Mr. Cha, wait me!

Mr. Cha, wait me!
Luar biasa



Sehari sudah berlalu, saat sore hari setelah pulang kerja Dongmin menjemput Hana. Hana berfikir hari ini dia akan pergi ke kebun, bekerja bersama Dongmin. Tapi beda dengan apa yang Dongmin fikirkan, dia sudah merencanakan akan mengajak Hana pergi kesuatu tempat yang spesial. Hana memang sulit menghafal sebuah jalan tapi kali ini dia tidak seperti itu, seperti ada sebuah keajaiban yang membuat Hana ingat tentang sebuah jalan menuju kebun.


"Apakah kau lupa jalan ke kebun? Ini bukan jalan menuju kebun kan?"


"Kau ingat jalan ke kebun? Lalu kenapa kemarin kau minta Sunghoo untuk mengantarmu?"


"Entahlah, tapi firasatku mengatakan kalau ini bukan jalan menuju kebun. Memangnya kita mau pergi kemana?"


"Duduk saja dengan benar, nanti kau juga akan tau."


"Lalu bagaimana dengan kebun?"


"Hari ini kita tidak pergi ke kebun dulu. Besok aku libur jadi kita bisa ke kebun dari pagi hari."


"Oke, apa kita akan membeli tteobokk"


"Lebih dari itu."


"Wah, benarkah? Ada makanan yang lebih enak dari tteobokki?"


"Ada banyaj makanan yang lebih enak dari tteobokki, yang kau tau hanya itu saja?"


"Hei, aku kan penggemar setia tteobokki."


Dalam perjalanan menuju tempat spesial, Dongmin membeli beberapa bungkus tteobokki dan minuman untuk dibawa dan dimakan bersama Hana. Hana penasaran, akan dobawa kemana dia oleh Dongmin. Setiap kali bertanya Dongmin hanya menjawab duduk diam saja. Meskipun rasa penasaran dihati Hana sudah mulai memuncak tapi dia tetap memilih diam.


Mobil Dongmin berhenti lagi, kali ini berhenti di tempat yang tidak pernah terbayangkan oleh Hana. Begitu indah, pemandangan malam kota xx yang sangat indah. Yup, saat ini mereka berada di tempat yang dimana mereka bisa melihat pemandangan malam kota dengan lampu yang menyala dari gedung-gedung pencakar langit dan dari rumah yang nampak begitu kecil. Begitu indah begitu damai, hembusan angin malam yang dingin pun sampai tidak terasa. Hana benar-benar kagum akan keindahan yang dilihatnya ini. Hana sangat bersyukur, sangat banyak bersyukur karena dia bisa menikmati ini semua. Dengan keadaan yang berbeda dari sebelumnya. Bahkan terlalu bahagia, tanpa sadar air mata Hana menetes. Dongmin yang berasa di sampingnya hanya bisa tersenyum melihat tingkah Hana, yang berjalan kesana kemari sambil mengucapkan sessuatu yang tidak dimengerti oleh Dongmin dan bahkan sampai menangis.


"Apa kau bahagia?"


"Apa kau bercanda? Kau tidak melihat tingkahku dari tadi? Aku sangat bahagia Mr. Cha, sangat-sangat bahagia."


"Sampai tidak terasa air matamu menetes?" Mencoba menghapus air mata Hana, tapi tangan Hana sudah mendahului.


"Ahh, aku menangis? Ini benar-benar membahagiakan, terima kasih kau sudah membawaku ke tempat seperti ini. Disini begitu tenang angin sepoi yang begitu hangat dan ada tteobokki juga. Ini sangat menyenangkan."


"Ada satu hal lagi yang bisa kau lakukan disini."


"Apa itu? Jangan-jangan," mundur satu langkah dari Dongmin.


"Apa yang kau fikirkan? Dasar."


"Lalu apa yang bisa dilakukan di tempat sepi seperti ini, kau membuatku takut."


"Memangnya aku buaya? Dengarkan aku! Kau bisa berteriak disini, teriak yang sangat kencang dan tidak akan ada orang terganggu meskipun kau teriak sampai suaramu habis."


"Benarkah?"


"Iya, apa ada unek-unek dalam hatimu yang sangat ingin kau ungkapkan?"


"Iya ada, bolehkah?"


"Silahkan."


Hana melangkah maju dan mulai mempersiapkan suara untuk emneriakkan sesuatu kepada angin yang berhembus. Dia menarik nafas dalam-dalam, memejamkan mata dan...


"AYAH IBU AKU RINDU, AYAH IBU AKU RINDU, AYah ibu aku rindu, a~yah i~bu~ aku rin~du, huhuhu hiks hiks." Hana kembali menangis, karena memang hal ini yang dari dulu tidak bisa dia ungkapkan kepada siapapun. Hana terus menangis, dan Dongmin hanya bisa diam saja. Ingin sekali Dongmin memeluk Hana, tapi niat itu diurungkan oleh Dongmin karena takut Hana akan tersinggung. Bahkan untuk mengelus kepala Hana pun Dongmin tidak berani. Jadi Dongmin hanya menepuk-nepuk saja pundak Hana, hanya sekedar mau menenangkan Hana.


"Terima kasih Mr. Cha, terima kasih karena kau mengajakku kemari dan mengijinkan aku untuk meluapkan apa yanga da dihatiku. Terima kasih, hiks hiks."


"Kau bisa menangis sepuas hatimu."


"Mana ada, aku tidak menangis." Dengan suara parau."Aku hanya kelilipan saja, karena anginnya sangat kencang."


"Bukankah tadi kau bilang kalau anginnya hangat?"


"S, siapa bilang? Ahh, lebih baik makan tteobokki sekarang aja." Kembali ke mobil untuk memakan makanan favoritnya.


"Dasar kau ini, padahal nangismu kencang sekali lho."


"Ahh, iya-iya sini bagi denganku!" Dongmin hanya bisa tersenyum melihat tingkah Hana yang menggemaskan, yang membuat Dongmin semakin menyukainya.


"Ahh, rasanya lega sekali. Bisa melihat pemandangan yang sangat indah dan berteriak-teriak begitu seperti orang gila. Bahkan sampai mengeluarkan air mata."


"Akhirnya kau mengakui kalau kau nangis."


"Aku tidak menangis hanya mengeluarkan air mata saja."


"Iya-iya terserah saja. Mau pulang sekarang?"


Akhirnya mereka berdua pulang, Hana benar-benar sangat lega karena bisa menuangkan sesuatu yang selama ini dia pendam sendiri. Sesuatu yang membuatnya sangat sesak. Bahkan Dongmin pun sangat bahagia untuk Hana, hanya melihat senyum Hana yang ringan tanpa beban tersebut. Entah bagaimana tapi perasaan Dongmin semakin mendalam untuk Hana.


Sesampainya di rumah Hana langsung pergi ke kamar, berganti baju dan kemudian ke dapur.


"Maaf Bibi Jung aku tidak membantumu lagi!"


"Tidak apa-apa Hana. Sekarang makanlah, kau lapar kan?"


"Iya aku sangat lapar."


"Duduklah biar aku siapkan dulu."


"Tidak bibi biar aku siapkan sendiri, bibi istirahat saja."


"Tidak apa-apa sekalian menyiapkan untuk Tuan Dongmin."


"Baiklah. Ehm, Bibi Jung, apa semua sudah tidur?"


"Iya Hana, Nyonya Ara pun baru datang dan tidak keluar kamar lagi. Mungkin sudah tidur karena kelelahan."


"Apa Baekhyeon tadi mencariku?"


"Iya Hana, sepanjang makan malam tadi dia terus-terusan cemberut karena dia hanya makan berdua dengan nenek."


"Wah, dia paati sangat kecewa kepadaku."


"Apa sudah siap bibi?"


"Iya tuan, silahkan duduk di meja makan dulu. Biar saja siapkan makanannya disana."


"Baiklah."


"Hana kau juga duduk dan makanlah!"


"Iya bibi, terima kasih."


Hana makan sambil duduk berhadapan dengan Dongmin, tidak ada satu katapun yang terucap dari bibir mereka berdua. Sunyi sekali. Beberapa detik sekali Dongmin menatap ke arah Hana yang sedang menikmati makanannya, kemudian bergumam."Manis sekali."


"Apa? Kau bicara padaku Mr. Cha?"


"T, tidak, siapa yang sedang bicara?"


"Tadi sepertinya kau sedang mengatakan sesuatu."


"Aku tidak mengatakan apa-apa, cepat habiskan makanmu dan pergi tidur sana!"


"Aduh, kenapa kau jadi marah?"


"Siapa yang marah? Aku tidak marah."


"Tapi nada bicaramu itu tinggi."


"Tapi aku tidak sedang marah."


"Kau ini membuat selera makanku hilang saja." Berdiri dan pergi ke kamar.


"Selera makannya hilanh setelah semua yang dia makan habis? Benar-benar luar biasa gadis ini."