
"Hana?"
Hana yang berarti bunga, bunga yang selalu mekar saat waktunya tiba. Bunga yang akan layu saat tidak ada orang yang mau menyiraminya. Bunga atau Flos, lambang dari segala macam perasaan.
Sepertinya Fisya menyukai nama itu.
"Bagaimana Fisha, apa kau suka?" Tanya nenek dengan senyum mengembang dibibirnya.
"Nama itu terlalu bagus buat dia nenek buyut." Sela Baekhyeon yang masih sibuk dengan sumpitnya.
"Aku suka nenek, nama itu bagus." Jawab Fisya yang sedikit tersipu.
"Baiklah, kalau begitu mulai sekarang kita memanggilnya Hana!" Paman menegaskan pembicaraan mereka.
Fisya memiliki nama baru yaitu Hana. Fisya banyak mendapatkan kasih sayang dari keluarga ini. Tapi Fisya masih belum menemukan solusi dari tugas yang menharuskan dia berada ditengah-tengah keluarga Kim.
Sudah 3 minggu semenjak Fisya pulang dari rumah sakit. Lukanya sudah sembuh total lebih cepat dari dugaan Fisya sendiri. Fisya menganggap kalau saat ini adalah sebuah sulap dan tidak ada trik yang bisa dibongkar. Hanya sebuah mimpi yang entah kapan akan berakhir. Well, Fisya hanya mau menjalankan misinya dan pulang kekehidupan nyatanya. Dan pertemuannya dengan Baekhyeon adalah sebuah jalan menuju misi sesungguhnya.
Suatu pagi di taman belakang rumah keluarga Kim. Fisya melihat Baekhyeon yang sedang duduk sendiri sambil memeluk sebuah foto album.
"Apa aku boleh duduk disini?"
"Duduklah, aku akan pergi."
"Maukah kau tetap duduk disini bersamaku?"
"Kenapa aku harus mau?" Sambil memalingkan mukanya dari Fisya.
"Karena aku tau rahasia yang kau sembunyikan." Tersenyum menatap Baekhyeon yang seakan salah tingkah dengan kehadiran Fisya.
"Aku tidak memiliki rahasia apapun. Aku akan pergi." Berdiri dan akan melangkahkan kaki pergi.
"Aku tau kau diam-diam menyukai masakanku, tapi kau malu mengakuinya didepan semua orang. Dan kau juga tidak ingin ada yang tau tentang hal itu. Apalagi pamanmu."
"Kenapa kau bisa percaya diri begitu."
"Kalau aku salah kenapa berhenti? Duduk dan dengarkan aku! Atau pamanmu akan segera tau hal itu dan akan meledekmu."
"Apa yang kau inginkan dariku?" Kembali duduk di samping Fisya.
"Ehm, aku ridak ingin apa-apa darimu. Aku hanya ingin menanyakan kabarmu saja."
"Bukankah kau bertemu denganku setiap hari. Perlukah kau menanyakan hal itu?"
"Orang yang terlihat baik-baik saja di depan belum tentu baik-baik juga dibelakang kan?"
"Apa maksudmu?"
"Kau ini masih kecil Baekhyeon, jadi bersikaplah seperti anak kecil seumurmu. Atau kau akan lebih cepat tumbuh kumis seperti kakekmu. Hehehe."
"Jangan bercanda seperti itu, itu sama sekali tidak lucu?"
"Baekhyeon, kenapa kau selalu berbicara tidak formal seperti itu denganku. Kenapa kau tidak bisa menganggap aku seperti noona?"
"Aku tidak mau."
"Iya baiklah, aku tidak akan memaksamu. Oh ya Baekhyeon, apa yang kau pegang itu? Bolehkan aku melihatnya?"
"Tidak. Aku harus pergi."
"Baiklah. Dah Baekhyeon."
"Sulit sekali berbicara dengan anak itu. Aku harus mencari tau tentang ayahnya, tapi dengan cara apa ya aku bisa mendekatinya?"
"Kau berbicara dengan siapa?" Tiba-tiba Dongmin datang dan duduk di sebelah Fisya.
"Kau belum berangkat kerja?"
"Tadinya aku mau berangkat, tapi setelah tau kau mendekati Baekhyeon aku jadi penasaran apa yang kau mau dari Baekhyeon?"
"Apa kau curiga kepadaku?"
"Sedikit."
"Dasar, aku hanya ingin tau kenapa Baekhyeon bisa sangat dewasa seperti itu. Bukankah itu menakutkan?"
"Apanya yang menakutkan? Kenapa bicaramu melantur seperti itu. Dasar!"
"Kenapa kau bicara tidak formal kepadaku?"
"Eh? Ehm, lalu apa aku harus menggati namamu dengan sebutan Oppa? Begitukah?"
"Ya, ya terserah saja!" Berdiri dan meninggalkan Fisya sendiri di taman itu.
"Apa sih tiba-tiba? Apa nanti aku bertanya kepada Dongmin saja ya? Tapi kenapa juga aku menggunakan bahasa ini padahal aku sedang sendiri?"
Fisya sempat bertanya kepada bibi tentang ayah dan ibu Baekhyeon, tapi bibi seperti enggan menjawab dan lebih sering menghindar. Sepertinya memang bibi belum mau menceritakan masalah keluarga mereka. Tapi Fisya pun tidak memiliki banyak waktu mencari tau lebih banyak lagi. Dan sekarang yang sedang Fisya lalukan adalah mendekati Baekhyeon secara perlahan dan akan membantunya melewati keterpurukan. Juga sikap dewasa yang tak seharusnya dimiliki oleh anak seusia Baekhyeon.
Beberapa hari ini Fisya lebih intens untuk mendekati Baekhyeon. Dan masih jauh dari hasil yang diharapkan Fisya. Rencana untuk bertanya kepada Dongmin pun belum bisa terlaksana karena kesibukan Dongmin di kantornya. Suatu sore saat Fisya sedang benar-benar tidak bisa berfikir, apa lagi yang bisa dia lakukan untuk Baekhyeon. Dia duduk di taman belakang sambil menghadap pohon besar dengan tatapan kosong.
"Woe, kumat lagi ya gilanya?" Tiba-tiba Dongmin datang dan mengagetkan Fisya.
"Apaan sih? Kaget tau?"
"Kau nggak kedinginan? Ini masih musim dingin lho, nggak takut kedinginan duduk disini sendiri?"
"Nggak lah, baju yang aku pake tebel gini. Belum lagi jaket, udah kayak tumpukan baju yang belum disetrika tau."
"Pfth,,, ternyata kau lucu juga."
"Dih, malah lucu. Oh ya oppa.."
"Oppa?"
"Iya oppa, katanya aku harus berbicara sopan kan. Kalau aku panggil nama kan kesannya tidak sopan gitu. Nggak suka ya aku panggil gitu."
"Bukan nggak suka sih, cuma aneh aja."
"Huh, terus panggil apa dong? Ehm,,, oh ya kalau gitu gimana kalau aku panggil kamu Mr. Cha?"
"Mr. Cha? Siapa Mr. Cha? Pacar?"
"Nggak lah, dia itu idol yang aku idolain banget lho. Dan kalau aku lihat kamu ada sedikit kemiripan dari segi gantengnya, jadi aku panggil kamu Mr. Cha aja. Nggak apa-apa kan?"
"Ehem, ya ya udah."
"Oke, tapi kok wajah kamu jadi merah. Jangan-jangan kamu habis minum ya?"
"M, merah apanya aku nggak minum kok."
"Oh, ya udah."
"Masuk dulu deh."
"Eh Mr. Cha tunggu dong! Aku mau tanya sesuatu nih sama kamu."
"Mau tanya apa?"
"Orang tua Baekhyeon."
"Kenapa mau tau tentang mereka?"
"Karena aku mau bantuin Baekhyeon buat ngusir rasa sepinya aja sih. Kenapa berkerut gitu, nggak boleh ya?"
"Nggak ada maksud lain lagi?"
"Ya nggak ada lah, jangan-jangan kamu masih berfikir kalau aku mau nyulik Baekhyeon ya?"
"Ehm, mungkin sih."
"Aduh Mr. Cha buang jauh-jauh deh pikiran kayak gitu. Lagian kalau mau nyulik kenapa nunggu sekarang sih?"
"Ya kirain kau punya niat kayak gitu."
"Aku serius nih, banyak bnget pertanyaan tentang mereka. Atau sebenarnya memang kamu juga dilarang berbicara tentang ayah Baekhyeon ya."
"Sebenarnya nggak dilarang juga sih. Cuma harus lebih memperhatikan lampu kuning dalam membicarakan mereka."
"Selama aku disini belum pernah aku bertemu dengan ibu Baekhyeon."
"Nanti juga akan bertemu."