
Hari berikutnya saat Fisya sedang mencari pekerjaan paruh waktu tiba-tiba handphonenya bergetar. Ada telepon masuk dari nomor baru yang tidak dikenal. Fisya menjawabnya dan seketika ada senyuman lebar di bibirnya. Apa maksudnya itu Hana? Cerita dong!
"Baik, saya akan segera kesana." Fisya bergegas pergi dan naik kendaraan umum dengan tergesa-gesa."Akhirnya aku bisa lolos dan ikut interview di Butik MAH, semoga semua bisa berjalan dengan lancar. Bismillah." Fisya tersenyum sepanjang perjalanan menuju butik tersebut."Tapi kenapa panggilannya mendadak begini ya? Biasanya kan baru besoknya atau ada tanggal tertentu untuk bisa mengikuti interview." Dengan terheran-heran Hana berfikir sebenarnya ada apa?"
"Mbak, mbaknya mau interview kerja ya?" Pertanyaan pak supir membuyarkan lamunan Fisya.
"Eh? Iya pak, saya dapat panggilan untuk interview kerja di Butik MAH. Padahal baru kemarin saya berikan surat lamaran saya tapi hari ini langsung ada panggilan interview padahal kan biasanya tidak mendadak seperti ini."
"Mbak takut atau hanya bertanya-tanya kenapa?"
"Dua-duanya sih pak, saya takut kalau ini hanya harapan palsu dan bertanya-tanya kok Butik sebesar itu sistemnya terburu-buru seperti ini ya dalam mencari karyawan?"
"Diambil hikmahnya aja mbak, anggap semua ini rejeki untuk mbaknya. Jangan berfikiran yang aneh-aneh dulu, positif thinking aja!"
"Benar juga ya kata bapak, saya harus tetap positif thinking. Siapa tau memang ini jalan untuk saya bisa bekerja disana. Wah, terima kasih ya pak sudah mau memberikan masukan buat saya. Jadi malu sama bapak dari tadi ngomong sendiri, hehe."
"Nggak apa-apa kok mbak, sesama manusia kan harus saling membantu. Dan sekarang sudah sampai, semangat ya mbak interviewnya semoga berhasil!"
"Terima kasih banyak ya pak, untuk motivasinya. Saya tidak akan lupa untuk berpositif thinking. Sekali lagi terima kasih ya pak, dan ini bayarannya pak."
"Iya mbk sama-sama, saya terima ya uangnya. Semangat mbk!"
"Terima kasih!"
Fisya masuk dengan sangat bangga, karena jarang sekali ada orang yang bisa masuk ke butik ini karena memang butik besar dan banyak syarat untuk bisa menjadi bagian di dalamnya. Fisya menuju meja resepsionis, memang benar-benar butik besar ya. Semua ada bagiannya sendiri-sendiri.
"Permisi mbk, saya Nafisya Abraham yang mendapatkan panggilan untuk interview hari ini."
"Oh iya mbk, moho tunggu dulu ya biar saya hubungi bu bos dulu."
"B, bu bos? Yang interview saya langsung bos butik ini?"
"Tentu saja mbk, semua karyawan disini dipilih oleh bu bos sendiri. Boleh saya hubungi beliau dulu?"
"Ah, iya silahkan!"
Beberapa saat kemudian.
"Mari mbk ikut saya!"
"Iya mbk."
Hana dibawa ke ruangan khusus interview, dan ruangannya tepat di samping ruangan bu bos.
Tok tok tok.
"Masuk!" Terdengar suara dari dalam, dan semakin membuat Fisya jadi gugup.
"Ini Nafisya Abraham bu bos."
"Ahh, iya thanks ya. Kamu boleh kembali ke tempatmu lagi."
"Baik saya permisi."
"Kamu Nafisya Abraham bisa duduk dan perkenalkan diri."
"A, a, a, a bukan ibu tapi Bu booosss. Panggil saya bu bos."
"Ah, iya bu bos. Saya harap bisa menjawab semua pertanyaan dari bu bos dan bisa diterima untuk bekerja disini."
"Baik, pertama saya harus mengatakan alasan kenapa saya sendiri yang harus memilih karyawan saya adalah? Karena saya bisa menilai orang hanya berdasar melihat CVnya saja, selanjutnya saya bisa menilai saat interview dan lagi saya tidak pernah salah menilai. Well, kamu bisa ikut interview dadakan ini karena saya sudah melihat CV kamu dan kamu juga banyak pengalaman bekerja di bidang ini pendidikan kamu juga lumayan tinggi dan bagus. Tapi dari semua tempat yang pernah kamu datangi untuk bekerja kenapa tidak ada ynag bertahan lama?"
"Karena saya sering difitnah oleh teman seprofesi saya saat saya bisa mendapatkan pujian dari atasan saya."
"Apakah itu benar?"
"Saya jamin jawaban saya bukan jawaban yang bohong karena saya bisa membuktikannya saat bekerja. Saya adalah pekerja keras, saya mau berusaha untuk mendapatkan yng terbaik dalam segala macam pekerjaan."
"Oke cukup, saya percaya penilaian saya. Dan sekarang saya mau kamu menggambar satu desain baju untuk saya, tema bajunya musim panas."
"M, musim panas?"
"Kenapa? Kamu nggak sanggup?"
Dalam hati Fisya bergumam,"Pasti bu bos sengaja deh nyuruh aku buat baju musim panas karen aku pakai hijab. Oke aku harus buktikan kemampuanku." Fisya mulai menggambar desain bajunya sementara bu bos hanya duduk sambil memainkan handphonenya yang sekali-kali mendapatkan telepon masuk. Satu jam berlalu akhirnya selesai juga Fisya menggambar desain bajunya.
"Sudah selesai?"
"Iya bu bos."
"Cepat juga ya kamu gambarnya padahal saya beri waktu kamu 2 jam. Oke, silahkan presentasikan karya kamu ini dengan tema musim panas."
"Baik." Fisya mulai menjelaskan tentang karyanya tersebut, bagaiman dia bisa mendapatkan idenya padahal ini adalah sesuatu yang sangat mendadak. Tapi Fisya bisa menjelaskannya dengan sangat baik, tentang desainnya bahannya dan yang lainnya.
"Oke saya paham dengan pola pikir kamu tentang desain ini. Well, mulai lusa kamu bisa mengerjakan desain ini disini."
"A, apa saya diterima?"
"Menurut kamu?"
"Saya suka dengan desain kamu, begitu anggun dan fresh. Setiap ada karyawan saya yang bisa membuat desain yang bagus dan saya sukai, pasti desain itu bisa langsung dikerjakan sendiri oleh si pembuat desain dan bisa diberi label dengan namanya sendiri."
Fisya hanya bisa terpanah mendengarkan bu bos bicara panjang lebar.
"Apa ada pertanyaan lagi?"
"T, tidak saya mengerti dan akan berusaha memberikan yang terbaik untuk butik ini."
"Oke, saya suka semangat kamu. Selamat bergabung dengan kami." Bu bos mengulurkan tangannya dan disambut Fisya dengan senang hati.
Fisya pulang dengan perasaan yang sangat bahagia, dia berlari-lari kecil sambil bernyanyi lagu kesukaannya. Dia sempat mengingat eonninya yang seorang desainer, karena Fisya tidak sempat berpamitan padanya.
"Huh, mungkin mereka sekarang lupa padaku dan aku juga tidak bisa menyimpan foto mereka di handphoneku. Bagaimana kalau aku merindukan mereka? Tapi yang paling penting, apakah Mr. Cha masih ingat padaku?"
Pertanyaan itu terus saja berputar-putar di kepala Fisya, padahal Fisya sendiri tidak bisa menjawabnya. Tapi dia bisa sedikitpun melupakan keluarga yang sudah banyak memberikan kasih sayang kepadanya. Mungkin ini adalah awal buat Fisya bisa menata kehidupannya. Bahagia dengan banyak kenangan baik yang sudah dilalui dengan keluarganya sendiri dan keluarga keduanya.
"Aku pasti akan kembali, kalian tunggu saja!"