Mr. Cha, wait me!

Mr. Cha, wait me!
Pulang



"Dia sangat kesepian." Gumam Fisya.


"Ada apa, nak?" Tanya nenek heran.


"Ahh, tidak apa-apa nek."


"Heh, Bekhyeon kesini dengan siapa?" Dongmin mendekati keponakannya.


"Sama ibu."


"Kok gak masuk?"


"Dia langsung pergi," jawab Baekhyeon dingin.


"Kebiasaan anak itu, selalu lebih pentingin pekerjaan." Gerutu paman.


"Sudahlah Seongji, yang penting aku bisa bertemu Baekhyeon sekarang." Nenek menenangkan paman yang sepertinya terlihay sedikit emosi karena ibu Baekhyeon.


"Suamiku, bagaimana kalau gadis ini kita bawa pulang ke rumah saja besok. Karena disini dia tidak memiliki siapa-siapa."


" Iya Seongji, untuk sementara biarlah dia tinggal di rumah kita dulu. Biar kita bisa merawatnya sepulang dari sini."


" Baiklah ibu biar sementara dia tinggal di rumah kita dulu."


" Kakek, dia mau tidur dimana kalau pulang ke rumah kita? Jangan bilang dia akan tidur denganku?! Tempat tidurku kan kecil, lagian dia perempuan dan aku laki-laki. Mana mungkin tidur sekamar." Protes Baekhyeon dengan sangat semangat.


" Hei anak kecil, tidak sadar umur ya? Kau ini masih kecil, mau aku jitak kepalamu?"


" Hei, paman Dongmin aku ini lebih dwwasa dari pada kamu. Jadi jangan macam-macam, ya!"


" Hei kalian berdua ribut terus sih," bibi mencoba melerai anak dan cucunya." Dongmin bawa Baekhyeon keluar dulu.!"


" Anak kecil ayo keluar, kita harus menyelesaikan ini." Dongmin menggendong keponakannya dengan kasar.


" Lepaskan aku paman, aku ini sudah besar...." Mereka masih saja terdengar ribut setelah keluar ruangan.


" Maaf ya, nak! Mereka memang selalu seperti itu setiap kali bertemu."


" Iya nenek."


" Baiklah nak sekarang kali keluar dulu, silahkan beristirahat dulu."


Setelah semua keluar, Fisya banyak sekali berpikir.


"Aku sudah menemukan keluarga anak kecil itu, dengan mengorbankan 1 nyawaku. Dan apa lagi yang harus aku lakukan untuk membuatnya ceria seperti anak-anak lainnya. Aku harus benar-benar berfikir dengan keras."


" Ngapain ngomgong sendiri?" Tanya Dongmin yang tiba-tiba masuk ke ruangan Fisya.


" Ahh, ngapain tiba-tiba ngagetin?"


" Ambil ponselku. Tadi aku taruh di meja sebelahmu."


" Ehm, apakah Baekhyeon sudah pulang?"


" Baru saja pulang, ada apa?"


" Tidak apa-apa, cuma tanya."


" Kau mau menculik Baekhyeon?"


" Hei, hei, bicara apa kau ini? Apakah aku ada tampang seperti penculik? Apakah ada penculik secantik aku?"


" Haha,, apa kau bencanda? Kau adalah orang terbodoh yang pernah aku temui."


Fisya hanya diam dan menatap Dongmin yang berjalan menuju pintu.


" Huh, mungkin dia benar. Aku ini memang orang bodoh. Bahkan disaat seperti ini aku berusaha memikirkan cara untuk cepat mencapai tujuanku." gumam Fisya.


Waktu terasa berjalan sangat lambat untuk Fisya. Dia hanya ingin segera menyelesaikan misinya dan kembali kepada kehidupannya sendiri. Karena di tempat asing ini dia merasa sendiri dan lebih kesepian lagi.



Hari ini sudah waktunya untuk Fisya keluar dari rumah sakit. Fisya merasa senang dan sedikit takut. Fisya merasa akan lebih sulit untuk hidup di tempat baru ini. Dan belum juga menemukan cara untuk menyelesaikan misinya.


" Pagi Fisha! Apa kau sudah siap untuk pulang sekarang?" Tiba-tiba bibi masuk ke ruangan Fisya saat dia sedang merapikan jilbabnya.


" Bibi, iya bi aku sudah siap."


" Kenapa kau memakai pakaian itu lagi? Ini aku bawakan pakaian untukmu. Aku tidak tau ukuran dan seleramu jadi aku hanya mengira-ngira saja, dan lagi ada penutup kepala juga disini.Kemarin aku bertanya kepada temanku dan dia memberikannya untukmu."


" Terima kasih bibi, aku akan berganti pakaian dulu."


Setelah Fisya berganti pakaian dan keluar, dia melihat Dongmin dan ibunya sedang berbincang.


" Bibi."


" Eh, sudah selesai nak? Wah cocok sekali baju itu buatmu, kau terlihat cantik. Ya kan Dongmin?"


" Ah, cantik dari mana, biasa aja," memalingkan wajahnya kearah lain.


" Kalau begitu kita pulang sekarang?"


" Iya bibi, bagaimana dengan nenek?"


" Nenek sudah pulang dari kemarin dan sedang menunggumu di rumah."


Mereka bertiga berjalan keluar. Dan saat sudah masuk mobil bini menanyakan banyak hal kepada Fisya, tapi Fisya tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan bibi.


" Maaf bibi, aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan bibi."


" Terima kasih, bibi."


" Iya nak."


Sepanjang perjalanan Fisya dan bibi banyak sekali berbincang tentang Baekhyeon. Dan Dongmin hanya sesekali bicara saat ibunya bertanya. Setelah satu jam akhirnya mereka sampai di rumah.


" Ayo nak kita masuk dulu!"


" Iya bibi."


Saat mereka masuk ternyata nenek sudah menunggu didalam.


" Nak, apa kau lelah karena perjalanan ini?"


" Tidak nenek."


" Fisya memutar bola matanya mencoba melihat-lihat foto yang ada di ruang tamu. Dan Fisya menangkap ada sebuah bingkai foto yang indah dan lebih menarik lagi adalah foto yang ada didalamnya. Terlihat seperti foto keluarga tapi sepertinya ada yang kurang disana. Belum sempat Fisya berpikir tentang apa yang kurang nenek sudah memanggilnya.


" Nak, iatirahatlah dulu di kamar tamu. Nanti kalau sudah waktunya makan siang akan nenek panggil."


" Iya nenek."


" Dongmin, antar Fi-sha ke kamar tamu."


" Kenapa harus aku nenek. Aku masih mempunyai pekerjaan."


" Apa kau tega melihay Fi-sha membawa barang-barang itu sendirian?"


" Baiklah nenek aku akan mengantarnya."


" Ikuti Dongmin, nak!"


" Baik."


Badan Fisya masih agak lemas setelah pulang dari rumah sakit. Saat dia sampai di kamarnya, dia langsung merebahkan badannya dan tertidur nyenyak. Satu setengah jam berlalu. Sekarang sudah saatnya untuk makan siang.


Bibi mencoba untuk membangunkan Fisya dengan mengetuk pintu. Tapi tidak ada sahutan dari dalam. Bibi mencoba membuka sedikit pintu untuk mencari tahu apakah Fisya sedang tidur atau tidak. Bibi melihat sesosok yang sedang mengenakan pakaian serba tertutup didepannya dan sedan melakukan gerakan seperti bersujud. Bibi kemudian menutup lagi pintu itu karena takut mengganggu Fisya.


" Dimana Fi-sha menantu?"


"Ah, aku tidak tahu apa yang dilakukan Fi-sha didalam ibu. Nanti ibu coba tanyakan padanya saja."


"Ahh, nenek buyut. Aku sudah lapar, haruskah kita menunggu dia?"


"Paman, kenapa kau selalu memanggilku anak kecil? Aku ini sudah besar."


"Memangnya umurmu berapa? 20 atau 30 tahun?" Dengan senyum yang dibuat-buat.


"Aku sudah besar tapi tidak setua dirimu paman," sambil menirukan ekspresi pamannya dengan senyum yang dibuat-buat.


"Dasar kau..."


" Hei, kalian berdua ini selalu saja bertengkar. Dongmin cepat panggil Fi-sha!"


"Ibu kenapa harus aku lagi?" Berjalan dengan lemas ke kamar Fisya.


"Karena kau masih anak-anak paman. Bwahahahha.."


"Diam kau anak kecil!"


Saat Dongmin akan mengetuk pintu kamar Fisya, disaat yang bersamaan Fisya membuka pintunya.


"Hei, kau membuatku kaget saja." Kata Dongmin dengan nada yang terdengar terkejut.


"Ada apa?"


"Nenek memanggilmu untuk makan siang."


"Baiklah aku akan segera kesana."


"Lebih baik kau cepat karena monster dirumah ini sudah mulai kelaparan." Sambil berjalan menjauh dari Fisya.


Fisya segera menyusul Dongmin ke meja makan.


"Duduklah, nak!"


"Iya nenek."


"Heh, orang asing kenapa kau lama sekali? Aku sudah sangat lapar disini."


"Baekhyeon kenapa bicaramu tidak sopan seperti itu? Tidak seperti biasanya."


"Tapi nenek buyut dia seperti anak kecil sama dengan paman."


"Heh, bocah diamlah!" Seru Dongmin dengan tatapan yang tajam.


"Huh."


"Duduk sebelah Baekhyeon, Fi-sha. Ayo kita makan!"


"Maaf bibi, apakah bibi yang memasak semua ini?"


"Iya Fi-sha. Tapi bibi juga dibantu pelayan, ada apa?"


"Maaf bibi, apakah bibi memasak semua ini menggunakan minyak ****?"