
"Maaf bibi, apakah bibi memakai minyak **** untuk makanan ini?"
Seketika semua orang yang ada disana berhenti dari kegiatan makan siang ini. Terkecuali Baekhyeon, dia sama sekali tidak terpengaruh oleh pertanyaan Fisya. Semua anggota keluarga tahu kalau bibi tidak suka ada orang yang bertanya tentang makanan yang dimasak olehnya. Apalagi bertanya tentang bahan yang dia gunakan.
"Fisha, duduk dan ma..."
Belum sempat paman menyelesaikan kalimatnya, bibi sudah menyela perkataan paman.
"Iya Fisha, maaf bibi lupa kalau kau tidak boleh memakan makanan yang mengandung minyak ****."
Dongmin, nenek, dan paman saling bertatapan , tidak mengerti dengan sikap bibi. Tidak biasanya ibu bersikap tenang seperti itu padahal ada yang bertanya tentang bahan masakannya. Dongmin membisikkan sesuatu kepada nenek.
"Nenek, apa nenek melihat apa yang aku lihat?"
"Dongmin, aku nemang rabun tapi aku masih bisa melihat dan mendengar. Apa maksudmu bertanya seperti itu?"
"Ahh, nenek kenapa jawaban nenek seperti itu? Aku hanya heran dengan sikap ibu sekarang."
"Ibu, Dongmin, apa yang kalian bicarakan disana, kenapa bisik-bisik? Dan suamiku , kenapa kau bengong seperti itu?" Bibi menyadari tentang sikap keluarganya yang lain.
"Ehm, istriku. Apakah kau tidak apa-apa?"
"Iya ibu, sepertinya ada yang aneh." tambah Dongmin.
"Menantu, Fisha baru masuk ke rumah ini jadi..."
"Ibu, apakah kalian bertanya-tanya kenapa aku tidak marah saat Fisha bertanya seperti itu? Sebenarnya aku sedikit kesal dengan pertanyaan itu, tapi aku baru ingat kalau Fisha tidak bisa memakan makanan yang mengandung lemak ****. Maaf Fisha bibi lupa kalau kamu tidak bisa memakan ini."
"Tidak bibi, maafkan aku jika aku tidak sopan dan membuat bibi merasa kesal atau tersinggung. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya harus berhati-hati dengan makanan yang bisa aku makan disini."
"Tidak apa-apa Fisha, sebenarnya temanku yang waktu itu memberikan baju dan penutup kepala kepadamu itu sudah banyak bercerita tentang kehidupan kalian di lingkungan yang baru."
"Apakah teman bibi sama denganku?"
"Iya Fisha, kapan-kapan aku akan mengajakmu bertemu dengan dia."
"Menantu ,kalau begitu sekarang apa yang bisa dimakan Fisha."
"Ah iya, maaf ibu aku hampir saja lupa. Fisha aku akan memasak untukmu, tolong tunggu sebentar ya!"
"Apakah aku boleh membantumu bibi?"
"Tentu kemarilah!"
"Nenek, apakah nenek memikirkan apa yang aku pikirkan?"
"Heh Dongmin, memangnya apa yang ada dipikiranmu?"
"Nenek memangnya apa yang nenek pikirkan setelah melihat drama antara ibu dan gadis itu?"
"Dongmin dengar! Hanya satu yang aku pikirkan saat ini."
"Aku lapar, dan kenapa kau mengganggu waktu makanku?"
"Nenek... Kenapa nenek tidak bisa serius?"
"Pftttt bwahahahahha. Heh paman Dongmin, makan saja makananmu jangan ganggu nenek buyut lagi!"
"Diam kau bocah!"
"Dongmin, Baekhyeon cepat habiskan makanan kalian! Dan ibu makanlah yang banyak supaya tenaga ibu kembali pulih dengan cepat!"
"Aku selesai kakek."
"Seongji, setelah makan datanglah ke kamarku!"
"Iya ibu."
Sementara di dapur, Fisya dan bibi sedang memasak makanan untuk Fisya dengan berbincang\-bincang.
"Bibi, maafkan aku jika perkataanku membuat bibi tersinggung dan kesal. Aku tidak bermaksud."
"Aku memang sedikit tersinggung Fisya, saat ada orang yang bertanya tentang 1 bahan makanan kepadaku. Aku hanya merasa seperti ada yang menuduhku karena bertanya seperti itu."
"Apakah bibi trauma terhadap sesuatu? Maaf bibi kalau aku terkesan ikut campur padahal aku oranh asing disini, aku hanya ingin membantu bibi untuk melepas beban bibi."
"Tidak Fisha, kau harus tau alasan kenapa aku bisa seperti itu. Karna duli ada seseorang yang menuduhku telah meracuni ibuku sendiri lewat makanan uang aku masak. Hanya karena aku yang memasak bubur yang ibu makan sebelum meninggal."
"Maaf bibi, tapi kan bibi tidak mungkin melakukan hal itu. Apalagi kalau bibi sampai menyalahkan diri sendiri."
"Mungkin kamu benar Fisha, tapi kenyataannya ibu memakan bubur yang aku buat saat ibu sedang sakit, dan kemudian meninggal. Aku juga tau kalau ibuku meninggal karena penyakit yang dideritanya, dan buka karena makananku. Tapi karena tuduhan ituaku jadi trauma dan takut kalau-kalau ada orang menuduhku lagi. Lebih baik aku mengajari memasak daripada harus ditanya tentang 1 bahan makanan atau bumbu."
"Maaf bibi jika aku terlalu lancang, hingga membuat bibi mengingat masa lalu"
"Ahh, tidak apa-apa Fisha. Ini semua salahku karena lupa kalau makanan yang kamu makan belum tentu sama dengan kami. Dan juga teman bibi sudah memberikan bahan makanan yang bisa kamu makan."
"Benarkah bibi? Apakah semuanya halal?"
"Tentu saja karena dia sendiri yang memilih untukmu."
"Terima kasih bibi. Tapi bagaimana aku bisa berterima kasih kepada teman bibi itu? Apakah aku bisa bertemu dengannya?"
"Tentu Fisha, lusa aku dan dia ada rencana untuk bertemu dan kamu bisa ikut."
"Terima kasih bibi!"
"Makananmu hampir matang lho, semoga kamu menyukai masakanku"
"Iya."