
Hari pertama Fisya bekerja. Dia sangat-sangat sibuk karena ini pertama kalinya dia harus menyiapkan dan membuat desain bajunya sendiri. Sangat menyenangkan tapi juga merepotkan. Ini tugas pertama Fisya, membuat karyanya sendiri tanpa bantuan dari siapapun. Mungkin ini termasuk ujian praktek yang harus dia jalani untuk benar-benar bisa diterima di butik tersebut. "Ahh, senangnya. Meskipun lelah tapi ini adalah kesempatan emas buatku." Gumam Fisya sambil bekerja. Bibirnya selalu mengembangkan senyum tipis. Sampai ada seorang pegawai yang memperhatikan dia terus.
"Anak baru, udah waktunya makan siang lho."
"Ahh, iya mbk terima kasih sudah diingatkan."
"Kamu rajin banget ya? Oh iya, kenalkan aku Sari."
"Aku Fisya mbak. Maaf dari tadi tidak sempat nyapa teman-teman yang lain."
"Nggak apa-apa kok, toh semua juga sibuk dengan tuganya masing-masing. Kamu dapat tugas buat baju dari desain kamu sendiri ya?"
"Iya mbak, apa semua juga diberi tugas yang sama seperti saya?"
"Nggak juga sih, sebenarnya bu bos lagi cari asisten ke tiga dan mungkin kamu yang cocok makanya beliau kasih tugas kayak gini."
"Oh, tapi kok asistennya banyak banget ya mbak?"
"Iya, bu bos butuh tiga asisiten handal dan semua juga sudah punya tugas masing-masing. Nanti kamu juga akan tau tugasmu. Emang bu bos belum jelasin?"
"Belum sih mbak, terus mbak ini juga asisten bu bos?"
"Iya, aku udah 2 tahun kerja disini. Dan alhamdulillah juga sih selalu bisa memenuhi standart asisten yang diminta bu bos. Kamu beruntung tau kalau sudah jadi asisten bu bos."
"Benarkah?"
Fisya banyak bercerita dengan Sari, tentang pengalaman dia selama bekerja di tempat lain. Dan juga pengalaman Sari selama bekerja dengan bu bos. Sari merasa sangat cocok dengan Fisya, karena Fisya menyenangkan dan nyambung diajak ngobrol.
"Haha, Fisya ternyata kau orangnya kocak juga ya. Semoga kau betah ya kerja disini!"
"Iya mbak terima kasih. Oh iya mbk, bu bos hari ini nggak kesini? Kok dari tadi aku nggak lihat dia?"
"Hari ini bu bos keluar sama Nela, asisten pertama. Entar kalau balik aku kenalin deh, dia orangnya asyik kok."
"Iya mbak."
"Mau sholat dulu? Bareng yuk!"
"Iya mbak aku ambil mukenah dulu."
Baru sebentar tapi mereka sudah terlihat akrab dan seperti teman dekat. Sebenarnya Fisya adalah orang mudah sekali bergaul dengan orang lain, hanya saja sering kali keberuntungannya malah menimbulkan iri pada orang-orang disekitarnya.
Sehari sudah berlalu, sudah waktunya pulang dan menutup butik. Tapi seakan Fisya tidak mau berhenti mengerjakan pekerjaannya, dia terus saja mengerjakannya tanpa peduli waktu dan orang-orang yang mengajaknya pulang.
"Hei, anak baru. Ini udah waktunya pulang lho."
"Ahh, Mbak Sari. Bentar lagi selesai kok mbak. Mbak udah mau pulang ya?"
"Iya nih capek banget hari ini, oh iya tadi udah ketemu Nela."
"Udah kok mbak. Mbak tunggu bentar ya aku mau bareng pulangnya. Aku beresin ini bentar."
"Iya aku tungguin kok, nyantai aja!"
"Woe, belum pada pulang nih?"
"Nela, ngagetin aja. Masih nunggu Fisya nih, tumben baru pulang jam segini?"
"Ada banyak tugas dari bu bos. Eh, makan dulu yuk di kafe depan! Laper nih, gue yang traktir deh."
"Beneran? Ajak Fisya boleh nggak?"
"Iya boleh, cepet gih gue tunggu di depan."
"Oke."
Tak butuh waktu lama untuk mereka bertiga sampai di kafe yang dimaksud Nela tadi, suasananya sedikit lebih rame dari biasanya dan Nela sudah punya tempat yang biasa dia duduki saat dia makan di kafe ini. Dia cari tempat di atas yang bisa lihat pemandangan lampu-lampu kota yang sudah menyala terang.
"Wah mbak pemandangan disini bagus banget."
"Baru pertama kali ya datang ke kafe ini?"
"Ini tuh kafe baru Sya, dan ini itu kafenya pacarnya Nela."
"Pacar pacar, siapa juga yang pacaran sama dia?"
"Bukannya lo naksir Joni, pemilik kafe indah ini?"
"Wah, beneran tuh Mbak Nela? Pasti ganteng deh orangnya, Mbak Nela kan cantik."
"Bisa aja lo puji-puji gue, sebenarnya bukan gue yang naksir dia tapi sepupu gue. Dan Joni ngiranya gue yang naksir dia. Standart tipe cowok gue tinggi lo."
"Emang kayak gimana Nel?"
"He'em, aku juga jadi penasaran deh mbak."
"Etdah, baru kenal tadi siang juga udah sok kenal lama lo Sya."
"Ya kan biar tambah akrab mbak, masa nggak boleh sih. Aku kan jadi sedih."
"Iya-iya, nggak bisa gue lihat yang kayak gini."
"Nela itu kakak semua pegawai Butik MAH lho Sya, jadi kalau ada orang yang gangguin kamu, kamu bisa bilang sama dia."
"Emang gue body guard."
Wahahahahahahaha
Mereka tertawa dan bercanda bertiga disana, suasananya rame banget karena canda tawa mereka. Sampai ada seorang lelaki yang menghampiri mereka dan meminta nomor telepon Sari, dengan malu-malu Sari menolak lelaki itu."Maaf ya, tapi aku udah punya pacar." Lelaki itu kemudian pergi dan ketiga cewek tersebut melanjutkan obrolan mereka lagi.
"Eh, Fisya rumah kamu jauh dari sini?"
"Lumayan mbak, kenapa?"
"Kamu naik bis pulangnya?"
"Aku pulang naik ojol kok mbak, kenapa mau nganterin aku?"
"Iya nggak papa, sekalian nganter si Sari ke rumah pacarnya. Hehe."
"Apaan sih Nel, godain aja deh."
"Lagian lo sih Sar, udah putus juga masih bilang punya pacar. Kan kasihan cowok yang tadi."
"Ya kan nggak semudah itu lupain mantan Nel, meskipun mantan buruk sih. Hehe. Kalau kamu gimana Sya?"
"Gimana apa mbak?"
"Pacar, kamu punya pacar kan?"
"Pacar ya, bukan pacar sih mbak mungkin lebih tepatnya orang yang spesial buat aku."
"Tuh Nel Fisya juga punya lho orang spesial, masa kamu nggak punya?"
"Sendirinya juga lagi nggak punya, gue mah orangnya bebas euy santuylah kalau jaman sekarang mah."
"Kelamaan santuy entar jadi perawan tua lho. Wahahaha."
"Sialan lo, yuk ah pulang mumpung Joni belum datang. Entar ribet lagi kalau ketemu dia. Lo nggak usah pesan ojol Sya, gue anterin aja."
"Tapi jauh lho mbak."
"Udah nggak apa-apa, entar kalau gue kecapekan gue nginep aja di rumah elo."
"Beneran mbak?"
"Eh, seneng banget lo kayaknya ada yang mau nginep di rumah elo."
"Pastilah mbak."
Mereka bertiga pulang, Nela akan mengantar Fisa dulu karena rumah dia paling jauh, dan rumah Sari sangat dekat dari rumah Nela jadi dia ada buat pulangnya. Seketika mereka bertiga menjadi teman, sesuatu yang sangat dinantikan Fisya memiliki teman.