
Kue Hana datang, berbeda dari yang semalam. Hana membuatnya lebih kecil, Hana tidak tau siapa yang akan datang jadi di membuat sebisa dia saja. Hana senang sekali bisa bertemu Hyemin lagi.
"Bibi, ini kuenya."
"Wah, indah sekali kuenya. Pasti enak."
"Tentu saja, noona kan jago masak."
"Noona? Wah, sekarang bicaranya sopan sekali ya? Henat kamu."
"Iya Hyemin, dia mulai menyukai Hana."
"Benarkah? Aku ikut senang untukmu Hana."
"Sudah Hyemin, apa kau tidak lapar? Ini sudah waktunya makan siang. Kita harus makan dulu."
"Hei, kenapa kau tidak bertanya kado apa yang aku bawa?"
"Nanti saja, kita akan banyak bercerita. Sekarang ayo kita makan dulu, apa kau tidak mau mencicipi kue Hana?"
"Kalau begitu ayo kita makan siang dulu!"
"Dasar, kau sama sekali tidak berubah Hyemin."
"Ibu, kenapa harus merubah kebiasaan yang baik?"
"Ayo kita makan!" Eonni menggandeng nenek sambil berjalan ke meja makan. Sementara Hana dan Baekhyeon berbisik dibelakang.
"Noona, dia crewet sekali lho."
"Baekhyeon kau tidak boleh berkata seperti itu. Dia itu lebih tua darimu, mulai sekarang kau harus belajar untuk lebih menghormati orang lain."
"Kau mulai mengaturku noon?"
"Aku tidak mengaturmu sayang, tapi aku peduli padamu. Oke?"
"Iya-iya." Setiba di meja makan Baekhyeon langsung duduk disebelah Hana, mereka makan siang dengan banyak canda tawa. Ada tanya jawab juga diantara mereka. Memakan kue yang Hana buat, dan mengobrol sambil makan buah. Benar-benar pesta keluarga ya.
"Hana kuemu benar-benar enak," sambil mengacungkan 2 jempol untuk Hana. Eonni mengeluarkan paperbag besar yang dia bawa saat datang tadi.
"Wah, apa itu kado untukku? Besar sekali,"
"Ini bukan hanya kado untukmu Eunmi, tapi untuk Hana, Baekhyeon, ibu, dan juga yang lain."
"Kami semua mendapat kado darimu? Tapi yang merayakan pernikahan kan anak dan menantuku Hyemin?"
"Ibu, apa aku bukan anakmu? Aku ini juga anakmu, dan sebagai seorang anak aku ingin memberimu sebuah kado istimewa ini. Terimalah!" Monyodorkan sebuah kotak untuk nenek."Dan ini untuk Baekhyeon." Menyodorkan kotak yang terlihat besat untuk Baekhyeon.
"Wah, apa ini robot seri terbaru?"
"Baekhyeon, kau harusnya berterima kasih dulu dong!"
"Iya, nenek."
"Terima kasih nenek kedua."
"Aissh, kau masih saja menyebutku nenek kedua. Ya sudah tidak apa-apa, tapi lain kali panggil aku Ahjumma! Dan sekarang giliran Hana, kado ini khusu buatmu Hana. Terakhir untuk sahabatku yang tersayang."
"Terima kasih eonni, apapun isinya aku sangat berterima kasih."
"Iya sayang jangan sungkan begitu, aku sudah menganggap keluarga ini adalah keluarga keduaku. Kau bagian dari keluarga ini yang artinya kau juga keluargaku. Sekarang kalian boleh membukanya." Kemudian mereka bersama-sama membuka kado mereka masing-masing. Nenek yang mendapatkan syal rajut besar. "Ini cocok dipakai kemanapun ibu pergi, ibu akan merasa selalu hangat. "Baekhyeon apa kau suka robot itu?"
"Aku suka ahjumma, terima kasih."
"Aihs, kau baru mau memanggilku ahjumma karena kado? Dasar bocah kecil. Bagaiman denganmu Hana, apa kau suka bros bunga itu? Bukankah itu seperti namamu?"
"Tapi eonni, ini pasti sangat mahal?"
"Hei itu tidak terlalu mahal kau tidak perlu khawatir!"
"Terima kasih eonni."
"Bagaimana Eunmi, apa kau akan berangkat?"
"Hyemin, apa kau benar-benar memberikan ini untuk kami? Bagaimana bisa kau memberikan tiket ini Hyemin? Ke paris?"
"Iya, paris adalah kota yang romantis jadi kalian harus kesana."
"Hiks, Hyemin kau membuatku terharu," sambil memeluk sahabatnya yang sangat dia sayangi.
"Hei, hei kau tidak boleh menangis dong!"
Mereka berbincang cukup lama, sampai tidak terasa kalau hari sudah sore dan Hyemin harus segera pulang. Hyemin berpamitan untuk pulang, tiba-tiba bibi ingat sesuatu.
"Tunggu Hyemin aku hampir lupa. Sebenarnya aku mau merekomendasikan Hana untuk bekerja ditempatmu, larena sebenarnya Hana lulusan dari jurusan fashion design."
"Benarkah? Itu akan sangat membantuku, karena memang aku sedang butuh seorang asisten. Suruh Hana ke butikku besok pagi."
"Akan aku sampaikan padanya, terima kasih sahabatku. Kau sudah memberikan kado untuk kami semua."
"Hei, aku ini saudarimu kan, kau tidak perlu berterima kasih. Tolong berikan kado untuk Ara dan Dongmin juga! Sampaikan salamku pada mereka!"
"Iya Hyemin, hati-hati ya!"
"Iya bawel,daaahh."
Eonni sudah pergi, dan tidak lama Dongmin datang. Dongmin terlihat sangat kelelahan, saat sudah masuk dia langsung menuju kelemari es untuk minum dan duduk di meja makan.
"Mr. Cha, kau sudah pulang?"
"Kenapa kau tidak menjawab telponku?"
"Telpon? Ahh, maaf tadi aku lupa kalau hapeku bergetar."
"Lupa? Memangnya kau tidak melihat kalau ada telpon dariku?!"
"H,hei kenapa marah? Yaa, aku sedang sibuk tadi waktu kau menelponku. Aku tidak bisa menjawab telpnmu dan kemudian aku lupa untuk mengecek hape lagi, karena terlalu asyik main dengan Baekhyeon."
"Haah, kau ini. Aku kekamar dulu."
"Eh, Mr. Cha tunggu dong! Memangnya kenapa kau menelponku?" Berlari kecil mengikuti langkah Dongmin.
Ceklek, Brakkk.
"Orang itu kenapa sih? Masa iya gara-gara telponnya tidak aku angkat? Ya sudahlah terserah." Meninggalkan kamar Dongmin dan kemudian menuju dapur. Sementara di dalam kamanya Dongmin, seperti orang gila saja.
" Kenapa aku marah padanya ya? Apa karena dia tidak menjawab telponku atau karena apa? Aish, agassi itu benar-benar membuatku kesal." Memukul-mukul dadanya karena terasa seperti sesak.
Tok, tok, tok.
"Masuk!"
"Dongmin, ini ada kado buatmu."
"Dari siapa ibu?"
"Dari bibi Hyemin, semua mendapatkan kado darinya bahkan Hana juga."
"Benarkah? Memangnya hari apa ini?"
"Entahlah, sepertiny dia sedang gembira atau memang sedang ingin memberikan hadiah untuk keluarga kita."
"Sampaikan terima kasihku padanya ibu!"
"Iya nanti aku sampaikan, dia juga mengirim salam untukmu."
"Iya, aku akan ganti baju dulu ibu."
"Oh iya Dongmin, apa kau setuju kalau ibu dan ayah berlibur ke Paris?"
"Apa ibu mendapat kado tiket ke paris dari bibi Hyemin?"
"Iya Dongmin, bagaimana menurutmu?"
"Itu bagus ibu, ayah dan ibu harus berangkat."
"Tapi bagaimana dengan kalian? Siapa yang akan memasak buat kalian, kalau Hana sendiri kan dia jadi repot."
"Bukankah pembantu kita akan segera kembali kesini ibu?"
"Oh iya, ibu hampir lupa. Dia bisa membantu Hana selama ibu pergi. Baiklah kalau begitu ibu akan menghubungi pembantu kita dulu agar dia segera kembali." Pergi meninggalkan Dongmin dan segera menelpon.
"Ibu ini, ada-ada saja yang dikhawatirkan."
Sementara itu Hana yang sedang di dapur, banyak berpikir tentang tujuan Dongmin yang menghubunginya. Apa alasan sebenarnya? Larena ada banyak sekali kemungkinan, mulai dari iseng, atau dia memang butuh bantuanku, atau dia ingin mengobrol dengan Hana. Hana pun sendiri jadi pusing karena memikirkan banyak kemungkinan.
" Hana tolong antarkan sepotong kue buat Dongmin!"
"D, Dongmin?"