Mr. Cha, wait me!

Mr. Cha, wait me!
marah atau cemburu??



"Seorang manusia tidak bisa mengambil nyawa orang lain. Kalau Dia tidak berkehendak maka manusia itu tidak akan meninggal."


"Bagaimana kalau membunuh dirinya sendiri?"


"Apa kau yakin kalau mereka akan lebih bahagia, meskipun sudah terbebas dari masalah di dunia?"


"Entahlah, aku tidak pernah berfikir sejauh itu."


"Dia tidak suka kalau manusia menyakiti dirinya sendiri."


"Ehm? Baiklah, hari ini aku akan pergi ke kantor karena ada banyak pekerjaan. Nanti malam aku akan menginap disini lagi."


"Aku kan sudah bilang, kau todak perlu menginap disini."


"Kau sudah tau jawabannya. Aku akan pulang dulu, apa kau butuh sesuatu? Biar ibu bawakan nanti saat dia kemari."


"Ahh, tidak terima kasih."


"Kalau kau masih mau membaca komik, kau bisa download aplikasi komik online."


"Iyaaa, akan aku lakukan."


"Oh iya, kau juga bisa berjalan-jalan keluar kalau mau."


"Wah, iya terima kasih. Hati-hati dijalan."


"Hm, baik banget."Pergi dari ruangan Hana. Tidak perlu menunggu terlalu lama lagi, Hana langsung pergi keluar untuk berjalan-jalan. Pergi ke taman disekitar rumah sakit, dan berbincang dengan pasien lain yang juga berjalan-jalan disana. Hana merasa sangat puas karena bisa berjalan-jalan keluar, saat Hana akan kembali ke ruangannya handphone Hana bergetar tanda panggilan masuk. Ada telepon dari Sunghoo, dia lagi dia lagi.


'Halo'


'Tumben langsung diangkat?'


'Ada apa lagi?'


'Sinis banget. Apa bisa bertemu hari ini?'


'Hei, apa kau sedang mengejarku?'


'Apa?'


'Kau tidak akan bisa menjadikanku pacarmu. Tidak ada kata pacaran dalam kamus hidupku, oke? Jadi percuma saja kalau setiap hari kau mengajakku bertemu.'


'Wah, percaya diri sekali kau ini. Baiklah, aku anggap kata-katamu itu sebagai tantangan. Aku yakin kau akan mau pacaran denganku.'


'Terserah' Tuttuttut."Orang aneh."Sementara itu diseberang sana, Sunghoo mulai merencanakan bagaimana caranya agar Hana bisa menyukainya. Sunghoo belum pernah ditolak oleh gadis manapun, karena memang Sunghoo tidak pernah menyatakan perasaan duluan. Tapi ini diluar dugaan, Hana menolaknya bahkan sebelum dia menyatakan perasaannya."Benar-benar gadis yang langka, aku pasti bisa mendapatkanmu Hana."


Hana tidak merasa kalau Sunghoo adalah orang yang jahat, hanya saja Hana tidak terbiasa kalau harus bertemu dengan Sunghoo sendirian. Apa lagi saat Hana sedang sakit seperti ini. Hana merasa ada sesuatu dalam perutnya, sesuatu yang bertriak-triak kalau mereka ingin makan."Bagaimana aku bisa lupa kalau aku belum sarapan? Aihs, rasanya pengen makan tteobokki aja." Tiba-tiba dari arah berlawanan Hana melihat bibi."Bibi, bibi sini! Aku disini." Melambai ke arah bibi.


"Hai Hana, kau dari mana?"


"Bejalan-jalan di taman bibi."


"Kau suka sekali ke taman ya? Dirumah juga seperti itu,"


"Iya bibi, rasanya tenang saja kalau duduk-duduk di taman. Oh iya bibi, bagaimana kabar Baekhyeon dan ibunya?"


"Mereka semua baik Hana, kau tidak perlu memikirkan mereka. Sekarang yang terpenting adalah kesehatanmu dulu. Ayo ke ruanganmu!" Menggandeng Hana dan berjalan beriringan.


"Iya bibi."


"Baekhyeon sangat rindu padamu Hana, dia ingin kesini bersama Ara. Tapi Ara masih sibuk."


"Tidak apa-apa bibi, sebentar lagi aku bisa pulang."


"Kau memang sudah terlihat sangat sehat Hana."


"Hehe, iya bibi tapi kata Dongmin masih harus menunggu seminggu untuk bisa pulang."


"Apa kau bosan Hana?"


"Iya bibi, aku lumayan bosan karena tidak ada teman dan tidak melakukan apa-apa disini."


"Hei, kau ini kan sedang sakit memangnya apa yang akan kau lakukan?"


"Aku rindu saat memasak bersama bibi. Bermain bersama Baekhyeon dan mengobrol bersama paman dan nenek."


"Apa kau juga rindu masakan rumah? Bibi membawa makanan yang biasa kau makan dirumah, apa kau sudah sarapan?"


"Belum bibi, saking senangnya bisa jalan-jalan keluar aku jadi lupa kalau belum sarapan."


"Ya sudah ayo cepat, kita makan bersama-sama."


Setiap malam Dongmin selalu pulang ke rumah sakit untuk tidur disana, dan seperti biasa Hana selalu menyuruhnya untuk pulang saja. Tapi Dongmin tidak pernah mendengarkan kata-kata Hana.


"Besok kau bisa pulang."


"Benarkah? Apa dokter sudah mengatakannya padamu?"


"Iya. Dia juga berpesan agar kau lebih menjaga bekas luka diperutmu itu."


"Ahh, iya. Yang penting aku bisa pulang dulu. Bisa makan tteobokki juga. Hehe."


"Dilarang makan-makanan pedas dulu sampai benar-benar sembuh."


"Apa-apaan itu? Aku sudah sembuh kan kenapa harus dilarang sih?"


"Kenapa banyak tanya? Kau mau sembuh kan?"


"Huh, iya deh. Yang penting sembuh dulu."


"Gitu dong yang nurut kalau mau sembuh."


Keesokan paginya, pagi sekali Hana sudah bersiap-siap untuk pulang. Dia keluar untuk mencari udara segar dulu di taman sekitar rumah sakit. Tapi disana masih sangat sepi, Hana senang karena akan segera pulang bertemu keluarga Kim dirumah. Padahal mereka sering sekali menjenguk Hana, tapi Hana selalu merindukan mereka. Setelah berjalan-jalan Hana kembali kekamarnya lagi, dan disana Dongmin pun sudah bangun.


"Ahh, kau sudah bangun?" Tanya Hana saat baru masuk.


"Hanya berkeliling taman saja. Eh, apa kita bisa pulang sekarang?"


"Kau bercanda? Kau tau ini jam berapa? Ini masih sangat pagi, dan kau pun perlu diperiksa dokter dulu sebelum pulang."


"Kenapa harus diperiksa lagi?"


"Aduh, kau ini. Sebenarnya harus bagaimana menghadapimu?"


"Iya deh aku akan menunggu lagi. Kenapa kau jadi marah? Bikin kesal saja."


"Huh, aku mau beli kopi dulu." Pergi keluar dengan perasaan yang sedikit merasa bersalah."Kenapa aku tadi berkata seperti itu? Aduh, dia jadi kesal kan." Dongmin kembali setelah satu jam berada di luar, Dongmin menghabiskan waktunya di taman yang sering dikunjungi Hana. Banyak melamun juga tentang pertemuannya kembali dengan MyungIn.


"Kau sudah kembali?"


"Apa kau membelikan aku roti?"


"Kau tidak pesan?"


"Ahh, aku pikir kau akan beli roti untukku karena kau tau aku selalu tidak sabar kalau harus menunggu makananku datang."


"Biar aku belikan dulu."


"Tidak perlu, sebentar lagi makananku datang." Hana hanya berdiam duduk diranjangnya dan masih menyibukkan dirinya dengan membaca komik online. Setengah jam berlalu, tapi masih belum ada yang mengantarkan makanan Hana.


"Ini sudah siang, dan belum ada yang mengantarkan sarapanmu."


"Mungkin memang tidak ada makanan untukku karena aku mau pulang."


"Biar aku beli makan untukmu."


"Tidak perlu, nanti aku bisa makan kalau dirumah."


"Aku akan keluar membeli makan untukmu." Berjalan keluar dengan cepat.


"H, hei. Dasar."


Dongmin kembali dengan cepat, tapi saat Dongmin hendak sampai di kamar Hana tiba-tiba dia dipanggil oleh seseorang, MyungIn mantan pacar Dongmin. Dongmin berhenti dan berbincang dengan MyungIn, Dongmin lupa kalau Hana sudah menunggunya untuk makan makanan yang dibawa Dongmin. Setelah hampir satu jam, dongmin ingat dan langsung pergi meninggalkan MyungIn.


"Ini makanan untukmu."


"Aku sudah bilang tidak perlu."


"Kau lapar kan? Cepat makan ini!"


"Kau bisa memakannya dengan mantan pacarmu lho. Lagian makanan itu sudah dingin, dan aku tidak terlalu suka makanan dingin."


"Kau lihat?"


"Huh, kenapa kau harus pergi membeli makanan kalau kau mau membuatku kelaparan? Kau ini menyebalkan sekali."


"Maaf, aku lupa kalau kau menungguku."


"Aku tidak menunggumu."


"Biar aku beli makanan lagi."


"Tidak perlu, aku sudah makan."


"Apa yang kau makan? Tidak ada yang mengantarkan makanan untukmu kan?"


"Kau salah, ada seorang perawat yang memberiku roti. Bahkan dia lebih tau kapan aku merasa lapar. Dan dokter tadi sudah mengizinkanku untuk pulang sekarang."


"Baiklah, ayo kita pulang sekarang. Biar aku yang membawa tasmu."


Mereka berdua keluar dari ruangan, dan diluar Hana bertemu dengan seorang perawat pria. Dia menyapa Hana.


"Apa kau akan pulang sekarang?"


"Ahh, iya. Terima kasih buat rotinya."


"Iya, kau tidak perlu sungkan. Apa aku bisa meminta nomormu?"


"Tentu saja, kemarikan handphonemu biar aku menuliskannya."


"Iya," menyodorkan handphonenya kepada Hana. Dongmin hanya diam saja melihat itu semua, tapi setelah Hana menuliskan nomornya untuk perawat itu Dongmin pergi meninggalkan Hana.


"Kalau begitu aku pergi dulu ya."


"Iya, hati-hati ya! Jaga kesehatanmu!"


"Dah," Hana pergi untuk menyusul Dongmin. Tapi Hana tidak menemukan Dongmin, dan tanpa sengaja Hana melihat Dongmin lagi-lagi berbincang dengan MyungIn.


"Dasar, dia pergi cepat karena mau bertemu dia rupanya. Ya sudah kalau gitu aku berkeliling taman saja." Hana pergi ke taman, dan Dongmin melihatnya. Kemudian Dongmin menyusul Hana, tanpa permisi Dongmin langsung meninggalkan Myungin.


"Agassi, kenapa kau kesini lagi?"


"Tidak apa-apa, aku hanya mau berjalan-jalan sebentar sebelum pulang."


"Kau marah padaku?"


"Marah? Punya hak apa aku harus marah padamu?"


"Iya kau benar, yang harusnya marah padaku hanyalah aku. Harusnya aku bisa bertanggung jawab terhadapmu, tapi hari saja kau kelaparan karena aku. Maaf!"


"Itu bukan salahmu, aku saja yang terlalu berharap kepadamu. Padahal aku hanya orang asing buatmu."


"Kau bukan lagi orang asing buatku."


"A, apa? Apa maksudmu?"


"K, kau kan sudah dianggap keluarga oleh keluargaku."