Mr. Cha, wait me!

Mr. Cha, wait me!
Teman



Sudah 2 minggu berlalu sejak kepergian Hana, Dongmin masih memiliki semangat yang tinggi karena masih bisa mengingat semua tentang Hana. Meskipun rasa rindunya kepada Hana semakin hari semakin bertambah. Tapi semua keluarga masih melakukan aktifitas seperti biasanya, tanpa ada sedikitpun ingatan yang tersisa untuk Hana.


"Semua benar-benar lupa tentang Hana ya, rasanya agak sedikit kecewa. Tapi apa boleh buat, mungkin saat mereka bertemu Hana mereka bisa ingat dengan sendirinya. Memangnya kapan ya dia akan kembali?"


"Woi, ngapain kau ngomong sendiri nggak jelas kayak gini?" Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk punggung Dongmin.


"Kau, kok bisa ada disini?"


"Hei, kau nggak suka ketemu aku disini?"


"Bukan begitu, tapi ini kan berbahaya buatmu Sunghoo."


Yup, Sunghoo. Sekarang dia berteman dengan Dongmin, meskipun Sunghoo juga lupa akan keberadaan Hana. Tapi karena ada alasan Ara yang mengenalkan mereka, jadi mereka bisa mulai akrab seperti sudah lama saling kenal.


"Tenang dong Mr. Cha, sebenarnya aku ada acara di dekat sini dan saat aku mau beristirahat aku melihatmu duduk sendiri disini makanya aku kemari. Hanya sekedar menyapa."


"Kenapa jadi kebiasaan manggil seperti itu sih?"


"Gak tau juga sih, saat aku bertemu denganmu yang ada dipikiranku hanya nama itu tuh dan kayaknya aku juga pernah dengar ada yang memanggilmu seperti itu. Ehm, tapi cocok juga sih kau kan mirip seperti idol yang ganteng dan imut itu."


"A, apa? Ganteng dan imut?"


"Hei, tenang aku masih normal kok. Nggak mungkin lah kalau aku belok, aku kan cuma niruin orang-orang disekitarku yang mengidolkan dia."


"Memangnya kau nggak ganteng ya? Sampai orang-orang disekitarmu nggak ada yang mengidolakan Sunghoo sang super star."


"Ngeledek terus sih, udah ah aku balik dulu. Makasih ya kopinya. Dahh."


"Eh, kopiku sudah habis? Benar-benar deh anak ini."


Tiba-tiba saja mereka jadi sangat akrab seperti adik dan kakak. Memang sih ada sedikit ingatan tentang Hana, tapi tidak menjamin juga kalau Sunghoo akan kembali mengingat keberadaan Hana. Hanya ingatan yang muncul samar-samar seperti keluarga Dongmin yang lain.


Dongmin memang sekarang masih bersemangat untuk bekerja, dengan segala yang ditinggalkan Hana untuknya. Dongmin menyimpan foto Hana yang diambilnya diam-diam waktu dulu Hana masih berada di rumahnya. Entah kenapa hanya ada satu foto yang ada padahal dia mengambil banyak foto Hana, seperti stalker ya Dongmin. Ngeri deh. Dongmin sendiri merasa heran, tapi dia tetap bersyukur masih ada gambar dari wanita yang dicintainya. Ya meskipun gambar itu tidak terlihat dengan jelas, tapi bagi Dongmin wajah Hana tidak akan pernah terlupakan. "Aku harus mencetak foto ini, meskipun tidak terlihat dengan jelas tapi foto ini satu-satunya yang tertinggal oleh Hana. Hanya foto ini yang bisa mengobati rinduku, meskipun tidak terlalu jelas wajahnya." Dongmin selalu melihat foto Hana dulu sebelum tidur, seperti obat tidur untuk Dongmin. Dia akan merasa tertidur lelap karena ada foto Hana. Saat bangunpun Dongmin akan merasa kalau Hana masih ada didekatnya. Dengan banyak kesabaran yang dimiliki Dongmin, dia bisa bertahan tanpa adanya dia si pemilik hati di sampingnya.


Sedangkan di negri yang berbeda Fisya yang akan segera mengerjakan desainnya sendiri itu, hari pergi ke makam orang tuanya untuk berjiarah dan bercerita tentang semua yang dialaminya. Bertemu keluarga Kim dan kembali menjadi Fisya lagi. Juga diterima kerja di tempat yang sangat ingin dia masuki.


"Ayah ibu, sekarang aku tidak akan merasa kesepian lagi karena aku punya kalian dan juga mereka. Meskipun mereka tidak akan ingat akan keberadaanku tapi mereka masih ada di hatiku. Dan suatu saat nanti aku pasti akan kembali di tengah-tengah mereka dengan kondisi yang berbeda sebagai Fisya dan Hana yang baru. Dan ibu, sekarang aku diterima kerja di Butik MAH. Butik yang selalu ibu katakan di setiap cerita ibu, dan aku juga akan membuat sendiri desainku. Akhirnya semua yang aku impikan bisa terwujud satu persatu. Ayah ibu terima kasih karena sudah mau merawatku, mau memberikan pendidikan agama yang sangat luar biasa manfaatnya yang bisa aku petik sendiri. Sekali lagi terima kasih ayah ibu aku sangat menyayangi kalian. Aku akan kembali lagi."


Fisya pergi setelah banyak bercerita dengan kedua orang tuanya, tak lupa juga do'a-do'a dipanjatkan khusus untuk ayah dan ibunya. Hari ini dia bisa bersantai sejenak, karena pekerjaannya akan dimulai besok. Dia yang sedang sibuk menyiapkan pesta kecil-kecilan untuk dirinya sendiri. Merasa sedikit kesepian karena dia tidak mempunyai teman untuk berbagi makanan. Tapi akhirnya dia bagikan makanan yang sudah dia masak kepada orang-orang kurang beruntung yang dia temui di jalanan.


"Fisya? Elo Fisya kan?" Tiba-tiba terdengar suara yang memanggilnya dengan penuh penasaran.


"Siapa ya?"


"Benar elo Fisya kan?"


"Iya, lo siapa?"


"Elo lupa sama gue? Gue Budi yang dulu gendut banget, sampai semua orang bilang kalau buntelan bantal."


"Budi ya, sebentar deh apa elo Budi yang sering dipanggil anak-anak dengan sebutan Beruang kutub?"


"Kau ingat?"


"Ingatlah, elo salah satu anggota geng Rico kan?"


"Iya, elo ingat Rico juga ya? Gimana kabar lo sama Rico?"


"Kabar gue sama Rico? Maksudnya?"


"Dulu kan elo pernah ditembak Rico kan? Gimana jawabannya? Ya meskipun sudah sangat lama masa sih lo udah putus sama dia?"


"Lo ngomong apa sih? Gue nggak pernah jadian sama dia tuh."


"Eh, lo nolak dia?"


"Sebentar deh, bukannya lo temennya dia ya kok bisa nggak tau sih?"


"Ya karena gue pindah keluar negri sebelum dia nembak elo, jadi gue nggak tau."


"Nembak? Gue g pernah merasa ada yang nembak gue sih, setau gue dia cuma deketin gue dan gue juga ga pernah ngrespon dia. Udah gitu doang."


"Oh gitu ya? Ngomong-ngomong ngapain lo disini? Rumah lo sekitar sini?"


"Gue habis nemuain orang tua gue. Eh gue pergi dulu ya, ada urusan lain nih."


"Oke, senang bertemu sama elo. Semoga lain kali bisa ngobrol sambil minum kopi ya." Fisya meninggalkan Budi dengan tergesa-gesa karena dia ingat kalau dia harus menyiapkan diri untuk bekerja besok."Fisya, elo gak berubah ya dari dulu tetep cantik dan cuek.Bahkan perasaan gue sama elo pun dari dulu g pernah berubah. Hanya waktu yang tau tentang perasaan ini. Mungkinkah kita berjodoh? Seorang yang aku temui secara tidak sengaja saat aku baru datang kesini, kamu Fisya."