita ke kamar nenek dan bermain bersama?"
"Iya noona ayo!" Meninggalkan gambarnya dan pergi dengan menyeret tangan Hana. Baekhyeon memang suka bermain dengan nenek buyutnya, karena saat bermain kartu nenek buyut selalu kalah dan dia selalu menang. Sementara Hana hanya bisa melihat saja, karena memang dia tidak bisa bermain kartu.
"Wah, kau ini benar-benar jago bermain kartu ya?" Ledek Hana.
"Bukan hanya kartu noona, tapi semua permainan aku ini jago sekali."
"Benarkah?"
"Iya Hana karena dia tidak mau kalah dan akan menangis kalau dia kalah." Tertawa melihat tingkah Baekhyeon.
"S, siapa yang begitu nenek buyut? Aku kan memang hebat dalam semua permainan."
"Apa kau mau mengajariku bermain kartu?"
"Noona tidak perlu belajar bermain kartu apa lagi bermain kartu denganku."
"Apa kau takut kalau aku akan mengalahkanmu?"
"Tidak, karena aku yang terhebat."
Mereka asyik bermain sampai saat Hana menyadari waktu untuk melaksanakan ibadahnya. Hana meninggalkan nereka berdua, dan saat Hana selesai dia melihat handphonenya. Ternyata banyak Missed call dari Sunghoo, Hana menelepon balik.
'Halo Hana'
'Apa ada sesuatu yang penting?'
'Tidak, hanya saja aku mau mengobrol denganmu. apa kau sibuk?'
'Ahh, maaf karena aku selalu mengganggumu aku hanya mau berteman denganmu'
'Aku tau'
'Apakah itu alasan kenapa kau terus menhindari teleponku?'
'Tidak juga, aku hanya malas memakai handphone saja. Oh iya aku ada perlu, kapan-kapan kita bertemu lagi.' tuttuttuttut, Hana mengakhiri telepon tersebut. Sebenarnya Hana tidak merasa kalau telepon dari Sunghoo itu mengganggu, hanya saja dia juga merasa tidak enak kalau ada yang tau tentang Sunghoo, karena Hana adalah orang luar dirumah tersebut. Hana hanya ingin manghormati keluarga yang sudah mau menerima kehadirannya. Setelah selesai di dalam kamar, Hana kemudia ke dapur umtuk membantu bibi memasak lagi. Dan makan siang siang bersama.
"Hana, kalau badanmu masih terasa lemas lebih baik kau tidak perlu membantu bibimu untuk memasak."
"Iya paman, tapi aku merasa sangat sangat sehat. Jadi kalau aku hanya berdiam diri, aku akan semakin bosan."
"Baiklah Hana, tolong jangan terlalu dipaksakan! Dan makan yang lebih banyak biar semakin bertenaga."
"Baik. Oh iya paman bibi, bagaimana rencana kalian yang mau berlibur?"
"Kami menundanya Hana, pelayan disini juga masih belum datang. Kondisimu pun belum sembuh benar."
"Kalian menundanya gara-gara aku?"
"Tidak Hana, bukan itu maksud kami hanya saja siapa yang akan merawatmu dan yang lainnya kalau kami pergi. Kami sangat percaya akan kemampuanmu, tapi dengan kondisimu sekarang akan sulit untuk kami pergi."
"Iya bibi aku mengerti, maafkan aku karena sudah salah mengerti. Dan terima kasih juga karena kalian selalu peduli padaku."
"Kau adalah keluarga kami Hana, jangan berkata seperti itu. Kau adalah pahlawan kami, tanpa takut kau menyelamatkan nenek dan Dongmin. Entah bagaimana kami bisa membalas semua itu?"
"Semua perhatian dan kasih sayang kalian sudah cukup untukku, bahkan lebih karena kalian sudah memberikan keluarga untukku. Terima kasih, terima kasih banyak." Berdiri dan membungkukkan badan.
"Sudah Hana sudah duduklah, kau terlalu berlebihan memuji keluarga kami."
"Tidak nenek, karena sudah lama aku merindukan kebahagiaan dalam sebuah keluarga."
Makan siang kali ini terasa sangat hangat, Hana benar-benar merasa lega karena ada keluarga yang menerima dia dengan tangan terbuka. Tapi ada satu hal yang membuat Hana sedih, yaitu perpisahan. Perpisahan yang akan terjadi dan belum diketahui pasti waktunya. Tapi yang pasti adalah, keluarga Kim akan lupa kalau mereka pernah mengenal Hana, lupa akan orang asing yang sudah mereka anggap sebagai keluarga, dan lupa akan sosok Hana. Hana tidak mau terlalu memikirkan hal tersebut, karena semua itu akan membuat Hana semakin takut perpisahan semakin takut kehilangan, dan semakin takuk kesepian. Yang terpenting saat ini hanyalah, Hana bisa menikmati situasi dimana dia memiliki keluarga utuh yang sangat baik. Hana memasrahkan semua kepadaNya, Hana hanya bisa menjalani semua keadaan ini. Melakukan yang terbaik, hanya yang terbaik dari Hana.
Siang pun berlalu dan malam telah tiba, semua keluarga sudah berkumpul di meja makan kecuali Ara yang harus pulang larut malam karena pekerjaannya. Dongmin semakin menjadi pendiam setelah apa yang terjadi pada Hana, sepertinya dia masih merasa bersalah karena kejadian di rumah sakit sebelum pulang.
"Paman, akhir-akhir ini kau selalu sibuk dan tidak pernah bermain denganku."
"Dasar bocah, aku kan harus kerja."
"Alasan saja paman ini."
"Aku, aku tidak beralasan bocah memang aku kan harus bekerja. Dasar."
"Baekhyeon, kenapa kau menggoda pamanmu?"
"Aku tidak menggodanya nenek buyut, aku kan hanya bertanya saja."
"Dasar bocah, cepat habiskan makananmu!"
"Oh iya bibi tentang pekerjaan dibutik eonni, apakah boleh ditunda sampai paman dan bibi pulang dari liburan?"
"Kau tidak perlu memikirkan itu dulu Hana, aku sudah bicara dengan Hyemin dan dia bialng kapan pun kau mau kau bisa bilang padanya."
"Wah, baik sekali ya eonni."
"Kenapa kau harus kerja? Dan lagian lukamu masih belum sembuh benar kan, kau masih butuh banyak istiraha." Kata Dongmin tanpa henti.
"Hei Dongmin, ada apa denganmu? Kau ini seperti mau melepas Hana ke medan perang saja."
"A, aku tidak begitu ayah. Aku kan hanya,,, hanya,,,"
"Lanjutkan dong paman, hanya apa?"
"Hanya mengingatkan kalau dia habis operasi diperutnya tuh."
"Wah, kau khawatir kan padaku? Tenang saja aku hanya bertanya kok, dan memang belum saatnya kalau aku harus bekerja disini. Jadi tenang saja."
"Siapa yang khawatir, enak aja." Memenuhi mulutnya dengan makanan.