
Baju desain Fisya sudah hampir selesai. Fisya juga mendapatkan banyak teman selama bekerja disini padahal belum sebulan, semua pegawai baik padanya karena Fisya memang menyenangkan.
"Eh Fisya, baju rancanganmu udah hampir selesai ya?" Kata salah seorang pegawai.
"Iya nih mbak, alhamdulillah."
"Wah Fisya hebat ya, padahal baru beberapa hari disini tapi rancangannya udah mau selesai aja nggak ada yang bantuin lagi. Salut deh sama Fisya." Kata pegawai yang lain.
"Hehe, makasih ya mbak. Tapi aku nggak merasa ngerjain sendiri kok mbak, kan tiap hari kalian kasih semangat buat aku. Jadi lebih rajin kan?"
"Bisa aja kamu. Eh tumben kamu nggak makan siang sama Nela dan Sari?" Tanya pegawai pertama.
"Mereka lagi tugas di luar mbak, mungkin bentar lagi balik. Belum sehari lho, mbak udah kangen aja nih sama mereka?"
"Bisa aja kamu Sya, mereka kan biangnya rusuh Sya jadi kita nyariin mereka terus tiap hari."
Hahahahaah. Mereka tertawa bersama, kebahagiaan yang dulu hampir tidak pernah Fisya rasakan, kini bisa dia rasakan setiap hari. Tanpa adanya rasa takut akan kehilangan seorang teman, karena yang Fisya rasakan adalah sebuah ketulusan yang dimiliki teman-temannya saat ini.
"Eh Fisya, lo dicari bu bos tuh. Cepet datang gih gue ama Sari mau makan siang dulu." Kata Nela sambil kipas-kipas pake tangannya.
"Iya mbak oke."
Fisya memasuki ruangan bu bos setelah mengetuk pintu dan bu bos mengijinkannya untuk masuk.
"Fisya, saya sudah lihat rancangan kamu sepertinya sudah mau selesai ya?"
"Iya bu bos, sudah hampir selesai. Sudah sekitar 75%, dan beberapa hari lagi saya bisa mempresentasikan karya saya secara mendetail."
"Oke saya tunggu. Dan, sepertinya kamu udah banyak teman ya disini? Padahal baru berapa minggu kamu disini?"
"Bu bos perhatian sekali ya, sampai tau saya sudah banyak teman. Hehe."
"Saya tau semua pegawai saya, jadi kamu nggak usah geer ya Fisya."
"Iya bu maaf."
"Jadi sebetulnya saya pnggil kamu kemari karena saya mau bilang sama kamu kalau waktu pengerjaan rancangan kamu saya batasi sampai 4 hari kedepan. Selesai tidak selesai harus kamu presentasikan karena teman saya akan datang dari luar negri dan akan ikut melihat penampilan kamu dan rancanganmu."
"Benarkah bu bos?"
"Kamu nggak takut atau gugup gitu?"
"Aduh bu bos, yang pasti saya seneng dan bersyukur dulu dong. Itu kan termasuk rejeki dan kesempatan buat saya bisa masuk lebih dalam kebidang fashion ini. Ya meskipun karya saya masih standart kayak gini. Tapi saya seneng kok karena bu bos percaya sama saya."
"Saya suka sifat dan semangat kamu. Saya nggak salah pilih orang lagi. Oke, selesaikan segera karya kamu. Akan ada apresiasi untuk semua karya dari pegawai Butik MAH. Kamu boleh kembali."
"Baik bu bos, permisi."
"Eh tunggu Fisya, saya hampir lupa mau bilang sama kamu. Beberapa minggu lagi anak saya akan pulang dari Paris setelah beberapa bulan melakukan riset mengenai fashion disana. Dan saya mau saat dia pulang nanti kamu yang akan membantu pekerjaan dia disini. Dia juga bekerja dibidang ini, jadi ini adalah kesempatan sekaligus ujian buat kamu. Apakah kamu bisa bertahan dengan dia atau tidak?"
"Baik bu, saya akan berusaha sebaik mungkin. Saya permisi!"
Fisya keluar dari ruangan bu bos dengan senyum yang mengembang lebar. Membuat heran semua yang melihatnya.
"Woe, senyum-senyum aja lo. Ada kabar baik apa nih?" Tanya Nela penasaran.
"Waktuku cuma tinggal 4 hari lagi untuk menyelesaikan rancanganku mbak, seneng deh jadi nggak sabar."
"Emang rancangan kamu udah mau selesai Sya?" Tanya Sari mendahului Nela.
"Belum sih mbak, tapi bentar lagi selesai kok. Dan waktu presentasi nanti akan ada teman bu bos dari luar negri lho mbak. Jadi tambah semangat aku tuh."
"Nggak usah ngegas kali Nel."
"Tau nih mbak Nela, biasa aja dong! Kita semua juga kaget kali mbak." Kata pegawai lain.
"Iya-iya sorry deh, habisnya gue nggak habis pikir nih sama anak ini. Masa dia bilang berita kayak gitu nyantai banget, nggak ada nervous-nervousnya. Kan gue jadi heran."
"Tau nih Sya, kamu kok nyantai banget sih. Padahal dulu aku nervous banget lho sampai nggak bisa tidur kalau malem."
"Ini kan kesempatan bagus mbak buat aku, nunjukin bakat aku yang belum seberapa ini. Ya meskipun masih harus banyak diasa, tapi kan ini suatu kehormatan juga mbak buat aku."
"Lo bener sih Sya, tapi ama sikap lo nih yang gue nggak ngerti. Nyantai banget woe."
"Hehe, udah ah mau lanjut ngerjain tugas dulu. Ehm, oh iya mbak aku juga ada tugas lain lagi lho."
"Apa?" Tanya yang lain hampir bersamaan.
"Jadi asisten anak bu bos yang mau pulang dari Paris."
Mereka semua terdiam sejenak. Mencoba mencerna kata-kata Fisya yang barusan keluar dari bibir mungilnya.
"Jadi asisten anak bu bos?" Tanya Nela terbata seperti mengeja kata-katanya.
"Iya," jawab Fisya dengan sangat polosnya.
"Pftttt, buwahahahahahahaah." Mereka tertawa serempak. Bahkan sampai ada yang duduk di lantai karena tidak bisa nahan tawa. "Lo nggak bercanda kan Sya?" Fisya hanya menggelengkan kepalanya, karena dia heran dan syok melihat tingkah teman-temannya. Tapi yang lain malah semakin semangat nertawain Fisya, tapi Fisya malah semakin heran dan bertanya-tanya akan sikap teman-temannya.
"Oke gaes, cukup ketawanya! Kasian tuh si Fisya sampai pucat kayak gitu karena tawa kita."
"Kalian kenapa sih mbak? Emang ada yang lucu?"
"Kamu yang lucu Fisya, kamu bialng kayak gitu seperti nggak ada beban tau nggak?"
"Emang mananya yang lucu mbak Sari?"
"Jelasin deh Nel, biar dia tau siapa itu anak bu bos."
"Oke Fisya biar gue kasih tau elo, dan setelah gue kasih tau elo tentang anak bu bos elo nggak akan bisa sesantai seperti saat ini."
"Aduh mbak, jangan buat aku lebih penasaran lagi dong! Cepet ceritain dong!"
"Gini ya Fisya, anak bu bos itu cowok.."
"Cowok, bukannya anak bu bos cewek? Kan dia bekerja dibidang fashion juga?"
"Tuh kan lo salah sangka deh, jaman sekarang kan banyak juga desainer cowok."
"Bukan gitu mbak, tapi bener deh aku kira anak bu bos itu cewek lho."
"Dia itu cowok yang bisa dibilang Mr. Perfect. Dia tidak mau ada satupun kesalahan yang diperbuat pegawainya atau pegawai ibunya. Dia itu cowok yang sangat dihindari para pegawai disini. Dan lo dapat kesempatan buat jadi asisten dia."
"Beneran mbak, jangan-jangan mbak bohong ya?"
"Jelasin Sar!"
"Yang sabar ya Fisya, kamu bisa siap-siap menata hati dan fikiran kamu mulai sekarang kok. Kita pasti bantu semampu kita, hehehe. Lanjutin tugasnya lagi gih, entar dimarahin bu bos lho."
"Iya Sya, mending lo mikirin yang pertama dulu deh."