
Tak terasa perpisahan Hana harus datang secepat ini, tapi sebelumnya Hana memang harus sudah siap dengan konsekuensi ini. Huh, menyesakkan ya, harus berpisah dengan orang yang mulai mengisi hati kita. Tapi masih ada harapan untuk mereka, terutama Dongmin. Dia sangat berharap kalau Hana akan kembali kepadanya dengan cepat, meskipun itu mustahil. Dongmin hanya takut kalau dia akan kehilangan memori tentang Hana, tentang kebersamaan dia dengan Hana.
"Berapa lama kita akan bertemu kembali?"
"Aku tidak akan bisa menjawabnya, biarkan waktu saja yang akan menjawab semua ini."
"Maukah kau mengatakan apa yang bisa aku lakukan kalau kau tidak disini?"
"Bekerjalah, bekerja keraslah untuk bisa melupakan waktu yang akan kau lalui tanpa aku."
"Bagaimana kalau ibuku menyuruhku untuk mengikuti kencan buta?"
"A, apa?"
"Bukankah kau bilang kalau semua akan lupa akan keberadaanmu disini?"
"Iya, bibi pasti tidak tau kalau aku sudah mengisi hatimu."
"Siapa bilang bibi tidak tau?" Tiba-tiba muncul bibi dengan membawa piring yang lumayan besar.
"Bibi, dari tadi bibi ada disana?"
"Tidak, bibi baru saja sampai disini dan bibi mendengar kalau sekarang hati anak bibi sudah terisi oleh Hana."
"Ibu, apa sih bikin malu aja?"
"Hihi, jangan gitu dong Dongmin! Wajahmu sudah seperti kepiting rebus lho, Hana juga."
"I,ibu sudah dong! Eh, ibu bawa apa itu?"
"Oh iya hampir lupa, ini ibu bawa ikan bakar buat Hana. Selama ini kan Hana tidak pernah makan daging jadi ibu sengaja bakar ikan saja buat Hana. Ini enak lho Hana, bibi sendiri yang meracik bumbunya."
"Iya bibi terima kasih, memang hanya bibi yang mengerti seleraku."
"Kau bisa saja, makan ini ya biar bibi siapkan nasinya."
"Tidak usah bibi, biar aku makan bersama kalian saja disana. Ini kan makan malam terakhir kita, formasi harus lengkap kan?"
"Kau mengingatkanku lagi dengan hal itu Hana."
"Ibu harus bisa menerimanya."
"Berat untuk bisa melepas anak sendiri Dongmin, ibu tau kalau kaulah yang lebih berat dengan kondisi ini. Kita bisa saling menguatkan, iya kan Hana?"
"Maaf bibi, aku sudah membuat kalian bersedih."
"Maaf? Tidak Hana, kami yang harus mengucapkan terima kasih kepadamu. Karena ada dirimu keluarga kami jadi bisa sering berkumpul dan banyak bercanda. Hubungan Ara dan Baekhyeon pun jadi lebih dekat sekarang, itupun karena dirimu. Bahkan kami tidak bisa memberimu apa-apa untuk membalas semua kebaikanmu."
"Itu memang tugasku bibi."
Sepanjang malam mereka semua saling bercanda, bersenda gurau melupakan apapun yang membuat mereka sedih saat ini. Hana pun merasakan sudah saatnya untuk pergi. Satu persatu dari mereka sudah kembali ke kamar masing-masing. Hanya tinggal Hana dan dongmin.
"Hana, jangan tidur terlalu larut ya. Kan kamu baru sembuh."
"Iya bibi."
Sunyi
"Semua sudah kembali ke kamar masing-masing. Apakah ini sudah saatnya? Dari tadi aku melihatmu gelisah."
"Mungkin iya sekarang sudah saatnya."
Deg
"Kau,,, tidak akan menagis kan kalau aku pergi?"
"Haha, bicara apa kau ini? Aku kan sudah besar."
"Untuk apa?"
"Harus menggantung perasaanmu seperti ini."
"Bukan kau, tapi kondisi saat ini yang sedang mempermainkan kita."
"Haha, mungkin itu benar."
"Hana."
"Ya? Baru pertama kali kau memanggilku dengan nama Hana. Lucu ya, sekalipun kau todak pernah menyebut namaku padahal aku disini sudah beberapa bulan."
"Kau ini cerewet sekali sih, padahal aku mau bicara serius denganmu."
"Hehe, iya-iya maaf!"
"Saranghae."
"Aku juga."
"Bisakah kita melewati waktu ini, hanya seperti ini. Hanya kita berdua, menikmati malam yang indah ini berbincang dan bercerita seperti ini?"
"Mr. Cha," membuat Dongmin menoleh ke arah Hana."Mungkin sudah waktunya." Tubuh Hana terlihat transparan dan akan menghilang.
"Ha, Hana. Tolong sebentar lagi! 5 menit saja, tidak 2 menit 1 menit. Tolong Hana hanya sebentar saja!"
"Aku mencintaimu Mr. Cha, akan te~rus me~n~cin~ta~i~mu......."
"Ha, Hana kembalilah Hana aku mohon. KEMBALILAH HANA SEBENTAR HANYA SEbentar saja Hana. A~ku takut aku takut tidak bisa mengingatmu lagi saat aku bangun nanti. Aku mo~hon hiks, aku mohon kembalilah. Aku bukan hiks lelaki yang dewasa Hana aku hanya lelaki cengeng yang ingin kau terus ada disampingku. Kembalilah aku mohon kembalilah. Hiks hiks, huhuhuhuuuuu."
Meskipun dia berteriak sampai suaranya habis Hana tidak akan kembali, Hana sudah pergi kembali ke kehidupannya nyatanya. Dongmin meratapi kesedihannya, dia minum alkohol sampai dia benar-benar mabuk.
"Hana, ba~gai~ma~na aku bi~sa ber~ta~han?" Bruk, Dongmin jatuh tepat di depan pintu kamarnya.
Cip cip cip cip.
Hari ini sangat cerah, awal yang baru untuk Fisya memulai aktifitasnya lagi di kehidupan nyatanya. Dia mulai lagi untuk mencari pekerjaan, sesuai bakatnya.
"Awal yang baru, pekerjaan baru. Semangat Hana, eh kok Hana harusnya Fisya kan. Jadi terus kebawa ya. Semangat untuk aku sendiri, Nafisya Abraham semangat!!" Dia berteriak menyemangati dirinya sendiri dan kemudian menuju dunia luar lagi untuk mendapatkan apa yang dia targetkan. Kerja di butik besar sesuai bakat dan kemampuannya. Fisya kesana kemari memberikan lamaran pekejaannya. Dan akhirnya di tempat terakhir ini Butik MAH dia menitipkan surat lamarannya. Saat sudah sore Fisya pulang, tidak seperti biasanya dia pulang dengan hati yang masih bahagia meskipun belum ada hasil dari usahanya.
"Yah, kita hanya perlu menunggu kan. Menunggu ada panggilan pekerjaan, selagi menunggu aku bisa mencari pekerjaan paruh waktu disekitar sini dulu. Tentu saja aku harus belerja agar bisa makan. Ayah ibu, aku sudah semakin dewasa dan aku akan menjadi gadis yang kuat demi kalian dan demi mereka yang masih menungguku."
Sementara itu saat Dongmin terbangun tiba-tiba dia sudah ada di atas tempat tidurnya. Dia mengejap-kejapkan matanya mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi semalam. Samar-samar dia ingat telah berbincang dengan seseorang. Sampai dia ingat semua yang terjadi."Hana." Dia berlari menuju kamar tamu yang biasa Hana tempati tapi dia tidak menemukan Hana, dia berlari lagi menuju dapur sampai kakinya terbentur meja dan berdarah tapi dia tidak bisa merasakannya.
"Dongmin, apa-apaan ini? Kenapa kau berlarian di dalam rumah?" Tanya bibi heran."Dan lagi kakimu berdarah Dongmin, apa kau tidak merasakannya?"
"Kau tadi clingak clinguk sebenarnya siapa yang kau cari adikk?" Tanya Ara sedikit penasaran.
"Hana, Hana dimana ibu?"
"Hana siapa Dongmin? Apa kau bermimpi?"
"Dia gadis...." Sepintas Dongmin ingat akan kata-kata Hana tentang hilangannya ingatan tentang keberadaannya dan hanya akan ada satu yang ingat yaitu dia yang mencintai Hana dengan sungguh-sungguh.
"Hei, Dongmin apa Hana pacarmu?" Tanya bibi penasaran.
"Paman punya pacar? Benarkah?"
"Aku ingat, aku ingat dia aku tidak melupakan dia, yey apa yang aku taktkan tidak terjadi." Dongmin bertroak kegirangan dan membuat keluarganya semakin heran dengan tingkahnya.
"Ada apa dengan dia?"
"Entahlah ayah, sepertinya dia baru dapat lotre."