
Seminggu berlalu dan Dongmin juga sudah mengantongi izin cuti untuk berlibur ke Indonesia. Dongmin hanya bisa berharap akan bertemu dengan Fisya alias Hana sang pujaan hati Dongmin.
"Heh, Dongming seminggu lagi kau mau ke Indonesia ya?" Tanya Ara yang sedari tadi memperhatikan adiknya yang terus-terusan melamun.
"Ahh, iya noona. Apa noona mau oleh-oleh dari sana?"
"Tentu dong. Bawakan aku kain batik dari sana."
"Bukannya noona sudah punya?"
"Ya kan aku pernah dengar dari temenku di Indonesia itu banyak jenis kain batik jadi aku mau jenis yang lain juga."
"Oke deh, nanti aku cariin disana."
"Ngomong-ngomong kau masih aja melamun, apa sih yang kau fikirkan? Apa kau memikirkan pacarmu? Kalau iya, kenapa tidak kau ajak saja berlibur bersama?"
"Noona, pertanyaan apa itu? Kenapa kau ingin tau sekali sih?"
"Hei, kau kan adikku. Aku cuma mau tau alasan melamunmu itu."
"Nanti aku akan cerita dongeng percintaanku."
"Aish, apa-apaan anak ini?!"
Dongmin merasa sangat kacau, antara senang dan gelisah. Senang karena ada harapan untuk bertemu dengan Hana dan gelisah akankah ada pertemuan tersebut. Semua bercampur aduk dalam hatinya sehingga membuatnya semakin sesak. Dia tidak bisa bercerita kepada siapapun bahkan sang sahabat Sunghoon.
"Hai hyung, ngapain melamun disini?"
"Eh? Si artis ini ngapain sih disini mulu?"
"Yee, ini kan tempat umum."
"Maka dari itu ngapain sih ketempat umum terus? Gak takut dikeroyok fans?"
"Aduh, hyung ini apa-apaan sih bukannya seneng ketemu temen malah kayak gitu. Udah ah, nggak usah bahas aku terus. Bahas hyung aja ngapain melamun terus sih? Perasaan setiap ketemu pasti melamun terus. Butuh refreshing tuh."
"Udah kok, minggu depan mau ke Indonesia?"
"A, apa? Kenapa baru bilang sih?"
"Emang kau mau ngapain?"
"Mau ikutlah, tapi kayaknya udah nggak bisa scedule minggu depan benar-benar padat."
"Iya percaya, kau kan idola."
Sementara itu pekerjaan Fisya semakin menumpuk. Waktunya sudah hampir tiba, menjamu tamu dari Korea. Tugas yang dirasa Fisya lumayan sulit, meskipun dengan kenyataan kalau dia pandai berbicara Bahasa Korea.
Dalam seminggu kedepan Fisya akan bekerja di butik, itu membuat Fisya sedikit merasa lega karena dia bisa bekerja bersama sahabatnya lagi. Dan juga mengurangi waktu untuk bersama dengan Pak Marcel. Setelah banyak berfikir tentang tingkah laku Pak Marcel saat pertama bertemu dan sekarang, Fisya merasa kalau Pak Marcel memang menaruh hati kepadanya dan itu membuat mereka berdua merasa canggung saat bekerja bersama. Meskipun mereka bersikap profesional tapi kecanggungan diantara mereka masih tidak bisa terelakkan.
"Woy, jangan kerja mulu dong!"
"Mbak Sari, hai selamat pagi!"
"Nah, tuh tau kalau masih pagi tapi udah repot sendiri gitu. Ngapain sih?"
"Nggak pa-pa mbak, cuma lagi belajar menjamu tamu asing."
"Kan kamu udah bisa bahasanya mereka?"
"Iya tapi kan aku juga harus banyak tau tentang mereka. Dan lagi kata bu bos, tamu bu bos itu juga bawa anaknya. Jadi harus extra belajar buat menjamu mereka dong."
"Aduh neng, kasian amat kamu. Udah sarapan belum?"
"Udah kok mbak, tadi sempat makan roti."
"Ya lumayan sih buat ganjal perut."
"Udah yuk, cari makan dulu. Kamu kelihatan kurusan lho Sya. Saking sibuknya kerja sampai kamu lupa makan."
"Hehe, nggak kok mbak. Aku makannya teratur kok, mungkin karena lagi banyak pikiran aja makanya kelihatan kurusan."
"Nggak boleh gitu dong, kamu harus makan yang banyak. Yuk, ke kafe depan butik aja sekalian nungguin Nela."
"Oh iya, Mbak Nela kemana? Dari pagi nggak kelihatan."
"Ada kok sama bu bos, entar juga nyusul dia."
"Eh iya mbak, emang nggak apa-apa ya jam kerja gini malah keluar?"
"Nggak pa-pa kok kita kan cuma istirahat sebentar."
"Oke yuk."
Menikmati meet time bersama sahabat meskipun hanya sebentar membuat semangat seperti terisi penuh. Berkumpul bercanda tawa bersama, saling melempar candaan dan motivasi. Saling menyemangati. Tidak butuh waktu lama untuk kita bisa saling percaya, karena Tuhan mentakdirkan kita untuk bertemu dan menjadi sahabat.
"Hai guys, apakah ada yang gue lewatkan?" Sapa Nela yang datang terlambat.
"Hai Nel, kamu terlambat banget karena minuman kita udah mau habis dan kita mau balik."
"Iya nih Mbak Nela lama banget deh."
"Sorry deh, lagi ribet banget nih ngurusin desain baju yang mau ditampilin nanti. Tinggal seminggu lagi lho persiapannya."
"Iya kita semua sibuk sih, tapi kita juga harus menutrisi persahabatan kita." Kata Sari tegas.
"Iya nona siap. Haus nih pesenin minum dong, masa iya kalian mau balik dan ninggalin gue disini kan nggak lucu."
"Kita tungguin deh mbak, sekalian ngaso juga. Karena habis ini kita akan sibuk berperang dengan kesibukan masing-masing."
Tinggal seminggu lagi, apakah mungkin Fisya juga berfikir kalau dia akan bertemu dengan Dongmin? Dan, akankah mereka bertemu dipertemuan kali ini? Fisya tidak ingin berkhayal apapun, karena kalau khayalannya tidak menjadi nyata itu akan membuat Fisya sangat sakit. Perlahan tapi pasti, Fisya merasa semakin dekat dengan sesuatu yang bisa membuat dirinya bahagia entah apapun itu. Saat ini hanya doa yang bisa dia panjatkan dan semangat yang siap memenuhi harapannya.
"Fisya, tolong ke ruangan saya sebentar!"
"Baik bu bos."
Tok tok tok.
"Masuk!"
"Iya bu bos?"
"Fisya, bagaimana persiapan kamu buat menyambut mereka? Mereka tamu yang amat penting, tidak bisa kalau hanya disambut dengan cara sederhana."
"Iya bu bos, saya sudah persiapkan semua dari penjemputan di bandara, menginap di hotel juga jadwal jalan-jalan selama berada disini. Saya juga sudah persiapkan kendaraan pribadi untuk mereka, semua sudah terencana dengan matang bu bos, jadi bu bos tidak perlu khawatir lagi."
"Iya-iya, saya kagum dengan perkembangan kinerja kamu. Pantas anak saya suka kamu."
"Iya?"
"Ahh, pantas anak saya senang bekerja bersama kamu karena kamu berkompeten."
"Iya bu bos terima kasih. Apakah masih ada yang lain bu bos?"
"Tidak terima kasih, kamu bisa kembali. Dan tolong kamu bantu Nela kalau kamu tidak sibuk!"
"Baik bu bos, saya permisi dulu."
Fisya merasa seperti tersengat lebah saat bu bos mengatakan kalau anaknya menyukai Fisya, dia tidak menyangka bahwa ibu Pak Marcel tau tentang perasaan anaknya. Dalam hati Fisya bergumam "Apakah semua akan baik-baik saja wahai hati yang sedang menanti keajaiban datang?" Bahkan Hana pun membutuhkan semangat dari Mr. Cha untuk tetap maju dan berjuang. Charger hati sampai penuh. Pekerjaan dan cinta yang sama-sama tidak bisa dijauhi.