
Keesokan paginya Hana sudah terlihat lebih sehat dari kemarin. Dongmin yang semalam menelpon Hana hanya untuk bertanya apakah mau pergi ke rumah sakit."Kenapa dia nggak ngomong langsung ya? Kenapa harus telpon? Apa dia sangat khawatir padaku? Tapi mana mungkin? Mantan dia aja cantik gitu, tapi apa hubungannya ya mantannya dengan sikap dia padaku? Ahh, ya sudahlah, ngapain mikir yang nggak-nggak." Gumam Hana sambil memotong-motong sayuran.
"Ada apa Hana? Kenapa kau berbicara sendiri?"
"Ahh, Bibi Jung biki kaget aja. Nggak ada apa-apa kok bi, hehe. Oh iya bi, apa sayurannya sudah cukup?"
"Iya Hana, sekarang kau bisa beristirahat lagi biar tidak kemas lagi seperti kemarin."
"Bggak kok bibi, aku hari ini sudah sangat sehat. Tapi kalau bibi memaksa, aku mau berolahraga sih, hehe. Nggak apa-apa kan?"
"Tentu Hana, itu akan lebih baik untukmu dari pada hanya diam di rumah."
"Iya bibi, kalau gitu aku akan ganti pakaian dulu."
Tidak butuh waktu yang lama untuk Hana berganti pakaian. Dan setelah berganti pakaian Hana langsung keluar untuk berolahraga, sepertinya tujuan adalah taman yang pernah dia kunjungi dengan Baekhyeon. Setelah Hana keluar rumah barulah nenek keluar dari kamarnya.
"Apa Hana sudah bangun?"
"Sudah nenek, Hana sekarang sedang berolahraga ke taman."
"Sendiri?"
"Iya nenek."
"Tumben dia tidak mengajakku."
"Mungkin dia berfikir kalau nenek masih tidur, dan tidak mau mengganggu nenek."
"Iya, mungkin seperti itu. Apa tadi dia masih terlihat lemas?"
"Tidak nenek, sepertinya dia sudah telihat lebih segar dan sehat."
"Itu bagus. Sekarang, apa yang bisa aku bantu?"
"Tidak ada nenek, semua sudah hampir siap. Tadi Hana sudah membantuku memotong sayuran. Jadi nenek bersantai saja dulu."
beberapa menit kemudian, Dongmin keluar dari kamarnya. Dia langsung menuju dapur, dan clingak clinguk seperti sedang mencari sesuatu.
"Anda sedang mencari apa tuan?"
"Eh? Ah, tidak Bibi Jung aku tidak mencari apa-apa."
"Apa tuan butih sesuatu?"
"Tidak bibi. Kalau begitu aku keluar dulu."
"Hana tadi sedang keluar berolahraga dan nenek sedang ada di taman belakang." Seolah tau apa yang sebenarnya ingin Dongmin tanyakan.
"Memang Hana sudah sehat?"
"Dia sudah terlihat lebih segar dan sehat. Anda tidak perlu khawatir tuan!"
"I, iya. Aku mau menemui nenek dulu."
"Iya tuan."
Dingmin bergegas menemui nenek, dalam perjalanannya Dongmin terus bergumam."Kenapa dia tidak minta untuk ditemani siapa-siapa? Bagaimana kalau nanti dia pingsan dan diajuga tidak punya identitas? Bagaimana kalau ada yang jahat padanua? Tapi dia bisa bela diri sih, tapi kalau dia masih kurang sehat kan akan jadi masalah buatnya. Aduh, agassi ini bikin cemas aja." Tanpa terasa dia sudah sampai di taman belakang.
"Kau ini kenapa Dongmin? Kenapa kau mengacak-acak rambutmu begitu? Kau kurang sehat?"
"Eh? Sudah di taman aja."
"Apa maksudmu? Memangnya tadi kau mau kemana?"
"Ahh, tidak nenek memang aku mau kesini. Tapi agassi pergi olahraga sendiri, dan tubuhnya pun masih belum fit. Aku.."
"Kau khawatir?"
"Ehm, a, aku tidak khawatir seperti itu. Hanya saja kalau nanti dia ada apa-apa ayah dan pasti akan menyalahkan kita. Jadi..."
"Kalau khawatir susul dia Dongmin."
"Tidak, bukan begitu nenek. A, aku hanya.."
"Iya, cepat susul dia. Jangan ganggu aku dengan kegagapan dan bicaramu yang tidak ada arah itu!"
"Nenek."
"Apa kau mau aku yang menyusul dia?"
"Baiklah kalau nenek memaksa aku akan menyusulnya. Kalau bukan nenek yang menyusulnya aku tidak akan pergi." Pergi dengan senyuman yang disamarkan.
Dongmin bergegas pergi ke taman, sementara di taman Hana sudah berbincang dengan seorang yang yang dia kenal. Yups, Sunghoo tentunya. Mereka bertemu secara tidak sengaja, kemudian berbincang dengan suasana yang agak canggung karena fakta yang baru diketahui Hana kemarin. Hana memang meras tidak enak dengan Sunghoo karena dia sudah memperlakukan Sunghoo secara tidak sopan, padahal Sunghoo hanya memcari seorang teman.
"Maaf, sebelumnya aku sudah memperlakukanmu secara tidak sopan. Aku selalu mengabaikan panggilan dan chatmu. Maaf." Membungkukkan kepala.
"Apa kau minta maaf karena aku seorang artis?"
"Apa?"
"Ya kau sangat senang karena bertemu dan berkenalan denganku, kau minta maaf karena kau sudah mengabaikan artis sepertiku."
"Kata-kata macam apa itu? Kalau boleh aku jujur sih, sampai saat ini aku masih belum percaya kalau kau seorang artis. Kalau kau terkenal, kalau aku juga bisa berkenalan dengan artis terkenal sepertimu. Aku hanya menganggapmu sebagai kenalanku di kota ini, dan untuk alasan aku minta maaf mungkin karena aku merasa telah mengabaikan calon temanku. Itu hanya cara berfikirku sih. Kalau boleh aku katakan, aku tidak peduli kau menganggap sikapku ini sikap yang buruk atau apa?"
"Huh, sial. Aku sama sekali nggak bisa marah padamu."
"Eh?"
"Aku sering bertemu dengan seorang 'teman' karena aku artis. Mereka hanya mencari keuntungan dari berkenalan denganku, dengan foto dan percakapan kami. Tapi kau, kau sama sekali berbeda. Dari awal aku memang sudah berpikir kalau kau berbeda, tapi ternyata kau benar-benar membuktikannya. Aku tidak pernah ditolak seperti itu. Tapi kenapa kau meminta maaf saat kau tau aku seorang artis, itu membuatku kecewa."
"Banyak hal yang aku lalui setelah bertemu denganmu, aku mengalami kejadian yang membuatku harus tinggal di rumah sakit dan proses penyembuhannya. Aku sering menolak panggilanmu dan chatmu karena aku merasa tidak enak harus selalu bermain handphone sementara aku disini hanya menumpang. Aku tidak tau apa yang kau fikirkan tentang aku, sekali lagi aku tidak peduli tentang itu semua. Jujur, aku sendiri tidak pernah punya teman. Bahkan bermimpi untuk punya teman dekat pun tidak."
"Apa kita sama?"
"Bedalah, meskipun kau tidak punya teman tapi kau punya banyak penggemar. Sedangkan aku, teman saja tidak ada apa lagi penggemar."
"Berarti aku adalah penggemar pertemamu."
"Apa?"
"Iya, aku adalah penggemarmu."
"Jangan bercanda! Kau membuatku terlihat menyedihkan."
"Aku tidak pernah bercanda dengan yang aku katakan, aku suka dengan karaktermu. Meskipun saat kau minta maaf tadi aku kecewa, tapi saat aku berpikir lagi ternyata kau memang tulus. Dengan semua yang kau katakan, tanpa beban dan tanpa adanya maksud lain."
"Aku bersyukur kalau kau bisa berfikir begitu tentangku. Ahh, terima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena aku bisa merasa kalau aku punya teman setelah berbicara denganmu."
"Terima kasih juga karena kau mau menjadi teman yang tulus untukku."
"Apakah ini bisa dijadikan cerita, teman pertamaku seorang artis."
"Hhahaa, kau lucu juga.Hahaha, kau sendiri?"
"Iya, sekarang aku merasa lebih fresh dari pada tadi."
"Apa karena bertemu denganku?"
"Anggap saja seperti itu. Sepertinya aku harus pulang."
Saat Hana mau beranjak pulang dia melihat Dongmin sedang berjalan ke arahnya.
"Eh? Kau kesini? Apa mau menjemputku?"
"Kepercayaan dirimu tinggi sekali ya?"
"Dasar, sama sekali nggak asyik."
"Sunghoo kau disini juga?"
"Iya, aku tidak sengaja bertemu dia disini."
"Kau sering pergi ke taman ini?"
"Iya sering, saat ada waktu senggang aku selalu kesini untuk sekedar berjalan-jalan atau berolahraga. Taman ini juga dekat dengan rumah ibuku."
"Kapan-kapan mampirlah ke rumah kami."
"Terima kasih, sepertinya aku harus pulang lebih dulu."
"Iya hati-hati ya."
Hana hanya diam saja saat berjalan pulang, sementara Dongmin ingin sekali memulai pembicaraan tapi dia merasa canggung.
"Eh Mr. Cha, ternyata Sunghoo baik juga lho. Dia sama sekali nggak sombong dan tidak merasa kalau dia artis terkenal."
"Kau dekat dengannya?"