Mr. Cha, wait me!

Mr. Cha, wait me!
Nyawa kedua



"Agassi bangunlah! Agassi!"


"Hei, a,, aku tidak mati."


"Bagaimana kau bisa berkata seperti itu. Kau terluka."


"Bukan,,kah a,,ku per,,nah ter,,,luka le,,bih da,,ri ini?"


"Jangan banyak bicara, ambulan akan segera datang."


"I,,,ya." Hana pingsan.


"Agassi bangunlah, agassi!"


Ambulan datang dan segera menuju rumah sakit terdekat. Dongmin sangat khawatir, kemudian dia menelpon keluarganya. Sesampai dirumah sakit, Hana langsung dibawa ke UGD dan ditangani oleh dokter. Dongmin mondar mandir diluar pintu UGD, dia khawatir dan terus berfikir siapa yang melakukan ini. Ada satu nama yang terbesit diotaknya, Leo Han. Senior yang sebelumnya ditemui Dongmin dan Hana. Mungkin dia mau balas dendam kepada Dongmin dan Hana karena sudah mempermalukan dia di kafe, atau karena Michel Choi? Pacar Yunmi yang sebelumnya juga dipermalukan Dongmin dan Hana. Otak Dongmin begitu berputar, memikirkan semua kemungkinan yang bisa jadi tersangka. Dari arah lain seorang detektif datang, dan menanyakan beberapa pertanyaan untuk Dongmin. Dia mengatakan semua dari awal mereka bertemu dengan Leo Han dan juga pertengkaran mereka di kafe, dan gerombolan preman yang menyerang mereka di kedai.


"Baiklah, tuan kami akan menyelidiki mereka. Kami juga berhasil menangkap salah satu komplotan preman itu, kami akan segera menginterogasinya dan akan segera mendapatkan hasil."


"Terima kasih detektif."


"Permisi," detektif tersebut menundukkan kepala dan pergi.


"Agassi, aku merasa bersalah sekali padamu. Kenapa aku harus mengajakmu ketempat seperti itu?" Dongmi masih bingung dan terus mondar mandir, ketika ayah dan ibunya datang.


"Dongmin, bagaimana keadaan Hana?" Ayah Dongmin membuyarkan kebingungan Dongmin.


"Ayah, ibu kalian datang. Agassi masih ditangani dokter, dan belum ada kabar apapun dari dalam."


"Tenanglah nak! Ceritakan kepada kami apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana bisa seperti ini??" Tanya Ibu Dongmin dan sangat khawatir dengan Hana, dan berusaha menutupi kekhawatiran tersebut. Dongmin kembali menceritakan semua kejadian tersebut dari awal. Ayah Dongmin merasa kaget karena yang pernah ayah Dongmin ketahui adalah Leo Han teman baik Dongmin.


"Dongmin, bukannya Leo Han adalah temanmu yang dulu pernah membantumu?"


"Iya ayah, sebenarnya aku sudah lama tidak berhubungan dan bertemu dengannya. Karena setahun yang lalu saat aku bertemu dengannya, dia memerasku. Aku sudah sering menghindarinya, hari ini aku bertemu dengannya karena aku sudah mau berhenti diperas dan berhenti berhubungan dengannya."


"Kenapa kau mengajak Hana pergi denganmu?"


"Karena dia memberikan syarat kalau aku mau dia tidak menggangguku lagi, aku harus membawa seorang perempuan kesana. Entah itu pacarku atau temanku, agar dia yakin kalau aku tidak akan merebut Yunmi dari temannya."


"Apa-apaan alasan itu? Bukankah dia mau memerasmu? Apa yang kau berikan padanya?"


"Aku memberikan sejumlah uang yang lebih dari yang dia berikan padaku."


Kau sudah memberi dia uang, dan dia masih mau menyerangmu?"


"Karena dia mau menyentuh agassi ayah."


"Apa? Dia berani menyentuh Hana?"


"Hampir ibu, sebelum anak buahnya menyentuhnya. Agassi sudah memukul mereka duluńan."


"Seorang agassi seperti Hana bisa berkelahi?"


"Dia sangat hebat ibu, aku sendiri terkejut melihatnya."


"Ahh, dokter sudah keluar. Bagaimana keadaannya dokter?"


"Lukanya cukup dalam, dan saat ini tekanan darahnya juga drop. Jadi pasien harus dioperasi."


"Dioperasi?"


"Lakukan yang terbaik untuk dia dokter!" Seru paman agar Hana cepat diselamatkan. Sementara Dongmin semakin syok.


"Dia tidak akan apa-apa Dongmin, tenanglah!" Bibi mencoba menenangkan Dongmin, dan kemudian Dongmin pergi. Dongmin sangat menyesal, kenapa dia harus mengajak Hana. Kenapa dia tidak pergi saja. Toh dia tidak akan mengambil kembali sesuatu yang sudah dia buang dari hatinya. Tapi semuanya sudah terlanjur, nasi sudah menjadi bubur. Sekarang waktunya untuk menangkap pelakunya.


Drrrtdrrrtdrrrt. Hape Dongmin bergetar, tanda panggilan masuk. Dongmin melihat hapenya ternyata ada panggilan masuk dari Yunmi. Dongmin sebenarnya malas untuk menjawab teleponnya, tapi dia rasa Yunmi tau sesuatu.


'Halo'


'Aku mau bicara denganmu. Datanglah ke kafe xx.'


Tutututut.....


Mereka bertemu, Yunmi memang agresif. Saat bertemu Dongmin, Yunmi mencoba memeluknya tapi Dongmin menolak.


"Ternyata kau sudah tidak ada rasa denganku. Baiklah langsung keintinya saja, aku akan membantumu untuk mengambil uangmu dari Leo."


"Aku juga bisa memberikan kau bukti untuk memberatkan Leo dipersidangan, pelaku utama percobaan pembunuhan terhadap dirimu tapi mengenai pacarmu."


"Apa yang kau inginkan?"


"Kau cukup kembali padaku."


"Bermimpilah tentang semua itu. Aku tidak sebodoh yang kau pikir."


"Kau akan menyesal Dongmin. Tidak mudah menghadapi Leo Han dan Michel Choi."


"Kau akan tau hasilnya," Dongmin mengeluarkan hapenya, dan ternyata Dongmin merekam semua. Dongmin pergi, kembali ke rumah sakit. Dia mendapatkan bukti, meskipun tidak cukup kuat tapi ada alasan kenapa itu bisa menjadi bukti.


"Dari mana saja kau nak?"


"Maaf ibu aku ada urusan sebentar. Apa operasinya sudah selesai?"


"Belum, nak."


"Dokternya keluar," kata paman sembari berjalan mendekati dokter.


"Bagaimana keadaannya dokter?" Tanya Dongmin penasaran.


"Dia sudah melewati masa kritisnya, kita hanya tinggal menunggu dia sadar."


"Terima kasih dokter."


Hana sudah berada di ruangannya. Hanya Dongmin yang menunggu dia di rumah sakit. Paman dan bibi pulang, semua berjalan dengan sangat cepat. Bahkan tidak pernah terbayangkan oleh Dongmin ada seseorang yang mau berkorban untuk dia, apa lagi orang ini adalah orang asing yang ridak diketahui asal usulnya. Dongmin tertidur di kursi sebelah ranjang Hana, saat Hana mulai sadar dia terkejut ada yang memegang tangannya. Hana kemudian melepas tangan Dongmin, Dongmin pun tersadar. Ini masih sangat pagi.


"Agassi, kau sudah sadar? Aku akan panggilkan dokter."


"Tidak perlu, kau tau ini jam berapa? Aku sudah tidak apa-apa, kau tidak perlu khawatir. Tidurlah lagi!"


"Apa kau marah padaku?"


"Kenapa aku harus marah? Kau tidak punya salah padaku."


"Tapi aku yang membuatmu terluka."


"Ini sudah menjadi takdirku, tidak ada yang perlu disesali. Kau tau, ini adalah sebuah bayaran yang harus aku terima untuk bisa mendapatkan kebahagiaan seseorang."


"Apa maksudmu?"


"Ahh, tidak lupakan saja! Aku tidur dulu, kau tidurlah! Tidurlah disofa atau badanmu akan sakit-sakit." Hana tidur lagi.


"Bagaimana kau bisa menghawatirkan orang yang sehat sepertiku? Sepertinya dia sudah tertidur, biar aku tidur disofa saja. Kenapa sekarang baru terasa dingin?" Dongmin pun tidir kembali, mencari selimut untuknya tidur. Dia juga tertidur sangat cepat, mungkin kelelahan. Entah kenapa hatinya merasa sangat senang, ada perasaan lega dan mungkin ada banyak bunga bermekaran dihatinya tapi dia masih belum bisa mengattikannya.


Pagi sudah tiba, seperti biasanya Hana bangun lebih dulu. Hana tidak membangunkan Dongmin, karena dia tau Dongmin pasti kelelahan karena menjaganya. Hana mengecek hapenya, ternyata ada banyak pesan dan panggilan dari Sunghoo.


"Ada apa dengan orang ini? Mengirimkan pesan sebanyak ini, hanya menanyakan kabar? Apa lebih baik aku membalasnya ya? Ahh, tidak perlu ini kan masih pagi. Nanti malah mengganngu."


Dongmin terbangun, Dongmin memang terbiasa bangun pagi. Dia melihat Hana terus membolak balikkan hapenya.


"Apa kau mau memanggang hape itu?"


"Eh Mr. Cha? Kau sudah bangun? Ini masih pagi, apa kau mau berangkat kerja?"


"Tidak, aku mau libur dulu hari ini."


"Hei, kau harus kerja. Kenapa harus libur?"


"Aku yang menyebabkan kau seperti ini. Aku harus bertanggung jawab."


"Aku sudah sehat, lihat!" Hana menggerak-gerakkan tubuhnya,"A, auw."


"Apa kau tidak apa-apa?"Donin mendekati Hana."Biar aku panggilkan dokter."


"Hei, aku tidak apa-apa. Kenapa kau jadi penalut seperti ini?"


"Aku tidak takut, aku hanya panik. Kau terluka karena aku, bagaimana aku bisa diam saja melihatmu kesakitan!" Sedikit bertriak.


"Kenapa kau berteriak kepadaku?"


"Ahh, maaf. Aku tidak bermaksud."