Mr. Cha, wait me!

Mr. Cha, wait me!
Lagi



Hana dan Dongmin sudah berada di dalam mobil sekarang, sekitar jam 7 Hana dijemput Dongmin untuk menemaninya bertemu dengan teman-temannya Dongmin. Entah kenapa Dongmin terlihat aneh, dia sama sekali tidak melihat Hana meskipun Hana duduk disampingnya.


"Mr. Cha, apa kau sakit?"


"Tidak, kenapa?"


"Ahh tidak," Hana memperbaiki posisi duduknya yang semula menghadap Dongmin dan kini menghadap kedepan."Apa hanya perasaan aku saja ya? Ahh, sudahlah apa peduliku juga." Gumam Hana.


"Ada apa, sepertinya kau berbicara tadi?"


"Tidak, aku hanya sedikit kepanasan."


"Alasan apa itu? Ini masih musim dingin kan?"


"Hehe."


Mereka sudah sampai ditempat tujuan, hanya butuh waktu kurang dari satu jam untuk sampai di kafe tersebut. Dongmin clingak clinguk untuk mencari teman-temannya.


"Dongmin disini." Salah satu temannya memanggil.


"Ahh iya, ayo agassi! Mereka ada disana."


"Iya," Hana mengekor dibelakang Dongmin, karena dia belum pernah ketempat seperti itu. Dimana banyak perempuan yang berpakaian seperti kekkurangan bahan. Hana merasa tidak nyaman.


"Hai my bro Dongmin, apa kabar kau sekarang?" Sapa salah satu teman Dongmin.


"Baik-baik, kalian semdiri bagaimana?"


"Kami juga baik, hei kenapa kau tidak hadir dipernikahanku?"


"Ahh, iya maaf. Aku sangat sibuk jadi tidak bisa pergi."


"Hei Dongmin, siapa yang kau bawa ini? Cantik juga."


"Oh dia Hana, dia tinggal di rumahku."


"Halo, aku Hana."


"Hai Hana. Apa kau pacar Dongmin? Ternyata Dongmin mau balas dendam kepada Yunmi sun."


"Apa-apa kau ini. Dongmin mana mungkin begitu." Dongmin dan Hana hanya dia saja disana. Sebenarnya Dongmin pun tidak mau pergi ke acara itu, tapi karena dia menghormati senior di kampusnya dulu makanya dia pergi. Dan dia mengajak Hana juga karena dia tidak mau didekati lagi oleh mantannya dan sudah meninggalkan dia.


"Ah, iya Dongmin, hari ini Yunmi juga akan datang. Kau harus perkenalkan Hana padanya."


"Kami mungkin tidak bisa berlama-lama disini senior, jadi mungkin kami tidak bisa bertemu."


"Hei, Dongmin setidaknya kau harus minum one shot dong biar adil. Dan juga sebagai tanda pertemuan kita hari ini." Senior Dongmin memaksa Dongmin untuk meminum alkohol dengan gelas yang besar. Hana mencegahnya, karena Hana tidak mau Dongmin mabuk.


"Dia tidak bisa minum." Hana menyela perkataan senior Dongmin.


"Hei, kenapa kau yang menolak?"


"Maaf tuan, tapi kalau dia meminum alkohol bagaimana kami bisa pulang? Dia yang menyetir, dan tidak mungkin dia menyetir dalam keadaan mabuk."


"Kau memanggilku tuan?"


"Iya, apa aku salah? Apa aku seharusnya memanggilmu ahjussi?"


"Wah, benar-benar. Untung kau cantik." Senior mencoba menyentuh Hana tapi ditampik oleh Hana.


"Jaga tanganmu ahjussi! Jangan buat aku marah!"


"Haha, hahahaa. Kau membawa tukang pukul Dongmin kim? Seram sekali. Hahahahahah."


"Maaf senior, aku akan membawanya keluar." Menarik tangan Hana."Agassi ayo kita pergi!"


"Jangan sentuh aku!" Hana melepaskan tangan Dongmin dengan paksa.


"Oh, bahkan dengan pacarmu pun kau tidak patuh? Kau harus diberi pelajaran."


"Maaf senior, biar aku membawanya pergi dari sini."


"Diam kau Dongmin! Aku sudah cukup melihat tingkah agassi satu ini. Lakukan tugasmu anak-anak." Teman-teman Dongmin mulai menyerang Hana, ada yang mau memukul muka Hana tapi dihadang oleh Dongmin kemudian dipukul."Ternyata kau berani juga Dongmin. Hajar mereka!" Semua berkumpul mengerumuni Hana dan Dongmin mulai menyerang tapi Hana berhasil menghadang pukulan yang akan mengenai Dongmin. Ternyata Hana juga pintar berkelahi, Dongmin agak terkejut tapi Dongmin harus tetap menghadang teman-temannya tersebut. Semua sudah menyerah, tinggal satu orang yaitu senior.


"Apa kau masih mau maju senior?" Tanya Hana dengan nada sesikit meremehkan."Ingat ini baik-baik. Orang yang terlihat lemah belum tentu tidak bisa membalas. Jangan anggap remah orang lain!"


"Ayo pergi agassi!"


"Apa kau tidak mau berbicara dengan dia?" Menunjuk ke arah senior.


"Tidak perlu, aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Ini rerakhir kalinya aku menemuinya. Terima kasih senior atas bantuanmu yang dulu." Dongmin menundukkan kepala dan pergi, sementara si senior masih dengan posisinya yang tidak percaya kalau 2 orang itu bisa merobohkan semua anak buahnya. Hana dan Dongmin keluar dari kafe tersebut dan bertemu seseorang yang sangat tidak ingin ditemui Dongmin. Yunmi, wanita yang pernah mencampakkan Dongmin tengah berjalan dengan pacarnya.


"Hai Dongmin, lama tidak bertemu. Apa kau ingat wanitaku?"


"Wah Dongmin, apa kau benar-benar bisa melupakanku? Haha, apa gadis ini penggantiku? Seleramu rendah juga ya."


"Sayang sudahlah, dia memang pantas dengan gadis yang seperti dia."


"Ehm, Mr. Cha apa dia wanita yang pernah mencampakkanmu? Apa kau benar berpacaran dengan wanita seperti ini?"


"Agassi ayo pergi dari sini!"


"Memyebalkan, kau berpacaran dengan wanita yang memakai pakaian kurang bahan begini? Memalukan sekali."


"Hei, jangan kurang ajar kau!"


"Mau berkelahi? Ayo! Siapa takut? Tuh yang didalam udah pada pingsan, kalau kau mau juga, sini maju."


"Dasar sinting." Yunmi menyeret tangan pacarny untuk segera menjauh dari Hana dan Dongmin. Karena Yunmi tau kalau pacarnya tidak bisa berkelahi.


"Eh Mr. Cha, kau benar pernah pacaran dengan wanita itu?"


"Kenapa? Kau ini cari ribut terus sih."


"Hei hei, aku kan membelamu karena kau dihina. Terima kasih dong!"


"Iya terima kasih."


"Yang tulus dong!"


"Hemmm, terima kasih agassi terima kasih."


"Aduh, laper banget nih. Kayaknya tadi disana ada yang ju..."


"Tteobokki, iya aku ingat. Aku akan mentraktirmu makan tteobokki kali ini."


"Oke. cus brangkat!" Hana dan dongmin kemudian pergi meninggalkan kafe tersebut dan menuju kedai tteobokki. Mereka berdua duduk berhadapan sambil menunggu pesanan mereka datang.


"Eh Mr. Cha, kau bilang kalau mereka itu tman-temanmu kan, tapi kenapa mereka bersikap seperti itu? Seperti meremehkanmu."


"Hah, sebenarnya mereka bukan temanku. Dulu waktu aku masih kuliah, alu pernah kehilangan uangku dan aku sangat butuh uang itu, kemudian senior meminjamkan uangnya kepadaku. Sejak saat itu aku sangat menghormatinya, aku sempat bergabung dengan geng mereka tapi saat sudah lulus kami jarang bertemu karena aku harus bekerja. Dan ini untuk kedua kalinya kita bertemu lagi."


"Memang kapan yang pertama?"


"Saat Yunmi pergi dengan teman senior aku mengadu kepada senior, tapi ternyata aku sama sekali tidak digubris. Malah aku diajak untuk berjudi, untung saja aku bisa kabur. Dan kemudian kau tau sendiri."


"Oh begitu. Memang bukan orang baik, harus dijauhi. Waah, makanannya udah datang. Selamat makan!"


"Eh agassi, ngomong-ngomong kau pandau berkelahi juga?"


"Pastilah, dari dulu aku suka sekali mengikuti pelatihan bela diri. Kata ayah itu penting untuk menjaga diri sendiri. Dan saat aku sudah tinggal sendiri semua latihanku baru bisa aku sadari kalau semua itu sangat berguna."


"Kau hebat juga ya."


"Iya dong," saat sedang asyik makan tiba-tiba hape Hana bergetar tnda panggilan masuk. Nomor tidak dikenal


'Halo'


'Hai Hana'


'Siapa?'


'Sunghoo, yang tadi pagi kau tabrak.'


'Sunghoo, ada apa?'


'Ahh tidak, hanya mau mengetes nomormu saja.'


'Oh, sekarang sudah dites jadi aku tutup dulu ya?'


'Eh kenapa?'


'Sedang makan nih, udah dulu ya.' Tut tut tut


"Siapa?"


"Orang baru kenal."


"Tau nomormu?"


"Iya, udah ceritanya panjang baget. Aku laper nih masih mau makan tteobokki. Jangan ajak ngomong terus dong!"


Saat mereka lagi asyik-asyiknya makan tiba-tiba ada segerombolan preman datang dan mengobrak abrik meja Hana dan Dongmin. Hana kesal sekali karena ada yang menganggu acara makannya. Mereka berkelahi lagi, kali ini kawannya lebih banyak. Hana dan Dongmin agak kewalahan tapi mereka tetap bisa menghadapi semua musuhnya. Tapi saat Hana hampir menang menghajar semua preman itu, tiba-tiba dia melihat ada orang yang akan menusuk Dongmin dengan pisau. Kemudian Hana berteriak dan menghampiri Dongmin dengan berlari. JREB, pisau itu mengenai seseorang, semua preman berhamburan pergi.


"Ah, ada apa ini? Ada orang terkena pisau?" Pemilik kedai berteriak-teriak karena kaget, kemudian memanggil ambulan.