
3 bulan berlalu semenjak Hana meninggalkan Dongmin. Bukan, lebih tepatnya menghilang tanpa jejak. Huh sedih ya, pasti Dongmin tiap hari murung, pasti disekitar Dongmin selalu terlihat suram. Tapi sepertinya nggak deh, buktinya Dongmin masih bisa tersenyum masih bisa bercanda dengan keponakannya Baekhyeon.
"Paman, kau punya pacar ya?"
"Hei, anak kecil jangan tanya urusan orang dewasa dong!"
"Aku sudah besar."
"Dasar."
"Dongmin, apa kau punya pacar?"
"Nenek, kenapa nenek sama Baekhyeon bisa sama begini sih?"
"Kenapa katamu? Apa kau tidak tau kalau setiap malam kau mengigau memanggil seseorang?"
"Benarkah? Bagaiamana bisa aku tidak tau?"
"Kalau kau tau itu namanya bukan mengigau."
"Kadang kau benar-benar bodoh paman."
"Dasar anak kecil ini."
Dongmin seakan tidak menyadari bahwa dia sangat merindukan Hana. Bahkan dalam tidurpun Dongmin selalu menyebut nama Hana.
"Aduh, benar-benar melelahkan hari ini."
"Nenek, apa nenek sudah membelikan pesananku?"
"Iya sayang, semua yang kau pesan sudah nenek belikan."
"Kenapa ibu belanja malam-malam begini?"
"Karena Hyemin bisanya malam Dongmin."
"Bukannya noona masih diluar negri?"
"Dia sudah kembali tadi siang. Dia bercerita kalau dia bertemu seorang yang sangat berbakat."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Oh iya dia juga memberikan kita oleh-oleh dari sana. Sebuah kain, kata dia namanya 'kain batik'."
"Bahan mulu yang dicari noona."
"Iya dong dia kan penjahit. Tapi bagus lho kainnya. Coba ya kita semua bisa berlibur kesana, pasti seru deh."
"Tapi aku sama eomma kan mau pergi ke Paris nenek."
"Iya Baekhyeon sayang, nenek cuma berandai-andai saja kok."
"Hei bocah, yakin bakal betah disana?"
"Pasti dong, kan sama eomma."
Keluaraga mereka manjalani kehidupan tanpa adanya ingatan tentang Hana, padahal mereka sangat menyayangi Hana.
"Hana, sampai kapan lagi aku bisa menunggumu. Rindu ini begitu berat."
Setiap malam Dongmin selalu bergumam dengan dirinya sendiri, betapa dia sangat merindukan wanita yang saat ini tengah memenuhi seluruh hatinya.
Setiap pagi Dongmin selalu mengisi energi rindunya dengan melihat foto Hana dan sedikit berbincang dengan fotonya. Sungguh menyesakkan ya, tidak bisa bertemu dengan seorang yang dicinta dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.
"Pagi Dongmin!"
"Pagi nenek!"
"Apa tidurmu nyenyak semalam?"
"Ya begitulah, memangnya kenapa nenek?"
"Tidak apa-apa, hanya saja akhir-akhir ini setiap malam kau selalu mengigau Dongmin. Apa kau tidak apa-apa?"
"Iya nenek, aku hanya sedang merindukan seseorang."
"Apakah benar kau punya pacar?"
"Bukan pacar nenek, hanya sesorang yang aku sukai bukan mungkin sangat aku cintai."
"Kalau begitu kenapa kau tidak mengajaknya kemari? Perkenalkan kepada kami."
"Baiklah kalau begitu, temui dia dan katakan kalau kau merindukannya."
"Itu tidak semudah yang nenek pikir."
"Paman, ayo ke kebun kakek!" Tiba-tiba terdengar suara Baekhyeon yang sedang berlari-lari dalam rumah.
"Aku harus bekerja bocah. Dan lagi jangan berlari-lari dalam rumah!"
"Kau sama sekali tidak asyik paman."
"Pergi bersama nenek buyut Baekhyeon. Nanti biar pamanmu yang mengantar."
"Oke nenek buyut. Kalau gitu aku mau makan dulu."
"Dasar bocah, memangnya kenapa kau mau kesana? Tumben sekali."
"Hari ini ayahmu mau memanen hasil sayurannya Dongmin. Bukankah beberapa bulan yang lalu kau yang merawatnya saat ayah dan ibumu pergi ke Paris?"
"...." Dongmin ingat semua kenangan bersama dengan Hana. Dia tidak akan pernah bisa melupakan kenangan indah tersebut. Bahkan sayuran yang mereka berdua rawat pun bisa sangat subur."Kami memang merawatnya dengan baik."
"Apa maksudmu dengan kami Dongmin?"
"Eh?"
"Kau merawatnya sendirian Dongmin, bahkan dibantu orang lainpun kau menolak."
"Sendiri ya? Hehe, iya nenek aku lupa."
"Kau ini ada-ada saja. Cepat makan dan antar kami ke kebun ayahmu. Tadi ayah dan ibumu sudah berangkat dari pagi sekali."
"Ahh, iya nenek. Hei, bocah cepet dong makannya, mau aku tinggal sendiri di rumah."
"Huh, aku sudah selesai tuh. Nenek buyut aku ambil tas dulu ya?"
"Iya sayang."
Mereka bertiga mengendarai mobil Dongmin untuk pergi ke kebun. Baekhyeon sangat senang, tapi juga merasa gelisah karena sebentar lagi dia akan pergi ke Paris. Keberangkatan mereka tertunda karena padatnya jadwal Ara selama di negrinya sendiri.
"Nenek buyut, nanti aku pasti bakalan kangen sama nenek saat disana. Apakah nenek buyut mau ikut pergi ke Paris?"
"Tidak Baekhyeon, nenek sudah tua. Bagaimana mungkin nenek bisa bepergian ke tempat jauh apalagi naik pesawat terbang."
"Hei bocah, apa kau sudah belajar bahasa asing? Kalau kau tidak bisa bahasa asing mau bicara dengan siapa kau disana?"
"Paman, aku hanya akan bicara dengan eomma saja. Nanti kalau aku ada disana, aku tidak akan merindukanmu."
"Kau ini, baiklah aku juga tidak meridukanmu. Bahkan aku bisa bermain dengan semua mainanmu."
"Pamaaan, jangan coba-coba menyentuh mainanku!"
"Wah, apakah ini permintaan?"
"Nenek buyut cepat hentikan dia!" Sambil merengek Baekhyeon terus mengatakan kalau Dongmin tidak boleh masuk ke kamarnya dan memainkan mainannya.
"Baekhyeon, pamanmu kan sudah besar tidak mungkin dia suka bermain dengan mainanmu kan. Dan lagi sepertinya pamanmu akan sibuk sendiri selama kau tidak ada di rumah."
"Nenek, aku kan cuma sibuk bekerja kalau hanya untuk sekedar bermain di kamar Baekhyeon sih aku pasti akan ada waktu. Hehehehe."
"Paman, kalau kau berani bermain dengan mainanku aku akan menyebarkan rahasiamu kepada semua teman-temanmu."
"Rahasia apa? Aku tidak punya rahasia apapun tuh."
"Rahasia kalau suka mengigau setiap malam."
"Memangnya kau pernah melihat sendiri saat aku sedang mengigau?"
"Tidak, nenek buyut yang melihatnya."
"Baekhyeon Dongmin sudah, dari tadi kalian berisik sekali sih. Dan lagi Dongmin kau memutar lewat jalan mana sih? Ini kan sudah terlalu jauh."
"Hehe, maaf nek aku lupa jalannya."
"Aduh kau ini, makanya kau ini sudah waktunya untuk mengenalkan pacarmu kepada kami kan?"
"Apa hubungannya nenek, kenapa membahas itu sekarang?"
"Kalau kau punya pacar, ajak dia ke rumah dan kalau belum mending kau ikut perjodohan saja biar ibumu yang akan mengatur semua."
Dongmin terdiam, dia tidak bisa mengatakan apapun mengenai Hana. Kekasih hati yang sudah lama pergi dan belum juga kembali. Bahkan dia sendiri belum tau kapan Hana akan kembali. Kenyataan ini membuat Dongmin semakin frustasi dengan hidupnya. Apakah dia akan kembali? Apakah dia melupakan aku? Apakah aku masih ada dihatinya? Apakah aku bisa bertemu dengannya? Atau apakah aku harus mengikuti saran nenek tentang perjodohan? Semua pertanyaan itu selalu berputar-putar dikepala Dongmin. Membuatnya bingung dengan dirinya sendiri, seakan tidak ingin percaya akan kenyataan yang akan datang nantinya.