
Pagi hari saat mereka sudah berkumpul berempat, mereka segera berangkat tapi Ara mulai mengacau, sepertinya dia ingin Baekhyeon malihat penampilan dia.
"Haduuh, kenapa aku bisa secantik ini ya? Pantas aku jadi model kelas atas, badan bagus juga wajah cantik." Sambil menggerak-gerakkan dan memutar badannya.
"Cantik kalau gak ada otak juga percuma," jawab Baekhyeon dengan ekspresi datar.
"Anak ini benar-benar minta disekolahin yang jauh ya?"
"Aduh Baekhyeon, jangan ngomong apa-apa dulu dong!" Hana mencoba menghentikan Baekhyeon.
"Udah, ayo berangkat!" Ajak Dongmin yang sedikit merasa kalau pertengkaran ini akan jadi runyam kalau tidak segera diajak berangkat.
"Ahh, iya ayo. Ayo eonni kita lati dulu biar Baekhyeon dan pamannya lari dibelakang kita."
"Siapa juga yang mau lari denganmu." Ara mulai lari mendahului yang lain. Kemudian diikuti Hana, Baekhyeon, dan Dongmin. Sementara Hana mencoba mengikuti Ara, Dongmin dan Baekhyeon berbincang dibelakang.
"Kenapa lagi-lagi berbicara tidak sopan seperti itu, bodo?"
"Siapa yang tidak sopan? Aku cuma berbicara yang aku tau kan?"
"Jangan berkata yang aneh-aneh lagi. Dan juga bersikaplah yang sopan kepada ibumu!"
"Apa benar dia ibuku?"
"Hadeh, anak kecil ini semakin bikin kesal aja." Sedikit menjitak kepala Baekhyeon.
Jarak antara rumah dan taman memang agak jauh, tapi karena lari Ara cukup kencang jadi dia sudah sampai duluan di taman. Dia mencoba melakukan pemanasan dengan merenggangkan tangan dan membungkuk juga menyentuh ujung jari kaki. Saat ditengah pemanasan tersebut Hana datang dengan ngos-ngosan.
"Hosh, hosh, hosh. Eonni hosh larimu hosh cepat hosh sekali. Hosh, hosh, hosh. Aku hahs sampai tidak hosh sanggup mengejarmu." Hana terduduk di bangku taman maaih sambil ngos-ngosan.
"Kau yang lelet bukan aku tang terlalu cepat, aku memang pelari yang jago. Tapi dari tadi aku nyantai tuh larinya. Hehe. Mana si anak tidak sopan itu?"
"Baekhyeon dan pamannya ada dibelakang eonni."
"Sudah aku duga anak nakal itu lelet seperti Dongmin." Beberapa menit kemudian Baekhyeon dan Dongmin datang. Mereka juga sama seperti Hana, ngos-ngosan juga."
"Hei, anak nakal kau harus seperti ibumu ini dong. Kau bermalas-malasan terus ya di rumah?"
"Aku belajar."
"Anak seusiamu belajar? Bukannya kau hanya bermain saja di rumah?"
"Aku belajar bukan hanya bermain tau?"
"Iya-iya aku percaya apa katamu, dasar anak kecil." Mengelus-elus rambut Baekhyeon.
"Jangan mengacak-acak rambutku!"
"Kenapa ini seru tau? Hahaha."
"Eh, maaf eonni aku mengganggumu. Aku mau membeli minuman dulu, kalian berdua disini aja dulu. Ayo Mr. Cha!"
"Kenapa denganku?"
"Udah ayo pergi dulu!"
"Iya-iya oke." Berjalan lemas karena masih sedikit ngos-ngosan.
"Mr. Cha? Sejak kapan mereka seakrab itu Baekhyeon?"
"Tidak tau."
"Bagaimana mungkin tidak tau? Kau kan ada di rumah."
"Bagaimana aku bisa tau apa saja yang dilakukan mereka?"
"Dasar anak kecil. Kau bisa memanggilku ibu kan?"
"Tidak mau, kenapa sok akrab sekali sih?"
"Aduh anak ini, pedas sekali kata-katanya. Bukankah wajar kalau ibu dekat dengan anaknya?"
"Sejak kapan kau dekat denganku? Dan lagi, pakaian apa yang kau pakai itu? Ini masih musim dingin, nanti bisa masuk angin."
"Wah, ternyata kau bisa khawatir padaku juga ya, anak manis?"
"S, siapa yang khawatir padamu?"
"Wah, kau malu mengakui kalau juga perhatian pada ibumu yang cantik ini?"
"Tidak, apaan sih?"
"Memang pantas menjadi anakku ya anak manis?" Merangkul Baekhyeon yang terlihat malu-malu.
"Jangan memelukku dong, nanti dilihat orang."
"Memangnya kenapa? Aku kan memeluk anakku sendiri."
"Kenapa kau mengajakku pergi membeli air minum sih? Kau kan bisa pergi sendir."
"Bagaimana bisa pergi sendiri, aku kan belum mengenal daerah sini. Dan juga aku tidak punya uang kan?"
"Kau ini. Apa ini salah satu rencanamu untuk bisa dekat dengan Baekhyeon?"
"Pasti lah, hebat bukan? Aku memikirkannya hanya dalam hitungan menit lho."
"Percaya diri sekali."
"Harus dong! Baekhyeon sebenarnya sangat merindukan ibunya, sampai-sampai memiliki pemikiran yang sangat tidak baik untuk anak seusianya. Aku jadi marah saat dia memerintah aku untuk melakukan perbuatan tersebut agar mau menjadikanku temannya."
"Apa itu?"
"Apa kau akan marah pada Baekhyeon?"
"Tidak akan ada yang marah pada Baekhyeon. Meskipun dia melakukan kesalahan yang besar."
"Kenapa begitu?"
"Karena seluruh keluarga tidak mau melihat Baekhyeon menangis saat dimarahi."
"Tapi kalian sering bertengkar?"
"Iya dan pertengkaran itu hanya pura-pura."
"Bukankah itu hal yang tidak baik buat Baekhyeon?"
"Tidak baik?"
"Iya, membiarkan dia berpikir kalau hidup ini tidak perlu berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Bukankah itu sebuah kecurangan?"
"Apa maksudmu kecurangan?"
"Saat kau tidak mau melihat dia menangis dan kau memberikan apapun yang dia mau asal dia tidak menagis. Menancapkan persepsi kalau dia benar-benar yang sangat beruntung karena mendapatkan apapun yang dia mau. Kalian bukan hanya tidak mau melihat dia menangis tapi juga tidak mau melihat kesedihan dia. Bukankah itu sebuah kecurangan."
"Itu memang salah, tapi mau gimana lagi?"
"Kita bisa merubahnya, bahkan merubah sikap Baekhyeon yang tidak menghormati orang yang lebih tua darinya. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, selama kita mau berusaha."
"Hehe, apa itu mottomu?"
"Anggap saja begitu."
"Apa kau tau kesedihan Baekhyeon yang sebenarnya?"
"Dia hanya ingin perhatian dari Ara ibunya. Hanya itu, bahkan juga dia lebih suka dimarahi Ara dari pada harus berjauhan dengannya."
"Dia memang tidak pernah mengatakan ataupun mengungkapkan tentang kerinduannya kepada ibunya."
"Bagi Baekhyeon yang terpenting sekarang adalah perhatian dari Ara. Dan dia tidak pernah menunjukkan iu semua karena dia tidak mau Ara memandangnya lemah."
Maksudmu dia berpura-pura kuat agar Ara memperhatikan dia?"
"Bisa jadi seperti itu. Apa dia tidak pernah bercerita apapun padamu?"
"Tidak, oh ya aku akan membeli air minum dulu di mini market itu. Kau tunggu disini!"
"Oke."
Saat sedang menunggu Dongmin yang tengah membeli air minum. Hana berpikir tentang bagaimana Ara dan Baekhyeon sekarang. Apakah mereka masih saja bertengkar atau mereka merasa saling canggung karena sudah lama tidak berbicara satu sama lain. Atau Baekhyeon masih saja bertingkah seperti orang dewasa meskipun di depan ibunya. Hana merasa kalau Ara tidak sejahat yang terlihat, malah lebih terlihat seperti wanita yang asyik untuk dijadikan teman ngobrol.Tapi entah apa yang membuatnya bersikap menyebalkan di depan banyak orang. Tanpa sadar Hana bergumam sendiri.
"Aisssh, mereka berdua memang cocok sebagai anak dan ibu. Sama-sama pintar menyembunyikan kesepian satu sama lain." Dan tidan sengaja Hana menendang kaleng yang ada di depannya.
"Aduh, siapa ini yang berani nimpuk kepalaku? Pakai kaleng kotor lagi, siapa yang nimpuk woi?" Hana tersadar saat pria muda itu teriak-teriak.
"Ma, maaf ajeossi saya tidak sengaja."
"Hah, apa... kau memanggilku ajeossi?"
"Ya?"
"Benar-benar, apa aku setua itu?"
"Maaf?"
"Aku baru berusia 25 tahun tau. Harus aku apakan agassi kurang ajar ini?"
"Maaf tuan, aku sudah meminta maaf bukan. Dan kamu juga berkewajiban untuk memaafkan orang yang sudah meminta maaf."
"A, apa? Apa kau pesakitan, kenapa memakai penutup kepala seperti itu?" Sambil menjulurkan tangannya untuk menyentuh jilbab Hana, tapi tiba-tiba ada tangan yang menahan tangan orang tersebut.
"Letakkan kembali tanganmu ajeossi. Jangan membuat keributan disini!"
"Siapa kau?" Pria tersebut melayangkan tinjunya kepada Dongmin tapi Dongmin menahannya dengan sangat mudah. Dan kemudian mengunci kedua tangan pria tersebut.
"Mr. Cha lepaskan dia! Lebih baik kita pergi dari sini."