
Sepekan sudah Hana dan Dongmin bekerja sama untuk merawat kebun paman. Donin merasa sangat terbantu dengan adanya Hana sebagai asistennya di kebun.
"Ternyata kau bisa juga ya bercocok tanam."
"Aku dulu juga pernah berlajar berkebun, ya meskipun hanya sebentar."
"Apa yang kau tanam?"
"Ehm, menanam buah dan bunga."
"Sayur?"
"Belum pernah, karena sebelum aku bisa belajar semua itu. Guru terbaikku sudah pergi."
"Kalau begitu belajarlah dariku."
"Apa kau sejago dan sehebat itu?"
"Bukankah kau melihat kehebatanku setiap hari?"
"Benarkah? Kenapa aku tidak merasa sama sekali kalau kau pandai merawat semua tanaman disini?"
"Ck, aku ini sudah sangat berusaha. Aku jarang sekali ikut ayah pergi kesini, makanya ilmu yang ayah punya hanya menurun sedikit kepadaku. Dan selama seminggu ini aku selalu belajar dari internet, jadi semua bisa alu atasi."
"Emang semua sudah sesuai prosedur yang diminta paman untuk merawat semua tanaman ini?"
"Ahh, yang aku tau cuma merawat tanamannya biar tumbuh sehat."
"Gitu doang sih aku juga bisa."
"H,hei, kau bersihkan rumput yang sebelah sana." Menunjuk ke arah selatan."Bersihkan semua rumputnya, biar aku yang menyiramkan pupuk ini."
"Duh iya-iya aku kesana."
Tiba-tiba handphone Hana bergetar,ada sebuah panggilan. Lagi-lagi Sunghoo, setiap kali Hana sedang melakukan sesuatu dia pasti akan menelepon.
'Halo'
'Dimana kau sekarang?'
'Kenapa?'
'Ahh, tidak sepertinya tadi aku sedang melihatmu di dalam mobil putih sedang menuju ke arah perumahan baru daerah X'
'Ahh, iya mungkin orang yang kau lihat tadi adalah aku. Aku memang ada disini, merawat kebun di tengah-tengah perumahan daerah X'
'Apa kau mengenal paman pemilik kebun itu?'
'Iya aku mengenalnya, ada apa?'
'Ahh, tidak. Hanya saja seminggu ini aku tidak melihatnya bersepeda, aku kira paman itu sedang sakit. Apa dia baik-baik saja?'
'Kau mengenalnya?'
'Bagaimana kalau aku sekarang kesana? Apa kau sedang bersama dengan seseorang?"
'Ahh, iya aku sedang dengan anak paman. Baiklah aku tunggu disini'
Tut tut tut tut
"Harusnya yang bekerja tangannya kan?"
"Ahh, kaget. Sejak kapan disini?"
"Lumayan."
"Kau nguping ya?"
"Hei, aku bukan ibu-ibu penggosip."
"Ya siapa tahu kau menguping pembicaraanku ditelpon dan akan menggosipkannya dengan ibu-ibu komplek."
"Haha, lucu sekali. Cepat dicabut tuh rumput, biar bisa cepat selesai."
"Iya, bawel."
Beberapa puluh menit kemudian Sunghoo datang dan langsung masuk ke dalam perkebunan. Sunghoo melihat ada Hana diseberang tempat dia berdiri sedang mencabut rumput liar. Saat Sunghoo mau menyapa Hana tiba-tiba Dongmin menghampirinya.
"Halo, apa anda temannya?" menunjuk ke arah Hana.
"Ahh, halo iya saya teman Hana."
"Ikutlah dengan saya, akan saya antar menemuinya."
"Iya terima kasih. Ngomong-ngomong, sepertinya kita seumuran apa boleh bicara santau saja?"
"Tentu saja, rasanya canggung kalau harus terlalu formal."
"Apa ini kebun ayahmu sendiri?"
"Iya, ayahku suka sekali berkebun. Hampir setiap hari ayah kesini, tapi sudah seminggu ayah bepergian jadi aku dan Hana yang harus merawat kebun ini."
"Kalian hebat ya, kenapa tidak menyewa jasa orang lain?"
"Itu karena ayah tidak mudah percaya kepada orang. Ahh, biar aku memanggilnya. Agassi,, temanmu sudah datang."
"Ahh, kau sudah datang rupanya. Mr. Cha, apa kita bisa istirahat?"
"Sudah dari tadi aku memyuruhmu untuk istirahat kan?"
"Ahh, iya baiklah. Mari duduk disana, aku tadi membawa bekal juga kita bisa makan bersama."
"Aku akan membereskan sisanya dulu. Kalian nikmati saja dulu bekalnya."
"Apa aku bisa membantumu?"
"Tidak, hanya sedikit saja dan tidak mungkin aku minta tolong seperti ini kepada tamu."
"Kalian berkebihan wahai kaum pria, apa kalian tidak sadar gadis cantik ini sedang sangat haus dan lapar?"
"Wah, bisa-bisanya kau memanggil dirimu cantik didepan 2 pria. Cepat ajak dia duduk!"
"Iya, ayo Sunghoo!" Menjauh dari Dongmin.
"Aku senang bisa bertemu denganmu lagi. Apa kau juga sama?"
"Iya mungkin, duduklah biar aku menyiapkan makanannya!"
"K, kekasih? Kekasih siapa?"
"Lelaki itu, atau dia saudaramu?"
"Aish, kau ini bikin aku kaget saja dengan pertanyaanmu."
"Kenapa harus kaget? Apa memang benar kau kekasihnya?"
"Bukanlah, kami hanya orang asing yang saling membalas budi."
"Membalas budi? Maksudnya?"
"Ahh, kenapa tanya terus? Anggap saja seperti itu, kenapa jadi seperti wartawan sih? Cepat makan itu makanannya!" Meminum sebotol air mineral sampai habis.
"Apa aku boleh tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Kau menyukainya?"
"Aduh, apa lagi sih? Kalau iya kenapa dan kalau tidak kenapa juga? Pertanyaanmu itu seperti sedang bertanya kepada pasanganmu yang sedang selingkuh."
"Aku hanya bertanya, tapi aku serius dengn pertanyaan itu."
"Huh, aku menyukainya karena dia baik dan pekerja keras. Siapa saja yang dekat dengan dia pasti suka, karena dia pantas untuk disukai."
"Bukan lerasaan dari hati yang paling dalam?"
"Yah, pokoknya intinya cuma aku suka dengan semua sifat baik dan peduli dia."
"Tapi tatapan dia kepadamu seperti ada sesuatu."
"Apa kau kesini hanya untuk menanyakan semua hal itu?"
"Tidak, aku hanya ingin bertemu denganmu."
"Baiklah, berhentilah bertanya dan makan makanannya!"
"Apa aku melewatkan sesuatu?" Tanya Dongmin yang tiba-tiba datang.
"Apa kau mau minum Mr. Cha?" Menyodorkan minuman kepada Dongmin.
"Iya terima kasih," mengambil minumannya."Maaf sebelumnya kita belum berkenalan. Aku Dongmin Kim, panggil aku Dongmin." Mengulurkan tangan.
"Iya, aku Sunghoo. Senang berkenalan denganmu."
"Apa sebelum ini kita pernah bertemu? Rasanya wajahmu sangat familiar."
"Entahlah, mungkin memang pernah bertemu." Melirik Hana yang sedang asyik makan.
"Apa kau artis?" Pertanyaan Dongmin otomatis membuat Sunghoo dan Hana terbelalak kaget, bahkan Hana sampai tersedak.
"Uhuk, uhuk.."
"Minum air ini, kenapa denganmu? Kalau makan hati-hati dong! Ceroboh sekali."
"Uhuk, aku begini karena pertanyaanmu pada Sunghoo tau?"
"Memangnya kenapa? Aku hanya bertanya, apa salah Sunghoo?"
"Ahh, sebenarnya..."
"Tentu saja salah, kalau dia artis bagaimana dia bisa punya banyak waktu untuk terus menelpon orang setiap harinya?"
"Biarkan dia menyelesaikan perkatannya dulu."
"Ahh, iya maaf. Kau bisa menjawabnya Sunghoo."
"Iya, sebenarnya pekerjaanku memang seorang artis."
"Benarkah? Wah, kau bercanda ya?" Masih ngeyel tidak percaya.
"Agassi, lihat ini!" Menyodorkan handphonenya."Apa masih kurang bukti kalau dia artis?"
"K, kau benar-benar artis?"
"Bagaimana mungkin kau tidak tau? Bukankah kalian pernah bertemu sebelumnya? Dan lagi, bukankah kau suka lihat drama korea, bagaimana mungkin kau tidak tau?"
"Aku kan cuma hafal idola yang menjadi biasku saja, jadi aku tidak terlalu memperhatikan yang lain."
"Kau ini teman yang memgecewakan."
"Hei, aku kan tidak tau. Tapi kalau dipikir-pikir memang benar sih, bagaiman mungkin aku tidak tau padahal saat pertama bertemu di taman kau menutupi wajahmu dengan masker dan topi kenapa aku bisa tidak curiga ya."
"Dasar kau ini."
"Tidak apa-apa, aku lebih suka kalau kalian menganggap aku seperti kalian saja. Hanya seorang rakyat biasa bukan idola. Dan lagi, aku menelponmu saat sedang break syuting. Entah kenapa aku hanya ingin menelponmu?"
"Wah, ternyata aku punya teman seorang idola. Eh, tapi tunggu deh. Tadi kau bilang mengenal paman, bagaimana mungkin?"
"Mengenal ayah?"
"Hemm, sebenarnya sebwlum aku debut aku sering berbincang dengan Paman Seongji di depan gang sana. Paman yang sudah banyak memberikan dukungan padaku, sebenarnya aku sudah lama mau berkunjung ke rumah paman tapiasih belum punya waktu. Dan saat ada waktu libur, aku jarang bertemu paman."
Satu jam kemudian.
"Terima kasih untuk makanannya dan juga hari ini. Aku beruntung bisa bertemu dan mengenal kalian, Hana terima kasih sudah mau bertemu denganku."
"Ahh, iya kau membuatku merasa tidak enak saja."
"Tolong sampaikan salamku kepada paman, Dongmin!"
"Pasti Sunghoo."
"Kalau begitu aku pamit dulu."
"Apa kau mau aku mengantarmu?"
"Tidak, tidak perlu sebenarnya rumah ibuku ada di dekat sini."
"Kapan-kapan mainlah kerumah, dan mari buat janji untuk minum kopi bersama."
"Iya tentu saja, Hana aku senang sekali bisa bertemu denganmu hari ini. Sampai bertemu lagi. Aku permisi dulu."
"Iya, selamat jalan."