
Keesokan paginya Dongmin merasa senang, entah kenapa? Apa mungkin karena semalam dia berbincang hanya berdua dengan Hana, atau karena dia minum coklat hangat buatan Hana? Dongmin semakin hari semakin aneh, kadang dia sangat perhatian pada Hana terkadang dia hanya diam saja walau ada Hana. Tidak pernah mau disebut khawatir atau perhatian pada Hana, padahal dia memang sering mengkhawatirkan Hana. Tsundere apa ya?
"Dongmin hari ini kau tidak kerja?"
"Ada apa nenek?"
"Sebenarnya nenek mau minta antar ke rumah sakit."
"Iya biar aku antar nenek."
"Apa tidak apa-apa?"
"Tentu saja nenek, kenapa nenek harus bertanya? Aku akan pulang lebih cepat."
"Hana, nanti aku mau pergi ke rumah sakit jadi kau tidak perlu ke kebun hari ini." Kata nenek kepada Hana yang tiba-tiba lewat mau ke dapur.
"Iya nenek."
"Tidak, kau ke kebun saja. Bukankah kau sudah tau jalannya?"
"Iya aku tau, nanti aku akan kesana."
"Tapi Dongmin, dia akan bekerja sendiri kalau ke kebun."
"Nanti aku akan menyusulnya nenek, nenek tidak perlu khawatir."
"Bagaimana Hana?"
"Tidak apa-apa nenek, aku akan mengerjakan yang aku bisa."
"Baiklah, tapi kalau kau neras tidak perlu pergi maka jangan pergi!"
"Iya nenek, kalau begitu aku permisi ke dapur dulu."
Setelah selesai sarapan Dongmin dan Ara langsung berangkat untuk bekerja. Sementara Hana membantu Bibi Jung merapikam meja makan dan akan mempersiapkan untuk pergi ke kebun. Setelah 2 jam Hana berangkat ke kebun, dia memakai sepeda untuk kesana.
"Noona, apa aku boleh ikut?"
"Jangan Baekhyeon, kau di rumah saja. Aku hanya sebentar, dan lagi mungkin ibumu akan pulang cepat hari ini."
"Tapi kalau noona dan nenek tidak di rumah aku akan kesepian."
"Kalau begitu aku akan pulang sebelum nenek berangkat, bagaimana?"
"Tapi noona..."
"Aku akan segera pulang Baekhyeon, untuk sementara kau bermain dengan nenek dulu ya?"
"Iya noona, noona hati-hati jangan sampai tersesat ya!"
"Apa kau meledekku?"
"Hihi, tidak."
"Nanti tolong beritau nenek kalau aku sudah berangkat ya, tadi aku mau pamit tapi nenek sepertinya sedang tidur."
"Oke noona."
Hana berangkat menggunakan sepeda yang dipakai Ara kemarin, dia jago menaiki sepeda tapi tidak jago mengingat jalan. Entah dia akan tersesat atau tidak karena dia sering kesana. Dan saat dipersimpangan Hana mulai bingung, dia mengingat-ingat kemana dia harus pergi. Hana merasa kalau dia akan tersesat kali ini, dia berpikir kalau jalan yang dia lewati saat naik mobil dan sekarang berbeda. Dia tidak bisa terus berjalan dia berhenti dan mengingat-ingat, cukup lama Hana berhenti dipinggir jalan sampai ada seseorang yang mengagetkannya.
"Hana."
"Woi Sunghoo, ah bikin kaget aja."
"Ngapain disini sendiri pakai sepeda lagi?"
"Hehe," Hana nyengir kuda.
"Jangan bilang kalau kau lagi cari jalan?"
"Hihi, kayaknya begitu. Aku lupa jalan ke kebun."
"Apa-apaan kau ini, bukannya kau sering kesini?"
"Iya, tapi kan itu naik mobil dan sekarang harus naik sepeda sendiri jadi ya, *** sendiri lah."
"Kau ini, masih muda udan bisa pikun ya?"
"Hei, aku cuma lupa bukan pikun. Ngomong-ngomong ngapain disini?"
"Lagi cuti buat persiapan drama baru, jadi ya kesini aja nemenin ibu."
"Emang mau kemana?"
"Sebenarnya sih mau nemuin kamu di kebun, nggak taunya ketemu disini."
"Kok tau aku bakal kesini?"
"Ngira-ngira aja sih, kau kan setiap hari ke kebun jadi ya coba aja kesini ternyata kau nenang akan ke kebun kan?"
"Ya udah kalau gitu, ke kebun bareng aja." Berjalan selangkah sambil membawa sepeda dan berhenti.
"Kenapa berhenti?"
"Kau belum bilang jalannya yang mana?"
"Dasar, kau harusnya belok ke kanan terus lurus habis itu belok kiri jalan sedikit sudah sampai."
"Ahh, oke aku akan mengongatnya."
"IQmu berapa sih? Sampai alamat pun yang tidak jauh dari rumahmu kau bisa lupa."
"Hana, ngomong-ngomong kau nggak takut jalan berdua cuma denganku?"
"Takut kenapa?"
"Ya siapa tau aku punya niat jahat sama kamu?"
"Ngapain takut? Kalau kau macam-macam padaku, aku pasti akan menghajarmu duluan. Bahkan sebelum kau menyentuh sehelai saja."
"Kasar banget. Emang bisa bela diri?"
"Bisalah, aku ini jago tau. Mau coba?"
"Nggak, nggak usah bisa jelek wajah gantengku ini."
"Ganteng? Pede banget ya?"
"Emang aku nggak ganteng ya?"
"Ganteng kok, tapi asli nggak gantengnya?"
"Asli dong."
"Woi, santai dong nggak usah ngegas gitu!"
"Hehe, maaf-maaf habisnya ngomong kayak gitu kan jadi merasa aneh."
"Eh, itu kan kebunnya? Iya bener itu kebunnya, wah aku berhasil sampai juga akhirnya. Senangnya, kau mau kemana lagi?"
"Nemenin kamu."
"Ngapain? Mending pulang istirahat."
"Nggap apa-apa. Ngomong-ngomong, Dongmin kemana kau harus sendiri kesini pakai sepeda lagi?"
"Dia mungkin akan telat karena mau antar nenek ke rumah sakit."
"Ya udah kalau gitu aku bantu kamu deh biar nggak sendirian."
"Emang nggak apa-apa seorang artis terkenal kerja kayak gini?"
"Emangnya kenapa? Artis kan juga manusia biasa."
"Iya deh iya. Huh, akhirnya sampai juga. Lumayan capek ya jalan kesini."
"Mau dimulai dari mana?"
Hana dan Sunghoo bekerja sama menyelesaikan semua pekerjaan di kebun. Saling bantu membantu dan bercanda juga. Hana terlihat senang sekali karena ada teman untuk bercanda, Sunghoo pun merasa senang karena bisa melihat tawa Hana yang lepas itu. Bahkan dia pun tidak menyadari kalau hatinya begitu berbunga karena melihat tawa Hana.
"Hana, terima kasih!"
"Buat apa?"
"Aku tidak pernah bisa tertawa lepas seperti ini, dandengan kamu aku bisa tertawa sangat lepas."
"Apa kau bosan dengan kehidupan artis?"
"Tidak juga, hanya saja aku perlu refreshing."
"Kalau gitu kenapa tidak liburan saja? Bukannya ada cuti?"
"Kalau cuti cuma beberapa gari sih malah nanggung. Tapi kali ini meskipun cuma sehari tapi aku seneng banget bisa bersama denganmu."
"Benarkah?"
"Iya. Oh iya, apa Dongmin akan kesini?"
"Aku tidak tau, mungkin tidak. Tapi tidak apa-apa karena pekerjaan hari ini selesai, aku juga sudah memanen sayuran tadi. Apa kau mau membawanya buat ibumu?"
"Tidak perlu."
"Hei, kau harus membawanya. Sayur ini sangat segar dan rasanya juga enak. Jadi bawa saja, oke?!"
"Kalau kau memaksa baiklah."
"Agassi." Tiba-tiba ada suara seseorang yang bertriak.
"Mr. Cha, kau udah kembali dari rumah sakit?"
"Iya, aku sudah mengantar nenek pulang."
"Semua tugas sudah selesai dan Sunghoo juga membantuku."
"Terima kasih," menundukkan kepala menghadap Sunghoo.
"Tidak oerlu sungkan, tadi aku hanya berjalan-jalan dan melihat Hana kebingungan memilih jalan jadi aku mengantarnya dan sekalian membantu."
"Kau tersesat?"
"He, hei aku tidak tersesat. Aku hanya bingung saat dipersimpangan tadi."
"Sama saja. Bagaimana kau bisa lupa jalan apdahal hampir seriap hari kesini?"
"Mungkin dia hanya kebingungan."
"Ahh, iya. Maaf sudah merepotkanmu!"
Mereka bertiga berbincang sebentar kemudian pulang bersama karena Dongmin memaksa untuk mengantar Sunghoo.