
Hanya butuh waktu 30 menit untuk Dongmin dan Hana sampai rumah, perjalanan dari toko kue Jiseok memang tidak terlalu lama. Hana membawa pulang sisa kue yang dibuatnya tadi. Sesampainya dirumah mereka langsung menuju ke kamar nenek. Karena takut ketahuan ibu telah membawa paperbag yang berisi hadiah.
"Nenek, coba cicipi kue ini!" Minta Hana kepada nenek.
"Kau beli kue Dongmin? Kenapa sudah berkurang begini?"
"Ini kue buatanku nenek, aku mencoba membuat kue di toko milik temannya Dongmin."
"Baiklah aku akan mencicipinya," nenek mengambil secuil kue tersebut dan dimakannya. "Ini enak, ternyata kamu memang pandai memasak ya."
"Aku sering melakukannya dulu nenek, dan hanya perlu belajar lagi. Oh ya aku hampir lupa, memangnya hari jadi paman dan bibi kapan?"
"Dongmin tidak memberitahumu?"
"Dia tidak bertanya."
"Iya nenek aku tidak bertanya karena lupa tadi."
"Lusa Hana, makanya aku meminta tolong kalian untuk mengambilnya hari ini."
"Lusa ya?"
"Kau tidak perlu memberi apa-apa Hana, bukannya kau tidak punya uang. Kau selalu menolak uang pemberian pamanmu kan?"
"Ah, iya nenek karena aku tidak pernah keluar juga kan. Jadi belum butuh uang."
"Kalau begitu biar nenek ber uang kalau kau mau memberi hadiah, bagaimana Hana?"
"Tidak nenek, aku mau membuat kue saja buat mereka biar terkesan lebih menghormati karena kalian sudah banyak membantuku."
"Kau berlebihan Hana."
"Hehe, tapi ada sesuatu yang masih aku belum kuasai."
"Iya, memang dekorasi kuemu buruk."
"Dongmin, jaga bicaramu!"
"Ahh, dia memang benar nenek. Memang cara menghias kueku sangat tidak bagus."
"Coba belajar disutup, cari video cara menghias kue!"
"Iya memang aku harus belajar banyak dari sutup. Baiklah, kalau begitu aku ebali kekamarku dulu."
Hana banyak melihat video tentang menghias kue. Dia juga memikirkan kapan waktu yang tepat untuk membuat kue, karena bibi akan selalu ada dirumah seperti biasa. Dikeluarga ini, saat ada perayaan apapun mereka tidak akan kemana-mana kecuali untuk bekerja, mereka hanya akan merayakannya dirumah saja. Bersama keluarga mereka saja. Hana sudah memutuskan akan membuat kue saat semua orang sudah tidur.
Waktunya tiba, semua orang sudah tertidur. Meskipun sudah sangat larut, tapi Hana sangat bersemangat untuk membuat kue. Beberapa jam berlalu, Hana sudah memanggang kuenya dan tinggal menunggu kuenya matang, sementara itu Hana dengan menahan kantuknya mencoba melihat lagi video untuk menghias kue. Tit,tit,tit. Kue Hana matang, kue Hana matang dan segera mengambilnya dari oven. Hana membiarkan kuenya dingin kemudian baru menghiasnya. Waktu sudah hampir subuh, kue Hana selesai dihias, meskipun belum terlalu terlihat bagus. Tapi hasilnya sudah lumayan dari kemarin. Hana meletakkan kue di dalam lemari es yang jarng sekali dibuka bibi. "Ahh, lelahnya. Lebih baik aku tidur dulu sebelum subuh. 30 menit Hana tertidur, kemudian bangun dan sholat. Tapi setelah sholat dia tertidur lagi.
"Tumben ya Hana belum keluar kamar, apa dia masih tidur?"
"Menantu coba kau lihat dia dikamarnya!"
"Iya ibu." Bibi menghampiri Hana dikamarnya. Sementara itu dimeja makan Dongmin juga mencari Hana.
"Mana si agassi? Didapur juga tidak ada."
"Hana belum keluar dari kamarnya sejak pagi, entah kenapa apa dia sedang sakit?"
"Tidak mungkin nenek, mungkin semalam dia tidak tidur."
"Kenapa dia tidak tidur."
"Entahlah nenek, kan mungkin." Sementara itu di kamar Hana bibi terkejut setelah membuka pintu, Hana tertidur dilntai dengan masih menggunakan mukenahnya.
"Hana, bangun nak. Apa kamu sakit? Kenapa tidur dilantai? Ini dingin Hana."
"Maaf bibi, aku ketiduran. Ah, aku tidak membantu bibi memasak ya? Maaf bibi, maaf aku tidak mengira akan ketiduran sampai sesian ini."
"Tidak apa-apa Hana, sekarang gantilah baju kemudian ayo sarapan. Semua sudah menunggu diluar."
"Iya bibi."
Semuanya sudah berkumpul, termasuk Ara juga. Mereka berkumpul untuk sarapan, Ara merasa senang karena hari ini dia tidak ada kerjaan. Senang juga karena bisa merayakan hari pernikahan ayah dan ibunya lagi. Tapi rasa bahagia Ara tidak pernah diperlihatkan.
"Hana, hari ini bantu bibi memasak dan bikin kue ya?"
"Iya bibi."
"Nggak bisa dong, hari ini agassi udah ada janji denganku."
"Dongmin, memangnya kalian mau kemana?"
"Pasti mau kencan." Jawab Ara asal.
"Noona ini, kencan terus yang dibicarain. Kemarin aku pesan kue dan mau mengambilnya sekarang."
"Baekhyeon, kencan sama ibu yuk!"
"Nggak mau, jangan sok akrab dong!"
"Aduh anak kecil ini, benar-benar tidak sopan ya?"
"Aku ini sudah besar, ahjumma saja yang masih kecil."
"A, apa? Ahjumma, kau memanggilku ahjumma."
"Iya ahjumma." Baekhyeon masih mengatakannya dengan ekspresi yang datar.
"Benar-benar anak ini ya, dasar!"
"Baekhyeon, kenapa masih tidak sopn begitu? Minta maaf kepada ibumu dan panggil di ibu!"
"Tapi kakek.."
"Baekhyeon...!!"
"Maaf eomma."
"Jangan berlebihan!"
"Kau ini, dasar anak kecil."
Setelah sarapan Hana dan Dongmin pergi untuk membeli lipstik yang akan dia berikan kepada ibunya. Dalam mobil Hana langsung tertidur, sesaat setelah mobil melaju ke jalan raya.
"Anak ini kenapa sih, tidur mulu. Ya udah deh bangunin nanti saja kalau sudah sampai mall."Perlu waktu satu setengah jam untuk bisa mencapai mall, karena jalannya lumayan macet. Mereka sudah sampai diparkiran mobil.
"Agassi, bangun kita sudah sampai."
"Emh, aku ketiduran ya?" Sambil mengerjapkan matanya.
"Sudah sejak kita keluar rumah."
"Wah, benarkah? Maaf ya, semalam aku begadang buat kue. Jadi aku kesiangan dan tidur mulu deh."
"Udah gak apa-apa, yuk masuk. Kau sudah tanya ibu lipstik favoritnya kan?"
"Udah kok, bahkan aku rekam kata-kata bibi saat berbicara tentang lipstik kesukaannya."
"Ayo masuk dan cari lipstiknya!"
"Oke."
Mereka masuk dan segera mencari toko make up. Setelah menemukannya, kemudian memilih-milih yang memang favorit bibi.
"Mr. Cha, kau yakin lipstiknya yang ini?"
"Bukannya kau perempuan juga, kenapa tidak mengerti mengenai make up?"
"Hehe, karena aku tidak suka bermake up. Tanya spg-nya saja, yang cantik disana itu."
"Iya. Permisi nona," Dongmin melambai kepada spg cantik yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?"
"Iya, saya mau mencari lipstik. Yang gambarannya seperti rekaman dihape ini." Hana memperdengarkan rekaman suara bibi, dan dengan sekali dengar spg itupun langsung mengerti.
"Aah, iya saya mengerti. Biar saya ambilkan barangnya."
"Iya terima kasih."
"Dari tadi kek tanyanya."
"Ya siapa tau kalau kau sendiri tidak mengerti tentang make up. Kau juga tidak bilang."
"Maaf, tapi kau juga tida bertanya."
"Sudah, dia sudah datang."
"Ini lipstik yang dimaksud suara rekaman tersebut, merk dan warnanya sudah sesuai. Apa mau dicoba dulu?"
"Ah, tidak usah. Tolong dibungkuskan yang rapi ya, karena ini buat hadiah."
"Baik, agassi. Silahkan bayar dikasir."
"Iya."
Drtt, drtt,drtt . Tiba-tiba hape Dongmin bergetar. Pertanda ada panggilan masuk. Dongmin mengangkat telpon sementara Hana menunggu sambil melihat-lihat alat-alat make up. Kemudian Dongmin kembali dan membayar barang yang dibelinya.
"Langsung pulang kan?"
"Tidak, kita harus ke restoran yang ada disebrang jalan. Aku mau bertemu dengan klien sebentar."
"Aku juga ikut?"
"Bisa pulang sendiri?"
"Bisalah kalau naik taksi."
"Cuma sebentar ikut aja!"
"Ahh, iya-iya."
Tidak lama kemudia mereka keluar dari restoran tersebut. Hana banyak senyum, karena di restoran tersebut diaakan banyak tteobokki, makanan favoritnya.
"Seneng banget?"
"Iya dong, kan habis makan tteobokki. Udah pedas enak lagi. Mantul deh pokoknya."
"Dasar rakus."
"Biarin, yang penting kenyang."
"Eh, ngomong-ngomong kuenya kau taruh dimana kok dilemari es gak ada."
"Ada kok, aku taruh dibagian atas."
"Kenapa?"
"Karena bibi jarang sekali buka lemari es yang atas, jadi disitu aman."
"Oh, emang iya?"
"Iya lah, aku kan sering memasak sama bibi. Udah yuk pulang, kasian kalau bibi masak sendiri."
"Nggak akan sendirian kok."
"Emang masak sama siapa?"
"Noona dirumah kan."
"Eh, eonni emang mau bantuin?"
"Dipaksa mau kok."