
Cit cit cit, cit cit cit. Pagi yang indah, sejuk, dan penuh semangat. Hari ini Hana mau lari pagi, Hana mengajak nenek dan Baekhyeon tapi mereka tidak mau. Dan saat Hana hendak pergi tiba-tiba ada suara seseorang yang membuat Hana berhenti.
"Tunggu!"
"Eh, Mr Cha? Ada apa?"
"Kau mau olahraga?"
"Iya, mau ikut?"
"Tunggu sebentar!"
"Oke."
Setelah beberapa menit akhirnya mereka berangkat juga untuk berolahraga. Tapi tidak lari pagi melainkan bersepeda pagi.
"Hei, Me. Cha aku kan mau lari pagi bukan bersepeda pagi. Apa-apaan ini?"
"Kenapa? Kau tidak terlalu jago bermain sepeda?"
"Hei, kau meremehkanku?"
"Entahlah."
"Kalau begitu ayo kita balapan sampai taman. Siapa yang sampai duluan harus membelikan yang menang tteobokki."
"Setuju, siap-siap saja kalah."
"Deal. Aku duluan, dahh." Sambil mengayuh sepedanya sekuat mungkin.
"H, hei kau curang. Sial." Dongmin segera mengayuh sepedanya sekencang dan sekuat mungkin untuk segera menyusul Hana. Beberapa menit kemudian mereka sampai di taman, dan pemenangnya sudah bisa ditebak, yaitu Hana.
"Yey, aku menang. Hari ini kau harus mentraktir aku tteobokki sampai puas."
"Kau, hosh curang hosh hosh hosh." Dongmin berkata sambil ngos-ngosan dan itu membuat Hana tertawa, bukannya marah karena ditertawakan Dongmin malah senang melihat Hana bisa tertawa lagi. Sejenak terlintas difikiran Dongmin, kalau Hana tau dia tersenyum melihat Hana maka akan ada perasaan canggung diantara keduanya. Jadi Dongmin berpura-pura marah kepada Hana.
"Hei, bagaimana kau bisa tertawa seperti itu? Sedangkan kau bermain curang."
"Aku ridak bermain curang, dalam eraturan kan kita tidak mengatakan akan dimulai dalam hitungan atau langsung mengayuh kan? Jadi semua itu disahkan dong? Akui saja kekalahanmu!"
"Iya-iya, aku belikan. Mau beli sekarang?"
"Kuta duduk dulu deh, minum dulu."
"Bawa minum?"
"Tentu saja, aku selali sedia payung sebelum hujan. Sedia air sebelum haus, dan sedia makanan sebelum lapar."
"Itu motto hidupmu?"
"Anggap saja seperti itu! Kita tidak tau kan kapan kita akan mengalami kesulitan? Dan juga kapan kita membutuhkan pertolongan orang lain."
"Tapi kau tidak punya apa-apa saat bertemu nenek."
"Itulah kesalahanku, aku tidak mempersiapkan semua. Bahkan untuk pergi kesini pun aku sama sekali tidak tau. Apa kau percaya?"
"Mungkin saat itu kau sedang tidur sambil berjalan kemudian naik di bagasi pesawat dan sampai disini?"
"Bukankah kau yang bercanda? Bagaimna bisa kau sampai sini kalau kau sendiri tidak menyadarinya? Dasar aneh."
"Apa kau percaya kalau aku datang kesini tidak naik pesawat atau kendaraan apapun?"
"Kau berkhayal ya? Haha, mana mungkin. Apa kau sedang bermimpi? Atau kau sedang mendongeng? Ini bukan waktu yang tepat untuk mendongeng. Oh, atau mungkin kau bisa terbang? Hahaha, kau lucu sekali."
"Sudah aku duga, tidak akan ada yang percaya. Bagaimana caranya agar kau percaya ya?" Hana merogoh sakunya dan mengambil sesuatu didalamnya. Dia membuka kuncinya dan memperlihatkan sesuatu kepada Dongmin."Apa kau ingat kertas ini?"
"Bukankah ini kertas yang ada disakumu saat kau menyelamatkan nenek? Apa ini sangat berharga, hanya kertas kosong?"
"Kertas kosong? Lagi-lagi kau menyebutnya kertas kosong, padahal disini sangat jelas ada tulisannya."
"Apa kau kira aku buta?"
"Kasar sekali kata-katamu, disini memang ada tulisannya. Tapi hanya aku saja yang bisa melihat dan membacanya. Apa kau nggak curiga bagaimana aku tiba-tiba bisa menolong nenek. Kalau memang aku ini orang gila, kenapa aku harus menolong nenek? Dan kenapa juga aku memakai pakaian setipis itu dicuaca seperti ini."
"Mungkin lebih tepatnya, kau ini orang aneh bukan orang gila. Dan dari mana kau bisa mendapat cerita seperti itu?"
"Aish, menyebalkan sekali sih. Tadi kau bilang dongeng dan sekarang kau bilang cerita. Aduuh, apa aku harus menceritakan semua dari awal agar kau percaya?"
"Sudah tidak perlu, aku percaya. Ayo makan tteobokki kesukaanmu!"
"Kau tidak perlu menghiburku, aku pasti akan ceritakan semuanya." Hana sedikit kesal dan berlari kecil meninggalkan Dongmin.
"Hei, hei agassi tunggu. Kau marah? Agassi!!" Meskipun sudah berteriak seperti itu, tapi Hana masih tidak menghiraukan Dongmin.
Akhirnya Dongmin bisa memgejar Hana dan mereka duduk berdua di depan mini market. Hana masih terlihat cemberut, dan sedikit acuh terhadap Dongmin.
"Hei agassi, sudah dong cemberutnya! Iya deh aku minta maaf karena tidak percaya semua ceritamu."
"Ahh, menyebalkan sekali. Padahal aku sudah jujur. Bukannya aku marah padamu juga, aku hanya kesal saja kenapa ceritaku ini bisa serumit ini?"
"Iya aku minta maaf, lain kali aku akn percaya ceritamu. Sudah nih minum dulu airnya, biar hatimu dingin juga."
"Iya, terima kasih."
"Lain kali ceritakan semua yang terjadi sebelum kamu berada disini. Bagaimana kau bisa ada disini, atau apa alasan kau bisa sampai disini?"
"Iya, mungkin aku terlalu terburu-buru menceritakan semua ini padamu. Nanti juga akan ada waktunya sendiri, pasti aku akan cerita semua."
"Mau pulang?"
"Oke. Eh, sepedanya?"
"Diambil dulu dong."
"Ya, maaf deh maaf. Kita jadi harus balik lagi gara-gara aku." Dengan enggan Hana melangkah kembali ke taman untuk mengambil sepeda. Sementara Dongmin menyunginggkan senyumannya saat melihat tingkah Hana. Menggemaskan sekali, pikir Dongmin.
Hari ini terasa begitu cepat berlalu. Dan saat sore hari lagi-lagi Dongmin menjemput Hana untuk pergi ke taman. Mereka bekerja berdua, Dongmin selalu tersenyum saat berasa Hana. Hana hampir saja melihat Dongmin saat sedang tersenyum melihatnya.
Hari berganti hari, sudah waktunya kini untuk paman dan bibi pulang. Semua orang sudah menunggu, menit berganti jam. Dan sinag berganti malam, tapi paman dan bibi masih belum datang. Dongmin berusaha menelpon ayahnya, tapi selalu tidak terhubung. Semua menjadi cemas dan tiba-tiba televisi menyiarkan bahwa ada kecelakaan pesawat. Semua terdiam, sementara Dongmin masih saja sibuk menghubungi semua pihak yang bisa dihubungi. Saat sudah larut Dongmin kemudian berangkat ke bandara untuk mencari informasi tentang kecelakaan pesawat ini. Daftar nama-nama korban pun masih belum jelas, di rumah keadaan sangat genting. Tidak ada satu orang pun yang bisa tidur malam ini. Dongmin yang mondar mandir sendiri di bandara kemudian pulang, dengan keadaan yang sedih dan sangat merasa marah karena tidak mendapat informasi apa-apa.
Malam sudah berlalu, dan paginya Dongmin mendapat telepon dari pihak bandara, hampir seluruh penumpang telah meninggal dalam kecelakaan pesawat ini tidak terkecuali paman dan bibi Kim. Dongmin merasa sangat terpukul, dia sangat bingung karena orang tuanya menjadi korban kecelakaan dan harus kehilangan nyawa mereka. Di otak Dongmin terbesit tentang penyelamatan Hana terhadap keluarganya.
"Kau harus membantu ayah dan ibu!"