
Semua makanan sudah tersaji di meja, tidak lupa susu untuk Baekhyeon dan Hana. Semenjak Baekhyeon berteman dengan Hana, setiap pagi dia selalu minta disiapkan segelas susu yang sama dengan noonanya. Hana sudah sangat terbiasa sarapan dengan tambahan susu. Sementara Baekhyeon, sebelum dekat dengan Hana dia sama sekali tidak pernah menyukai susu. Hana benar-benar membawa dampak positif buat Baekhyeon.
"Hari ini kau tidak perlu pergi ke kebun, biar aku saja yang kesana." Dongmin membuka obrolan.
"Kenapa? Aku bisa membantumu."
"Kau pulihkan saja dirimu dulu."
"Tapi aku sudah sehat."
"Iya Hana, kau istirahat saja dulu. Biar Dongmin yang mengurus kebun."
"Lagian suka banget sih kerja di kebun ayah, kotor juga." Sela Ara yang tiba-tiba datang.
"Harusnya tuh eomma yang bantu paman buat mengurus kebun kakek." Kata Dongmin dengan mimik datarnya.
"Anak kecil ini, ikut-ikutan aja."
"Oke, sudah dipastikan kalau noona akan membantuku mengurus kwbun hari ini."
"Eh? Bagaimana bisa kau memutuskan tanpa bertanya dulu padaku?"
"Karena aku tau noona hari ini libur, dan dari pada bermalas-malasan lebih baik ikut ke kebun buat olahraga juga."
"Nggak, nggak bisa. Hari ini aku mau tidur sepuasnya dirumah."
"Eomma badanya terluhat gemuk ya?" Masih berkata dengan wajah datarnya, padahal bisa menimbulkan bom meledak.
"APA?? Oke hari ini aku ikut, aku akan berlari kesana kau pakai mobil saja. Bibi Jung tolong buatkan aku salad, hari ini aku tidak akan makan nasi dulu."
"Eonni, Baekhyeon hanya bercanda."
"Tidak, aku harus membuat diriku lebih terlihat seksi lagi."
"Eonni, bagaimana kalau eonni sakit?"
"Tidak akan, aku sudah terbiasa makan salad untuk sarapan."
"Bagus eomma, biar badannya kurus. Semangat!!" Bahkan memberi semangat untuk ibunya pun dengan ekspresi datar dan masih sibuk dengan makanannya. Apa benar dia anak Ara yang banyak sekali memiliki ekspresi diwajahnya.
Saat waktu sudah mwnunjukkan sore hari, Dongmin benar-benar tidak menjemputnya. Sementara Ara sudah berangkat tadi dengan membawa sepeda, tadi katanya mau lari aja. Menurut Ara kalau dia lari maka akan ada orang yang mengenalinya, sedangkan kalau dia bersepeda setidaknya dia bisa memakai masker tanpa ngos-ngosan.
"Dasar eomma, pinter banget cari alasan buat pakai alternatif lain."
"Ada apa Baekhyeon?"
"Eomma memakai sepeda untuk pergi ke kebun kakek."
"Eonni sudah berangkat?"
"Sudah noona dari tadi."
"Kenapa tidak mengajakku?"
"Paman kan sudah bilang kalau noona tidak boleh ikut."
"Iya sih, tapi kan aku juga ingin membantu mereka."
"Lebih baik kau istirahat saja dulu Hana." Jawab nenek yang tiba-tiba muncul."Biarkan tubuhmu benar-benar fit dulu, apa kau lupa kalau belum lama ini kau menjalani operasi?"
"Iya nenek aku ingat."
"Meskipun kau sudah terlihat sembuh, belum tentu luka itu benar-benar sudah kering kan? Kau istirahat saja dulu hari ini, besok kalau memang kau memang sudah benar-benar fresh kau bisa ikut membantu Dongmin lagi."
"Iya nenek, aku akan merefreshkan diri dulu."
"Kalau begitu ayo bermain denganku noona!"
"Hei Baekhyeon bukankah kau sudah mendengar apa yang nenek buyut dan noonamu ini katakan? Dia mau merefreshkan dirinya dulu, biar dia beristirahat dulu."
"Ahh, iya baiklah."
"Kalau begitu aku akan ke kamar untuk istirahat nenek."
"Iya nak silahkan!"
Hari sudah malam, Ara dan Dongmin sudah kembali dari kebun. Makan malam pun sudah tersaji di meja makan, tapi Hana masih belum keluar dari kamarnya. Tidak ada yang tega membangunkan Hana, sedangkan Dongmin terus bertanya kepada Bibi Jung apakah Hana sudah terlihat sehat hari ini?
"Tuan, Hana hari memang terlihat lebih sehat dari kemarin. Dia sebenarnya ingin membantu kalian di kebun, tapi nenek melarangnya dan kemudian dia ketiduran sampai sekarang. Nenek pun tidak tega untuk membangunkan dia."
"Baiklah kalau begitu, Bibi Jung kalau dia sudah bangun dan makan nanti tolong berikan obat ini untuk dia." Memberikan sebungkus obat kepada Bibi Jung.
"Maaf tuan, tapi untuk apa obat ini?"
"Itu hanya vitamin, bisa dikonsumsi setiap hari."
"Baik biar nanti saya berikan."
Beberapa menit setelah semua berkumpul di meja makan, Hana keluar dan bergabung dengan yang lain.
"Maaf, aku tidak membantu kalian malah aku tertidur di kamar sampai jam segini. Maaf nenek!"
"Tidak apa-apa Hana, bagaimana badanmu sekarang apa sudah lebih fit?"
"Iya nenek,aku sudah sangat fit karena seharian ini aku hanya istirahat saja."
"Ahh, bolehkah?"
"Bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau sudah lebih fit, berarti kau sudah bisa bekerja di kebun."
"Iya kau benar, karena ku pikir kau hanya bercanda makanya aku memperjelas."
"Aku tidak bisa kalau harus terus bekerja bersama noona."
"Hei Dongmin aku tadi sudah membantumu mengurus bunga-bunga ayah kan?"
"Tapi noona tidak menyelesaikannya dan malah sibuk dengan kamera handphondnya noona. Semua aku yang mengerjakan."
"Kau ini, menyebalkan sekali."
"Ternyata eomma hanya beralasan membanymtu paman? Bagaimana noona bisa terlihat kurus kalau noona bermalas-malasan." Dengan wajah datarnya.
"Baekhyeon, kau hanya menggodaku kan biar aku mau pergi ke kebun?"
"Apa bedanya eomma pergi atau tidak."
"Hei, sebenarnya umurmu berapa sih? Pedes banget kata-katanya."
"Tapi dia benar noona."
"Dasar. Hana besok kau saja yang bantu Dongmin, aku banyak kerjaan."
"Iya eonni."
Percakapan makan malam mereka selesai, kecuali Hana dan Bibi Jung semua kembali ke kamar masing-masing. Hana membantu bibi membereskan meja makan. Setelah j
itu Bibi Jung memberikan obat yang diberikan Dongmin tadi.
"Hana,munimlah obat ini!"
"Ini obat apa bibi?"
"Ini vitamin untu stamina tubuhmu."
"Wah, terima kasih bibi. Bibi sudah repot-repot membelikan aku vitamin ini."
"Bukan aku Hana, tapi Tuan Dongmin."
"Mr. Cha?"
"Siapa em mis, apa itu tadi?"
"Eh tidak, maksudku Dongmin. Apa benar Dongmin yang beli ini? Kenapa tidak langsung diberikan kepadaku?"
"Entahlah Hana, kau bisa menanyakannya sendiri."
"Iya bibi, nanti aku akan bertanya kepadanya dan berterima kasih."
"Sekarang istirahatlah Hana, biar aku yang membereskan semua."
"Apa tidak apa-apa bibi?"
"Tidak Hana, pergilah istirahat! Bukankah kau mau menemui Tuan Dongmin?"
"Ahh, iya aku hampir lupa. Baiklah bibi aku akan menemui dia dulu."
Kemudian Hana pergi ke kamar Dongmin.
Tok tok tok. Ceklek.
"Ada apa?"
"Terima kasih."
"Buat apa?"
"Vitamin ini, terima kasih sudah peduli padaku!"
"Peduli apanya, i, itu tadi aku dibelikan temanku dan aku pikir aku tidak terlalu butuh jadi aku berikan padamu."
"Ahh, benarkah? Tidak apa-apa sih yang penting benar buatku kan?"
Drrrt, drrrrt,drrrrt..
"Handphonemu bergetar."
"Ahh, iya ada telepon dari Sunghoo, tapi biarkan saja mungkin dia mau bercerita tentang hari ini saja."
"Diangkat saja, kau sudah tidak ada perlu lagi kan denganku?"
"Sebenarnya aku mau membuatkan coklat panas buatmu sebagai tanda terima kasih, tapi kalau kau sudah mengantuk dan mau tidur aku akan membuatkannya lain kali saja. Kalau begitu selamat malam semoga mimpi..."
"Aku masih belum ngantuk, a, aku masih mau makan camilan."
"Kalau begitu biar aku biatkan coklat panas dan membawa camilan untukmu." Mengembangkan senyumnya.
"Aku tunggu di taman belakang."
"Oke." Hana pergi ke dapur, sementara Dongmin malah senyum-senyum sendiri di depan kamarnya.