
"Dongmin, 2 minggu lagi Hyemin mengajakmu untuk liburan di Indonesia." Kata bibi tiba-tiba, dan sangat mengejutkan untuk Dongmin. Dongmin tidak mengerti, kenapa noona yang biasa dia panggil seperti itu tiba-tiba mengajaknya untuk berlibur dan itupun keluar negri."Kenapa jadi bengong seperti itu?"
"Ahh, tidak ibu. Tapi kenapa noona tiba-tiba mengajakku pergi berlibur?"
"Sebenarnya beberapa hari yang lalu, ibu cerita kepada dia kalau kau itu akhir-akhir ini terlihat aneh. Kau jadi sering melamun, sering tidak fokus dan seperti terlihat gelisah. Ibu jadi khawatir, dan kebetulan juga 2 minggu lagi Hyemin ada pekerjaan ke Indonesia. Jadi dia mau mengajakmu ikut sekalian hanya untuk refreshing. Biar pikiranmu lebih segar, dan tidak terlihat aneh lagi."
"Ibu ini, aku hanya sedang banyak pikiran saja."
"Ambillah cuti beberapa hari, dan pergilah bersama noonamu. Dia pasti akan sangat senang."
"Bagaimana dengan noona dan Baekhyeon ibu?"
"Noonamu masih ada waktu satu bulan lagi untuk berangkat ke Paris. Kau tenang saja."
"Baiklah ibu, aku akan mencoba mengajukan cuti untuk beberapa hari berlibur."
"Kalau begitu ibu akan memberitahu Hyemin, kau sudah setuju."
Dongmin tidak tau apakah keputusannya itu benar atau tidak, yang Dongmin tau hanyalah dia butuh liburan untuk menghilangkan kepenatannya. Dan, satu hal yang dia sembunyikan yaitu niatnya mencari belahan jiwanya. Seseorang yang selama ini membuatnya terlihat seperti orang tidak waras itu. Seseorang yang selama ini benar-benar membuatnya hampir frustasi karena rasa rindu yang mendalam. "Akankah aku menemukanmu pada kesempatan kali ini?"
Sementara itu di Indonesia, Fisya sangat sibuk sekali dalam pekerjaannya. Mengurus event besar yang akan diadakan oleh Butik MAH.
"Hari ini bapak ada janji dengan bu bos untuk makan siang bareng."
"Kalau begitu kamu ikut saya."
"Kenapa pak? Bukannya saya bisa kembali ke butik kalau lagi istirahat makan siang?"
"Kamu nggak suka makan sama saya?"
"Eh, bukannya nggak suka juga pak. Tapi kan kalau saya ikut malah akan mengganggu meet time bapak sama bu bos."
"Kamu nggak merasa kalau beberapa hari ini kita semakin dekat?"
"Eh, maksudnya pak?"
"Maaf Tuan Marcel mobilnya sudah siap, dan kita bisa berangkat ke butik sekarang." Tiba-tiba Pak Jaya datang dan memecah kecanggungan diantara Pak Marcel dan Fisya.
"Baiklah kalau begitu kita brangkat sekarang."
Hanya ada kesunyian dalam perjalanan mereka menuju butik, suara berat dari mobilpun tidak membuat mereka untuk bergeming dari kesunyian ini.
"Maaf tuan, apa kita perlu kesuatu tempat dulu?"
"Iya pak, saya perlu membeli bunga untuk mama saya."
Fisya hanya diam saja tidak menanggapi perkataan Pak Marcel sama sekali. Fisya masih merasa canggung dengan Pak Marcel, dia merasa kalau Pak Marcel menaruh perasaan terhadap dirinya. Sementara dalam hatinya, Fisya hanya terfikirkan satu nama yaitu Dongmin alias Mr. Cha. Seseorang yang sudah lama tengah mengisi hatinya, seorang yang sudah lama dia rindukan. Baikkah seorang seperti aku merindukan dia yang bukan siapa-siapaku? Seperti itulah kalimat yang setiap hari berputar-putar dibenak Fisya, bahkan dia pun akan berusaha untuk menghapus kalimat itu dengan bekerja menyibukkan diri bahkan saat weekend sekalipun.
"Maaf pak saya mau membantu yang lain dulu."
"Iya silahkan."
Tap, tap, tap.
"Siang semua, ada yang kangen sama aku nggak nih?"
"Hai Fisya, nggak juga sih. Hehe." Jawab salah satu pegawai.
"Yahh, jadi sedih deh dedek Fisya. Hiks,"
"Apaan sih neng, drama banget." Jawab Sari tiba-tiba datang dari arah kantor asisten.
"Mbak Sari, aku sudah datang lho. Kasih kerjaan dong!?"
"Hehe, nggak dong. Kan kesini niatnya emang mau bantuin buat persiapan event nanti. Tapi ngomong-ngomong Mbak Nela mana dari tadi nggak kelihatan. Dan lagi mbak-mbak semua bukannya sekarang waktunya makan siang, kok masih pada disini semua sih?"
"Wah, lama juga ya nggak denger si cerewet ini tanya panjang lebar kayak gini." Ledek Nela yang tiba-tiba meluk Fisya dari belakang.
"Hai Mbak Nela, selamat siang!"
"Udah jangan sok manja, tuh bantuin si Sari buat ngecek perlengkapan event nanti."
"Siap bos. Ayo Mbak Sari kita cap cus. Biar cepet selesai. Eh, tapi kalian semua udah pada makan siang apa belum? Kalau belum cepat istirahat dulu lah mbak-mbak sekalian, kegiatan ishomanya juga jangan lupa dong. Biar bisa konsentrasi kekerjaan."
"Iya cerewet, kita ishomanya gantian kok jangan khawatir oke."
"Nggak boleh ditunda-tunda terus dong mbak, entar malah jadi kebiasaan. Kebiasaan yang buruk itu nggak boleh terus dibiasain lho. Bakal buruk nantinya buat kita sendiri."
"Iya ibu guru, kita ishoma sekarang. Jadi bu guru bisa lanjut kerjanya sama Sari ya!?"
"Mbak Sari udah ishoma?"
"Udah dong, yuk ah kita cek dulu perlengkapan alat yang dibutuhkan untuk event nanti."
"Oke."
Semakin banyak orang yang menyayangi Fisya, karena kerja kerasnya karena kepintarannya dan karena dia anak yang rajin dan supel. Fisya memiliki banyak sekali kelebihan yang membuatnya bisa disukai oleh banyak orang termasuk Pak Marcel.
"Bagaimana kerjaan kamu Cel?"
"Baik ma. Lancar kok meskipun terkadang ada kerikil-kerikil kecil yang menghambat."
"Bagaimana dengan Fisy?"
"Fisya? Dia pintar, mudah memahami pekerjaan barunya dan sangat rajin."(Senyum)
"Tapi mama juga butuh dia lho, Cel. Kamu sudah mempekerjakan dia cukup lama, dan saatnya juga kamu cari skretaris baru. Biar Fisya kembali ke butik. Mama butuh 3 asisten."
"Kenapa nggak mama aja yang cari asisten baru? Kalau aku cari sekretaris baru nanti lama lagi buat jelasin kerjaannya."
"Marcel, kamu bisa mencari yang berpengalaman kan. Kenapa jadi sok kesulitan begini sih."
"Nggak kesulitan juga sih ma, tapi kan aku..."
"Jangan-jangan kamu suka dia ya?"
"A, apa?(Merona) Mama ngomong apa sih?"
"Marcel kamu nggak pernah lho kerja sama orang mama selama ini. Biasanya belum sebulan aja udah banyak yang kamu kembalikan dan sekarang kamu malah nggakau nglepas dia."
"Aduh mama bicara pelan-pelan dong!"
"Jadi bener kamu suka dia?"
"Duh, aku kan nggak jawab gitu. Mama ini, pelanin dikit kek suaranya."
"Muka merah jambumu itu mengatakan semuanya tau."
"M, muka? Merah jambu? Aduh apa-apain sih nih mama. Nyamain muka anaknya kayak jambu."
"Salah sendiri mukamu jadi merah kayak gitu. Kamu malu atau apa sih?"
"Mama jangan salah paham dong, aku cuma suka bekerja sama dia. Dia itu orangnya rajin banget, pinter lagi cepet belajarnya. Jadi kita nyambung sama kerjaan."
"Oh gitu ya, tapi mama mencium bau-bau orang yang lagi bucin nih?!"