Mr. Cha, wait me!

Mr. Cha, wait me!
Suka?



Nenek dan Hana menceritakan semua kekhawatiran mereka terhadap Dongmin. Ara sendiri berfikir mungkin Dongmin sedang merindukan orang tua mereka, tapi Ara juga memikirkan kemungkinan lain yaitu Dongmin hanya kesal kepada Ara karena suatu hal.


"Apakah sebelumnya kau bertengkar dengan Dongmin?"


"Aku? Aku tidak pernah bertengkar dengannya." Jawab Hana polos.


"Apa mungkin kau membuat Dongmin kesal atau marah?"


"Aku rasa aku tidak pernah membuat dia merasa kesal kepadaku. Karena kemarin aku ke kebun sendirian saja naik sepeda, dan dia baru kesana saat aku sudah mau pulang. Harusnya kan aku yang kesal padanya. Dan lagi saat aku pergi kesana aku sampai tersesat, untung saja aku bertemu teman dan aku diantar sampai ke kebun."


"Teman? Kau punya teman? Siapa?"


"Ahh, iya aku belum pernah cerita tentang Sunghoo ya?"


"Sunghoo siapa?" Tanya Ara penasaran.


"Sunghoo yang sering main drama itu lho, masa eonni gak tau?"


"Sunghoo, dia artis yang tampan itu?"


"Iya eonni, jadi aku bertemu dia di taman tidan sengaja dan awalnya aku tidak tau kalau dia seorang artis. Dan kemarin dia membantuku di kebun, saat aku mau pulang Dongmin datang. Dan paginya dia seperti marah padaku, dan tidak mau sarapan juga."


"Oh, apa Dongmin juga mengenal Sunghoo?"


"Iyalah, malah dia yang beri tau aku kalau Sunghoo itu artis."


"Oh, jadi gitu ya?"


"Ada apa eonni? Apa ada yang salah?"


"Ahh, tidak. Nanti biar aku saja yang berbicara dengan Dongmin kalau dia sudah pulang."


"Baiklah Ara kalau begitu. Sekarang lebih baik kita bersiap untuk makan malam. Temui anakmu dulu!"


"Iya nenek."


"Dan Hana, lihat di dapur apa Bibi Jung butih bantuan!"


"Siap nenek."


Mereka pergi ke tempat masing-masing. Ara yang sudah tau alasan Dongmin berubah adalah karena Dongmin cemburu melihat kedekatan Hana dan Sunghoo. Hanya saja Dongmin belum menyadari akan hal itu. Ara berencana akan meluruskan hal tersebut. Keluarga Kim ini benar-benar terbuka, tidak pernah menutup kemungkinan untuk berhubungan dengan siapapun termasuk orang asing seperti Hana.


Saat semua sudah berkumpul di meja makan, Dongmin baru datang. Hana membukakan pintu untuk Dongmin karena yang lain sedang makan. Dongmin sepertinya salah tingkah tapi dia juga pintar menyembunyikannya.


"Kau sudah pulang. Apa kau sudah makan malam?"


"Aku tidak lapar, nanti aku akan makan kalau lapar."


"Iya baiklah." Berjalan menuju meja makan untuk melanjutkan makannya tadi.


"Apa itu Dongmin Hana?"


"Iya nenek."


"Apa dia sudah makan? Kenapa tidak langsung kesini?"


"Katanya dia belum lapar."


"Dasar, anak ini. Mau sakit dia, bisa-bisanya tidak mau makan saat waktunya makan malam."


"Sudahlah nenek, biar nanti aku saja yang berbicara dengan dia." Kata Ara menenangkan nenek.


"Iya, kau harus bicara yang tegas kepadanya. Bikin khawatir saja dia."


"Aku sudah selesai, aku akan ke kamar Dongmin dulu.'


Sementara itu Dongmin yang baru saja selesai mandi sangat terkejut saat melihat Ara sudah duduk santai di sofa kamarnya.


"Ahh, kaget. Noona ngapain disini? Bikin kaget aja tiba-tiba duduk disana."


"Aku sudah agak lama duduk disini Dongmin, dan kau malah seperti itu?"


"Ahh, siapa yang menyuruhmu ke kamarku sih?"


"Dongmin, aku kakakmu lho. Kau berani berkata ridak sopan kepadaku?" Mendekati Dongmin dan menjewernya.


"Ah, iya noona maaf. Ahh, cepat lepaskan noona ini sakit."


"Iya noona, lepaskan dulu tanganmu dari telingaku!"


"Well, kau suka Hana kan?" Tanpa basa-basi Ara melontarkan pertanyaan yang sama sekali tidak disangka-sangka oleh Dongmin. Dan membuat Dongmin bingung akan perasaannya sendiri."Helo, kau masih bisa mendengarku kan?" Sambil mengoyangkan pundak Dongmin.


"A, apa maksud noona? Kenapa aku harus menyukainya? Memangnya dia siapa?"


"Kalau begitu, kenapa ku bersikap aneh tadi pagi?"


"Aku tidak aneh, memang apanya yang aneh?"


"Dan kalau kau tidak aneh kenapa kau jadi gagap?"


"S, siapa yang gagap sih?"


"Baiklah Dongmin, mungkin kau dan Hana memang belum menyadarinya. Tapi aku mendukung kalian kok, perjuangkan kalau memang pantas diperjuangkan. Abaikan kalau memang tidak pantas diperjuangkan, biarkan orang lain yang perjuangkan dia. Jadi, jangan menyesal kalau dia dekat dengan orang lain!"


"Noona bicara apa sih?"


"Ya udah deh, aku mau istirahat dulu." Ara keluar dari kamar Dongmin, dan sementara itu Dongmin masih tetap mematung di tempatnya tadi sambil berfikir makna dari kata-kata Ara.


"Maksud noona apa sih, aku suka Hana? Tapi bagaimana mungkin noona bisa tau sedangkan aku sendiri tidak menyadarinya. Tau ah, tapi jadi lapar deh. Mau makan tapi nanti ada dia


Tapi kenapa harus menghindar juga? Apa iya aku suka dia?" Dongmin terus bergumam sendiri di kamarnya, sementara Ara yang dari tadi mengintip di pintu hanya tersenyum melihat tingkah adiknya. Dari kamar Dongmin kemudian Ara menuju ke meja makan lagi, dan mengatakan kepada nenek kalau Dongmin akan segera keluar dari kamar dan makan malam bersama.


"Apa kau sudah bicara dengan Dongmin, Ara?"


"Iya nenek, dan sebentar lagi dia keluar."


"Apa yang sebenarnya terjadi Ara?"


"Yang sebenarnya terjadi adalah..." Menatap Hana sambil tersenyum, dan dibalas Hana dengan tatapan polos yang sama sekali tidak mengerti apapun.


"Tidak ada yang terjadi nenek, hanya ada banyak pekerjaan di kantor." Jawab Dongmin yang tiba-tiba muncul.


"Lalu kenapa kau jadi tidak sarapan di rumah? Membuat khawatir saja. Sampai-sampai Hana tidak membantu Bibi Jung karena memikirkanmu."


"Uhuk, uhuk.."


"Kau tidak apa-apa Hana, minum ini!"


"Uhuk, aku tidak apa-apa nenek. T, tapi kenapa nenek berkata seperti itu?"


"Memang benar kan Hana?"


"Iya? Tidak, tidak begitu. Aku tidak terlalu memikirkan hal itu."


"Sudahlah Hana, habuskan makananmu saja!"


"Iya eonni."


"Dan kau Dongmin, cepat makan dan temui aku nanti!"


"Kenapa lagi noona?"


"Kau mau aku jewer lagi Dongmin?"


"Tidak, aku akan kesana setelah makan."


"Bagus, aku ada di kamar Baekhyeon." Ara pergi meninggalkan keluarganya yang sedang makan malam.


"Paman, kau punya masalah sama eomma?"


"Anak kecil diam saja!"


"Paman jangan sok jadi orang besar dong!"


"Dasar, kau sama Baekhyeon sama saja Dongmin."


"Nenek, aku lapar. Boleh aku makan?"


"Makan saja sendiri, kami sudah selesai. Ayo Hana!"


"Iya nenek."


Dongmin hanya bisa cemberut melihat nenek, Hana, dan Baekhyeon meninggalkan dia makan sendiri di meja makan. Dia terus bergumam selama makan."Memang aku salah ya? Aku kan cuma lagi kesal saja sama dia. Tapi aku juga tidak tau alasannya kesal sama dia. Jadi bingung, coba nanti cerita sama noona aja deh. Tapi kalau diledekin gimana dong. Akhhh, tau ah.