Mr. Cha, wait me!

Mr. Cha, wait me!
Mr. Cha dan Hana



Dongmin dan Hana berkeliling toko sambil menunggu pesanan nenek dibungkus. Hana hanya mengikuti kemana Dongmin berjalan, karena dia tidak pernah ke toko baju sebesar ini. Toko baju langganan para orang kaya.


"Mr. Cha, kenapa syal nenek harus dibungkus?"


"Pastinya untuk kado."


"Apa akan ada yang ulang tahun? Atau teman nenek sedang ulang tahun?"


"Ada, hari ayah dan ibu. Syalnya ada sepasang kan?"


"Iyakah, aku tidak terlalu memperhatikan." Hana sempat berpikir untuk membeli kado juga, tapi dia tidak punya uang. Dongmin memperhatikan Hana yang sedang diam saja dan kelihatan bingung.


"Ada apa?"


"Ah, tidak. Hanya saja aku juga mau memberikan kado untuk paman dan bibi. Tapi aku tidak punya uang."


"Pilih saja yang ingin kamu berikan pada ayah dan ibu biar aku yang bayar."


"Hah, abis gajian ya? Mau traktir aku? Nggak usalah, ini kan kado dari aku. Harusnya aku sendiri yang beli kan, apa aku harus cari kerja ya?"


"Cari kerja apaan? Gini aja, apa keahlianmu?"


"Apa ya? Mendesain baju?"


"Itu akan butuh waktu lama dan juga biaya pembuatannya kan? Selain itu apa lagi?"


"Aku bisa memasak, meskipun harus belajar sih. Tapi aku belajarnya cepet kok."


"Bagaimana kalau buat kue? Bisa?"


"Bisa sih, tapi aku udah lama nggak buat kue jadi ya harus belajar lagi."


"Kalau gitu nanti ikut aku dulu."


"Oke."


Dongmin juga mencari hadiah untuk ibunya, tapi Dongmin masih bingung harus memilih kado apa? Dongmin meminta bantuan Hana untuk memilihkan kado. Hana merekomendasikan sepatu untuk ayah dan ibu Dongmin."Kenapa harus sepatu? Tahun kemarin aku memberikan ayah dan ibu sepatu. Yang lain dong!" Hana berfikir lagi, kemudian hana merekomendasikan mantel bulu untuk kedua orang tua Dongmin."Jangan matel bulu dong. Noona sudah berencana memberikan itu. Apa ya? Kado yang spesial yang sangat dibutuhkan ibu setiap hari, bisa dipakai ibu setiap hari. Dan saat ayah dan ibu berhadapan ayah akan merasakan menjadi pengantin baru dan ibu akan merasakan menjadi seorang istri yang baik.


"Aku tau."


"Kaget. A, apa itu ngageti aja?"


"Lipstik buat bibi dan dasi buat paman. Gimana?" Sambil menaik-naikkan alisnya dan tersenyum.


"A, apa hubungannya lipstik dengan dasi?"


"Jangan ngegas dong bro! Biar aku jelasin deh. Gini ya, setiap pagi kan bibi selalu merapikan dasi paman, kalau bibi memakai lipstik yang pantas untuk bibi pasti terlihat cantik kan dan paman yang ada didepannya pasti akan semakin jatuh cinta juga. Gimana? Cocok kan ideku?"


"Lumayan juga sih, tapi lipstik yang cocok untuk ibu tuh yang mana, warna apa?"


"Itu sih gampang, aku tinggal tanya sama bibi nanti kan dirumah. Terus buat dasi paman gimana?"


"Kalau masalah itu sih gampang. Aku tau selera ayah." Kemudian mereka berdua pergi untuk memilih dasi di toko yang sama. Dongmin mulai memilih-milih dasi yang sesuai selera ayahnya. Dan Hana hanya diam saja mengikuti kemana Dongmin pergi tanpa bertanya apapun lagi. Hana merasakan seperti adik yang selalu mengekor kepada kakaknya, tanpa sadar Hana tersenyum dan terlihat oleh Dongmin. "Ngapain senyum-senyum sendiri gitu?" Hana masih menggelengkan kepalanya."Aneh."


"Bukankah keberadaanku ditengah keluargamu lebih aneh."


"Iya mungkin. Itu tidak terlalu terasa sih mungkin karena kau sudah beberapa minggu ada dirumah."


"Apa kau tidak sadar? Aku mengikutimu kesana kemari seperti adik yang sedang mengekor kepada kakaknya saat bermain." Dongmin mengangkat bahu menandakan tidak tau dan masih sibuk memilih dasi. Setelah satu jam berputar-putar memilih dasi, akhirnya mereka selesai. Mereka lanhsung pergi kesebuah kedai kecil untuk memakan tteobokki. Hana sangat senang akhirnya dia bisa makan tteobokki.


"Hei, kenapa makanmu seperti itu?" Dongmin melihat Hana yang makan tteobokki dengan sangat lahap padahal makanan itu sangat pedas."Kau suka pedas, tapi tidak segitunya juga kan makannya."


"Jangan bicara sambil makan dong! Kau bisa tersedak. Aduh merepotkan sekali."


"ini benar-benar enak Mr. Cha. Rasanya tidak mau berhenti makan."


"Kau sudah habis banyak itu, apa perutmu gak akan sakit?"


"Aku ini si jago makan pedas tau?"


"Minum ini dulu deh aku tuangin." Dongmin menuangkan soju untuk Hana.


"E, eh, bukannya itu alkohol?"


"Iya, kau harus minum ini biar lebih enak."


"Nggak ah, aku nggak mau."


"Kenapa, nggak sopan lho udah dituangin tapi nggak mau minum."


"Dilarang keras untukku minum-minuman beralkohol tau?"


"Takut mabuk ya?"


"Nggak tau ah, pokoknya dilarang. Udah yuk pulang, kau kan nyetir jangan minum banyak-banyak dong!"


"Udah tenang aja, aku ini jago minum lho."


"Iya deh percaya. Eh, katanya tadi mau mengajakku belajar buat kue. Dimana?"


"Oh iya, hampir lupa. Udah yuk pergi!" Setelah setengah jam perjalanan, tibalah mereka berdua di sebuah toko kue yang lumayan besar. Hana memutar badannya kekanan dan kekiri melihat-lihat dan mengagumi betapa indah dan nyamannya toko kue tersebut. Ada banyak pelanggan yang sedang duduk-duduk di bangku panjang yang banyak tersusun rapi di luar toko, juga ada meja-meja kecil yang bisa dipakai pelanggan yang datang sendiri atau berdua. Dan juga ada meja-meja besar yang berisikan banyak jenis roti. Juga terdapat etalase yang berisikan kue-kue yang cantik dan terlihat sangat lezat tersebut. Semuanya membuat Hana terpesona. Hana masih kagum dengan pemandangan yang pertama kali dilihatnya, tanpa sadar dari tadi Dongmin yang berada disampingnya sedang berbicara dengan seseorang.


"Eh, agassi." Hana masih belum menggubris Dongmin. "Hei agassi, berhenti dulu kagumnya!" Hana tersentak setelah mendengar panggilan Dongmin.


"Ahh, iya maaf. Aku kagum dengan desain toko kue ini, banyak bunga-bunga yang membuat tokonya terlihat hidup."


"Toko kue ini memang didesain seperti itu, menghidupkan kenangan yang selalu tersimpan rapat dalam hati." Tiba-tiba teman Dongmin menjawab kata-kata Hana, dan berhasil membuat Hana menoleh kearah Dongmin lagi.


"Ini temanku namanya Jiseok. Dia pemilik toko kue ini..." Belum selesai Dongmin berbicara Hana sudah menyela dengan cepat.


"Ngapain kesini, aku kan tidak punya uang buat membeli kue." Sambil berbisik kencang yang masih terdengar oleh Jiseok. Dan Jiseok tersenyum.


"Kau mau belajar buat kue kan?" Hana menganggukkan kepalanya. "Ini rajanya, kau bisa belajar dari dia."


"Oh begitu, hehe. Mohon bantuannya tuan."


"Kau bisa memanggilku Jiseok dan tidak perlu sungkan begitu, santai saja."


"Ahh baik."


"Kalau begitu ayo ikuti aku!" Hana mengikuti Jiseok kedapur untuk belajarembuat kue. Dongmin tidak mengikuti kebelakang karena Dongmin tidak suka dapur yang terasa panas karena banyak panggangan roti. Setelah 2 sampai 3 jam Dongmin menunggu akhirnya Hana dan Jiseok keluar dengan membawa potongan kue untuk dicicipi Dongmin. "Sudah selesai? Kenapa lama sekali? Bukankah kau bilang cepat belajar? Ini sudah hampir 3 jam dan kalian baru keluar."


"Dongmin, membuat kue juga harus bersabar dong. Tidak bisa langsung begitu saja, harus menikmati tahap demi tahap prosesnya."


"Ahh, iya-iya dasar master kue. Sini aku cicipi dulu." Hana memberikan potongan kue untuk Dongmin, kemudian Dongmin memcicipinya sesendok demi sendok tanpa mau berhenti makan sampai potongan kuenya habis.


"Bagaimana rasanya Mr, Cha? Enak?"


"Lumayan, tidak terlalu manis topingnya juga sederhana tidak berlebihan."


"Yakin cuma lumayan? Kue dipiringmu hbis tanpa sisa lho." Jiseok membuat Dongmin sedikit malu, sementara Hana hanya tersenyum melihat tingkah Dongmin.