
Setelah sarapan tersebut, seperti biasa Hana pergi ke taman belakang untuk menyusun rencana selanjutnya. Tapi tiba\-tiba Baekhyeon datang dengan membawa sekotak coklat favorit Hana.
".Ini untukmu." menyodorkan coklatnya untuk Hana. Dengan sedikit malu-malu.
"Wah, Baekhyeon apakah ini benar untukku?"
"Iya, " dengan sedikit memalingkan muka ke arah samping.
"Ahh, Baekhyeon terima kasih ya. Manis sekali kamu. Apakah kamu sudah mau jadi temanku?"
"Jangan berlebihan aku hanya mau berterima kasih karena tadi sudah membelaku."
"Benarkah? Tapi aku tidak sepenuhnya membelamu kok, aku juga membela diriku sendiri."
"Pokoknya terima kasih, aku pergi dulu."
"Maukah kau berbincang denganku sebentar?"
"Tidak."
"Cuma sebentar saja, mau ya?"
"Baiklah."
"Boleh tanya sesuatu?"
"Kenapa cerewet sekali sih?"
"Iya, iya. Ehm, Baekhyeon apa kau merinduka ibumu?"
"Aku tidak punya ibu."
"Keadaanmu berbeda denganku Baekhyeon. Aku memang tidak punya ayah dan ibu, karena memang mereka sudah diambil oleh tuhan. Tapi kau masih punya keduanya bukan, meskipun mereka tidak menemanimu."
"Bukankah kita sama-sama tidak ditemani orang tua kita."
"Orang tuamu hanya pergi bekerja Baekhyeon bukan pergi untuk selamanya. Kau masih bisa bertemu mereka."
"Kapan? Kapan aku bisa bertemu orang tuaku yang dulu sangat menyayangiku?"
"Kau benar Baekhyeon, kita tidak bisa merubah seseorang begitu saja."
"Hp siapa itu?" Menunjuk sebuah benda persegi panjang pipih yang tergeletak di samping Hana.
"Oh, ini hpku. Pamanmu yang memberikannya."
"Paman? Kenapa dia membelinya untukmu?"
"Karena nenek yang menyuruhnya."
"Padahal aku sudah minta untuk ganti hp. Huft."
"Bukankah hpmu masih bagus Baekhyeon?"
"Hpku sudah kuno."
"Padahal masih sangat bagus lho, tapi kamu sudah minta ganti. Diluar sana banyak lho yang tidak bisa membelinya walaupun sangat butuh."
"Kau mau menceramahiku?"
"Tidak Baekhyeon. Kau masih harus belajar tentang kekurangan meskipun kau dalam keadaan lebih."
Setelah percakapannya dengan Baekhyeon di taman belakang rumah, Hana semakin ingin mendekati Baekhyeon dan Ara. Membuat Ara sadar akan tanggung jawabnya dan membuat Baekhyeon merasakan kehangatan oleh ibunya. Terdengar mustahil, tapi memang itu yang harus dilakukan. Misi menyelamatkan kebahagiaan Baekhyeon Kim.
Sementara itu di kamar, Baekhyeon merasa kalau Hana adalah orang yang bisa dia percaya. Dan merasa kalau dia adalah orang bisa membantunya, entah dalam hal apapun. Nenek pun merasa kalau Baekhyeon sudah mulai mengakui keberadaan Hana, dan sudah mulai menyukai Hana. Nenek menemui Baekhyeon yang sedang di kamarnya.
"Halo sayang, apa kau mau bermain dengan nenek buyut?"
"Nenek buyut, kenapa baru masuk sekarang? Aku sudah menunggu nenek buyut dari tadi."
"Bukankah tadi kau berbicara dengan Hana? Apa kau sudah berteman dengannya?"
"Tidak, mana mungkin aku berteman dengan dia." Sedikit memalingkan wajahnya dari nenek buyut, karena dia tau kalau pipinya saat ini pasti berwarna merah seperti kepiting rebus.
"Apa kau malu mengakuinya Baekhyeon? Tadi aku melihat kau memberikan sesuatu kepada Hana. Apa itu?"
"Hanya sebatang coklat."
"Bukankah kau selama ini tidak pernah mau membagi coklatmu kepada siapapun? Lalu kenapa kau memberikannya kepada Hana?"
"K, Kenapa hari ini nenek buyut cerewet sekali sih?"
"Baiklah, nenek buyut tidak akan lagi bertanya apapun padamu lagi. Tapi nenek buyut sedih."
"Apa kau masih mau bermain dengan nenek buyut kalau kau sudah berteman dengan Hana?"
"Siapa yang mau berteman dengan dia sih? Aku hanya mau bermain dwngan nenek buyut."
"Baiklah Baekhyeon jangan cemberut seperti itu. Wajahmu jadi jelek, dan tidak setampan pamanmu lagi."
"Paman Dongmin itu yang bisa setampan aku nenek."
"Iya, iya baiklah."
Saat Hana sudah masuk ke dalam rumah, Hana dipanggil oleh bibi. Bibi mengajak Hana untuk berbelanja. Beberapa menit kemudian, mereka berdua berangkat. Saat dalam mobil Hana menanyakan Hyemin, karena sudah cukup lama mereka tidak bertemu.
"Apakah Eonni Hyemin akan ikut berbelanja dengan kita bibi?"
"Tidak Hana, dia sedang sibuk dengan pekerjaannya."
"Eonni bekerja ya?"
"Iya dia bekerja sebagai Fashion designer di sebuah butik milik mertuanya."
"Wah hebat, sebenarnya aku juga lulusan Fashion design. Tapi aku masih belum beruntung, selalu dipecat karena ulah orang lain."
"Benarkah? Apa kau mau bekerja di butik Hyemin? Aku akan membantumu Hana, Hyemin pasti akan sangat senang."
"Terima kasih bibi, kalau memang tidak merepotkan aku mau."
"Tentu tidak Hana, dan aku juga akan memperkenalkan nama barumu juga."
"Ah, iya bibi."
Setelah sampai di tempat perbelanjaan Hana dan bibi langsung menuju tempat sayur. Setelah semua daftar dari belanjaan sudah dibeli semua. Lagi-lagi bibi mengajak Hana untuk belanja pakaian. Tapi Hana menolak, sudah terlalu banyak baju yang dibelikan bibi sebelumnya. Tapi tetap bibi tidak bisa dibantah, akhirnya ada 3 setel baju untuk Hana. Kemudian mereka segera pulang.
"Oh ya Hana, bibi dengar dari nenek Dongmin membelikan hp baru untukmu?"
"Ah, iya bibi. Sebenarnya aku sudah menolaknya tapi kata Dongmin nenek tidak akan suka kalau aku menolak hp darinya."
"Dongmin berkata begitu ya?"
"Iya bibi."
"Ya sudahlah kau percaya saja, jarang-jarang juga Dongmin bisa baik kepada seorang gadis cantik."
"Iya, eh maksud bibi?"
"Tidak apa-apa Hana. Apa kau sudah punya nomor anggota keluarga?"
"Belum bibi, baiklah aku akan membaginya denganmu nanti."
"Iya bibi, terima kasih."
"Apa Dongmin juga belum menyimpan nomornya sendiri?"
"Disini belum ada nomor kontak siapapun bibi. Hanya ada nomorku saja."
"Oh ya sudah kemarikan hpmu, biar bibi yang masukkan nomor bibi dan sisanya nanti akan bibi kirim lewat chat."
"Iya bibi, tolong nomor Ara juga ya bibi."
"Apa kau mau berteman juga dengan Ara?"
"Iya bibi, aku hanya ingin dekat dengan Baekhyeon dan ibunya."
"Baiklah aku akan mengirim semuanya termasuk nomor eonni-mu juga."
"Eonni Hyemin, tentu saja bibi. Aku akan segera menelponnya untuk menjaga silaturahmi."
Sesampainya di rumah Hana langsung menuju kamar untuk menaruh belanjaan bajunya, dan ternyata ada sepasang mata yang sedang meningintip di balik pintu. Hana masih belum ada yang sedang memperhatikannya. Tapi setelah Hana keluar dia melihat Baekhyeon sedang mengintip di balik pintu kamarnya. Kemudian Hana mendekatinya, tapi Baekhyeon malah bersembunyi dan menutup pintunya. Hana merasa bingung sekaligus senang, karena tidak seperti biasanya Baekhyeon seperti ini. Hana masuk kedalam kamar Baekhyeon dan mulai bertanya kepada Baekhyeon.
"Apa kau merindukanku tampan?"
"A, apa maksudmu?"
"Bukankah tadi kau mengintipku dari balik pintu kamarmu?"
"Aku hanya pergi sebentar kan Baekhyeon, apa kau sebegitunya merindukanku? Hehe," Hana mulai meledek Baekhyeon.
"Aku tidak mencarimu, aku hanya ingin tau siapa yang sedang masuk kedalam rumah."
"Aku kan hanya mengatakan kau mengintip di balik pintu bukan mencariku. Apa kau benar mencariku?"