Mr. Cha, wait me!

Mr. Cha, wait me!
Nyawa ketiga 3



"Tugasku selesai, misiku berhasil."Kalimat itu tertanam dibenak Hana.


Hana sudah bangun pagi sekali, melaksanakan kewajibannya meskipun di atas ranjang. Tapi hari ini Hana sabgat sehat, ingin sekali dia berjalan-jalan keluar. Saat sanga fajar sudah menampakkan sinarnya, dan Dongmin yang menunggu Hana sudah bangun. Hana meminta Dongmin untuk membawanya keluar dan menikmati indahnya dan hangatnya matahari terbit.


"Apa kau sudah lebih baik sekarang?"


"Iya, aku merasa sangat sehat hari ini."


"Baiklah aku akan mendorongmu keluar."


"Terima kasih."


Bibir Hana selalu menampakkan senyum disetiap perjalanannya untuk keluar dan melihat matahari terbit.


"Sepertinya hari kau sangat bersemangat?"


"Benarkah?"


"Kau selalu tersenyum, bahkan sejak aku bangun dan melihatmu."


"Apa kau tidak suka kalau melihat aku tersenyum?" Dongmin menghentikan langkahnya."Eh? Kenapa berhenti? Kita belum sampai kan?" Dongmin berjongkok di depan Hana.


"Karena senyum itulah aku jatuh cinta padamu. Tidak pernah sedetikpun aku melupakan senyuman itu." Seketika kata-kata Dongmin membuat wajah Hana merah merona.


"H, hei kau membuatku malu. Cepat dorong lagi, nanti keburu mataharinya tinggi."


"Haa, kau tidak bisa diajak romantis sama sekali." Dongmin kembali dan mendorong kursi roda Hana lagi.


"Hehe," senyuman Hana semakin mengembang.


"Bolehkah aku tau apa arti senyuman itu?"


"Ehm, banyak alasan yang membuat bibir ini terus tersenyum."


"Apa ada hubungannya denganku?"


"Salah satunya iya."


"Kenapa?"


"Karena aku bahagia bisa mendapatkan hatimu. Dan itu membuatku bahagia."


"Benarkah?"


"Tentu saja. Apa kau tidak suka?"


"Kenapa aku tidak suka? Aku menyukaimu, apapun yang membuatmu bahagia pasti juga akan membuatku bahagia."


"Tapi ada alasan lain kenapa bibir ini terus tersenyum."


"Apa itu?"


"Aku bisa bertemu orang tuaku." Seketika itu Dongmin menghentikan langkahnya dan diam tanpa mengatakan apapun. Dongmin bingung dengan kata-kata Hana, lebih tepatnya takut mendengar kata-kata Hana.


"Apa maksudmu?"


"Sebentar lagi kita akan sampai, aku akan menceritakan semuanya." Kemudian Dongmin melanjutkan langkahnya lagi. Dan senyum di bibir Hana mulai memudar. Mereka sampai di tempat yang dituju.


"Apa kau bisa mengatakannya sekarang?" Sambil duduk di samping Hana.


"Huh, aku bingung harus mulai dari mana?....Semalam aku bermimpi yang membuatku senang sekaligus takut, mimpi yang bisa merubah hidupku kapanpun. Kau tau Mr. Cha, tugasku sudah selesai dan aku harus kembali ke tempatku yang dulu."


"Kau pasti bercanda."


"Tidak Mr. Cha, aku tidak tau itu berita baik atau buruk buatmu. Tapi itulah kenyataannya."


"Me, memangnya kapan itu...akan.. terjadi?"


"Aku juga tidak tau, waktuku sudah tidak banyak sekarang. Aku hanya mau berkumpul dengan keluargamu saat ini, karena mungkin saat aku pergi nanti kalian akan melupakanku." Suara Hana terdengar parau menahan air mata.


"Aku tidak akan melupakanmu. Kau akan terus ada di hatiku."


"Aku percaya padamu. Mr. Cha, maukah kau menungguku? Menungguku untuk kembali masuk ke dalam keluarga kalian dengan tidak adanya batasan waktu atau syarat apapun."


"Aku pasti akan menunggumu, menunggumu sampai kau kembali dan menerima cincin dariku."


Mereka berdua saling mencintai, bahkan mereka akan menunggu satu sama lain untuk tetap bisa bersama.


"Tidak bisakah kau memberitauku alamat rumahmu disana?"


"Tidak Mr. Cha, aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku nanti? Kalau memang kita berjodoh kita pasti akan bertemu lagi."


"Iya, kita akan bertemu lagi itu pasti."


"Tolong simpan rahasia ini untukku!"


"Iya."


Mereka berdua menikmati hangatnya matahari pagi, berdua dengan perasaan yang bercampur aduk antara sedih dan pasrah. Mereka berdua hanya diam tanpa kata satu sama lain. Hanya suara nyanyian burung dan angin yang berhempus pelan. Hampir 2 jam mereka disana, sampai ada panggilan di handphone Dongmin.


'Halo'


'Dongmin kami akan kesana, apa kalian butuh sesuatu?'


'tidak noona'


'baiklah kami akan segera berangkat'


Tut tut tut


"Iya, apa kau juga akan berpamitan dengan mereka."


"Entahlah, tapi saat aku pergi nanti mereka tidak akan mengingatku lagi."


"Kenapa kau menceritakan semua kepadaku?"


"Karena aku percaya padamu. Hanya kau yang aku percaya bisa mengingatku kalau aku pergi."


"Kenapa?"


"Karena cintamu. Karena cintamu membuatku kuat menjalani ini."


"Tapi aku membencimu." Dengan suara parau Dongmin mengatakan hal itu.


"Iya aku tau, bahkan alasan kau membencikupun aku tau."


"Bagaimana bisa kau meninggalkan aku sendirian disini padahal kau tau aku mencintaimu? Tidak bisakah aku menjadi alasan untukmu tetap berada disini?"


"Apa kau menangis?"


"Aku tidak pernah menangis karena wanita sebelumnya, tapi aku memang takut kalau harus kehilangan dirimu."


"Kau adalah lelaki pertama yang menangis karena aku, aku tidak pernah menyangka akan ada seseorang yang menangisi kepergianku. Apakah kau alasan kenapa aku memintamu untuk menungguku?"


"Apa?"


"Karena kita masih bisa bertemu lagi, kita akan bertemu lagi. Meskipun akan butuh waktu tapi kita pasti bisa bertemu lagi."


"Aku akan menunggumu. Selama apapun itu aku pasti akan menunggumu. Kau tau kenapa? Karena kau sangat berharga untukku."


"Terima kasih, terima kasih karena telah menerima hatiku."


"Terima kasih juga karena telah memberikan hatimu untukku."


Sekarang beban di pundak Hana mulai berkurang, saat ini Hana hanya memikirkan bagaimana caranya untuk mengatakan hal ini kepada yang lain terutama Baekhyeon, berat juga rasanya Hana untuk jauh dari Baekhyeon. Anak kecil yang selama ini dia anggap seperti adik kandungnya sendiri seperti keponakannya sendiri dan seperti sahabatnya sendiri.


"Apakah kita bisa kembali sekarang?" Tanya Hana.


"Tentu saja, apa kau mau aku menggendongmu?"


"Hei, ada kursi roda kenapa kau harus menggendongku? Mau mencuri kesempatan ya?"


"M, mana mungkin. Aku kan sangat menghormatimu tau?"


"Hehe, iya aku hanya bercanda. Kenapa jadi serius seperti itu? Kau terlalu terbawa perasaan."


"Hehe, terkadang aku heran kenapa kau sama sekali tidak mau berdekatan dengan pria."


"Karena kau bukan suamiku ataupun keluargaku."


"Bagaimana kalau menikah sekarang?"


"Wah, kau bercanda ya?"


"Bagaimana kalau aku serius?"


"Kau ini pintar sekali membuatku jadi frustasi."


"Apa karena cintamu terlalu besar untukku?"


"Heheh, mungkin begitu. Dorong yang kuat dong!"


"Baiklah aku akan mendorong sekuat tenaga." Dongmin mendorong Hana dengan sangat kuat dan membuat mereka berdua tertawa sepanjang perjalanan menuju kamar Hana. Mereka terlihat sangat bahagia, dan saat mereka sudah sampai di kamar Hana ternyata sudah ada Baekhyeon, Ara, dan nenek disana.


"Noona, noona dari mana? Aku sudah menunggu lama disini."


"Iya Hana, kami sempat khawatir karena tidak menemukan kau disini. Bahkan kamu mencari di kamar paman dan bibimu."


"Maaf nenek kami keluar tadi untuk menikmati matahari terbit."


"Baiklah kalau begitu, apa kau sudah lapar? Tadi Bibi Jung menitipkan makanan kesukaanmu, kata Bibi Jung cocok untuk menambah stamina tubuhmu."


"Iya nenek, nanti aku akan memakannya. Eonni, eonni tidak kerja lagi hari ini?"


"Iya, aku sedang cuti."


"Apa karena aku?"


"Tidak dong, aku memang cuti karena aku akan berangkat ke Paris dalam waktu dekat."


"Wah, selamat ya! Akhirnya eonni ke Paris juga, tapi Baekhyeon?"


"Aku juga akan ikut noona, aku akan ikut kemanapun eomma pergi. Aku akan menjaga eomma dimanapun eomma berada."


"Wah, hebat kau hebat Baekhyeon. Aku bangga sekali padamu."


"Eh Dongmin, sini ikut aku keluar sebentar!"


"Ada apa noona?"


"Ayo ikut aja! Biarkan mereka mengobrol saja dulu!"


"Iya," berjalan keluar mengikuti noonanya."Ada apa noona?"


"Sini! Ehm, apa ada sesuatu yang aneh pada Hana?"