Mr. Cha, wait me!

Mr. Cha, wait me!
Saranghae



"Apa ada yang aneh dengan Hana?"


Ara bertanya tentang Hana, sepertinya Ara mencurigai tentang sakitnya Hana.


"A, apa maksudmu noona?"


"Semalam Baekhyeon mengigau, dalam tidurnya dia terus-terusan menyebut noonanya itu. Sambil sesenggukkan dia berkata 'Jangan pergi noona, jangan pergi tinggallah disini! Jangan tinggalkan aku!' Dia terus berkata seperti itu. Aku jadi sedikit takut kalau-kalau kondisi Hana semakin buruk."


"Huh, tidak noona. Dia semakin sehat saat ini, tapi banyak hal janggal yang tidak bisa aku mengerti,,, atau lebih tepatnya tidak mau aku mengerti."


"Aku tidak akan menanyakan apa itu Dongmin? Hanya saja, jangan sampai terlarut dalam masalah ini. Bahkan sampai sekarangpun aku masih belum bisa memahami kondisi kita sekarang."


"Ini memang sulit untuk dipahami noona."


"Semuanya terjadi begitu tiba-tiba. Oh iya, apa kau sudah mengatakannya?"


"Mengataka apa?"


"Aish, tentu saja perasaanmu apa lagi?"


"Hehe, sudah noona."


"Hasilnya?"


"Itu tidak penting noona, yang terpenting sekarang adalah waktu yang diminta dia untuk bersama kita."


"Apa maksudmu Dongmin?"


"Iya noona, dia akan pergi."


"Pergi? Pergi kemana, apa yang sebenarnya kau bicarakan sih?"


"Nanti noona juga akan tau apa maksudku."


Dongmin meninggalkan noonanya di luar sendiri sambil berfikir tentang kata-kata Dongmin yang sangat membuatnya bingung.


"Dongmin, apa kau sedang cuti kerja?"


"Iya ayah, aku cuti sampai kalian sembuh."


"Hei, jangan cuti terlalu lama! Bagaimana dengan pekerjaanmu? Lagi pula kami juga akan segera sembuh, dan Hana pun juga mulai pulih sekarang."


"Iya ibu, aku akan mengurusnya."


"Hana, bagaimana keadaanmu sekarang?"


"Baik nenek, sangat baik."


"Benarkah? Apa sudah boleh pulang?"


"Kata dokter belum boleh nenek. Mungkin secepatnya."


"Noona, aku mau bermain denganmu." Rengek Baekhyeon kepada Hana.


"Hei Baekhyeon, noonamu kan masih sakit." Jawab Ara.


"Tapi eomma, noona selalu saja sakit. Padahal noona tidak pernah makan apapun yang bisa membuatnya sakit."


"Hm, Baekhyeon aku sakit bukan karena makanan. Tapi aku sakit memang karena sudah waktunya untukku sakit. Sakit ini bukan beban Baekhyeon, orang tuaku pernah berkata kalau kita sakit itu tandanya Tuhan sayang pada kita."


"Kenapa?" Tanya Baekhyeon dengan polosnya.


"Karena Tuhan ingin kita untuk beristirahat sejenak dari aktivitas kita, supaya kita lebih bisa menghargai dan menjaga tubuh kita sendiri."


"Oh, kalau begitu aku juga ingin sakit."


"Hei, kau tidak boleh berkata seperti itu. Kau harus selalu bersyukur karena sudah diberi kesehatan. Tuhan memberikan kita sakit untuk menguji kita, dari ujian itulah kita tau kalau Tuhan sayang kepada kita."


"Iya noona, sekarang aku mengerti. Tapi aku mau main sama noona."


"Nanti kalau noonamu sudah pulang Baekhyeon."


"Huh, baiklah nenek buyut."


Baekhyeon, Ara, dan nenek pullang saat sore hari. Dan itu membuat Dongmin kembali mendapat kesempatan untuk berdua bersama Hana.


"Apa kau mau bertemu seseorang?"


"Siapa?"


"Sunghoo?"


"Oh, kenapa aku harus bertemu dengan dia?"


"Bukankah kau pernah menyukainya?"


"Eh, ka-u cemburu ya? Hihihi."


"A, apa maksudmu? Siapa yang cemburu?"


"Hei, aku hanya bercanda kenapa kau jadi gugup seperti itu?"


"Aku tidak gugup, aku hanya hanya..."


"Kau hanya cemburu iya aku tau."


"Lagi pula kan wajar saja kalau kau cemburu."


"Maksudku bukan seperti itu, bukannya kau sendiri yang bilang kau akan pergi. Apa kau tidak mau berpamitan dengan teman pertamamu disini?"


"Bagaimana kau tau?"


"Teman pertama? Bukankah kau tidak punya siapa-siapa disini kecuali kami, dan dia bukan anggota keluarga kami, jadi dia adalah teman pertamamu kan?"


"Iya kau benar, memang dia adalah teman pertamaku tapi bukan hanya disini saja. Bahkan dia adalah teman pertama dihidupku, dan kau adalah cinta pertamaku. Ahh, aku jadi malu. Tapi aku pasti bukan cinta pertamamu kan?"


"Aku berharap kau adalah cinta terakhirku."


"Apakah aku bisa berharap seperti itu?"


"Kenapa tidak?"


"Entahlah, aku hanya bisa berharap untuk saat ini. Oh iya, aku hampir lupa mau bilang kepadamu."


"Apa?"


"Sebenarnya aku tidak pernah menyukai Sunghoo sebagai pria dewasa, aku menyukai dia sebagai teman."


"Iya aku tau, aku tau kalau kau hanya mencintaiku."


"Wah kau percaya diri sekali ya? Tapi apa kau memang tidak cemburu kalau aku bertemu Sunghoo?"


"Dulu mungkin iya, aku cemburu saat melihatmu dengan dia tapi sekarang tidak lagi."


"Kenapa?"


"Karena aku percaya padamu, percaya pada hatimu."


"So sweet, kau tidak perlu khawatir. Aku akan selalu menjaga hatiku untukmu. Hehe."


"Aku akan menghubunginya sekarang."


"Kau punya nomornya?"


"Tidak, kau kan punya."


"Tapi handphoneku dimana?"


"Kemarin noona membawanya dan menaruhnya di laci nakas sebelahmu. Coba bukalah!" Hana membuka lacinya dan menemukan handphonenya.


"Apa kau sama sekali tidak mengecek handphoneku?"


"Tidaklah, itu kan handphonemu. Bagaimana mungkin aku bisa melihat-lihatnya."


"Disini banyak sekali panggilan dari Sunghoo juga banyak chat darinya."


"Dia perhatian sekali ya padamu. Cepat sini kasih nomonya dia!"


"Kok jadi ketus gitu, tadi katanya percaya?"


"Percaya kan padamu, kalau sama dia siapa yang tau hatinya."


"Yang terpenting kan hatiku."


"Iya deh iya, aku coba telepon dia dulu."


"Oke."


Dongmin menelepon Sunghoo meminta dia untuk datang ke rumah sakit dan menemui Hana, saat Sunghoo mendengar kalau Hana ada di rumah sakit dia langaung bergegas untuk menemui Hana. Dan disinilah dia sekarang duduk di sebelah ranjang Hana.


"Kenapa baru sekarang kalian menghubungiku?"


"Karena hanya aku yang tau nomormu dan tidak ada yang berani membuka handphoneku."


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu?"


"Maaf, aku akan keluar dulu sebentar." Dongmin meminta ijin untuk keluar agar Hana bisa berbicara dengan Sunghoo.


"Iya. Aku tidak sakit Sunghoo, aku hanya lemah saja kurang tenaga."


"Memangnya kau bekerja sangat keras sampai harus kekurangan tenaga dan masuk rumah sakit?"


"Tidaklah, aku malah terlalu santai berada disini. Memang ada sebuah alasan kenapa aku berada disini, tapi kau tidak perlu khawatir aku baik-baik saja kok. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku."


"Aku memnag sangat khawatir kepadamu, sudah beberapa hari kau tidak ada kabar bahkan chat atau teleponku tidak ada yang kau jawab. Aku terus kepikiran sampai aku tidak konsentrasi saat bekerja."


"Maaf dan terima kasih sudah perhatian padaku selama ini."


"Apa kau tidak menyadari perasaanku selama ini?"


"Perasaan? Aku tau aku menyadarinya, tapi bagaimana aku bisa membalasnya? Sementara selama ini aku menganggapmu sebagai sahabatku juga kakakku."


"Apakah perasaan ini tidak berbalas?"


"Maaf, tapi aku tidak bisa menyakitimu lebih dalam lagi."


"Iya aku tau, aku sangat bersyukur bertemu gadis seperti dirimu. Kau selalu berkata jujur, itu yang aku suka darimu. Meskipun kau tidak menyukaiku sebagai seorang pria setidaknya kau masih menganggapku spesial sebagai seorang sahabat. Terima kasih!"