Mr. Cha, wait me!

Mr. Cha, wait me!
Saranghae 2



"Terima kasih untuk perasaanmu Sunghoo. Tolong tetap ingatlah aku saat aku pergi nanti!"


"Pergi, apa maksudmu dengan kata pergi?"


"Aku akan kembali ke kehidupanku yang sebenarnya. Aku ingin berpamitan kepadamu."


"Apa kau akan kembali? Apa kita bisa bertemu lagi? Meskipun tidak sebagai pasangan apa kita bisa bertemu lagi sebagai teman?"


"Jika Tuhan mengizinkan kita pasti akan bertemu lagi."


"Iya, aku akan menunggu waktu itu. Tapi sayang aku tidak berlama-lama disini, aku harus segera pergi."


"Iya, tetap semangat untuk bekerja Sunghoo."


"Terima kasih, aku pergi dulu."


"Eh, kau mau pergi sekarang? Padahal aku mau mengajakmu minum kopi disini." Tiba-tiba Dongmin masuk membawa 2 gelas kopi.


"Bisakah kita berbicara di luar?"


"Baiklah. Hm, agassi aku akan mengantarnya dulu. Kau istirahat saja!"


"Iya."


Sementara itu di luar Dongmin benbincang dengan Sunghoo. Memberikan raut wajah yang kecewa, tapi Dongmin berpura-pura tidak melihat raut wajah itu karena takut menyinggung Sunghoo.


"Tolong jaga dia!"


"Apa?"


"Kau pasti tau apa yang aku maksud? Aku sudah tau sejak awal kalau dia menyukaimu, tapi tetap saja aku menyukainya."


"Kau pasti sudah mendapatkan jawaban darinya?"


"Bahkan belum sempat aku mengatakannya, dia sudah menjawab terlebih dulu. Bukankah ini lucu, banyak wanita cantik yang aku tolak malah aku menyukai gadis ceria seperti dia."


"Apa cinta bisa memilih?"


"Kau benar, hati memang tidak memilih untuk siapa dia memberikan cintanya. Apa kalian sudah berpacaran?"


"Pacaran? Dalam hidup dia tidak ada yang namanya pacaran. Kita hanya saling tau perasaan satu sama lain, itu sudah cukup buatku."


"Kau pasti sangat bahagia, bisa mendapatkan cinta dari gadis sebaik dia?"


"Kau benar, aku sangat bahagia. Tapi kebahagiaan itu akan berhenti saat dia harus pergi, aku bahkan takut kalau aku akan melupakannya."


"Melupakannya? Bukankah kalian saling mencintai? Kenapa kau mau melupakannya?"


"Karena bukan aku yang bisa mengatur hidup ini. Hanya saja saat ini yang aku inginkan hanya satu, bisa menjaganya sampai waktu yang tidak bisa kita tentukan sendiri."


"Jangan sakiti dia!"


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan dia lagi. Karena aku pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa membuatnya bahagia sampai kepergiannya nanti."


"Terima kasih. Aku harus pamit."


"Ya, terima kasih sudah mau datang!"


Sunghoo pergi dengan raut wajah yang memancarkan kelegaan, mungkin perasaan dia tidak berbalas tapi dia lega karena Hana berada di antara orang-orang yang baik.


Dongmin kembali menemui Hana, Dongmin sangat menghargai setiap detik saat-saat bersama Hana. Dia sendiri tidak tau sampai kapan Hana bisa berada di sampingnya, yang dia tau saat ini hanya memberikan perhatian sebanyak-banyaknya untuk Hana dan juga kebahagiaan yang pantas diterima oleh Hana darinya.


"Apa kau sudah mengantuk?"


"Tidak, semuanya berjalan dengan lancar. Kau mempunyai orang-orang yang begitu menyayangimu disini, haruskah kau pergi meninggalkan kami?"


"Kau tau, akupun berharap aku tidak pergi secepat ini dari sini. Begitu banyak kasih sayang yang aku terima dari kalian, bahkan seorang teman dan cinta darimu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku sendiri tidak sanggup untuk meninggalkan kalian. Tapi semua ini hanya masalah waktu kan? Aku berjanji padamu aku akan kembali, ingat janjiku!"


"Aku akan selalu ingat, aku juga akan berjanji padamu aku akan selalu menjaga hati ini hanya untukmu selalu hanya untukmu."


"Terima kasih. Jika kita memiliki jodoh, pasti kita bisa bersama."


"Iya, aku pasti akan merindukanmu."


"Bisakah kau mengumpulakan semuanya besok?"


"Apa kau mau berpamitan?"


"Entahlah apa aku sanggup atau tidak? Hanya saja aku mau melihat mereka lagi sebelum aku pergi?"


"Akan aku lakukan. Bisakah kita tidak tidur malam ini? Bisakah kita terus berbincang sampai pagi?"


"Kenapa tidak? Kita memang harus memanfaatkan waktu yang tersisa."


Mereka berencana begadang semalaman, banyak bercerita tentang masa lalu mereka masing-masing. Dongmin bercerita tentang masa-masa saat sekolah dulu, dimana banyak gadis cantik yang mengejar-ngejar dia. Juga banyak teman laki-laki yang senang berteman dengan dia.


"Wah, kita berbeda sekali ya?"


Selanjutnya Hana yang menceritakan bagaimana kehidupan dia saat SMA. Hana menceritakan bagaimana dia dulu sangat kesepian, karena tidak ada yang mau berteman dengan dia. Hanya karena fitnah dari salah satu temannya yang merasa iri kepada Hana karena Hana selalu dipuji guru atas prestasinya.


"Kau sering jadi juara di sekolah?"


"Ya begitulah. Aku juga pintar hanya saja tidak ada yang mau melihatnya."


Hana melanjutkan ceritanya tentang seorang teman laki-lakinya yang pernah suka padanya. Lelaki itu memang suka pada Hana, tapi Hana tidak karena dia terlalu manja. Dia juga sering membuat Hana kesulitan karena sering dijahili teman-temannya saat semua tau lelaki itu menyukai Hana.


"Aku pernah mengatakan padanya, kalau tidak bisa hanya diam ya katakan saja padaku ridak perlu mengumbar perasaan kepada semua orang. Karena itu hanya antara kita berdua bukan antara kita dan teman-teman. Sejak saat itu, dia mulai menjauhiku, karena dia tau kalau aku tidak suka padanya."


"Kasar ya?"


"Apanya yang kasar? Tapi benar kan, cinta itu antara dua orang saja. Beda lagi dengan menikah, kita harus mengumumkan pernikahan kepada banyak orang karena itu adalah suatu kebahagiaan."


"Apakah dia terus menjauhimu setelah itu?"


"Iya, dan akupun tidak peduli."


"Kenapa?"


"Karena dia tidak tulus suka padaku, kalau tulus dia tidak akan mundur begitu saja. Harusnya dia bertahan sampai aku bisa menyukainya juga kan?"


"Mungkin tidak berjodoh?"


"Karena itulah aku tidak perlu banyak waktu untuk melupakannya."


"Kau ini tidak berperasaan banget ya?"


"Hei, aku kan sekarang punya perasaan padamu."


"Hehe, iya."


Mereka banyak sekali bercanda dan cerita banyak hal. Sampai pada akhirnya Dongmin tidak sadar kalau Hana sudah tertidir pulas karena mendengar cerita darinya. Dongmin tersenyum dan kemudian menyelimuti Hana, padahal sudah hampir pagi tapi Dongmin masih belum mengantuk. Dongmin terus memandangi wajah Hana, nampak tenang dan bersinar.


"Begitu kagumnya aku kepadamu, sampai aku tidak bisa lepas untuk terus memandangi wajahmu. Apakah aku sanggup untuk bertahan saat kau tidak disini. Dan berapa lamakah aku harus menunggumu?"


Banyak sekali pertanyaan yang ada dibenak Dongmin, tapi semua pertanyaan itu seakan tidak ada jawabannya sama sekali. Air mata Dongmin mulai jatuh, dia menahan air mata itu jatuh di depan Hana karena dia tidak mau Hana bersedih karena dirinya. Dia memberikan semangat untuk Hana, padahal hatinya merasa sangat rapuh saat tau kalau dia akan berjauhan dengan Hana. Ingin sekali dia membawa Hana untuk berkeliling kota ini, tapi dia tau tidak ada banyak waktu untuk Hana berada disini.