Mr. Cha, wait me!

Mr. Cha, wait me!
Baper



Mereka berdua pulang naik mobil Dongmin, tidak ada keluarga lain yang ikut menjemput karena Hana melarang mereka. Sesampai di rumah Hana disambut oleh semua keluarga, tak terkecuali Ara. Untuk kali pertamanya Ara senang saat melihat Hana berada dirumahnya.


"Selamat datang Hana!" Sambutan dari seluruh keluarga.


"Iya, terima kasih semua! Maaf merepotlan kalian dengan menyiapkan semua ini." Memang penyambutan Hana ini agak berlebihan, banyak bagian-bagian yang dihiasi dengan bunga. Juga banyak makanan yang sudah disiapkan untuk Hana.


"Tidak apa-apa Hana, ini semua tidak sebanding dengan apa yang kau lakukan keluarga kami." Jawab bibi.


"Bolehkah kita makan sekarang nenek? Aku lapar." Kata Baekhyeon dengan sesikit merengek.


"Wah, dasar anak kecil ini yang sabar dong!" Ucap Ara kepada anaknya dengan mengusap kepala anaknya.


"Eomma! Jangan acak-acak rambutku!"


"Iya sayang, Hehe."


"Wah, kalian sudah akrab ya?"


"Yah, semenjak kau di rumah sakit dia tidak ada teman jadinya aku yang harus menemani dia. Padahal jadwalku padat banget."


"Dasar anak ini, padahal tidak ada kerjaan diluar."


"Nenek, kenapa bicara seperti itu?"


"Sudah ayo makan dulu, Hana pasti lapar." Mereka makan bersama kali ini, dengan formasi yang lengkap. Hana memakan semua yang sudah dihidangkan, entah karena rindu dengan makanan dirumah atau memang sangat lapar.


"Hana pelan-pelan makannya!"


"Iya, kau seperti tidak makan beberapa hari saja."


"Eomma, di rumah sakit kan makanannya tidak enak."


"Hehe, maaf aku rindu masakan bibi jadi lahap makannya."


"Bukan karena kau sangat lapar kan?"


"Eh? Ahh, tidak eonni. Ini sangat enak. Hehe."


"Dongmin, apa kau tidak memberi Hana makan tadi pagi?"


"I,itu ayah, aku aku..."


"Aku sarapan kok paman, tapi memang makan dirumah sambil berkumpul begini yang sangat aku rindu. Jadi aku makannya sangat lahap."


"Iya Hana tidak apa-apa makan yang banyak ya. Biar kau cepat sembuh juga."


"Iya bibi."


"Apa ada pantangan buat makananmu?"


"Ahh, tidak bibi dokter bilang kalau aku bisa memakan apapun termasuk makanan pedas, karena lukaku memang sudah sembuh."


"Wahh, noona hebat ya. Jago berkelahi terus masuk rumah sakit langsung sembuh."


"Hehe, itu bukan berkelahi Baekhyeon tapi bela diri."


"Sama saja noona."


"Tidak sama Baekhyeon, berkelahi itu saat kita bertemgakar dengan orang lain. Tapi kalau bela diri itu saat kita diserang dan kita melindungi diri sendiri dari serangan tersebut."


"Ohh, eomma juga harus belajar bela diri."


"Eh, kenapa? Eomma kan punya kamu sayang. Jadi kalau eomma terluka kamu yang harus belain."


"Itu namanya malas eomma."


Mereka makan sambil bercanda ria, Hana merasa sangat bahagia karena bisa berkumpul dengan keluarga mereka lagi. Berada ditengah-tengah mereka adalah hal yang paling membahagiakan buat Hana. Dongmin sering sekali melirik Hana, mungkin dia merasa bersalah karena kejadian saat di rumah sakit. Membuat Hana kelaparan, bahkan Hana pun sengaja berbohong untuk membelanya. Setelah makan bersama, Hana pergi ke kamarnya untuk istirahat. Tapi sebelum Hana masuk Dongmin menghampirinya.


"Agassi," panggil Dongmin.


"Ada apa?"


"Kau masih marah?"


"Hei, aku tidak pernah berkata kalau aku marah padamu. Kenapa kau bertanya lagi?"


"Lalu kenapa tadi kau berbohong?"


"Iya." Sejenak Dongmin berdiri di depan kamar Hana dan kemudian pergi ke kamarnya.


Keesokan harinya Hana memulai beraktifitas seperti biasanya, bangun paling pagi kemudian menyiapkan bahan masakan untuk bibi. Hana merasa sangat sehat sekarang, mungkin bisa dikatakan kalau tidak terjadi apa-apa beberapa hari yang lalu. Semua peristiwa itu seperti terlupakan.


"Apa yang kau lakukan sepagi ini di dapur Hana?"


"Ahh bibi, aku melakukan seperti yang biasa aku lakukan. Aku sudah sangat sehat sekarang bibi, kalau aku hanya terus tidur aku akan semakin lemas."


"Iya Hana baiklah, kalau begitu kau jangan kerja terlalu berat dulu. Biar aku yang memasak semua, termasuk makananmu juga."


"Tidak bibi itu akan merepotkan bibi."


"Hei, kau itu pasien dirumah. Jadi harus menurut apa kata dokter."


"Hehe, siap dokter."


Untuk saat ini Hana hanya diperbolehkan untuk memotong-motong sayuran, bibi khawatir kalau Hana akan merasa sakit lagi kalau bekerja terlalu berat. Padahal keadaan Hana sangat sehat, semua luka Hana benar-benar sembuh. Tapi memang tidak ada yang tau tentang hal ajaib itu. Semua masakan sudah siap dan sudah dihidangkan dimeja. Seluruh keluarga pun sudah berkumpul di meja makan. Sarapan mereka berjalan seperti biasa, banyak canda tawa dan pujian akan masakan bibi.


"Dongmin, bagaimana perkembangan kasus penusukan Hana?"


"Semua sudah berlangsung ayah, pelaku sudah tertangkap bahlan otak dari kejadian pun sudah tertangkap."


"Apakah Hana perlu bersaksi dipengadilan."


"Harusnya iya ayah, tapi semua sudah diurus oleh pengacara jadi hanya aku yang akan bersaksi."


"Kenapa aku tidak boleh bersaksi?"


"Mengingat kondisimu kemarin, semua sudah dibereskan pengacara Oh."


"Iya Hana, lebih baik kau tidak lagi terlibat dengan orang jahat itu."


"Iya paman mungkin itu yang lebih baik."


Sarapan keluarga Kim sudah selesai, anggota keluarga yang bekerja segera pergi dan yang dirumah membereskan meja makan. Baekhyeon selalu mengekor kepada Hana, kanappun Hana pergi dia selalu ikut.


"Baekhyeon, kenapa kau terus mengikuti Hana?"


"Iya Baekhyeon, apa ada sesuatu yang mau kau bicarakan denganku?"


"Iya noona, banyk sekali yang mau aku ceritakn padamu."


"Bisa kau cerita sekarang?"


"Tidak noona, kau harus pergi ke kamaeku dulu."


"Baiklah kalau begitu, tunggu aku dikamarmu nanti aku kesana dan kita bisa bermain bersama nenek juga."


"Iya noona," pergo dengan senyuman yang sangat menyenangkan.


"Sepertinya dia merindukanmu Hana."


"Iya bibi, mungkin kemarin-kemarin dia ingin berbicara banyak denganku tapi dia malu kepada eommanya."


"Iya Hana, dia memang anak yang pemalu."


"Bagaimana dengan eonni bibi? Apakah eonni jadi berangkat ke Paris?"


"Belum tau Hana, kami dirumah ridak pernah membicarakan hal itu karena takut Baekhyeon akan marah lagi."


"Iya bibi aku mengerti. Baekhyeon akan sangat kecewa kalau eommanya harus berangkat ke Paris."


"Dia akan merasa tidak dibutuhkan sebagai anak dan sifat yang dulu akan kembali lagi."


"Apa tidak bisa kalau eonni mengajak Baekhyeon?"


"Harusnya bisa Hana, tapi melihat popularitas Ara sepertinya itu tidak mungkin."


"Sekarang yang terpenting adalah bagaimana Baekhyeon bisa menerima kalau Ara adalah seorang model yang banyak diidolkan orang."


"Iya Hana, Baekhyeon tidak mengerti akan hal itu. Yang dia tau hanyalah Ara adalah seorang ibu yang ahrus selalu ada untuknya."


"Lalu apa yang harus kita lakukan bibi?"